Petani Hebat Dengan Sistem

Petani Hebat Dengan Sistem
PH 105 Dikerumuni Mahasiswa


__ADS_3

Sebuah lorong di Fakultas Kesehatan Masyarakat terlihat ramai dipenuhi mahasiswa. Kebanyakan di antara mereka tengah membawa buket bunga. Beberapa juga membawa buket makanan ringan dan minuman. Bahkan, ada yang membawa buket berisikan uang di sana.


Mereka adalah mahasiswa yang sedang menunggu teman mereka menyelesaikan sidang skripsi. Memang hari ini di Fakultas Kesehatan Masyarakat diadakan sidang skripsi untuk beberapa orang mahasiswanya.


Tetapi, di antara mereka yang membawa buket, ada yang sedikit berbeda dari yang lain. Salah satu di di antara orang-orang itu membawa buket berisi wortel, buncis, cokelat, dan keju. Sebuah kombinasi yang cukup aneh untuk sebuah buket yang akan diberikan untuk sidang skripsi.


Tentu saja pembawa buket bunga itu adalah Seno. Pagi-pagi sekali ia sudah menyiapkan buket khusus ini untuk ia berikan kepada Dina sebagai hadiah telah menyelesaikan sidang skripsi. Ia terlihat sangat tenang sekarang.


Kemarin urusan senjata pesanannya sudah beres. Jadi Seno tidak lagi pusing memikirkan hal itu. Dimas Prayudi sudah menyanggupi permintaan Seno untuk dibuatkan senjata khusus dengan ukuran yang tidak biasa.


Untuk pedang yang akan ia berikan kepada Thorbiorn, Seno perlu membayar seratus lima puluh juta kepada Dimas. Sedangkan untuk Tiarsus, busur milik Elf yang satu itu cukup rumit. Ia setelah berunding dengan Dimas, busur itu bisa Seno dapatkan dengan harga tiga ratus juta rupiah.


Tetapi Dimas tidak meminta uang tunai dari Seno. Laki-laki paruh baya tersebut meminta Seno memberikannya buncis dalam jumlah yang senilai. Tentu saja Seno sangat setuju dengan hal itu. Empat ratus lima puluh juta setara dengan sembilan ratus porsi buncis di laman lelangnya.


Dalam tiga hari, Seno bisa memanen lebih dari sepuluh ribu buncis. Tentu saja itu terbilang cukup murah untuk Seno. Oleh karena itu ia mengirimkan seribu dua ratus buncis dan beberapa porsi cokelat kepada Dimas untuk pembayaran itu.


Hari ini Tiarsuslah yang bertugas mengirimkannya. Ia bisa berdiskusi langsung dengan perusahaan pembuat senjata mengenai desain tambahan yang dia inginkan. Jika itu membuat harganya lebih mahal lagi Seno tidak keberatan.


Kembali lagi ke Fakultas Kesehatan Masyarakat, sekarang banyak yang memandangi Seno dan diam-diam memotretnya. Mereka terdengar berbisik-bisik membicarakan Seno yang menurut mereka cukup aneh.


Namun ini tidak berlangsung lama. Ini karena ada beberapa mahasiswa yang tiba-tiba datang ke lorong Fakultas Kesehatan Masyarakat. Mereka langsung mendatangi Seno. Panggilan dari mereka yang baru datang kepada Seno terdengar cukup mengejutkan bagi mereka yang mendengarnya.


“Bos.” Ucap mereka hampir serentak.


“Aku tidak menyangka ternyata itu benar-benar Kamu Bos yang datang kemari. Seseorang yang berani datang membawa buket sayuran seperti itu pasti itu Kamu.”

__ADS_1


“Rupanya Kamu, Anton.” Jawab Seno.


Ternyata yang mendatangi Seno saat ini adalah Anton dan beberapa teman sekampusnya. Anton adalah pelanggan setia kentang Seno. Anton berhasil menjadikan kentang milik Seno menjadi camilan keripik kentang.


Produk milik Anton itu cukup laris di pasaran. Terakhir kali Seno melihat di toko online milik Anton, keripik miliknya sudah terjual sebanyak lima puluh ribu bungkus lebih.


“Bos, bisakah Kamu menjual beberapa buncis padaku sekarang, Mamaku memintaku membelikannya buncis milikmu. Tetapi aku selalu terlambat dalam mengikuti lelang itu. Apakah Kamu tahu, buncis milikmu itu terjual habis hanya dalam waktu beberapa detik. Mana mungkins aku sempat membelinya.” Ucap Fahmi.


“Iya benar Bos. Aku pelangganmu sejak Kamu membuka gerai di bazaar makanan. Jadi, permudahkanlah kami untuk membeli buncis milikmu itu.” Imbuh Miko.


“Kakakku juga ingin membeli buncismu lagi Bos. Berikan beberapa untukku.” Anton pun tidak mau kalah dengan kedua temannya.


Mendengar ucapan Anton, Fahmi dan Miko langsung menatap tajam laki-laki itu. Mereka tidak suka dengan ucapan Anton barusan. Pasalnya, selama ini Anton bisa dengan mudah berhubungan dengan Seno.


Ketika pihak Seno akan kentang-kentang pesanannya, Anton juga akan memesan beberapa buncis kepada Seno. Fahmi dan Miko mengetahui hal ini setelah Anton kelepasan bicara beberapa waktu lalu.


“Bukankah Kakakmu sudah sering mengkonsumsi buncis itu. Sekarang saja Kakakmu yang hampir berusia tiga puluh tahun itu, terlihat seperti anak berusia belasan tahun. Jika saja kami tidak tahu foto Kakakmu di waktu muda, maka kami pasti akan mengira Kamu memiliki adik baru.”


“Iya Fahmi benar, Kamu tidak boleh ikut dalam membeli buncis ini. Biarkan kami saja yang membelinya.” Imbuh Miko.


Setelah berucap demikian, Miko lalu memandang ke arah Seno dengan penuh harap. “Jadi Bos, bisakah Kamu menjual buncis itu kepada Kami. Jika biasanya Kamu menjualnya satu juta lima ratus untuk tiga porsi buncis, maka sekarang aku akan membelinya dengan harga dua juta lima ratus untuk tiga porsi.”


“Iya harga segitu tidak masalah. Berikan aku tiga puluh porsi sekaligus.” Imbuh Fahmi.


Seno sendiri tidak menyangka bahwa dirinya yang hanya berniat memberi dukungan kepada Dina, malah ditodong oleh pelanggannya seperti ini. Seno harap hanya mereka bertiga ini saja yang mengerumuninya.

__ADS_1


Tetapi harapan Seno itu tidak akan terkabul. Beberapa orang mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat, atau mereka yang sedang berada di sana, bisa mendengar perdebatan antara Anton, Fahmi, dan Miko.


Beberapa orang yang ada di sana mengikuti kejadian viral yang terjadi di dunia maya. Mereka langsung bisa menghubungkan perdebatan ketiga orang tersebut dengan kejadian viral itu.


Kata kuncinya adalah buncis yang susah dicari dan seseorang berani membelinya dengan harga jutaan rupiah hanya untuk beberapa porsi.


Seorang perempuan yang ada di sana pun mendatangi kerumunan Seno dan ketiga pelanggannya. Ia langsung menatap ke arah Seno.


“Apakah Kamu pemilik akun Petani Hebat yang menjual buncis ajaib itu?” Tanya perempuan itu.


Seno berniat tidak mengakuinya. Ini karena dirinya tidak mau banyak orang yang mengenalinya sebagai pemilik akun Petani Hebat. Jika begitu, maka ke mana pun ia pergi pasti akan ada orang yang mengerumuni dan memintanya menjual sayuran miliknya kepada mereka.


Rencana Seno itu gagal karena Irfan, laki-laki yang juga menyukai Dina mengiyakan pertanyaan perempuan itu.


“Dia memang pemilik akun itu. Apa hebatnya sih dia? Hanya seorang petani. Kalian tidak perlu memandangnya dengan pandangan seperti itu.” Ucap Irfan dengan tidak suka.


Laki-laki ini masih belum tahu bahwa orang tua Dina sudah merestui hubungan Seno dan putri mereka. Irfan masih berpikir bahwa pada akhirnya dirinya bisa menjadi suami Dina. Di tangannya kini sudah ada buket berisi uang seratusan ribu rupiah. Jika dihitung, uang tersebut berjumlah tiga puluh juta rupiah.


“Wah ternyata benar rupanya.” Ucap perempuan itu tanpa mempedulikan ucapan Irfan selanjutnya. Ia memandang Seno dengan tatapan penuh harap.


“Bisakah Kamu juga menjual buncis itu padaku?” Tanya perempuan itu sembari mengkedip-kedipkan kedua matanya kepada Seno.


Perempuan itu yakin laki-laki akan tersentuh jika diperlakukan dengan seperti ini. Tetapi Seno bukan laki-laki pada umumnya. Dirinya sudah memiliki dua orang perempuan yang akan menjadi istrinya.


Dina dan Miranda tidak kalah cantiknya dengan perempuan ini sebelum mereka mengkonsumsi buncis. Sekarang, setelah keduanya mengkonsumsi buncis, sudah jelas perempuan ini berada jauh dibawah keduanya.

__ADS_1


Jadi, rayuan perempuan itu yang bersikap sok imut di depan Seno, tidak akan memberikan efek apa pun. Itu malah membuat Seno merasa tidak nyaman dengan perempuan itu.


Itu adalah kejadian yang Dina lihat ketika dirinya keluar dari ruang sidang. Calon suaminya itu dikerumuni oleh beberapa orang. Bahkan ada Julia, salah satu gadis tercantik di fakultasnya, yang ikut mengerumuni Seno.


__ADS_2