
"Menyerahkan wilayahku? Langkahi dulu mayatku." Ucap serigala hitam itu.
Seno cukup kaget mendapatkan respon ini. Biasanya, pemimpin dimensi yang akan ia taklukkan, akan menyerah tanpa perlawanan jika melihat barisan buruh tani miliknya.
Memang dulu ketika dengan para Gylinox mereka melakukan pertarungan. Tetapi, setelah bernegosiasi, Lag menerima tawaran Seno. Serigala hitam ini tidak seperti itu.
“Bagus jika Kamu memilih bertarung. Aku suka ini.”
Momoy berputar dua kali di udara. Ia menunjukkan rasa senangnya dengan cara itu.
“Serang mereka!” perintah sang serigala hitam kepada kawanannya.
Langsung saja serigala yang mengelilingi mereka mulai menyerang. Meski mereka tahu bahwa kekuatan mereka jauh di bawah buruh tani Seno, tetapi serigala itu tidak bisa menolak perintah pemimpin kawanan mereka, Sang Alpha.
Serigala itu mencoba untuk menerkam, mencakar, dan menggigit rombongan Seno. Tetapi itu tidak bisa mereka lalukan. Buruh tani Sneo bukanlah orang sembarangan. Meski tidak semuanya memiliki senjata, tetapi mereka masih bisa mengatasi kawanan serigala ini.
Dengan pedang besarnya, Thorbiorn menebas semua serigala yang menghalanginya. Tujuan Thorbiorn adalah serigala hitam pemimpin kawanan. Jika ia berhasil membuat pemimpin kawanan tunduk, atau bahkan mengalahkannya, maka serigala yang lain tidak akan bisa melakukan apa pun.
Tidak ada serigala yang bisa menyentuh Thorbiorn. Ketika mereka berada di jangkauan pedang Thorbiorn, maka nyawa mereka akan melayang. Ada yang terkoyak perutnya, ada yang kepalanya terpenggal. Semua itu dialami oleh serigala yang menyerang Thorbiorn.
Meski begitu, serigala yang lain tidak nampak takut. Mereka justru bersemangat menyerang Thorbiorn.
Sementara itu, Azkareia berubah bentuknya menjadi rubah dengan tinggi empat meter dan panjang lima meter. Musuh yang Azkareia pilih adalah serigala terbesar kedua yang ada di kawanan. Sang serigala putih.
Dengan kelima ekor yang ia miliki, Azkareia melilit serigala yang ada disekitarnya. Lilitan ekor itu nampaknya begitu kuat. Terdengar suara tulang patah dari setiap serigala yang Azkareia lilit.
Tidak hanya itu, Azkareia juga memanjangkan cakarnya untuk mencabik-cabik serigala lain. Musuh yang Azkareia kalahkan tidak kalah dari yang Thorbiorn kalahkan.
Tidak jauh dari Azkareia, si kembar Laluna dan Lalana juga tidak mau ketinggalan. Keduanya berubah menjadi bentuk asli mereka, burung yang mirip dengan burung beo tetapi ukuran mereka cukup besar. Ukuran tubuh Laluna dan Lalana melebih ukuran tubuh Momoy.
Serangan keduanya berbentuk serangan sihir. Mereka mengeluarkan sesuatu seperti pedang angin dari kepakkan sayap. Jadi, tanpa senjata pun keduanya bisa mengalahkan musuh seefektif Thorbiorn yang membawa pedang.
Lalu Momoy, dia nampaknya yang paling senang dengar perarungan ini. Sedari tadi Momoy mengeluarkan nafas api ke arah kerumunan serigala. Akibatnya, banyak dari mereka yang terbakar hingga menjadi abu. Baru kali ini Seno melihat efek dari api milik Momoy.
__ADS_1
“Hahaha.” Suara tawa Momoy terdengar di antara pertarungan itu.
“Tidak sia-sia memang aku ikut dalam misi kali ini. Aku bisa bertarung bebas seperti ini. Menyiksa manusia tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan pertarungan kali ini.”
Semua itu memperlihatkan bahwa Momoy sangat menikmati pertarungan ini. Seno bahkan melihat Momoy kini berubah menjadi anak kecil untuk bertarung dengan mereka.
Momoy kini berpenampilan seperti gangster dengan baju merah dan topi hitam. Kali ini ia tidak mengeluarkan api dari mulutnya, tetapi dari ujung jari. Momoy melakukan gerakan seperti menembak ke arah para serigala.
Setiap serigala yang terkena serangan Momoy, mereka akan langsung terbalut api dan terbakar dengan habis.
“Pantas saja game FPS sangat disukai. Menembak target bergerak seperti ini memberikan kesenenangan tersendiri daripada menghancurkan mereka dengan semburan api.”
Hanya Tiarsus yang tidak ikut terjun langsung dalam pertarungan. Ia berjaga di samping Seno. Tiarsus masih perlu mempertahankan barier miliknya. Tetapi, karena serangan brutal dari yang lain, hampir tidak ada serigala yang berhasil mendekat ke arah Seno.
Seno sendiri tidak mau kalah. Ia sedari tadi memakan cabai rawit dan menyimpan energi panasnya. Jika terjadi sesuatu, maka napas api miliknya bisa membantu. Meski itu hanya untuk melindungi dirinya sendiri.
Lalu, Seno juga ingin terlihat lebih berguna. Apa yang dilakukan oleh Momoy cukup menginspirasinya. Seno memusatkan energi panas yang ia simpan ke salah satu ujung jarinya. Ia lalu berkonsentrasi untuk mengeluarkan serangannya ini.
“Sepertinya setelah ini aku harus berlatih kemampuan menembak. Apa yang Momoy lakukan sangat menginspirasiku. Aku juga perlu belajar cara mengeluarkan serangan lebih cepat lagi,” ucap Seno.
Seno sendiri tidak mau terus-terusan bergantung kepada yang lain. Meski ia tidak akan langsung bisa sekuat yang lain, setidaknya Seno harus memiliki kemampuan untuk melindungi dirinya.
Cukup banyak serigala yang gugur dalam peperangan ini. Sudah ada ratusan mayat yang tergeletak di atas salju. Salju yang awalnya putih bersih, kini sudah ternoda dengan pecikan darah di sana sini. Jika saja korban Momoy tidak terbakar habis, maka jumlah mayat yang berserakan akan semakin banyak lagi.
Tetapi semua yang terjadi tidak membuat pertarungan ini berakhir. Bahkan ketika terlihat jelas bahwa kawanan serigala ini kalah. Sang pemimpin kawanan seolah tidak peduli dengan semua itu. Ia sekarang masih fokus bertarung dengan Thorbiorn.
Serigala itu mencoba mencakar dan menggigit Thorbiorn. Seno takjub dengan pertarungan mereka. Apalagi, ia tahu bahwa serigala hitam itu melakukan sebuah serangan yang mirip serangan sihir.
Tiap kali kaki depan serigala hitam itu mencoba mencakar ke arah Thorbiorn, akan ada sesuatu seperti pedang keluar dari cakarnya. Ini cukup mirip dengan serangan si kembar. Hanya saja ada perbedaan dari serangan mereka.
Jika si kembar serangannya berupa pedang dari udara, maka serigala hitam ini serangannya berupa pedang dari es. Begitu juga dengan serigala putih yang bertarung dengan Azkareia.
Meski serigala itu bisa menggunakan serangan sihir, tetapi Thorbiorn maupun Azkareia masih bisa mengatasi serangan itu. Bahkan Seno yang melihat pertarungan mereka bisa menilai bahwa Thorbiorn dan Azkareia belum menggunakan kekuatan penuh mereka.
__ADS_1
Dalam waktu sepuluh menit, semua serigala sudah mati. Yang tersisa hanyalah serigala hitam dan serigala putih. Meski begitu, yang lain sama sekali tidak ada niatan untuk membantu Thorbiorn maupun Azkareia.
Mereka melakukan ini untuk menghormati musuh. Lagi pula, kekuatan mereka melebihi musuh. Akan sangat memalukan jika mereka harus bekerja sama untuk mengalahkan musuh yang lebih lemah dari mereka.
“Menyerah saja ..., apa yang Kamu lakukan ini tidak akan ada gunanya,” ucap Thorbiorn sembari menghindari serangan musuh.
“Lihatlah semua anggota kawananmu sudah gugur. Yang tersisa hanya mereka yang ada di puncak gunung bukan? Jadi, daripada Kamu berusaha tetapi tidak membuahkan hasil, lebih baik Kamu menyerah.”
“Grrr,” geram serigala hitam itu.
“Aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku tidak akan membiarkan kalian menguasai tempat ini semuda itu.”
“Apa Kamu yakin dengan pilihanmu ini?”
“Sangat yakin. Langkahi dulu mayatku jika Kamu ingin menguasai wilayahku.”
Thorbiorn menggelengkan kepalanya pelan. “Dasar keras kepala. Jangan salahkan aku jika aku menghabisimu.”
Thorbiorn lalu melirik sekilas ke arah Azkareia. “Sudah saatnya berhenti main-main Azkareia. Kita harus menyelesaikan ini dengan cepat. Mereka keras kepala dan tidak mau tunduk pada bos.”
“Ah baiklah.”
Setelah itu, Thorbiorn dan Azkareia berubah menjadi lebih serius. Thorbiorn menebaskan pedangnya ke arah serigala itu dengan cukup kuat. Serangan cepatnya itu tidak bisa dihindari oleh sang serigala hitam. Alhasil, kepala serigala hitam itu terpenggal.
Sementara itu, Azkareia dengan gerakan lincahnya menghindari semua serangan serigala putih. Ia lalu memposisikan tubuhnya di samping tubuh serigala putih. Azkareia lalu mencakar perut serigala putih tersebut sehingga perutnya terkoyak. Akibatnya, semua organ tubuh dari serigala putih itu keluar.
Itu adalah akhir dari pertarungan mereka untuk menaklukkan dimensi ini.
....
rekomendasi cerita, Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati, aby R. Angela
__ADS_1