
Toko pertama yang dipilih Jasmine untuk berbelanja adalah toko pakaian. Ketika mendengar bahwa mereka akan diajak berbelanja, tempat pertama yang ingin Jasmine tuju adalah toko pakaian.
Ia ingin membeli banyak pakaian yang menurutnya wajib dimiliki. Jasmine bahkan sudah membuat daftar toko yang akan ia dan teman-teman kelincinya kunjungi.
Rombongan Seno menarik perhatian perhatian banyak orang. Pasalnya, kedua puluh dua anak yang ada di rombongan Seno, nampak berbeda dari yang lainnya.
Para kelinci memiliki rambut putih dan pakaian serba putih. Sedangkan Momoy, pakaian esentrinya yang mirip gaun putri kerajaan, juga rambutnya yang berwarna merah menyala membuat orang-orang memandanginya.
Beberapa bahkan diam-diam merekam mereka semenjak mereka memasuki pusat perbelanjaan.
Momoy, Jasmine, dan yang lainnya tidak henti-hentinya memandang ke sekeliling pusat perbelanjaan. Terutama Momoy yang belum mengenal dunia manusia.
Beberapa orang menganggap anak-anak yang Seno bawa ini adalah anak dari kempung yang tidak pernah datang ke pusat perbelanjaan. Beberapa bahkan secara terang-terangan membicarakan mereka.
Tetapi keinginan belanja yang mereka miliki membuat Momoy, Jasmine, dan yang lainnya tidak mempedulikan ucapan mereka yang ada di sekitar.
Momoy merasa senang dengan pilihan baju yang ada di sini. Ia tidak menyangka bahwa makhluk berkaki dua tidak berbulu itu bisa membuat sebuah pakaian yang indah seperti yang ada di depannya.
Momoy hanya melihat-lihat pakaian yang ada di sana tanpa ada niatan membeli seperti yang dilakukan para kelinci. Momoy tidak perlu melakukan hal itu.
Yang sekarang Momoy kenakan adalah bulu miliknya yang ia rubah menjadi pakai. Jadi, dirinya bisa mengubah pakaian miliknya sesuai dengan keinginannya. Ia hanya tinggal mencari inspirasi model pakaian saja.
Di saat Momoy memperhatikan pakaian yang ada di sana, seorang anak perempuan yang berusia sekitar tiga belas tahunan berjalan mendekat ke arah Momoy. Ia memandang tidak suka kepada Momoy.
“Cih, sedari tadi aku perhatikan Kamu hanya memegang pegang pakaian tanpa berniat membelinya. Apa Kamu tidak malu, masuk toko pakaian tanpa ada niatan membeli pakaian sama sekali.” Ucap anak perempuan itu.
Momoy tidak mempedulikan ucapan anak perempuan itu. Ia masih tetap sibuk mengamati pakaian-pakaian yang menurutnya indah. Ia ingin mengingat dengan baik pakaian-pakaian itu. Dengan begitu, ia bisa menyalin pakaian itu dengan sempurna.
“Hey. Apa Kamu tidak mendengarku?” ucap anak perempuan itu kesal.
__ADS_1
Anak perempuan itu berasal dari keluarga yang berada. Tidak pernah sekali pun dirinya dihiraukan seperti ini. Selama ini semua orang di sekitarnya pasti akan memperhatikan apa yang ia ucapkan. Beberapa bahkan melakukan sesuatu untuknya tanpa ia minta.
Jadi, ketika dirinya dihiraukan oleh Momoy, anak perempuan itu menjadi sangat kesal. Ia lalu mendekat ke arah Momoy. Bahkan karena dekatnya, jarak antara keduanya hanya sejengkal saja.
Anak perempuanitu berpikir dengan jarak sedekat ini, Momoy pasti akan mendengarnya. Ia berpikir bahwa Momoy memiliki gangguan pendengaran sehingga dia tidak meresponnya.
“Hey, apa Kamu mendengarku?” ucapnya sekali lagi.
Dengan jarak yang sedekat ini, tentu saja Momoy terusik. Tidak ada satu makhluk selain induknya dulu, yang berada sedekat ini dengannya. Mereka selalu berada beberapa langkah dari Momoy.
“Menjauhlah.” Ucap Momoy dingin.
“Heh.” Anak perempuan itu mendengus.
“Rupanya Kamu bisa mendengar ucapanku. Kenapa sedari tadi Kamu tidak merespon ucapanku?” tanya anak perempuan itu kesal.
Tetapi anak perempuan itu tidak memiliki niatan untuk menjauh. Ia tetap berada cukup dekat dengan Momoy. Anak perempuan itu ingin membalas dendam kepada Momoy yang sudah membuatnya kesal.
Jika dengan berada cukup dekat dengan Momoy bisa membuat dia kesal, maka anak perempuan itu akan melakukannya. Dengan begini, mereka akan impas nantinya.
Tetapi, lama kelamaan anak perempuan itu merasakan hawa panas di sekitarnya. Ia seperti tengah berada di depan perapian, yang panasnya bisa menghangatkan tubuh. Semakin lama hawa panas itu semakin meninggi.
Hal itu membuat anak perempuan itu bingung. Bagaimana mungkin di toko pakaian yang memiliki pendingin seperti ini ada hawa panas yang begitu menyengat? Itu sangat tidak masuk akal.
Lalu dari suduk matanya, anak perempuan itu melihat seorang laki-laki yang setengah berlari menuju ke arah mereka. Laki-laki itu langsung menarik Momoy dan membuat jarak antara Momoy dan anak perempuan itu, melebar.
“Momoy tenanglah.” Ucap laki-laki itu.
Setelah melihat siapa yang sudah menariknya, Momoy merasa jauh lebih tenang. Emosi yang sebelumnya bergejolak, kini sudah mereda. Hawa panas yang sebelumnya ada di toko pakaian itu juga sudah mereda.
__ADS_1
Seno bernafas lega melihat semua itu. Ia tadi tengah sibuk memilihkan baju untuk kedua istrinya hingga ia lupa memperhatikan Momoy. Setelah melihat Momoy yang hanya melihat baju tanpa membuat masalah, Seno membiarkannya pergi tanpa pengawasan.
Tetapi belum sampai lima menit ia melepas Momoy dari pengawasannya, Seno merasakan hawa panas di toko pakaian tersebut. Ia langsung tahu bahwa pelakunya adalah Momoy.
“Api. Ada api. Kebakaran.” Teriak anak perempuan yang tadi mendekati Momoy.
Teriakan itu membuat Sneo langsung mengarahkan pandangannya ke arah sumber suara. Di sana Seno bisa melihat pakaian yang sebelumnya Momoy pegang sekarang sudah terbakar.
Langsung saja Seno menarik pakaian itu dan menginjak-injak api yang ada di sana. Seno berharap api itu akan padam dengan menginjak-injaknya seperti ini.
Tetapi, apa yang Seno harapkan tidak terjadi. Api yang ada dipakaian itu bukannya padam, justru semakin membesar.
Langsung saja Seno menarik anak perempuan yang berada cukup dekat dengan api, untuk menjauh. Ia lalu memandang ke arah Momoy.
Ketika ia mencoba memadamkan api itu, Seno tahu itu bukanlah api biasa. Api itu berasal dari Momoy yang merupakan Molyap. Jelas api ini tidak bisa dipadamkan begitu saja.
Baru saja Seno hendak meminta Momoy memadamkan api yang muncul akibat ulahnya itu, namun seseorang sudah datang dengan membawa alat pemadam api ringan.
Dia mencoba memadamkan api yang ada dengan tabung merah yang ia pegang itu. Lagi-lagi api itu tidak juga padam, justru membesar.
“Momoy padamkan api itu.” pinta Seno dengan suara yang cukup lirih.
Tetapi apa yang Seno katakan itu didengar oleh anak perempuan yang ada di samping Seno. Hal itu mebuatnya menatap Seno dengan tatapan aneh. Ia tidak percaya laki-laki dewasa seperti Seno menyuruh anak kecil untuk memadamkan api sebesar itu.
Tetapi, Momoy menuruti permintaan Sneo tersebut. Ia bergerak mendekati api yang ada di sana. Hal itu membuat semua yang berada di sana berteriak keras dan melarang Momoy untuk mendekat ke arah sumber api.
“Jangan mendekat Dek.” “Mejauhlah.” “Awas itu api. Bahaya.”
Teriakan semacam itu terdengar bersahutan di dalam toko pakaian itu. Namun pada kenyataannya teriakan itu sama ssekali tidak digubris oleh Momoy ia tetap berjalan dengan santai menuju ke titik api. Sebuah senyum lebar bahkan terlihat menghiasi bibir Momoy.
__ADS_1