
Setelah selesai menanam sayuran di kebun miliknya, Seno mendekat ke arah peternakannya. Ia mengeluarkan dua porsi rumput super yang menjadi makanan sapi-sapi di peternakannya.
Seno lalu menuju ke arah pagar yang memisahkan antara kebunnya dengan peternakannya. Pagar tersebut memiliki cela sekitar tiga puluh centi meter di setiap batang besi yang menjadi pagar. Hal itu membuat Seno dengan mudahnya bisa memasukkan tangannya ke dalam sana untuk memberi makan sapi-sapi itu.
Seno masih belum berani masuk ke dalam peternakannya, masih trauma. Jadi ia hanya berani melakukan hal ini sekarang.
Mungkin jika nanti sapi-sapi itu sudah cukul jinak, Seno akan memberi mereka makan di kandang secara langsung. Tidak seperti sekarang yang dibatasi dengan pagar.
Satu porsi dari rumput super ini cukup banyak. Jika Seno menaruhnya di bak motor roda tiganya, satu porsi rumput ini memnuhi bak tersebut. Sistem mengatakan bahwa satu porsi rumput super ini adalah jatah makan sapi-sapi itu dalam sehari.
Sejak Seno mengeluarkan rumput super itu dari penyimpanan sistem, sapi-sapi itu mendekat ke arah pagar tempat Seno berada.Mereka memandangi rumput yang ada di tangan Seno.
Laki-laki itu memberanikan diri menggambil segenggam ruput super ke dalam kandang. Sapi jantan itu tidak langsung memakan rumput yang ada di genggaman Seno. Sapi itu terlihat mengendus-endus dulu rumput tersebut untuk memastikan rumput itu aman.
Seno menunggu dengan sabar sapi itu untuk mengambil inisiatif memakan rumput itu. Ia mengikuti saran Sistem untuk membiarkan mereka mendekatinya, bukan sebaliknya.
Dengan cepat sapi itu mengambil rumput super itu dari genggaman Seno. Setelah itu, ia mundur beberapa langkah dan memberikannya kepada sapi betina.
“Sepertinya menjinakkan mereka adalah sebuah latihan kesabaran untukku.” Gumam Seno.
Seno pun melakukan kegiatan yang sama seperti itu berulang-ulang. Selama itu pula, kedua sapi itu belum juga mempercayainya. Hal ini Seno ketahui dengan kedua sapi tersebut yang lebih memilih memakan rumput tersebut dengan tetap menjaga jaraknya terhadap Seno.
Itu tidak menjadi masalah bagi Seno. Laki-laki itu sendiri juga sadar bahwa tidak semudah itu menjinakkan sapi-sapi tersebut.
****
Pagi harinya, sebuah mobil Toyota Alpard berhenti di halaman rumah Seno. Di belakangnyaterdapat sebuah truk militer berhenti di bahu jalan yang ada di depan rumah Seno. Dari dalam mobil Alpard tersebut, keluarlah Miranda yang saat ini tengah memakai dress polos berwarna marun.
“Hai Mas Seno.” Sapa Miranda.
“Hai Mir. Pakde Kamu nggak dateng?” Tanya Seno.
Miranda menggelengkan kepalanya pelan. “Nggak. Dia ada urusan lainnya, jadi Pakde Johan ngirim salah satu ajudannya kemari. Aku juga ikutan kemari.” Jelas Miranda.
Sekarang Andi melihat seorang laki-laki berpakaian militer berjalan mendatangi Seno dan Miranda. Kalau tidak salah ingat, laki-laki ini adalah orang yang sama yang datang bersama dengan Johan waktu itu.
__ADS_1
“Apakah semua wortelnya sudah siap?” Tanya laki-laki yang pada seragamnya bertulisakn Effendi tersebut.
“Semua sudah siap. Tinggal angkat aja.” Jawab Seno.
“Kalau begitu tunjukkan tempatnya, aku akan meminta anak buahku mengangkatnya ke dalam truk.” Pinta Effendi.
Setelah Seno menunjukkan letaknya, Effendi menyuruh beberapa tentara yang datang bersamanya mengangkati kardus berisi wortel itu ke dalam truk. Seno dan Miranda hanya memperhatikan saja. Sebenarnya Seno berniat membantu tetapi dilarang oleh Effendi.
“Kami sudah mengirim pembayarannya ke rekeningmu.” Ucap Effendi setelah semua wortel itu masukke dalam truk.
“Terima kasih.”
“Kolonel Johan juga menitipkan sebuah pesan, jika Kamu memiliki wortel-wortel ajaib itu lagi, segera hubungi kami melalui Miranda. Berapa pun jumlahnya, kami akan mengambilnya.” Jawab Effendi.
“Tentu aku akan melakukannya.” Jawab Seno.
Setelah kepergian Effendi, Seno mengecek pemberitahuan di layar ponselnya.
[Nasabah yang terhormat! Dana sebesar Rp 133.000.000,- telah masuk ke rekening Anda]
“Karena Kamu sudah mengenalkan padaku pelanggan yang memberiku uang banyak, maka aku akan metraktirmu makan sebagai ucapan terima kasihku padamu.” Ucap Seno dengan memberikan sebuah senyuman lebar kepada Miranda.
Senyuman Seno itu membuat jantungnya berdebar begitu cepat. Miranda lalu ingat ucapan Johan tempo hari. Bahwa dirinya perlu berani untuk mengungkapkan perasaannya kepada Seno.
Ajakan Seno untuk mentraktirnya ini jelas akan Miranda manfaatkan dengan baik. Ini adalahkesempatan baginya untuk mengungkapkan perasaannya itu.
“Aku akan meminta makanan yang sedikit mahal. Apakah Mas Seno tidak masalah dengan hal itu?” Tanya Miranda kepada Seno.
“Tentu saja tidak masalah untukku. Kamu mau makan kapan? Sekarang atau kamu mau menentukan hari lain?”
“Sekarang saja gimana? Kebetulan aku hari ini tidak ada jadwal kuliah. Jadi, kita bisa main seharian. Apakah itu nggak masalah dengan Mas Seno?” Tanya Miranda memastikan.
“Tidak masalah untukku.” Jawab Seno.
Ia sudah memberi makan sapinya, dan sayuran di kebunnya pun belum waktunya dipanen. Lalu, untuk belajar merawat sapi, Seno sudah menjadwalkan hal itu besok pagi. Ia akan mengunjungi sebuah peternakan sapi perah yang tidak jauh dari rumahnya.
__ADS_1
Jadi dirinya masih memiliki waktu untuk jalan dengan Miranda sekarang. Itu sama sekali tidak mengganggu waktunya.
“Baguslah. Bagaimana kalau kita sekalian ke Kota H, ada sebuah kafe baru yang menyajikan makanan cukup unik di sana. Beberapa temanku sudah pernah ke sana. Kata mereka makanan di sana juga enak. Jadi, aku ingin mencobanya mengunjunginya. Bisakah kita ke sana Mas?” Tanya Miranda.
“Tidak masalah untukku.” Jawab Seno.
Keduanya pun menaiki mobil milik Miranda untuk menuju ke sana. Ada sopir yang mengantar mereka, jadi Seno dan Miranda bisa duduk bersama di kursi penumpang bagian tengah. Sebenarnya Seno ingin duduk di depan, sayangnya Miranda memintanya duduk di sampingnya.
Selama perjalanan, keduanya saling mengobrol. Yang mereka bicarakan adalah kesibukan masing-masing. Miranda yang menanyakan perkembangan kebun milik Seno, dan Seno yang menanyakan rutinitas kuliah dari Miranda.
Kafe baru yang dikatakan oleh Miranda sepertinya sangat populer dikalangan anak muda. Lihat saja ketika mobil yang mereka tumpangi sampai di sana, area parkirnya hampir penuh. Kebanyakan yang datang pun membawa motor. Ini berarti pengunjung di dalam kafe cukup banyak.
“Tempat ini memang benar-benar nyaman dan unik sih.” Komentar Seno ketika dirinya baru saja selesai memesan beberapa makanan dan minuman kepada pelayan.
Kali ini Seno mengedarkan pandangannya ke sekeliling kafe. Kafe ini mengambil tema space ship. Jadi, kebanyakan hiasannya berupa planet-planet dan bintang-bintang yang bisa dilihat secara langsung dari kapal ruang angkasa.
Beberapa pelayan di kafe ini juga menggunakan seragam mirip baju astronot. Ya meskipun itu hanya sebuah kaos yang memiliki gambar beberapa komponen yang ada di baju astronot, yang membuat pemakainya seolah menggunakan baju astronot.
Konsep kafe seperti ini belum ada yang memakai di kota sekitar tempat tinggal Seno. Jadi tentu saja banyak penggunjungnya. Apalagi kafe ini baru beroperasi kurang dari sebulan.
Keunikan itu tidak hanya dari dekorasinya saja, tetapi beberapa menu yang tersedia di sini juga memakai nama-nama yang unik. Seperti semangkuk bakso misalnya, di kafe ini namanya berubah menjadi galaksi.
Ketika Seno mengedarkan pandangannya itu, ia tidak sengaja bertemu pandang dengan seorang perempuan yang cukup ia kenal. Sekarang Seno merasa canggung dengan perempuan itu karena dia sudah melihat Seno saat ini sedang bersama dengan Miranda setelah apa yang ia katakan tempo hari.
“Apa aku bilang. Nggak nyeselkan jauh-jauh kemari. Tempat ini cocok juga dijadikan tempat foto. Dekorasinya bagus.”
Di samping Seno, Miranda masih mengajak laki-laki itu membicarakan mengenai dekorasi kafe. Padahal, saat ini pandangan Seno tengah fokus kepada seorang perempuan yang berjalan menghampiri meja mereka.
Diamnya Seno membuat Miranda mengerutkan keningnya. Ia lalu melihat Seno yang tidak fokus pada dirinya. Ada sesuatu yang membuat laki-laki itu kehilangan fokusnya.
Miranda lalu mengikuti arah pandangan Seno. Ia lalu mengetahui bahwa Seno saat ini sedang memperhatikan seorang perempuan yang berjalan ke arah mereka. Seseorang yang juga ia kenal.
“Hai Mbak Dina.” Sapa Miranda ketika perempuan itu berada di dekat mejanya.
“Aku nggak nyangka bisa ketemu Mbak Dina di sini.” Ucap Miranda terlihat sedikit kaget.
__ADS_1
Miranda juga mengenal Dina, salah satu teman kakaknya, Ferdi. Jika tidak salah Ferdi, Dina dan Seno berteman baik semasa sekolah dulu.