
Rendi tersenyum lebar ketika mendengar bahwa penjual pepaya yang membuat putrinya dilarikan ke rumah sakit, sekarang sudah ditahan oleh polisi. Rendi tidak peduli apakah laki-laki itu benar-benar salah dalam hal ini apa tidak.
Harus ada seseorang yang dihukum atas apa yang terjadi pada putrinya. Jelas Rendi tidak bisa melaporkan Amrul. Oleh karena itu penjual pepaya itu adalah target yang bagus.
Siapa suruh dia menjual pepaya seperti itu dengan bebasnya. Tidak hanya itu, harga yang ditetapkan oleh penjual itu untuk satu buah pepayanya terlalu mahal menurut Rendi. Tidak sepantasnya sebuah pepaya dijual dengan harga segitu.
“Bagaimana dengan Amrul? Apa kalian sudah menemukan keberadaannya?” Tanya Rendi kepada anak buahnya.
Sejak pertengkaran yang mereka lakukan dilorong rumah sakit, Rendi tidak lagi menemukan keberadaan Amrul. Anak laki-lakinya itu menghilang begitu saja.
Awalnya Rendi mengira Amrul hanya menghilang sebentar saja. Rendi yakin Amrul hanya akan pergi ke temannya dan nanti akan kembali pulang. Tetapi, sekarang setelah beberapa hari sejak kejadian itu pemuda itu tidak juga pulang.
Hal itu membuat Rendi khawatir dan menyuruh beberapa anak buahnya untuk mencai keberadaan Amrul. Ia tidak mau anak laki-lakinya itu melakukan sesuatu yang memabahayakan nyawanya sendiri. Apalagi seelah perdebatan mereka ini.
“Maaf Bos. Kami belum menemukan keberadaan Tuan Muda. Kami masih berusaha mencarinya.” Jawab anak buah Rendi.
“Cari dia sampai ketemu.” Perintah Rendi.
“Baik Bos.”
Lalu Rendi kembali ke ruang rawat putrinya. Meski putrinya sudah diperbolehkan pulang, tetapi Rendi ingin putrinya itu seratus persen sehat sebelum membawanya pulang.
Kesenangan Rendi karena mengetahui laki-laki penjual pepaya sudah ditahan ternyata tidak berlangsung lama. Baru satu jam yang lalu ia mendapatkan kabar bahwa laki-laki itu ditahan. Sekarang kabar yang ia terima sudah berubah.
Laki-laki itu sudah bebas. Banyak yang menjaminnya. Rendi bahkan cukup kaget mendengar siapa saja yang berebut menjadi penjamin laki-laki itu. Mereka adalah orang besar. Ia tidak menyangka orang yang ia hadapi ini memiliki koneksi sebesar itu.
__ADS_1
“Kamu bilang dia hanya seorang mahasiswa yang cuti kuliah hanya untuk bertani. Dia hanya dari keluarga sederhana. Lalu apa penjelasanmu tentang semua orang itu? Kenapa tiba-tiba mereka tiba-tiba datang dan berebut menjadi penjaminnya?” Teriak Rendi kepada anak buahnya.
Menurutnya anak buahnya ini tidak becus dalam menyelesaikan tugas dalam menyelidiki penjual pepaya itu. Jika tahu dia memiliki koneksi sekuat ini, tentunya Rendi tidak akan melaporkan penjual pepaya itu ke kantor polisi.
Semua orang yang berebut menjadi penjamin adalah mereka yang memiliki kekuasaan dan harta di atas Rendi. Bahkan orang terendah yang ingin menjamin penjual pepaya itu bisa menghancurkan perusahaannya hanya dengan satu kata. Ini bukan lagi satu, tetapi beberapa orang.
Jika salah satu di antara mereka membantu penjual pepaya itu untuk membalasnya, sudah jelas Rendi tidak akan bisa menghadapi orang-orang itu.
“Maaf Bos. Awalnya aku juga tidak mengetahui bahwa penjual pepaya itu memiliki hubungan dengan para pembesar itu. Namun, setelah aku selidiki lebih jauh, orang-orang itu adalah pelanggan dari penjual pepaya itu.”
“Aku sendiri juga tidak menyangka bahwa mereka akan muncul seperti ini dan menolong penjual pepaya itu. Beberapa bahkan hanya sekali melakukan transaksi tetapi mereka berani membela seperti ini.” Lapor anak buah Rendi.
Rendi sendiri juga merasa heran dengan hal itu. Jika mereka merupakan pelanggan lama yang sudah melakukan transaksi berulang kali, pasti tidak mengherankan jika saling membantu.
Tetapi mereka ini? Hanya satu dua kali melakukan transaksi, mereka sudah mau menjadi penjamin seperti ini.
*****
Ketika di kantor polisi, Seno ditanyai banyak hal oleh polisi. Polisi menanyakan asal usul pepaya miliknya, kenapa ia menjualnya dengan cara melelang pepaya tersebut, apa yang membedakannya dengan pepaya lainya. Semua pertanyaan seputar pepaya miliknya di tanya oleh polisi.
Beberapa pertanyaan Seno jawab dengan jujur, beberapa pertanyaan Seno jawab sekenanya, bahkan ada beberapa pertanyaan yang sama sekali tidak dijawab oleh Seno. Satu jam lebih Seno diintrogasi.
Setelah diinterogasi, Seno tidak langsung dibebaskan. Ia masih ditahan di kantor polisi. Sejam setelah dirinya diinterogasi, Seno mendapatkan seorang pengunjung. Ternyata yang mengunjunginya adalah Miranda.
Sepertinya Effendi mengabarkan dirinya yang ditangkap polisi kepada Johan. Dari situlah Miranda tahu tentang hal ini. Seno tidak kaget melihat keberadaan
__ADS_1
“Mas Seno.” Sapa Miranda dengan suara sedikit bergetar.
“Kenapa Mas Seno nggak ngabarin aku sih kalo Mas Seno ditahan polisi?”
“Nggak sempet. Aku juga nggak mau bikin Kamu khawatir.” Jawab Seno.
“Justru dengan Mas Seno nggak ngabrin aku sama sekali, aku jadi malah makin khawatir. Seharusnya Mas Seno ngabarin aku. Kedepannya kalo ada masalah seperti ini, Mas Seno harus segera ngabarin aku. Aku nggak mau tahu kabar tentang Mas Seno dari orang lain seperti tadi.” Jelas Miranda.
“Baiklah-baiklah. Aku tidak berharap di masa mendatang akan ada kejadian seperti ini. Tetapi jika aku memiliki masalah lagi, aku akan mengabarimu supaya Kamu tidak mendapatkan berita itu dari yang lainnya.” Jelas Seno.
Miranda mengangguk-anggukan kepalanya puas dengan jawaban yang diberikan oleh Seno. Ia cukup khawatir tadi ketika Johan mengabarinya bahwa Seno tengah ditahan dikantor polisi. Ia pikir Seno sudah melakukan sebuah kesalahan yang fatal.
Tetapi ternyata itu tidak. Jadi Miranda bisa bernafas lega setelah mengetahuinya. Cukup mudah baginya mengeluarkan Seno dari tahanan. Bahkan membantu Seno terbebas dari segala tuntutan pun adalah hal yang mungkin.
“Mas Seno setelah ini kita akan pergi dari sini.” Ucap Miranda.
“Tetapi aku masih harus ditahan di sini.”
“Tidak perlu, aku sudah menjadi penjamin Mas Seno, sehingga Mas Seno bisa terbebas dari tahanan. Nantinya, Mas Seno hanya perlu melakukan wajib lapor dan datang ke kantor polisi jika ada pemeriksaaan lanjutan mengenai kasus ini. Mas Seno tidak perlu menjadi tahanan polisi.” Jelas Miranda.
Bersamaan dengan ucapan Miranda itu, beberapa orang datang ke ruangan tempat Seno bertemu dengan Miranda. Mereka adalah beberapa perempuan berusia tiga puluh tahunan.
Seno sedikit heran melihat keberadaan mereka. Pasalnya dirinya tidak mengenal siapa mereka. Jadi, kenapa mereka tiba-tiba datang kemari?
Lalu, rasa bingung Seno itu terjawab ketika dirinya melihat keberadaan Dina di antara mereka. Dina sekarang terlihat dekat dari salah satu perempuan di rombongan itu.
__ADS_1
Seno memperhatikan dengan cermat perempuan itu. Ia melihat kemiripan perempuan itu dengan Cindy, tante dari Dina. Hal ini membuat Seno tahu siapa rombongan perempuan yang terlihat seperti usia tiga puluh tahunan ini.
Pasti mereka adalah teman arisan dari Cindy. Entah dari mana mereka mendengar kabar penahanan Seno, yang jelas dari ekspresi mereka, Seno tahu bahwa mereka datang untuk mendukungnya.