
Amrul menerima paket yang baru pesanannya. Paket tersebut berisikan pepaya yang kemarin ia menangkan melalui lelang. Amrul berniat menggunakan pepaya ini untuk membalas dendam kepada Kakaknya.
Dari deskripsinya, Amrul tahu bahwa pepaya ini kemungkinan besar akan membuat seseorang mengalami diare jika orang tersebut tidak mengalami sembelit. Ini adalah senjata yang pas untuk Amrul membalaskan dendam kepada Kakaknya.
Lani, Kakak Amrul, sering melakukan sesuatu yang sangat menyebalkan di mata adiknya. Perempuan yang usianya dua tahun lebih tua dari Amrul itu sering mengerjainya. Beragam hal Lani lakukan untuk membuat Amrul kesal.
Mulai dari menyembunyikan sepatu milik Amrul yang akan ia pakai untuk sekolah, mematikan alarm milik Amrul hingga pemuda itu terlambat bangun, sampai dengan memberi cukup banyak sambal di bekal makanan milik Amrul.
Pemuda itu sudah cukup kesal dengan Lani. Maka dari itu, ketika melihat deskripsi dari pepaya yang tengah dilelang, Amrul berencana memberikan buah itu kepada Kakaknya sebagai bentuk hukuman atas perbuatanya.
Setelah menerima buah itu, Amrul membawanya ke dapur. Ia lalu mengupasnya dan menjadikan pepaya itu sebagai jus. Buah pepaya yang Amrul terima tidaklah besar.
Meski begitu, Amrul tidak protes mendapatkan buah pepaya dengan diameter sepuluh sentimeter setelah membayar dua ratus ribu untuk mendapatkannya. Ia rasa berkorban sedikit untuk membalaskan semua dendamnya selama ini, itu sebanding.
Dengan ukuran itu, satu buah pepaya itu berhasil Amrul ubah mejadi segelas jus. Langsung saja dirinya menuju ke lantai dua rumahnya di mana kamar Lani berada. Ia sedikit gugup ketika menunggu pintu kamar Lani terbuka. Ia mulai mempertanyakan keputusannya ini.
Apakah ini adalah pilihan yang tepat? Apakah Lani akan baik-baik saja setelah meminum jus ini? Segala pertanyaan itu berputar di kepala Amrul. Ia mulai ragu apakah semua ini akan baik-baik saja.
Namun, keraguan Amrul itu sirna ketika melihat ekspresi Lani. Kakaknya itu terlihat mencemooh dirinya. Kekeksalan yang selama ini menumpuk di hati Amrul, sekarang memuncak. Apalagi setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Lani.
Hal itu membuat Amrul yakin dengan keputusan yangia ambil sekarang. Lani pantas mendapatkan hukuman ini. Amrul tidak peduli dengan apa yang terjadi nantinya yang jelas, Amrul perlu menghukum Lani sekarang.
“Hai pecundang ada apa Kamu kemari? Mau minta ajarin belajar lagi? Sana cari temenmu aja. Kamu itu susah diajarin. Capek tahu ngajarin orang yang nggak ngerti-ngerti setelah dijelasin berkali-kali.” Ucap Lani sinis.
Amrul mencoba menahan kemarahnnya. Ia memberikan senyum terlebarnya kepada Lani. Pemuda itu tidak mau Kakaknya curiga dengan apa yang terjadi. Jadi, ia harus bersikap seolah tidak ada masalah.
“Hai Kak Lani, aku tadi beli buah. Terus aku ingat Kak Lani suka sekali jus buah. Jadi, ini aku buatin jus pepaya untuk Kak Lani.” Ucap Amrul sembari tersenyum lebar.
__ADS_1
Mendengar ucapan Amrul tersebut, pandangan Lani lalu terpusat pada segelas minuman berwarna oranye di tangan adiknya. Sekarang Lani baru sadar bahwa Amrul datang tidak dengan tangan kosong.
“Tumben banget Kamu buatin aku jus.”
Meski demikian, Lani tidak menaruh kecurigaan sedikit pun terhadap Amrul yang sekarang memberinya jus. Ia langsung saja mengambil segelas jus itu dari tangan adik laki-lakinya. Setelah itu, Lani langsung menenggaknya hingga habis.
Perempuan itu lalu menyerahkan gelas kotor itu kepada Amrul. Ia lalu menyapukan lidahnya di bibirnya untuk membersihkan sisa jus yang ada di sana.
“Ini, sekalian bawa ke dapur dan cuci hingga bersih!” Perintah Lani.
Amrul menurut saja. Toh dia sudah memberikan jus pepaya itu kepada Lani. Ia juga melihat sendiri Lani menghabiskan jus tersebut. Tinggak menunggu waktu saja hingga Lani merasakan akibat dari perbuatannya itu.
….
Setelah menutup pintu kamarnya, Lani kembali melanjutkan aktifitasnya menonton drama Korea. Lima menit kemudian, Lani merasakan perutnya mules dan dia perlu ke kamar mandi untuk buang air besar.
Untung di kamarnya ada kamar mandi, jadi Lani tidak perlu keluar kamar untuk pergi ke kamr mandi. Lani merasa lega setelah keluar dari kamar mandi. Namun belum sempat Lani duduk diranjangnya untuk melanjutkan menonton drama Korea, Lani merasa perutnya mulas sekali lagi.
Setelah mengingat-ingat, Lani merasa tidak ada makanan yang salah yang ia makan. Jadi, apa yang membuatnya sakit perut seperti ini.
Tiba-tiba Lani teringat akan jus pepaya yang Amrul berikan padanya. Itu mengingatkan Lani bahwa adiknya itu tidak pernah berinisiatif untuk membuatkan minuman untuknya jika tidak di suruh, Jadi, kemungkinan besar yang bermasalah adalah jus pepaya yang Lani terima dari Amrul.
“Sial.” Umpat Lani keras.
“Awas saja Kamu Amrul. Setelah ini Kamu akan aku hajar. Berani-beraninya Kamu memberiku obat yang membuatku diare seperti ini.”
Namun rencana Lani itu tidak juga segera terlaksanan. Sama seperti sebelumnya, setelah dirinya beberapa langkah keluar dari kamar mandi, ia kembali merasakan sakit perut yang luar biasa.
__ADS_1
Hal itu membuat Lani mengurungkan niatnya untuk menemui Amrul. Perempuan itu kembali memasuki kamar mandi untuk buang air besar.
Ini terjadi beberapa kali. Bahkan sampai tidak ada lagi yang bisa dikeluarkan pun, perut Lani masih terasa sakit. Itu membuatnya merasa lemas. Setelah lima kali keluar masuk kamar mandi, Lani tidak kuat.
Tenaganya seakan sudah terkuras sekarang. Ia tidak bisa lagi sekedar berdiri tegak. Yang bisa Lani lakukan hanya merangkak untuk keluar dari kamar mandi.
Perempuan itu lalu merangkak menuju ranjang miliknya. Ia lalu meraih ponsel yang ada di sana dan menghubungi Ayahnya. Pada deringan ketiga, panggilan Lani terhubung kepada Ayahnya.
“Hallo Lani, ada apa kamu memanggil Ayah?” Tanya sebuah suara di ujung panggilan.
“Ayah. Tolong bawa aku ke rumah sakit. Aku sudah tidak kuat lagi.” Ucap Lani dengan suara lemas.
“Memangnya Kamu kenapa Nak?” Tanya Ayah Lani.
Nada cemas tidak lagi bisa disembunyikan oleh laki-laki di ujung panggilan. Ia terdengar mengkhawatirkan keadaan Lani sekarang.
“Bawa aku ke rumah sakit.” Itulah kata terakhir yang Lani ucapkan sebelum dia jatuh pingsan.
….
Amrul melangkah dengan sedikit terburu-buru menaiki tangga rumahnya. Ia perlu mendatangi kamar Kakaknya untuk mengecek keadaan perempuan itu.
Sebelumnya Amrul mendapatkan panggilan dari Ayahnya. Laki-laki itu meminta Amrul melihat keadaan Lani karena ketika mereka terhubung dalam panggilan, Lani tiba-tiba saja tidak menjawab ucapannya. Hal itu membuat Ayah Amrul khawatir.
Ketika Amrul sampai di depan kamar Kakaknya, ia langsung membuka pintu itu. Amrul sedikit bernafas lega setelah mengetahui bahwa pintu kamar Lani tidak di kunci. Jika saja pintunya dikunci, maka akan sulit bagi Amrul masuk ke kamar perempuan itu.
Ketika Amrul masuk, ia melihat Lani yang terbaring tidak sadarkan diri dilantai. Tangannya menggenggam ponselnya. Amrul bisa melihat betapa pucatnya wajah Lani sekarang.
__ADS_1
Seketika itu juga, Amrul merasa bersalah dengan apa yang sudah dilakukannya. Tidak seharusnya ia membalas dendam kejahilan Kakaknya dengan cara seperti ini. Ini terlalu berbahaya.
Tetapi, sekarang bukan waktu yang tepat untuk Amrul larut dalam penyesalan. Ia masih perlumembawa Kakaknya ini ke rumah sakit. Pemuda itu tidak mau ada sesuatu yang lebih buruk lagi yang menimpa Lani. Jika sampai itu terjadi, maka Amrul tidak akan bisa memaafkan dirinya.