Petani Hebat Dengan Sistem

Petani Hebat Dengan Sistem
PH 79 Dua Pepaya Seratus Juta Rupiah


__ADS_3

Seno sedang berada di samping rumahnya. Ia melatih kelincahan tubuhnya dengan karung-karung pasir yang ia gantung di pohon. Sekarang fisik, refleks, dan stamina Seno sangat jauh dari awal ketika dirinya mencoba berlatih.


Dulu ia berlatih dengan hanya menggunakan dua hingga tiga karung saja. Sekarang dia sudah bisa menghindari enam karung yang digerakkan secara bersamaan. Refleks tubuhnya sudah bisa mengimbangi pergerakan matanya.


Apalagi dengan adanya Thorbiorn sekarang, laki-laki itu sudah melatih Seno banyak bela diri yang diketahuinya. Dulu Seno berpikir ia perlu mendatangi perguruan bela diri untuk berlatih, tetapi sekarang itu semua tidak perlu.


Gerakan dari beladiri yang Thorbiorn ajarkan membuat Seno bisa menepis semua serangan musuh, bahkan juga mengejarkannya membalas musuh yang menyerang. Itu lebih tepat disebut sebagai gerakan membunuh daripada gerakan melindungi diri dari serangan.


Dengan beladiri yang Thorbiorn ajarkan padanya sudah cukup untuknya melindungi diri bahkan lebih. Jadi Seno tidak perlu mempelajari beladiri yang lainnya.


Saat ini yang membantu Seno menggerakkan karung-karung pasir untuknya patihan adalah para kelincinya. Ini adalah hobi baru mereka sekarang. Mereka akan mengarahkan karung itu ke arah Seno, jika itu berhasil mengenai Seno, mereka akan tertawa dengan keras.


Seno tidak memarahi mereka atas apa yang mereka lakukan padanya itu. Ini adalah latihan yang Seno butuhkan saat ini. Serangan tidak terduga yang dilayangkan oleh kelinci-kelincinya dengan karung-karung itu, sangat membantu banyak dalam latihan Seno.


Jelas jika terjadi pertarungan sungguhan, tidak akan ada kesempatan untuknya membaca semua pergerakan musuh yang datang secara mendadak bukan? Jadi latihan seperti ini melatih tubuhnya mendeteksi bahaya yang ada di sekitarnya.


“Sudah cukup sampai di sini saja.” Ucap Seno setelah satu jam berlatih.


Ia tidak perlu berlatih dalam waktu lama. Satu jam sudah cukup. Yang penting menurut Sneo bukanlah seberapa lama berlatih setiap harinya, tetapi seberapa tekun ia berlatih. Asalkan ia berlatih setiap hari, meski hanya satu jam, itu tetap akan mendapatkan hasil bagus.


Setelah mebersihkan diri, Seno bersantai di teras rumahnya. Di sampingnya sudah ada segelas susu hangat yang menemaninya.


Seno sekarang baru menyadari bahwa pakaian miliknya sekarang sudah menyusut. Bukan lebih tepatnya tubuhnya yang bertambah tinggi sekarang. Seharusnya cukup sulit bagi orang seusia Seno bisa menambah tinggi badannya, ia sudah melewati masa pertumbuhan.


Tetapi pada kenyataannya ia semakin tinggi sekarang. Lima sentimeter lebih tinggi dari sebelumnya. Itu adalah angka yang cukup besar, apalagi untuk orang seusia Seno.


Laki-laki itu tahu ini ada hubungannya dengan susu dari sapi-sapinya itu. Jika saja sekarang Seno masih dalam masa pertumbuhan, pasti pertambahan tinggi badan yang Seno dapatkan lebih banyak lagi daripada ini.


Itulah sebabnya setiap pagi dan sore hari setelah beraktifitas dikebun, Seno selalu menyempatkan diri untuk meminum segelas susu. Ia ingin tahu batas tinggi badan yang bisa ia dapatkan dengan terus mengkonsumsi susu sapinya ini.

__ADS_1


Jika itu adalah hal yang bagus, maka Seno yakin jika nanti produksi susunya sudah banyak, ia bisa menjualnya dengan harga tinggi. Ratusan ribu bisa Seno dapatkan hanya dari seliter susu.


Ketika ia bersantai, tiba-tiba saja ada beberapa rombongan mobil mendekat ke rumah Seno. Ada sekitar tiga mobil. Seno kira itu akan menuju ke tetangganya, tetapi ternyata tidak. Mereka mengarah ke rumah Seno.


Ketiga mobil tersebut merupakan mobil mewah yang harganya miliaran rupiah. Jadi, penumpang dari mobil itu bukanlah orang biasa.


Ketika mobil itu berhenti, beberapa orang berjas hitam, dengan kemeja putih keluar dari sana. Tidak hanya itu, kacamata hitam juga bertengger di hidung mereka.


Dari penampilan mereka, Seno bisa menyimpulkan bahwa mereka ini adalah seorang pengawal. Ini berarti, siapa pun yang datang kemari, bukanlah orang biasa jika mampu membawa pengawal sebanyak itu.


Salah satu pengawal kemudian membuka pintu penumpang mobil yang berada di tengah. Dari sana keluar seorang laki-laki paruh baya yang tengah memakai jas berwarna abu-abu. Ketika laki-laki itu keluar, para pengawal yang ada di sana sedikit menundukkan badan mereka untuk memberi hormat.


Seno pun berjalan mendekat ke sana. Ia ingin tahu siapa mereka dan apa tujuan mereka datang kemari. Itu karena Seno sama sekali tidak mengenal salah satu di antara mereka.


“Apakah benar ini rumah Seno Eko Mulyono?” Tanya laki-laki yang merupakan Tuan dari para pengawal ini.


“Ya benar saya sendiri. Ada apa ya ini Pak?”


“Dimas Prayudi? Apakah Prayudi yang itu?” Tanya Seno memastikan.


“Ya, aku memang berasal dari keluarga Prayudi yang itu.” Jawab Dimas.


Keluarga Prayudi saat ini adalah keluarga terkaya di negeri ini. Semua anggota keluarganya menduduki jajaran dua puluh orang terkaya di negeri ini.


Memang keluarga Miranda termasuk dalam jajaran sepuluh keluarga terkaya di negeri ini, tetapi untuk setiap anggota keluarganya, masih sangat jauh di bawah keluarga Prayudi.


Bahkan dari yang Seno dengar, keluarga Prayudi sekarang sudah menjadi keluarga terkaya nomor tiga di dunia. Ini sudah setingkat dunia yang memiliki banyak sekali orang kaya, bukan lagi setingkat negeri ini.


Seno tidak menyangka bahwa dirinya didatangi seseorang dari keluarga terkaya itu. Ia yakin bahwa laki-laki di depannya ini memangdari keluarga Prayudi dan bukan seorang penipu. Mana ada yang berani berpura-pura menjadi anggota keluarga Prayudi.

__ADS_1


“Ada apa ya Anda datang ke gubukku ini?” Tanya Seno.


“Aku ingin membeli pepaya darimu. Aku mendengar dari seorang pemuda bahwa pepaya milikmu sangat mampu mengobati sembelit. Kebetulan Ayahku memiliki masalah pencernaan dan dia harus dioperasi.”


“Dengan umurnya yang sudah tua, setiap operasi akan cukup beresiko untuknya. Jadi aku berharap pepaya milikmu itu bisa mengobati penyakit ayahku itu. Berapa pun yang Kamu minta, aku akan memberinya.”


Ternyata ini berkaitan dengan pepaya miliknya. Ia tidak menyangka bahwa dari hasil kebunnya bisa membuat Seno berkenalan dengan salah satu orang terkaya di negeri ini.


“Tentu-tentu aku bisa memberikannya untuk Anda Pak. Bapak bisa menentukan sendiri harganya. Tetapi aku perlu memberikan peringatan di awal kepada Pak Dimas, bahwa pepaya milikku ini cukup keras efeknya.”


“Jadi, aku rasa Pak Dimas hanya perlu memberikan sedikit pepaya saja. Jika kurang bisa ditambah sedikit lagi. Suapaya tidak terlalu banyak.”


Dari penyelidikan yang Seno jalankan dikantor polisi, ia tahu betapa dasyatnya efek dari satu buah pepaya miliknya. Seno tidak mau Dimas salah memberikan dosis dan membuat Ayahnya mengalami kejadian yang sama seperti orang yang memakan pepaya sebelumnya.


Jika itu terjadi, jelas Seno tidak akan selamat. Yang menjadi lawannya adalah keluarga Prayudi, bukan pebisnis baru seperti yang ia lawan sebelumnya.


Jelas orang-orang kaya dan berkuasa yang Seno kenal, tidak bisa membantunya meghadapi keluarga Prayudi jika mereka memang sudah memutuskan untuk menjadikan Seno sebagai musuh.


Oleh karena itu, Seno perlu berhati-hati dan memberikan peringatan keras seperti ini di awal. Ia tidak mau disalahkan lagi jika nanti terjadi apa-apa.


“Tentu saja aku tahu itu. Aku akan berhati-hati dalam memberikan pepaya kepada Ayahku. Kamu tenang saja.” Jawab Dimas.


Seno pun memberikan Dimas dua buah pepaya. Dimas bilang akan membayarnya melalui transfer.


Ketika rombongan Dimas Prayudi pergi, barulah Seno memiliki waktu untuk melihat pemebritahuan di ponselnya mengenai dana yang masuk ke rekeningnya.


[Nasabah yang terhormat! Dana sebesar Rp 100.000.000,- telah masuk ke rekening Anda]


Seno cukup kaget melihat pemberitahuan dari bank itu. Seratus juta rupiah? Seno lalu menghitung ulang jumlah angka nol pada pemberitahuan itu. Dirinya tidak salah hitung, ada delapan angka nol di sana. Itu benar-benar seratus juta rupiah.

__ADS_1


Ini berarti Dimas menghargai satu buah pepaya miliknya dengan harga lima puluh juta rupiah. Padahal, sebelumnya Seno hanya mengatakan bahwa Dimas hanya perlu membayar lima ratus ribu untuk dua buah pepaya, bukan lima puluh juta.


“Orang kaya memang kayak gitu ya. Uang kayak nggak ada artinya buat mereka. Untuk dua pepaya saja mereka mau membayar seratus juta seperti ini.” Gumam Seno pelan.


__ADS_2