Petani Hebat Dengan Sistem

Petani Hebat Dengan Sistem
PH 255 Tiga Tahun Delapan Bulan


__ADS_3

Seno langsung meneteskan darah miliknya ke inti dimensi yang dimiliki oleh Sosirone. Ia tidak bisa menunda-nunda hal ini. Sosirone masih bisa berubah pikiran dan menyerang Seno. Terkadang jika ada orang yang terdesak, mereka akan melakukan apa pun untuk menjatuhkan musuh mereka. Meski itu harus dibayar dengan nyawa sekali pun.


Setelah darah itu menetes, inti dimensi itu itu langsung masuk ke tubuh Seno. Kalis inis Seno merasakan tubuhnya jauh lebih kuat dari sebelum-sebelumnya. Jika Seno harus menggambarkanya, kekuatan yang diberikan oleh inti dimensi selama ini setara dengan segelas air minum. Sedangkan kekuatan yang diberikan oleh inti dimensi ini setara dengan beberapa galon air.


Tidak lama setelah inti dimensi itu menyatu dengan Seno, terdapat guncangan yang cukup keras di dalam dimensi. Ini seperti sebuah gempa bumi. Namun, Seno tahu ini bukan gempa bumi sungguhan. Lalu, terdapat cahaya yang cukup menyilaukan yang menyelimuti sekeliling dimensi. Hal itu membuat Seno bingung. Pasalnya, selama menaklukkan dimensi, ia tidak pernah melihat hal yang seperti ini.


“Sistem, ada apa ini?” tanya Seno. Sistem tentunya lebih tahu mengetahui mengenai hal ini daripada Seno. Maka dari itu Seno bertanya.


[Sekarang ini semua dimensi yang ada di sektor tempat tinggal Host, sedang menyatu]


[Ini karena Host sudah menjadi pemilik dari dimensi inti yang ada di sektor ini]


[Ini tidak akan berlangsung lama, Host]


[Paling lama hanya lima menit saja]


Benar seperti kata Sistem, kurang dari lima menit, guncangan itu berhenti. Lalu tidak lama kemudian, cahaya yang menyelimuti seluruh dimensi, menghilang. Sekarang, Seno bisa melihat bagian lain dimensi ini. Ia melihat gunung es dan gunung berapi yang cukup ia kenali.


“Akhirnya aku kembali,” gumam Seno senang.


Seno tidak mempedulikan pandangan anak buahnya yang lain. Sekarang dirinya sudah menjadi penguasa semua dimensi yang ada di Asia Tenggara. Tidak ada yang bisa melukainya di dalam dimensi ini. Jadi, setelah memastikan ia kembali, Seno langsung berlari menuju ke tempat yang sangat ia kenali, kabin di danau.


Seno tidak tahu berapa lama ia meninggalkan kedua istrinya. Seno hanya berada di dimensi ini selama beberapa jam saja. Mungkin delapan jam saja. Namun, Seno tidak mengetahui berapa lama waktu di luar yang sudah terlewatkan.


“Sistem, berapa lama waktu yang sudah terlewatkan di Planet Bumi?”


[Host satu hari di Dimensi Baines setara dengan lima setengah bulan di Planet Bumi]


[Jadi, waktu yang sudah Host lewati adalah empat puluh empat bulan atau setara dengan tiga tahun delapan bulan]


Seno yang masih berlari itu tertegun mendengar ucapan Sistem. Tiga tahun delapan bulan? Sudah selama itu? Padahal ia hanya pergi selama delapan jam saja, tetapi bagi Dina dan Miranda ia sudah meninggalkan mereka selama tiga tahun delapan bulan?


Itu berarti, Seno tidak ada di samping keduanya ketika mereka melahirkan. Bagaimana dengan anak-anaknya? Apakah mereka sehat? Apakah mereka lahir dengan normal? Bagaimana dengan kelakuan mereka selama ini?


“Pasti sangat berat bagi Dina dan Miranda dalam membesarkan anak-anakku sendirian,” gumam Seno.

__ADS_1


Ada rasa bersalah dalam diri Seno ketika memikirkan hal ini. Setelah kembali nanti, Seno akan menebus kesalahannya dengan selalu bersama kedua istri dan anak-anaknya. Ke mana pun mereka pergi, Seno akan menemani mereka.


Setelah hampir setengah jam berlari, pada akhirnya Seno sampai juga di tempat yang sangat ia kenali, kebun miliknya. Luas dimensi yang bertambah membuat Seno membutuhkan waktu yang lebih lama untuk sampai di kebunnya ini.


Beragam tanaman segar dan terawat terlihat di tanam di kebun miliknya. Seno juga melihat jumlah ternak miliknya yang juga bertambah banyak. Ayam, sapi perah, dan hewan lainnya berkeliaran di padang rumput dengan tenangnya.


Di tempat lain, Seno juga bisa melihat beberapa orang dewasa yang tengah berkumpul. Di depan mereka ada dua orang anak perempuan dan seorang anak laki-laki yang tengah bermain bersama. Kedatangan Seno membuat mereka menghentikan apa yang sedang mereka lakukan.


Salah satu perempuan yang ada di sana, terlihat mendekati Seno dengan raut wajah gembira. Dia memandang Seno dari ujung kepala hingga ujung kaki. Mata perempuan itu terlihat berkaca-kaca melihat kepulangan Seno.


“Bos, akhirnya Kamu pulang juga,” ucap perempuan tersebut.


“Kamu, Jasmine?” tanya Seno ingin memastikan. Ia melihat wajah perempuan di depannya ini memiliki kemiripan dengan wajah milik Jasmine. Jadi, Seno menebak perempuan ini adalah Jasmine.


“Ya. Ini aku Jasmine, Bos.”


Seno tidak menyangka dalam tiga tahun Jasmine sudah tumbuh menjadi dewasa. Seno baru ingat bahwa Jasmine adalah seekor kelinci. Jadi, tidak mengherankan dalam waktu singkat Jasmine sudah terlihat seperti seseorang yang berusia dua puluh tahunan.


“Di mana kedua istriku sekarang? Apakah mereka keluar?”


“Mereka sedang pergi ke salon, Bos. Aku akan menghubungi mereka dan meminta mereka kembali.”


Sebelum Seno menjawab ucapan Jasmine, ia mendengar suara anak kecil yang memanggil nama Jasmine. Hal ini mengingatkan Seno akan tiga anak kecil yang tadi bermain bersama Jasmine.


Seno tertegun ketika melihat tiga anak itu. Hanya dengan sekali melihat, Seno bisa tahu siapa mereka sebenarnya. Mereka adalah anak-anaknya. Dua anak perempuan itu pasti Elina dan Elvina. Keduanya memiliki wajah yang cukup mirip dengan Dina. Lalu, anak laki-laki itu pasti Adelard.


Seno lalu berjalan ke arah ketiganya. Seno bernapas lega melihat ketiga anak itu tidak menolak dirinya. Buktinya, mereka masih tetap berdiri di tempat mereka berada dan tidak mundur selangkah pun. Ketiganya terlihat mengamati wajah Seno.


“Apakah Kamu adalah Ayah kami?” tanya Adelard. Tatapan wajah Adelard ketika memandangi Seno cukup dingin. Nampaknya, tidak ada rasa senang sedikit pun dalam diri Adelard ketika melihat Seno.


Berbeda dengan Adelard, Elina dan Elvina terlihat senang. Mata mereka berbinar melihat kedatangan Seno. Wajah Seno sama persis seperti foto yang selalu Dina tunjukkan kepada keduanya sebelum tidur. Laki-laki ini memang benar ayah mereka. Namun, keduanya menunggu pernyataan dari Seno terlebih dahulu.


Seno menghentikan langkahnya pada jarak satu meter di depan ketiga anaknya. Ia lalu berjongkok untuk mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan tinggi tubuh ketiga anaknya. Untuk anak seusia mereka, ketiganya bisa dikatakan sebagai seseorang yang cukup tinggi. Mungkin selama ini mereka mengkonsumsi susu sapi super milik peternakan mereka.


“Ya. Aku adalah ayah kalian. Apakah kalian tidak mau memberiku sambutan selamat datang dengan memelukku?” tanya Seno penuh harap. Ia membentangkan kedua tangannya agar ketiga anaknya bisa berhambur ke pelukannya.

__ADS_1


“Ayah.”


Namun, tidak semua anaknya datang. Adelard tetap berdiri di tempat, sementara Elina dan Elvina berada dalam pelukan Seno. Melihat hal itu, Seno tahu bahwa ada yang marah karena ia sudah pergi lama. Ini adalah resiko yang harus Seno terima.


Meski begitu, Seno tidak langsung berkecil hati. Ia memiliki cukup banyak waktu untuk memperbaiki hubungannya dengan anak-anaknya. Cepat atau lambat, Seno yakin ia bisa meluluhkan hati anak-anaknya.


Seno lalu mengecup kening Elina dan Elvina. Seno sekarang belum bisa membedakan siapa yang Elina dan siapa yang Elvina. Tetapi lambat laun Seno bisa mengetahuinya. Apalagi, salah satu di antara keduanya memiliki tahi lalat di dekat bibir sedangkan yang lain tidak.


“Apakah kalian merindukan Ayah?”


“Ya, aku sangat merindukan Ayah. Bunda juga begitu. Setiap malam, Bunda selalu menceritakan mengenai Ayah. Bunda selalu menunjukkan foto pernikahan kalian. Ayah terlihat sangat tampan dan keren ketika memakai baju pernikahan. Aku juga ingin memiliki suami seperti Ayah kelak,” ucap anak perempuan Seno yang memiliki tahi lalat di dekat bibirnya.


“Nggak hanya Vina aja yang pengen. Aku juga pengen Ayah,” imbuh Elina. Sekarang Seno bisa membedakan siapa yang Elina dan siapa yang Elvina. Elvina adalah anaknya yang memiliki tahi lalat.


“Tentu saja. Suatu saat nanti, kalian akan menemukan seseorang yang memiliki suami yang tampan dan keren seperti Ayah,” ucap Seno sembari mengelus rambut keduanya.


Lalu, Seno mendekat ke arah Adelard yang masih tidak mau bergerak dari tempatnya. Anak laki-laki Seno itu justru membuang muka ketika Seno mendekat.


“Apakah Kamu marah karena Ayah baru kembali?” Seno tidak langsung menerima jawaban. Adelard masih mendiamkan Seno. Hal itu membuat Seno mengulurkan tangannya dan menyentuh kepala Adelard. Ketika tidak ada penolakan dari Adelard, Seno langsung mengelus rambutnya.


“Maafkan Ayah sudah membuat kalian menunggu terlalu lama. Sekarang, Ayah akan menebus semua waktu yang tidak bisa Ayah habiskan dengan kalian. Ke mana pun kalian pergi, apa pun yang akan kalian lakukan, Ayah akan meluangkan waktu Ayah untuk menemani kalian.”


“Apakah Ayah akan benar-benar melakukannya?” tanya Adelard.


“Ya, Ayah berjanji.”


“Sungguh? Termasuk menaiki bianglala bersama, mendaki gunung, berenang bersama? Apakah Ayah mau melakukan semua itu denganku?” tanya Adelard dengan penuh harap.


“Tentu saja. Bahkan, Ayah bisa melakukan lebih dari itu. Sekarang, coba naiklah ke punggung Ayah,” pinta Seno.


Adelard tidak tahu apa yang akan Seno lakukan. Tetapi, rasa penasarannya membuat Adelard mengikuti permintaan ayahnya. Ia naik kepunggung Seno dan berpegangan erat. Punggung ayahnya terasa luas dan hangat.


“Jadi seperti ini rasanya berada di punggung Ayah,” gumam Adelard dalam hati.


Setelah Adelard berada di punggungnya, Seno lalu menggendong Elina dan Elvina di kedua tangannya. “Kalian berpeganganlah dengan erat. Ayah akan mengajak kalian bersenang-senang. Hal ini jauh lebih menyenangkan daripada menaiki bianglala.”

__ADS_1


Setelah berucap demikian, Seno melompat pelan dan membuat tubuhnya melayang di udara. Awalnya ketiga anak Seno sedikit ketakutan setelah Seno membawa mereka melayang. Namun, lama kelamaan mereka rasa takut itu menjadi kegembiraan.


Ketiganya tertawa dengan keras karena bahagia bisa bermain bersama dengan ayah mereka. Suara tawa dari Seno dan ketiga anaknya inilah yang menyambut kedatangan Dina dan Miranda ketika mereka pulang.


__ADS_2