
Sedari tadi Seno tersenyum lebar ketika menyalami para tamu undangan. Di sebelah kanannya ada Dina, lalu sebelah kirinya ada Miranda. Kedua istrinya itu juga ikut menyalami tamu undangan bersamanya. Mereka terlihat sangat cantik di hari berbahagia ini.
Dari barisan para tamu, Seno melihat kedatangan seorang laki-laki dengan membawa buket berisi uang. Pecahan uang yang ada di sana bukan lagi rupiah, tetapi dollar. Ada seratus lembar uang seratus dolar dalam buket tersebut.
Itu berarti, nilai dari buket tersebut adalah seratus empat puluh juta lebih. Angka yang cukup besar hanya untuk dijadikan hadiah pernikahan. Langsung saja kedatangan orang itu menjadi sorotan tamu undangan yang lainnya.
Apalagi ketika laki-laki itu langsung mendatangi Dina dan menyerahkan uang itu. Tamu undangan yang lainnya langsung mencium bau-bau drama setelah melihat kejadian itu. Menikahi dua orang perempuan sekaligus saja sudah menghebohkan, apalagi jika ada drama di resepsi, pasti akan semakin heboh lagi.
“Ini untukmu Din. Aku harap Kamu benar-benar berbahagia dengan pilihanmu.” Ucapnya.
Dina tidak langsung menerima uang tersebut. Ia hanya memandang sekilas buket uang tersebut.
“Itu tidak perlu Irfan. Ini terlalu banyak. Aku tidak bisa menerimanya. Lagi pula, aku tidak kekurangan uang sama sekali. Lebih baik uang ini Kamu pergunakan untuk bisnismu sendiri, atau Kamu juga bisa menyumbangkannya untuk orang yang lebih membutuhkan.” Jawab Dina.
Ternyata laki-laki yang membawa buket bunga itu adalah Irfan. Matanya terlihat sendu ketika memandang ke arah Dina. Ia masih belum sepenuhnya menerima keputusan Dina ini.
“Ikuti saja ucapan Dina. Kamu bisa memanfaatkan uang itu untuk yang lainnya. Aku masih sanggup menafkahi Dina dengan uangku sendiri.” Imbuh Seno.
Saat ini banyak tamu undangan yang memandang ke arahnya. Jika dirinya tidak mengatakan sesuatu, maka wibawanya akan tercoreng. Mereka pasti memiliki penilaian buruk terhadap Seno.
“Iya itu benar. Mas Seno masih mampu menafkahi Mbak Dina. Mas Seno saja sudah memberi kami masing-masing uang satu milyar untuk maskawin. Belum lagi dengan rumah dan mobil yang Mas Seno berikan pada kami. Jadi, kamu tidak perlu memberi uang sebanyak itu.” Tambah Miranda.
Sebelum ini Seno memang sudah membeli dua buah rumah, yang cukup besar, yang letaknya bersebelahan. Rumah tersebut sudah diatas namakan Dina dan Miranda. Saat ini rumah tersebut tengah dilakukan renovasi agar ada bangunan yang menghubungkan kedua rumah tersebut.
Dengan begitu, rumah tersebur akan menjadi rumah yang besar, dengan tetap menjadikan Dina dan Miranda sebagai pemilik. Seno melakukan ini untuk memberikan ketenangan kepada keluarga Dina dan Miranda.
Jika suatu hari nanti hubungan mereka bermasalah dan mereka harus menghentikan hubungan ini, maka Dina ataupun Miranda tidak akan kembali ke keluarga mereka dengan tangan kosong. Akan ada harta Seno yang mereka bawa.
__ADS_1
Selain itu, Seno juga membelikan Dina dan Miranda sebuah mobil meski mereka menolak. Seno juga menyiapkan satu mobil keluarga yang akan mereka pakai bersama nanti. Jika dibandingkan dengan pemberian Seno yang seperti itu, uang pemberian Irfan tidak ada apa-apanya.
“Ambil saja uang ini. Untuk berjaga-jaga jika laki-laki ini,” ucap Irfan sembari melirik kea rah Seno, “tidak bisa lagi membahagiakanmu. Kamu bisa memakai uang ini untuk kebutuhan yang lainnya.”
“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku tetap akan berusaha membahagiakan mereka. Apa pun yang mereka inginkan akan aku lakukan.” Jawab Seno.
Setelah Seno berucap demikian, Dina dan Miranda secara bersamaan memeluk lengan Seno. Mereka seolah sudah menyetujui apa yang Seno ucapkan. Hal ini membuat Irfan memilih mundur. Ia juga membawa kembali buket uang yang sebelumnya akan ia berikan kepada Dina.
….
Seno bersyukur tidak ada drama lain yang terjadi di hari pernikahannya. Semua acara berjalan dengan lancar hingga acara selesai. Sekarang ini, Seno tengah makan malam dengan keluarga kedua istrinya. Mereka tadi tidak sempat untuk menikmati makanan karena sibuk bersalaman dengan para tamu.
“Seno, anggur yang Kamu bawa untuk jamuan tadi sungguh enak. Banyak rekan kerjaku yang menyukainya. Mereka ingin sekali membeli anggur seperti itu untuk bisa menjamu rekan bisnis mereka. Jadi, kapan Kamu akan menjual anggur seperti itu?” Tanya Jovi, suami dari Cindy.
“Untuk anggur itu aku tidak bisa menjualnya dengan mudah Om. Aku perlu mendapatkan ijin dari pihak yang berwajib. Jika tidak, maka aku akan mendapatkan masalah baru.” Jelas Seno.
Anggur milik Seno ada kandungan alkoholnya. Jadi, Seno perlu mendapatkan ijin agar bisa dengan bebas memasarkannya. Tentu saja ia hanya boleh menjualnya kepada mereka yang sudah cukup umur.
“Jika teman Om itu memang menginginkan anggur itu, Om bisa pakai anggur yang tidak jadi dipakai untuk souvenir saja.”
“Apa itu tidak masalah untukmu?” Tanya Jovi.
“Tidak masalah. Toh anggur itu memang aku persiapkan untuk souvenir bukan? Jika memang ada yang mau, kalian bisa memberikannya kepada teman atau kenalan kalian.” Ucap Seno.
Setelah makan malam itu, Seno ditarik oleh Ferdi ke salah satu lorong kosong yang ada di hotel di mana resepsi pernikahannya di gelar. Teman sekaligus Kakak Iparnya ini sepertinya akan mengajaknya membicarakan sesuatu yang serius. Seno bisa menebak apa itu.
Ferdi baru sampai di Indonesia kemarin Sore. Tentu itu sangat mepet dengan acara pernikahan Seno dan adiknya. Dia belum sempat mengajak bicara Seno. Hari ini pun setelah Seno resmi menjadi suaminya, Miranda tidak membiarkan Ferdi hanya berduaan dengan Seno. Ia juga seolah tahu apa yang ada di pikiran Kakaknya.
__ADS_1
Sayangnya, sekarang Miranda gagal mencegah Ferdi menarik Seno. Sekarang mau tidak mau Seno harus menghadapi Ferdi ia tidak bisa terus terusan menghindar.
Ketika sampai di lorong itu, Ferdi langsung saja meninju perut Seno. Tinjuan itu cukup keras. Seno memang merasakan tinjuan itu. Tetapi ia tidak merasakan sakit sama sekali. Meski begitu Seno bertindak cepat dengan berpura-pura kesakitan.
Bagaimanapun juga, Ferdi adalah Kakak Iparnya sekarang. Jadi Seno perlu memberinya muka dengan berpura-pura kesakitan karena pukulannya. Jika tidak, maka harga diri Ferdi akan terluka nantinya.
“Sial. Aku dulu sebelum ke luar negeri sudah menitipkan adiku padamu. Tetapi pulang-pulang Kamu malah menjadi suami adikku. Tidak hanya itu, Kamu bahkan menduakannya dengan Dina.” Geram Ferdi.
Sebelum Ferdi mengikuti pertukaran mahasiswa, ia memang sudah meminta Seno untuk menjaga Miranda. Ia ingin Seno sesekali membantu Miranda jika perempuan itu membutuhkan bantuan. Tetapi sekarang, Seno malah menikahi adik kesayangannya itu tanpa meminta ijin darinya.
“Kamu sendiri yang memintaku menjaganya bukan? Jadi aku akan meneruskan tugas ini sampai kami tua, sampai salah satu di antara kami berpulang terlebih dahulu.” Jawab Seno.
Ucapan Seno itu membuat Ferdi marah besar. Namun, ia menarik nafas panjang untuk menenangkan diri. Ia tidak mau membuat suami adiknya sekaligus teman baiknya ini menjadi babak belur di hari pertama pernikahannya. Jika Ferdi melakukan hal itu, maka Miranda justru akan marah padanya.
“Awas saja jika Kamu sampai menyakiti hati adikku. Jika sampai itu terjadi, aku akan menghajarmu habis-habisan. Tidak aka nada ampun untukmu.” Ancam Ferdi.
“Aku tahu. Jika aku sudah menikahinya, itu tandanya aku sudah tidak main-main lagi. Aku akan bertanggung jawab penuh atas hubungan ini. Aku akan membahagiakan mereka. Aku akan berusaha seadil mungkin kepada mereka.” Jawab Seno.
“Akan aku pegang janjimu itu.”
Meski Seno tidak menjanjikan apa pun, Ferdi akan tetap percaya padanya. Ia mengenal Seno cukup lama. Ia sudah hafal karakter Seno. Dia adalah laki-laki yang bertangung jawab. Ia tidak akan main-main dengan ucapannya.
Sebenarnya Ferdi cukup senang mendengar kabar bahwa Miranda akan menikah dengan Seno. Ia tahu adiknya bersama dengan orang yang tepat. Yang membuatnya marah adalah Seno tidak hanya menikahi adiknya, ada perempuan lain yang Seno nikahi.
Jika saja kemarin Miranda tidak menjelaskan bahwa sebenarnya Miranda bisa dibilang sebagai orang ketiga di antara hubungan Seno dan Dina, maka Ferdi akan menghajar Seno lebih parah lagi daripada ini. Ia akan membuat temannya itu babak belur hingga sulit dikenali.
Setelahnya, Seno dan Ferdi mengobrol membahas yang lain. Sepuluh menit kemudian, Ferdi pamit undur diri. Ia tahu ini adalah malam pernikahan Seno. Ia tidak bisa semudah itu menggunya. Jadi ia memilih pergi dan akan melanjutkan mengobrol dengan Seno di lain waktu.
__ADS_1