Petani Hebat Dengan Sistem

Petani Hebat Dengan Sistem
PH 170 Rumah Merah Putih (2)


__ADS_3

“Tenang saja, jika memang besok kalian tidak bisa keluar dari sini, aku akan membawa kelinci-kelinci itu kemari. Aku yakin kalian masih bisa mengamati kelinci di sini.” jelas Seno.


Ucapan Seno ini cukup menenangkan para orang tua yang takut anaknya menanyakan hal yang sama, meminta mendatangi rumah Seno untuk melihat kelinci miliknya.


Seno pun mengobrol dengan anak-anak yang ada di sana cukup lama. Ia menceritakan mengenai dongeng-dongeng yang ia karang sendiri.


Dongeng yang Seno ceritakan mengenai kelinci yang bisa berubah menjadi manusia. Demi membalas budi kepada seorang petani yang pernah menolongnya, kelinci tersebut mengumpulkan kelinci-kelinci yang lain, untuk membentuk kerajaan kelinci.


“Kelinci tersebut setiap malam membantu petani itu mencabuti rumput, yang ada di ladangnya agar tanaman milik petani itu bisa tumbuh dengan subur. Setiap hari petani tersebut merasa takjub karena hanya ladangnya saja yang tumbuh subur tanpa ada rumput pengganggu, sedangkan petani yang lainnya ladangnya tetap ditumbuhi rumput.” ucap Seno menceritakan dongengnya.


“Lalu bagaimana kelanjutannya Mas? Apakah dia akan mendatangi kebunnya untuk mencari tahu siapa yang membatunya? Apakah petani itu tahu bahwa ada kelinci-kelinic yang membantunya? Apakah nanti ketika tahu kelinci itu sudah membantunya, petani itu akan menikahinya?” tanya salah seorang anak.


Seno cukup takjub dengan imajinasi anak ini. Ia hanya sedikit memberikan cerita awalan. Namun lihatlah, dia sudah menyusun plot kelanjutannya. Sudah pasti anak ini memiliki bakat untuk menjadi seorang penulis. Ia berharap anak ini bisa menyadari bakatnya itu dan mengembangkannya.


“Aku akan melanjutkan lagi ceritaku nanti. Sekarang kita makan kacang hijau yang aku bawa. Bunda Qila sudah memasaknya. Siapa yang nanti bisa menghabiskan kacang hijau mereka, maka aku akan memberi hadiah kepada dia. Dia bisa membuat satu permintaan dan aku akan mengabulkannya.”


“Bolehkan aku minta mobil kepada Mas Seno?” tanya salah seorang anak. “Ibu selalu berpanas-panasan menggunakan motornya jika pergi mengantarku. Kadang kami harus berteduh hanya karena hujan deras.”


“Kalau aku, aku ingin rumah. Aku nggak mau ngontrak terus di tempat sempit. Aku mau punya kamar sendiri. Aku juga ingin ayah dan ibu punya kamar sendiri.” sahut anak yang lainnya.


Tanpa anak-anak ini sadari, apa yang mereka ucapkan ini membuat orang tua mereka berkaca-kaca. Apa yang mereka ucapkan ini telah menyayat hati orang tua mereka.


Itu adalah harapan terdalam dari anak-anak ini. Tetapi mereka sebagai orang tua, belum mampu memberikan apa yang anak-anak mereka inginkan. Mereka sebagai orang tua, yang sudah mehirkan anak-anak ini ke dunia, memiliki tanggung jawab memenuhi kebutuhan anak mereka. Sayangnya mereka belum benar-benar bisa melakukannya.


“Jika kalian bisa menghabiskan makanan kalian, maka aku akan mengabulkan permintaan kalian itu.” Jawab Seno.


Membelikan rumah atau pun kendaraan untuk mereka ini bukanlah hal yang sulit untuk Seno. Ia akan membicarakan lagi dengan kedua istrinya, ia yakin mereka juga setuju dengan rencana Seno ini.


Saat ini uangnya sudah cukup melimpah. Beberapa produk pun harganya sudah dinaikkan oleh Miranda. Modal mereka untuk menanam semua ini sangat kecil, bahkan hampir tidak ada.

__ADS_1


Mereka sekarang ini hanya membayar gaji beberapa karyawan yang mengelolah laman web milik mereka. Selebihnya tidak banyak yang mereka keluarkan.


Terakhir kali Seno lihat, ia memiliki lebih dari sepuluh milyar uang di rekeninya. Jika ia mengeluarkan satu milyar saja untuk memberi anak-anak ini hadiah, itu tidak akan membuatnya miskin.



Anak-anak yang ada di Rumah Melati Putih dengan lahab memakan kacang hijau milik mereka. Hadiah yang Seno janjikan itu cukup menggiurkan bagi mereka. Apalagi rasa dari kacang hijau ini cukup lezat. Jelas mereka dengan senang hati memakannya.


Beberapa kali para orang tua mengingatkan anak mereka untuk makan pelan-pelan. Seno juga begitu. Bahkan Seno sampai kembali mengatakan bahwa siapa pun yang menghabiskan kacang hijau mereka akan mendapat hadiah, bukan siapa yang tercepat. Jadi meski dia makan paling lambat tetapi bisa menghabiskan kacang hijaunya, Seno akan tetap memberi mereka hadiah.


Ketika para orang tua sibuk memperhatikan cara makan anak-anak mereka, Seno lebih memilih memperhatikan kondisi fisik anak-anak yang ada di sini. Seno melihat sekarang ini penampilan mereka membaik daripada sebelumnya.


Wajah mereka yang sebelumnya pucat, seperti tidak banyak darah yang mengalir, kini terlihat lebih berwarna. Aura positif juga terpancar dari anak-anak tersebut.


Secara kasat mata hasilnya memang sudah terlihat. Tetapi, untuk hasil yang lebih detail, semua harus melakukan pemeriksaan di rumah sakit terlebih dahulu.


“Bagus. Kalian semua sudah menghabiskan makanan kalian. Sekarang, tulis di kertas nama kalian dan apa keinginan kalian. Supaya aku juga tidak lupa apa yang kalian inginkan.” ucap Seno.


“Hore.”


Dengan cekatan anak-anak itu mulai mengambil sebuah kertas dan menuliskan nama serta keingnan mereka. Orang tua mereka merasa khawatir karena anak mereka tiba-tiba saja berlarian sekarang.


Tetapi beberapa justru menjadi heran. Anak mereka yang sebelumnya tidak terlalu bertenaga, kini bisa berlarian dengan mudahnya. Seolah-olah mereka sekarang sudah kembali sehat.


Seno lalu membaca satu persatu keinginan anak-anak itu. Ia lalu tertawa keras ketika membaca keinginan salah satu anak di kertas yang ia baca.


“Memiliki harimau? Reno, bukannya aku tidak mau mengabulkan keinginanmu yang satu ini, tetapi tidak mungkin aku melakukan ini. Bagaimana jika aku menggantinya dengan tiket gratis masuk ke kebun binatang selama sepuluh tahun penuh.”


“Dengan begitu, kapan pun Kamu mau, Kamu masih bisa mendatangi harimau yang ada di sana. Kamu bisa menganggap mereka itu peliharaanmu. Bagaimana?” Tawar Seno.

__ADS_1


“Baiklah aku akan mau.” jawab anak bernama Reno.


Setelah membaca semua permintaan anak-anak itu dan tidak menemukan permintaan mustahil seperti milik Reno, akhirnya Seno pamit undur diri.


“Bunda Qila, aku sudah mengirim sejumlah uang ke rekening yayasan. Aku minta Bunda besok membawa semua anak yang tadi makan kacang hijau ke rumah sakit. Semoga saja ada kabar baik yang menanti mereka besok.” Jawab Seno sebelum memasuki mobilnya.


Tanpa menunggu jawaban dari Aqila yang masih tertegun, Seno pun langsung mengemudikan mobilnya untuk pulang kembali ke rumahnya. Ia masih perlu membicarakan mengenai hadiah-hadiah untuk anak-anak penderita kanker itu bersama dengan kedua istrinya.


Sementara itu Aqila baru tersadar dari lamunannya. Ia sudah tidak melihat keberadaan Seno. Padahal, Aqila memiliki banyak sekali pertanyaan yang ingin ia tanyakan. Apa maksud ucapan Seno tadi. Kabar bahagia yang mungkin mereka terima setelah pulang dari rumah sakit?


Lalu Aqila menghubungkan semuanya dengan identitas Seno. Ia sudah tahu siapa Seno. Seorang petani yang menjual sayuran ajaib. Awalnya ketika mengetahui Seno akan memasok sayuran di Rumah Melati Putih, Aqila menolaknya.


Harga sayuran milik Seno cukuplah mahal. Ia tidak bisa menerima sayuran semahal itu di sini. Tetapi pada akhirnya Aqila menerima sayur-sayur itu setelah Seno berkali-kali mengatakan bahwa sayuran itu bukanlah sayuran ajaib yang selama ini ia lelang.


Sekarang, Seno memberinya kata-kata yang memiliki arti ganda seperti itu. Apalagi Seno tadi terlihat sebisa mungkin meminta anak-anak penderita kanker untuk menghabiskan kacang hijau yang Seno bawa.


Langsung saja Aqila membuka ponsel miliknya. Ia lalu mengunjungi laman web milik Seno yang ia jadikan tempat menjual sayuran ajaib miliknya.


Aqila menuju ke sektor barang baru yang tersedia di laman tersebut. Ada dua barang baru di sana. Kacang hijau dan kacang merah. Penjualan dari kacang hijau sendiri sudah lebih dari seribu lima ratus pemesanan. Sementara kacang merahnya sudah lebih dari seribu pemensanan.


Aqila lalu melihat deskripsi dari kacang hijau yang dijual di sana dengan harga dua ratus ribu per seratus gramnya. Itu pun adalah harga pembuka lelang. Deskripsi yang ada di sana membuat Aqila kaget. Ia hampir saja menjatuhkan ponsel miliknya itu.


“I-ini, ini.…” ucap Aqila tergagap.


“Jadi kacang hijau tadi memiliki efek mencegah kanker. Tetapi kelihatannya, kacang hijau ini juga bisa menyembuhkan mereka yang memiliki penyakit kanker.” gumam Aqila.


Melihat hal itu langsung saja Aqila dengan cekatan menghubungi pihak rumah sakit. Ia ingin membuat janji dengan pihak rumah sakit bahwa besok ia akan membawa sepuluh anak penderita kanker untuk melakukan pengecekan kesehatan secara menyeluruh.


Aqila ingin tahu apakah sekarang sel kanker pada tubuh mereka sudah menurun ataukah tidak. Jika itu benar-benar menurun, maka obat kanker yang selama ini dicari-cari dan belum ditemukan itu, sudah ada dan berupa kacang hijau.

__ADS_1


__ADS_2