
“Panel Sistem”
[Host : Seno Eko Mulyadi (23)]
[Kekuatan : 7,1 (+2) (Manusia Dewasa : 10)]
[Stamina : 5 (+6) (Manusia Dewasa : 10)]
[Luas lahan : 800 m2 (+1700 m2)]
[Level kebun : 4 (10000/10000)]
[Poin tanam yang dibutuhkan untuk naik level : 125.000.000]
[Poin tanam : 22.082.600]
[Penyimpanan Sistem : 15 slot (17/20)]
[Slot hewan ternak : 5]
[Pembelian slot selanjutnya : 10.000 poin ternak]
[Jumlah ternak : 4 ekor sapi]
[Poin ternak : 941.615]
[Slot resep olahan : 2]
[Pembelian slot selanjutnya : 1.000.000 poin pengolahan]
[Sektor pengolahan hasil kebun dan ternak : -]
[Poin pengolahan : 0]
[Misi : - Dapatkan uang sebesar Rp 1.000.000.000,- dari berjualan buncis
-Buat dua olahan susu (1/2)]
[Toko sistem : - Bukan Pupuk Biasa : 100 poin tanam
- Wortel dengan penuh Vitamin A : 50 poin tanam
__ADS_1
- Kentang mengenyangkan : 100 poin tanam
- Brokoli penuh vitamin dan mineral : 200 poin tanam
- Buncis penuh vitamin E : 300 poin tanam
- Rumput super grade D : 100 poin ternak]
[Buruh Tani : - Thorbiorn Arisson]
Seno baru saja selesai memanen kebun miliknya. Sekarang, dirinya sudah memiliki delapan belas ribu porsi buncis. Ini karena setiap buncis yang ia tanam menghasilkan tiga buah porsi. Jadi enam ribu buncis yang ia tanam menghasilkan buncis sebanyak itu.
Setelah selesai memanen, Seno buru-buru mengendarai motornya menuju ke kota. Hal ini Seno lakukan untuk membuat sebuah pembuktian dan video promosi untuk buncisnya itu. Dengan begitu, akan banyak yang tertarik membeli buncis miliknya dan mau membeli dalam jumlah besar.
Motor yang Seno kendarai memasuki perumahan elit yang ada di kotanya. Ia cukup mudah masuk ke perumahan itu setelah menunjukkan mukanya kepada satpam yang berjaga di gerbang utama. Seno lalu melajukan motornya ke salah satu rumah elit yang ada di sana.
Ini adalah perumahan elit tempat Seno biasa mengirim sayuran. Sejak dirinya bekerjasama dengan Wira Supermarket, Seno memang tidak lagi mengunjungi rumah-rumah ini seperti sebelumnya.
Sekarang, ada Wira Supermarket yang membantunya memasarkan sayuran biasa hasil kebunnya itu. Jadi, Seno menghubungi para pelanggannya dan meminta mereka membeli saja di Wira Supermarket.
Menurut Seno, Wira Supermarket sudah cukup menjadi tempatnya memasarkan sayur biasa. Ia perlu lagi seperti dulu yang mengantar sayur dari satu rumahke rumah lainnya.
Lebih baik ia memfokuskan perhatiannya untuk memasarkan sayuran khusus miliknya, yang jelas-jelas memberikannya keuntungan besar.
“Eh enggak Pak. Bu Cindy sudah tidak lagi berlangganan sayur ke aku. Tetapi sekarang aku ada sedikit keperluan dengan Bu Cindy. Apakah dia ada di rumah?” Tanya Seno.
Ini lah rencana yang ingin Seno buat untuk buncis-buncis miliknya. Membuat nenek-nenek terlihat jauh lebih muda lagi dari usia aslinya.
Cindy memang sudah merawat wajahnya dengan baik. Meski demikian, semua perawatan yang ia lakukan tidak menutupi fakta bahwa dia semakin menua.
Terakhir kali Seno bertemu dengan perempuan itu, Seno bisa melihat kerutan samar di wajah perempuan paruh baya itu. Jadi, Seno ingin Cindy mengkonsumsi buncis miliknya ini.
Jika Cindy yang melakukannya, maka efeknya jauh lebih hebat daripada yang terjadi pada Seno. Kulit Seno hanya nampak lebih bersih dan bercahaya daripada sebelumnya. Itu karena dirinya masih terbilang muda.
Selain itu, Cindy memiliki koneksi orang kaya yang cukup banyak. Jadi, perempuan itu nantinya bisa membantunya mempromosikan buncis miliknya kepada perempuan-perempuan lainnya.
Seno sudah merasakan sendiri hebatnya rekomendasi dari Cindy. Waktu itu saja ia berhasil memiliki cukup banyak pelanggan untuk sayur biasa miliknya. Jadi, Seno perlu memanfaatkan perempuan ini dengan sebaik-baiknya.
“Oh mau nyari Nyonya besar toh. Kebetulan nyonya besar ada di rumah. Masuk aja Mas Seno.” Ucap satpam tersebut membersilahkan Seno.
Seno hanya menunggu di ruang tamu. Asisten rumah tangga di rumah ini, tengah memanggilkan Cindy untuknya. Tidak lama kemudian, Seno mendengar langkah kaki berjalan mendekatinya. Ketika Seno menolehkan kepalanya, ia tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
__ADS_1
“Dina?”
Seno tidak menyangka bertemu dengan Dina di sini. Jika perempuan itu ada di sini, apa hubungannya dengan Cindy, pemilik rumah ini?
“Aku kira Seno yang mana yang sedang mencari Tanteku. Ternyata itu Kamu, Seno yang aku kenal.” Jawab Dina.
Tadi sewaktu asisten rumah tangga Cindy memberitahukan ada seseorang bernama Seno yang datang mencarinya, Dina juga ada di sana. Jadi perempuan itu pensaran apakah Seno yang datang ini sama dengan Seno yang ia kenal.
“Tantemu? Ternyata pemilik rumah ini Tantemu?”
“Ya ini rumah Tanteku, Kakak dari Mama. Jadi, ada urusan apa Kamu dengan Tante Cindy?”
“Ah, aku ingin menawarkan sebuah sayuran kepada Tantemu.” Jawab Seno.
Bersamaan dengan itu, Cindy memasuki ruang tamu rumahnya. Ia sedikit heran dengan sikap keponakannya yang tiba-tiba saja berlari ketika mendengar ada Seno yang mencarinya. Sekarang, dari interaksi antara keduanya, Cindy tahu bahwa mereka saling kenal.
“Rupanya Kamu datang Seno. Apakah Kamu sekarang datang dengan memberikanku wortel itu lagi?” Tanya Cindy.
Cindy memang merasakan bahwa wortel pemeberian Seno waktu itu cukup berkasiat seperti ucapannya. Ia ingin sekali membeli beberapa wortel lagi kepada Seno.
Sayangnya Seno tidak lagi mengirim sayuran kepadanya. Jadi, Cindy tidak lagi bisa meminta Seno mengirimkan wortel itu lagi kepadanya. Tidak hanya itu, Cindy selalu saja lupa jika ingin mengirimkan pesan kepada laki-laki itu.
Kebetulan dia datang kemari. Jadi, Cindy akan langsung meminta laki-laki itu menjual beberapa wortel kepadanya.
“Oh tidak Tante, aku sekarang membawa sayur yang lainnya. Aku ingin Tante merasakan kasiat dari sayuran baru ini.” Jawab Seno.
“Oh sekarang Kamu ganti lagi manggil Tante setelah sebelumnya manggil Kakak?” Tanya Cindy sembari menaikkan sebelah alisnya.
Kali ini Seno tidak merespon ucapan Cindy tersebut. Mungkin sebelumnya Seno akan tetap memanggil Cindy dengan panggilan Kakak. Tetapi, sekarang setelah ia tahu bahwa Cindy adalah Bibi dari Dina, tidak mungkin dirinya memanggilnya dengan panggilan Kakak bukan?
Jika begitu, kedudukannya akan setara dengan Cindy. Itu akan membuat hubungannya dengan Dina akan canggung ke depannya. Jadi, Seno memilih diam dantidak merespon sekarang.
“Ish Tante, Seno itu temanku. Masak dia manggil Tante dengan Kakak sih? Nanti aku jadi Manggil Seno Om dong.”
“Ck.” Cindy berdecak pelan mendengar ucapan Dina. “Kamu ini Tantekan juga pengen tetap awet muda. Jadi, Tante pengen dipanggil Kakak aja sama mereka yang lebih muda.” Jawab Cindy.
“Nah kebetulan sekali Tante. Apa yang aku bawakan untuk Tante ini, bisa membuat Tante lebih muda lagi dari sebelumnya. Aku yakin setelah ini jika Tante keluar rumah, maka semua orang akan ngira tante masih umur dua puluh tahunan.” Potong Seno.
Ucapan Seno tersebut membuat dua orang perempuan yang ada di ruangan tersebut langsung mengarahkan pandangan mereka kepada Seno. Keduanya lalu memandang Seno lekat-lekat.
“Benarkah itu? Apa yang bisa membuatku bisa memiliki wajah yang lebih muda dari usia asliku?” Tanya Cindy penasaran.
__ADS_1
Jika hal yang seperti itu memang benar ada, maka Cindy mau membelinya. Siapa juga yang tidak mau terlihat lebih muda dari aslinya. Cindy jelas sangat menginginkan hal itu.