
“Aku tidak lagi bisa mengungkapkan rasa terima kasihku kepadamu. Apa yang Kamu lakukan ini sangat berarti untuk keluargaku.” jelas Andre yang kini mengantar kepergian Sneo.
“Itu tidak masalah untukku. Lagi pula aku melakukan semua ini tidak cuma-cuma bukan? Aku ingin Mas Andre membantuku membuat video mengenai kacang merah milikku dan mengunggahnya di internet.”
“Jadi anggap saja apa yang aku berikan sekarang adalah bayaran atas apa yang akan Mas Andre lakukan.” Jelas Seno.
“Tetap saja aku perlu berterima kasih padamu. Sebuah video tidak akan bisa sebanding dengan apa yang Kamu lakukan untuk keluargaku. Aku akan melakukan sekuat yang aku bisa untuk membantumu mempromosikan produk-produk milikmu.” jelas Andre.
…
Sepulang dari rumah Andre, Seno pergi menuju ke Rumah Melati Putih, sebuah badan amal yang memberikan tempat tinggal bagi mereka yang tengah melakukan perawatan kanker.
Biasanya yang tinggal di sini adalah mereka yang dari luar kota, yang tidak memiliki tempat tinggal di kota ini, dan melakukan perawatan di rumah sakit. Dengan adanya Rumah Melati Putih ini, mereka tidak perlu lagi menyewa tempat untuk menginap beberapa hari selama melakukan perawatan.
Seno rasa ini adalah tempat yang tepat baginya mempromosikan produk miliknya. Tempat ini banyak menjadi tempat menyumbang bagi beberapa orang yang cukup ternama. Seno juga menyumbang beberapa uang penghasilannya di sini.
Jika ada belasan orang yang tiba-tiba sembuh dari kanker yang mereka derita, bukankah itu akan menjadi hal yang menghebohkan? Apalagi jika donatur yang menyumbang di sini mengabarkan itu semua ke khalayak umum, pasti kacang hijau miliknya akan lebih dikenal.
Selain itu, mereka yang memiliki uang lebih, dan memiliki niatan menyumbangkan uang mereka kepada mereka yang menderita kanker, akan memilih membeli kacang hijau miliknya untuk disumbangkan.
Daripada menyumbang uang untuk perawatan yang belum tentu berhasil, bukankah lebih baik membelikan mereka obat yang mujarab secara langsung?
“Eh Mas Seno datang kemari rupanya.” Sapa Aqila, penanggung jawab dari Rumah Melati Putih ini.
“Iya Bunda Qila, aku membawakan beberapa bahan makanan untuk mereka yang ada di sini. Sebagai selingan makanan saja.” jawab Seno.
__ADS_1
“Ish Mas Seno ini nggak perlu repot-repot begitu. Mas Seno kan udah sering ngirim sayur-sayuran ke sini. Sayur yang sebelumnya Mas kirim pun masih cukup banyak setoknya.”
“Itu anak buah Mas yang nganterin, si Azka. Dia ngehibur anak-anak yang ada di sini juga. Mereka jadi lebih senang. Mas nggak perlu ngerepotin diri dengan ngasih kami tambahan kayak gini.” Jawab Aqila.
Selain mengirimkan senjumlah uang, Seno juga mengirimkan sayuran kepada Rumah Melati Putih ini. Tentu yang ia kirimkan bukanlah sayuran khusus yang memiliki efek ajaib. Ia hanya mengirimkan sayuran biasa hasil kebunnya.
Meski itu sayuran biasa, menurut Dina efeknya terhadap pembaharuan sel manusia masih sama saja. Bedanya, prosesnya tidak seperti sayuran ajaib miliknya.
Jika sayuran ajiabnya membuat seseorang tidak akan memiliki sel yang mati, maka sayuran biasa yang ditanam di kebun khususnya, membuat jumlah sel mati milik seseorang berkurang banyak.
Jadi, ada kemungkinan mereka yang mengkonsumsi sayuran biasa miliknya akan mati dalam keadaan tua. Namun, umur mereka akan lebih panjang lagi dari umur manusia normal pada umumnya.
“Ini berbeda Bunda Qila. Yang aku bawa kali ini hanya kacang hijau. Nggak banyak juga hanya beberapa kilo saja. Bunda Qila bisa memasaknya dan menambahkan sedikit gula saja. Aku yakin anak-anak yang ada di sini pasti suka. Ini akan menjadi selingan makanan mereka.” jelas Seno.
Rumah Melati Putih ini memang rumah singgah yang dikhususkan untuk pasien kanker yang masih anak-anak. Jadi tidak heran jika sedari tadi Seno mendengar beberapa suara anak kecil di sini.
“Ah ya, boleh Bunda. Aku juga ingin melihat anak-anak yang lain.” jawab Seno.
Seno sengaja tidak mengatakan kepada Aqila bahwa kacang hijau miliknya ini memiliki kasiat lain. Ia takut memberikan harapan berlebih kepada keluarga mereka yang menderita kanker.
Di sini tidak sedikit anak yang sudah divonis dokter tidak akan memiliki hidup panjang. Jika dirinya memberi mereka harapan namun nyatanya apa yang ia katakan tidak sesuai, maka Seno akan merasa berdosa karena sudah menghancurkan harapan yang sudah mereka bangun.
Oleh karena itu, Aqila bersikap biasa saja. Tidak seperti Andre yang sebelumnya ia beri tahu maksud dan tujuannya datang ke rumahnya.
Di dalam Rumah Melati Putih, banyak anak kecil yang kini sedang mengobrol bersama. Ada yang duduk di kursi roda ketika mengobrol dengan temannya. Ada yang bisa duduk sendiri di kursi kayu yang ada di sana. Ada juga yang bermanja-manja dengan duduk di pangkuan orang tua mereka.
__ADS_1
Anak-anak itu memiliki wajah yang pucat, badan yang kurus, serta rambut yang menipis. Beberapa bahkan sudah tidak memiliki rambut lagi sehingga mereka memakai topi rajut untuk menutupi kebotakan mereka. Itu karena pengobatan yang mereka lakukan.
Ketika Seno datang, beberapa pasang mata melihat ke arahnya. Beberapa anak yang mengenali Seno, melambaikan tangan mereka meskipun itu adalah lambaian pelan.
“Mas Seno, kapan Mas Azka yang ganteng itu datang kemari? Aku ingin lagi ngobrol dengan dia.” ucap salah satu anak.
“Iya aku juga ingin digendong lagi dengan Mas Tiar yang tinggi itu. Aku jadi bisa lebih tinggi dari yang lain, bahkan lebih tinggi dari Ayahku ketika Mas Tiar menggedongku.” imbuh yang lain dengan senyum lebar.
Hati Seno merasa sedih melihat anak-anak ini yang berjuang untuk hidup, tetapi tidak pernah melupakan senyuman mereka. Sementara itu, di luaran sana banyak orang yang mengeluh karena hidup mereka menderita.
Setidaknya, orang yang menganggap diri mereka menderita yang ada di luaran sana, masih bisa melihat hari esok untuk bisa memperbaiki nasib. Sedangkan anak-anak ini? Mereka baru umur beberapa tahun. Paling tua yang ada di sini hanya berumur empat belas tahun.
Namun, anak-anak ini selalu terbayang akan kematian. Orang tua mereka selalu dalam keadaan was-was. Penyakit anak mereka bisa kambuh sewaktu-waktu, dan itu bisa jadi saat terakhir mereka hidup.
Seno salut dengan anak-anak ini. Yang tetap tegar meski dalam cobaan yang cukup berat seperti sekarang ini. Ia sangat berharap kacang hijaunya ini bisa benar-benar menyembuhkan mereka. Meski tidak sembuh seratus persen, Seno berharap mereka memiliki umur yang lebih panjang dan penderitaan mereka berkurang.
“Tenang saja, aku akan menyuruh Mas Azka dan Mas Tiar ke sini besok. Jika kalian mau, kalian juga bisa main ke tempatku, di sana ada banyak sekali kelinci yang bisa kalian lihat.”
“Kelinci? Mas Seno punya kelinci? Wah aku mau ke sana. Mama, Mama, besok setelah aku dari rumah sakit boleh ya kita ke rumah Mas Seno. Aku mau lihat kelinci yang dia punya. Boleh ya Ma, boleh ya Ma?” mohon seorang anak kepada ibunya.
Sang Ibu tidak langsung menjawab pertanyaan anaknya, ia lebih memilih memandang ke arah Seno setelah mendengar ucapan anaknya. Seno tahu arti tatapan mata itu.
Pasti Ibu ini ingin mengatakan bahwa Seno telah mengatakan sesuatu yang salah. Anaknya ini sedang sakit, jadi dia tidak bisa bergerak sebebas anak pada umumnya.
Tetapi Seno sama sekali tidak merasa bersalah setelah berucap demikian. Ia yakin kondisi anak-anak ini akan membaik setelah mengkonsumsi kacang hijau darinya. Jika memang mereka tidak membaik, Seno bisa membawa kelinci-kelinci miliknya ke sini bukan?
__ADS_1
Masih ada solusi lain untuk mempertahankan senyum anak-anak ini tanpa mereka perlu keluar dari Rumah Melati Putih ini.