Petani Hebat Dengan Sistem

Petani Hebat Dengan Sistem
PH 52


__ADS_3

“Semuanya sudah lengkap bukan?” Tanya Seno kepada Effendi ketika laki-laki itu mengambil pesanannya.


“Ya semua sudah lengkap. Aku akan langsung mentransfer uangnya kepadamu.” Jawab Effendi.


[Nasabah yang terhormat! Dana sebesar Rp 390.000.000,- telah masuk ke rekening Anda]


Seno tersenyum lebar setelah membaca pesan tersebut. Ini lah yang membuatnya bersemangat dalam menanam sayuran. Uang yang ia dapatkan dari berjualan sayuran cukup besar.


“Kapan Kamu bisa mengirimkan wortel-wortel itu lagi? Kami butuh cukup banyak wortel seperti itu sekarang.” Ucapan Effendi barusan membuat Seno tersadar akan lamunannya.


Sepertinya pihak militer ingin memperkuat lebih banyak pasukan mereka. Seno sendiri tidak tahu kenapa mereka melakukan ini. Dirinya sama sekali tidak mendengar kabar bahwa militer negaranya tengah mempersiapkan perang.


Jika demikian, kenapa mereka menginginkan wortel dalam jumlah banyak? Apakah mereka mempersiapkan banyak pasukan khusus dengan pengelihatan tajam? Tetapi untuk apa?


Meski banyak pertanyaan berputar di kepala Seno, tetapi ia tidak mempedulikannya lagi. Laki-laki itu lebih peduli pihak militer tidak melewati batasan dan membayar uang sayuran dengan jumlah pas.


Entah negeri ini ada masalah atau tidak, Seno tidak peduli. Dia hanyalah rakyat biasa. Masih banyak orang yang lebih mampu yang akan memikirkan hal itu.


Yang penting, Seno sudah memberikan sedikit kontribusinya dengan menjual sayurannya ajaib kepada pihak militer. Lagipula, harga yang Seno berikan pun jauh dari pasaran.


Wortel yang bisa ia jual dengan harga delapan ratus ribu lebih pada lelang, ia jual hanya tujuh puluh ribu. Dari situ saja kontrsibusinya cukup tinggi.


“Mengirim wortel lagi? Hem… mungkin enam hari lagi.” Jawab Seno.


“Enam hari lagi ya. Baiklah akan aku sampaikan pesanmu ini pada atasanku. Kabari aku berapa jumlah wortel yang kamu miliki. Dengan begitu, aku bisa menyiapkan semua uangnya.” Jelas Effendi.


Seno mengangguk pelan. “Tentu, aku akan mengabari jika semuanya sudah siap.” Jelas Seno.


Setelah kepergian Effendi, Seno kemudian melanjutkan kegiatan bertaninya. Hari ini dirinya akan memulai memerah kedua sapi betina yang ia terima sebagai hadiah. Seno juga sudah menyiapkan nama untuk mereka. Rose dan Bella. Itu adalah nama yang Seno pilih untuk kedua sapi tersebut.


“Bos-bos. Bisakah aku memiliki ponsel seperti yang dimiliki oleh orang-orang di film itu?” Jasmine langsung memberondong Seno dengan pertanyaan seperti itu ketika laki-laki itu memasuki kebunnya yang ada di dimensi lainnya.


“Ponsel?” Tanya Seno sembari mengerutkan keningnya.


“Ya. Aku melihat semua orang di film memiliki ponsel dan bisa meghubungi seseorang dari jarak jauh. Jadi, aku juga menginginkan sebuah ponsel.” Ucap Jasmine denganpenuh keantusiasan.


Seno baru ingat bahwa laptop miliknya ia tinggalkan di kebunnya yang ada di dimensi lain. Ia melakukannya agar para sapi-sapinya bisa menikmati musik setiap saat. Apalagi sekarang sudah ada Jasmine yang memutarkan musik untuk mereka.

__ADS_1


Seno bahkan menyiapkan sebuah panel surya dan memasangnya di kebunnya yang ada di dimensi lain agar barang elektronik yang ada di sana bisa diisi daya. Ada sebuah laptop seperangkat speaker dan lima buah Ipad yang perlu diisi daya setiap harinya. Jadi, Seno memasang panel surya tersebut.


Sepertinya, Jasmine yang sekarang memiliki tubuh manusianya bisa mengotak atik laptop miliknya. Dia lalu memutar beberapa film yang ada di sana.


Eh tunggu dulu, di sana tidak ada film yang berbahaya bukan? Jika tiba-tiba saja Jasmine memonton film “reproduksi manusia”, maka itu akan sangat berbahaya. Seno bernafas lega setelah mengingatia menyimpan film “reproduksi manusia” di eksternal hard disk milinya, dan bukan di laptop.


“Bisakah aku memiliki ponsel juga Bos?” Tanya Jasmine sekali lagi setelah melihat Seno terdiam beberapa saat.


Laki-laki itu lalu menggelengkan kepalanya. “Aku tidak akan membelikan ponsel baru untuk kalian. Ipad yang aku berikan kepada kalian itu sama saja dengan sebuah ponsel. Itu juga bisa dipakai untuk berkomunikasi jarak jauh.”


“Benarkah itu Bos? Tetapi bagaimana cara menggunakannya?”


“Kalian tidak bisa menggunakannya di sini. Tidak ada sinyal. Apakah Kamu menginginkan ponsel untuk berkomunikasi dengan yang lainnya?” Tanya Seno.


“Ya. Dengan begitu jika aku ingin berbicara dengan yang lainnya, aku tidak perlu berjalan jauh ke tempat mereka berada. Cukup di tempatku saja. Itu sangat melelahkan bos jika kita harus berjalan jauh hanya untuk mengatakan sesuatu.” Jelas Jasmine sembali memayunkan bibirnya.


Hal itu membuat Jasmine telihat lucu di mata Seno. Apalagi telinga kelincinya yang sesekali bergerak. Itu sangat menggemaskan.


“Jika Kamu hanya ingin sesuatu untuk komunikasi, maka aku akan membelikanmu barang lain yang kemungkinan besar bisa di pakai di kebun ini.” Jawab Seno.


Besok sorenya, Seno terlihat sibuk memanen sayuran miliknya. Di belakangnya, Jasmine mendorong troli yang berisi sampah dedaunan dari sayuran yang ia panen. Selama ini, Seno melakukan ini sendiri, sekarang ada Jasmine yang membantunya.


Hal ini membuat pekerjaan Seno dalam memanen lebih ringan lagi. Ia hanya tinggal memotong daun yang ada pada wortel, brokoli dan kentang miliknya, lalu akan ada Jasmine yang membereskan semua itu.


“Panel Sistem”


[Host : Seno Eko Mulyadi (23)]


[Kekuatan : 7,1 +2 (Manusia Dewasa : 10)]


[Stamina : 5 +4 (Manusia Dewasa : 10)]


[Luas lahan : 800 m2 (+700 m2)]


[Level kebun : 3 (5000/5000)]


[Poin tanam yang dibutuhkan untuk naik level : 25.000.000]

__ADS_1


[Poin tanam : 12.457.100]


[Penyimpanan Sistem : 15 slot (13/15)]


[Slot hewan ternak : 5]


[Pembelian slot selanjutnya : 10.000 poin ternak]


[Jumlah ternak : 4 ekor sapi]


[Poin ternak : 136.415]


[Misi : - ]


[Toko sistem : - Bukan Pupuk Biasa : 100 poin tanam


- Wortel dengan penuh Vitamin A : 50 poin tanam


- Kentang mengenyangkan : 100 poin tanam


- Brokoli penuh vitamin dan mineral : 200 poin tanam


- Rumput super grade D : 100 poin ternak]


“Fiuh akhirnya selesai juga.”


“Bos. Bagaimana Bos, kapan kamu bisa membelikanku alat komunikasi?” Tanya Jasmine ketika melihat Seno sudah selesai memanen sayurannya.


Manusia kelinci itu terlihat tidak sabaran sepertinya. Mungkin jika Seno berada di posisi Jasmine, ia akan bersikap yang sama juga.


Bagi seekor kelinci yang selama ini hanya berkomunikasi secara tatap muka dengan lawan bicaranya, pasti akan sangat penasaran dan ingin mencoba sesuatu yang tidak lumrah dalam pemikiran mereka.


Manusia sebenarnya juga tidak jauh berbeda. Jika ada teknologi baru yang membuat terobosan besar, maka mereka akan berbondong-bondong datang ke toko dan membeli barang tersebut. Mereka berebut menjadi yang pertama merasakan teknologi baru tersebut.


“Aku sudah memesankannya secara online. Kamu tunggu saja. Walkie Talkie yang aku pesan akan sampai besok pagi. Aku sudah membeli banyak untuk kalian. Jadi setiap orang akan mendapatkan satu buah.” Jelas Seno.


Harga Walkie Talkie jauh lebih murah daripada harga ponsel. Tentunya Seno mau membelikan para kelincinya barang itu. Lalu Seno rasa alat komunikasi itu bisa berfungsi di sini karena mereka menggunakan sinyal radio dan bukan mengandalkan pemancar.

__ADS_1


__ADS_2