
“Tentu saja Tante.” Jawab Seno.
Setelah berucap demikian, Seno lalu mengeluarkan beberapa bungkus buncis dari dalam kardus yang sebelumnya ia bawa. Sebenarnya Seno hanya membawa sepuluh buah buncis untuk Cindy, namun karena ada Dina di sini, Seno menambahnya menjadi dua puluh buncis.
Dengan adanya penyimanan sistem, Seno bisa menambahkan jumlah buncis yang ada di dalam kardus sesukanya. Asalkan ada kardus atau tas yang bisa menyamarkan asal usul barang yang Seno ambil, laki-laki itu bebas mengambil barang dari penyimpanan sistem kapan pun dan di mana pun ia berada.
“Ini adalah buncis yang bisa meremajakan kulit. Aku yakin setelah mengkonsumsi ini, Tante Cindy akan mendapatkan wajah yang lebih muda lagi.” Jelas Seno.
“Jadi ini yang membuat wajahmu berkilau?” Tanya Dina tiba-tiba.
“Ya.” Jawab Seno singkat.
Waktu itu Seno bilang akan memberitahukan alasannya memiliki wajah yang nambah cerah dan bercahaya. Dina tidak menyangka semua itu dikarenakan sebuah buncis.
Dina sendiri percaya-percaya saja dengan ucapan Seno. Ia melihat sendiri bagaimana antusias warga net di The Auction yang memperebutkan wortel milik Seno. Jelas buncis ini sama berkasiatnya dengan wortel-wortel itu.
“Jadi, aku minta Tante Cindy berfoto tanpa make up sebelum mengkonsumsi sayuran ini. Lalu, nanti Tante Cindy akan berfoto kembali tanpa make up setelah mengkonsunsi sayuran ini. Aku ingin memakai foto before and after dari Tante Cindy untuk mempromosikan sayuranku sebelum dilelang.”
“Apakah Tante Cindy tidak keberatan dengan permintaan kecilku ini?” Tanya Seno penuh harap.
“Tenang saja aku akan membayar semua itu. Ini tidak akan gratis.” Seno buru-buru menambahkan.
Mendengar ucapan Seno, Cindy tidak lanngsung menjawabnya. Ia tidak sedang mempertimbangkan berapa biaya yang akan ia tarik untuk foto miliknya. Tetapi ia sedang mempertimbangkan apakah buncis inimemang semanjur itu.
“Baiklah. Karena Kamu adalah teman dari keponakanku, maka aku akan mengabulkan permintaanmu itu. Untuk biaya, hem… aku rasa itu tidak perlu.”
“Eh bagaimana bisa. Aku perlu membayar Tante mengenai hal ini.”
Bagaimanapun juga, Seno memakai Cindy untuk keperluan promosinya. Jadi ia perlu memberikan sesuatu untuk Cindy. Jika ini tidak melibatkan uang, maka Seno pasti dengan senang hati menerima bantuan dari Cindy tersebut.
__ADS_1
Sayangnya hal ini melibatkan uang. Jadi Seno tidak bisa hanya mengucapkan terima kasih atas apa yang Cindy lakukan untuknya.
“Hemm… begini saja. Jika memang buncis milikmu itu sangat efektif, maka Kamu perlu memberikanku seratus porsi buncis itu sebagai bayaran. Jika tidak, lupakan saja. Itu hanya sebuah foto.” Jawab Cindy.
Seno pikir itu tidak terlalu memberatkannya. Seratus buncis bukan apa-apa untuknya. Ia memiliki stok ribuan buncis. Meski harga buncisnya akan meroket sekalipun itu tidak masalah.
“Tidak masalah untukku Tante. Jika menurut Tante buncis ini seefektif itu, maka aku akan memberikan dua ratus porsi buncis untuk Tante.”
Setelah pulang dari rumah Cindy, Seno langsung menuju ke rumah Miranda. Ini karena dia sudah memberikan sepuluh buncis untuk Dina. Jika ia tidak memberikan jumlah yang sama kepada Miranda, sudah jelas akan ada yang iri.
Demi menghindari pertengkaran yang sepele, maka Seno akan bersikap adil dan memberi Miranda buncis dengan jumlah yang sama di hari yang sama seperti yang ia berikan kepada Dina. Dengan begitu, tidak akan yang protes dan merasa iri padanya.
*****
Cindy langsung saja mengikuti instruksi Seno. Ia lalu menghapus riasan wajah yang ia pakai dan mengambil beberapa foto. Tidak hanya itu, ia juga mengambil beberapa video terutama di wajahnya. Cindy juga memperbesar videonya agar bisa melihat kerutan di wajahnya dengan jelas.
Pagi harinya, ketika Cindy membasuh mukanya, ia tercengang melihat pantulan wajahnya di cermin. Wajah di cermin itu sangat berbeda dengan wajahnya kemarin. Tetapi wajah itu juga wajahnya.
Semua kerutan di wajahnya memudar. Tidak terlihat sedikit pun kerutan di sana. Cindy menepuk pipinya beberapa kali. Ia masih tidak percaya dengan apa ia lihat. Wajahnya benar-benar berbeda.
“Buncis itu memang memang benar-benar efektif. Dua porsi saja sudah membuatku terlihat lebih muda beberapa tahun. Jika aku mengkonsumsi kesepuluh porsi yang di berikan Seno, jelas aku akan nampak seperti perempuan berusia tiga puluh tahunan. Ah tidak mungkin dua puluh tahunan lebih tepat.”
Cindy tidak bisa membayangkan dia yang berkepala lima memiliki wajah dua puluh tahunan. Pasti suaminya akan pangling jika dia yang sekarang sedang dinas ke luar kota, menemukan istrinya memiliki wajah yang jauh lebih muda.
“Jika begini, meskipun aku tidak dibayar oleh Seno sekali pun ini adalah bayaran yang besar. Menjadi muda hanya dengan menyerahkan foto, jelas ini bayaran yang besar.” Gumam Cindy.
Langsung saja perempuan paruh baya itu mengambil ponselnya. Ia lalu mengabil beberapa foto dan video dengan wajahnya yang tidak lagi memiliki kerutan. Ia lalu mengirimkannya kepada Seno berikut foto dan video yang kemarin ia ambil.
Tidak hanya kepada Seno saja, Cindy juga mengirimkannya kepada group arisan miliknya. Tentu saja ia sedikit mengeditnya sehingga foto before and after miliknya bisa terlihat dalam satu bingkai. Dengan begitu, para anggota arisannya akan melihat dengan jelas perubahan yang terjadi pada wajahnya.
__ADS_1
[Cindy : Gimana Jeng wajahku ini? Cantik dan berkilau bukan? (Image.jpeg)]
Langsung saja kiriman Cindy itu mendapatkan banyak respon dari angota group yang lainnya. Mereka mempertanyakan keaslian dari gambar yang Cindy kirimkan.
[Yuana : Minta editin siapa itu Jeng? Kok foto Jeng jadi makin glowing dan semua kerutan hilang. Aku juga mau dong Jeng. Rekomendasiin ke aku edit ke siapa.]
[Elsa : Eh atau janga-jangan Jeng Cindy hanya pake foto lama disandingin dengan foto yang sekarang. Jadi kesannya Jeng Cindy berubah jadi muda lagi.]
Jawaban Elsa tersebut membuat kekesalan Cindy terpancing. Mana mungkin dirinya berbuat serendah itu seperti yang Elsa tuduhkan.
[Cindy : Siapa bilang aku pake foto lama. Ini foto baru tahu. Apa kalian nggak lihat tanggal yang tertera di foto tersebut? Itu adalah tanggal kemarin dan hari ini. Jadi mana mungin aku memakai foto lama.]
[Cindy : Lalu, aku juga tidak mengedit fotoku. Itu adalah foto asli.]
[Yuana : Masak sih Jeng? Kemaren kita ketemu wajah Jeng Cindy nggak kayak gitu. Mana bisa wajah Jeng Cindy berubah derastis kayak gitu?]
Untuk membuktikan ucapannya, Cindy lalu melakukan panggilan video group. Ia rasa percuma saja dirinya menjelaskan itu semua mereka tidak akan ada yang percaya. Jika dirinya menampakkan wajahnya dalam panggilan video, maka anggota groupnya yang lain pasti akan percaya.
“Sekarang kalian lihat ini wajahku baik-baik. Kalian bisa melihat sendiri bukan, wajahku ini sama seperti foto yang aku kirimkan.” Ucap Cindy tanpa basa basi setelah panggilan videonya tersambung.
“Eh beneran wajah Jeng Cindy nampak lebih mudah. Jeng abis ini aku langsung ke rumah Jeng Cindy. Aku mau lihat langsung dan tanya-tanya ke Jeng Cindy tips memperolehwajah yang seperti itu.” Jawab Yuana.
Cindy rasa itu bukan ide yang buruk. Ia bisa mempromosikan buncis Seno ini kepada mereka. Jika Cindy tidak salah ingat, Seno akan menjual buncis ini dengan cara di lelang. Jadi, Cindy bisa mempromosikan buncis itu kepada teman arisannya.
Teman-temannya ini memiliki uang yang berlimpah. Anak-anak mereka sudah memiliki keluarga masing-masing. Jadi, selain membelikan sesuatu untuk cucu mereka, uang yang mereka punya dipakai untuk mengikuti perawatan.
Cindy yakin teman arisannya ini akan menawar harga yang cukup tinggi untuk bisa mendapatkan buncis yang bisa membuat wajah mereka kembali muda.
“Tentu saja. Datang saja ke rumahku dan lihat sendiri. Jika yang lainnya tidak percaya, datang dan buktikan sendri.” Jawab Cindy.
__ADS_1