
Pada akhirnya, salah seorang pemuda dari Desa Meireia, desa yang Seno temukan tadi, mengantar Seno menuju ke Kota Baines. Selama perjalanan, kewaspadaan Seno sama sekali tidak menurun. Justru kewaspadaannya semakin meningkat.
Tetapi, untung saja selama perjalanan tidak terjadi apa pun. Tidak ada penyerangan yang Seno dan anak buahnya alami. Sepertinya orang-orang yang menamakan dimensi ini sebagai Dimensi Baines, memang bukanlah orang yang jahat. Meski begitu Seno masih belum sepenuhnya percaya siapa pun yang ada di sini sebelum dirinya memiliki inti dimensi dari Dimensi Baines.
“Tuan, ini adalah Kota Baines. Jika Tuan dan rombongan Tuan ingin mengikuti kompetisi, maka Tua harus mendaftar terlebih dahulu. Aku akan mengantar kalian ke sana.”
“Terima kasih, Mimorone,” ucap Seno.
Kota Kota Baines memiliki bangunan yang terbuat dari batu dan kayu. Mungkin ini adalah gaya bangunan khas dari dimensi ini. Lalu, jika Seno menilai, arsitektur bangunan ini lebih mirip bangunan pada abad pertengahan di Eropa.
Awalnya, Seno mengira penghuni dimensi ini adalah makhluk seperti manusia yang memiliki tangan lebih dari dua. Namun, setelah sampai di Kota Baines, Seno tahu tebakannya itu salah. Cukup banyak orang dengan berbeda bentuk yang berada di sini. Persamaan mereka hanyalah postur yang mirip dengan manusia Bumi.
Beberapa memiliki dua kepala, beberapa memiliki banyak mata, beberapa juga memiliki lebih dari satu mulut. Semua terlihat berbeda. Selain mereka dengan anggota tubuh ganda, Seno juga melihat adanya makhluk dengan kulit berbagai warna.
Jadi, kedatangan Seno ke Kota Baines tidak terlalu menimbulkan kegaduhan sama sekali. Mereka hanya melihat rombongan Seno sekilas sebelum melanjutkan apa yang sedang mereka lakukan. Hal ini membuat Seno merasa lega. Ia tidak perlu menghadapi banyak orang sekaligus.
Ketika berada di dalam Kota Baines, Seno juga bisa merasakan keberadaan inti dimensi. Itu datang dari arah kastil besar yang ada di tengah kota. Jaraknya sekitar beberapa ratus meter dari tempat Seno berada. Seno yang sekarang memiliki cukup banyak inti dimensi di tubuhnya sekarang bisa merasakan keberadaan inti dimensi lebih jauh lagi.
Mimorone membawa Seno dan yang lain ke meja pendaftaran. Di sana sudah cukup banyak orang yang mengantre. Rupanya kompetisi ini banyak diminati oleh semua orang ada di dimensi ini.
“Tuan, aku hanya bisa mengantarmu sampai di sini. Selanjutnya Kaus tinggal menunggu di antrean ini. Jika sudah giliranmu, maka Kau bisa langsung mendaftar,” ucap Mimorone.
Seno mengangguk pelan. Ia lalu mengeluarkan Sebuah kantong dari penyimpanan miliknya dan menyerahkannya kepada Mimorone. Itu hanya berisi beberapa produk sayuran miliknya. Seno tidak mengetahui apa mata uang di dimensi ini. Jadi, ia hanya bisa memberi produk miliknya yang jelas cukup berguna.
__ADS_1
“Itu hanya makanan. Aku tidak bisa memberikan apa pun padamu selain itu.”
“Terima kasih, Tuan.”
Sekarang ini, Seno dikelilingi anak buahnya. Mereka yang bisa membuat barier pelindung, akan berada di dekat Seno. Jika ada seseorang yang tiba-tiba menyerang, maka mereka bisa segera melindungi Seno.
Selama menunggu, Seno tiba-tiba saja merasakan pergerakan inti dimensi, yang sebelumnya berada di tengah-tengah kota, bergerak dengan cepat ke arahnya. Entah pemilik dimensi itu juga merasakan keberadaan Seno atau tidak, yang jelas Seno tidak bisa lengah.
“Semuanya bersiap,” perintah Seno.
Mendengar perintah Seno, anak buah Seno yang lain langsung mengelilingi Seno dan membuat formasi. Tiarsus dan beberapa orang lainnya, langsung membuat beberapa barier pelindung untuk melindungi Seno.
Seno tidak tahu apakah dirinya akan langsung diserang atau tidak. Seperti kata pepatah, sedia payung sebelum hujan. Lebih baik melakukan persiapan daripada nantinya kelabakan sendiri.
Orang-orang yang ada di sekitar tempat pendaftaran cukup kaget melihat apa yang Seno dan rombongannya lakukan. Mereka yang tidak ingin terlibat masalah, langsung menjauh sejauh-jauhnya. Mereka yang merasa dirinya kuat, hanya menjauh beberapa ratus meter saja. Banyak yang penasaran mengenai apa yang akan terjadi nantinya.
Namun, Seno sama sekali tidak memperhatikan orang-orang itu. Yang mencuri perhatiannya adalah seorang laki-laki berambut merah menyala. Kulitnya juga berwarna kemerahan. Ada dua tanduk kecil yang ada di dahi laki-laki itu.
Seno dan laki-laki itu saling berpandangan.baik Seno dan laki-laki itu sudah sama-sama tahu bahwa orang yang sedang mereka hadapi adalah pemilik inti dimensi. Sudah jelas satu sama lain tidak bisa meremehkan begitu saja.
“Aku tidak menyangka akan ada penyusup di dimensi ini,” ucap laki-laki berambut merah tersebut.
Karena laki-laki berambut merah ini sudah tahu identitasnya, maka ia tidak akan berbasa basi lagi. Seno langsung mengutarakan maksud kedatangannya kemari. Meski laki-laki ini membawa beberapa orang untuk menemuinya, tidak ada salahnya bukan untuk melakukan negosiasi dengan pemilik inti Dimensi Baines.
__ADS_1
“Iya, aku memang menyusup untuk masuk kemari. Aku yakin Kau sudah tahu apa yang aku inginkan bukan?” tanya Seno.
“Jika Kau menginginkan hal itu, lebih baik kita bicarakan semuanya di tempatku. Ada cukup banyak yang ingin aku diskusikan dengamu.”
“Baiklah. Tetapi, aku akan tetap membawa anak buahku ke tempatmu. Jika Kau melarangnya, maka aku akan menggunakan cara kekerasan agar Kau memberikan apa yang aku inginkan,” jelas Seno.
Laki-laki berambut merah itu menatap ke arah anak buah Seno yang lainnya. Ia melihat satu persatu anak buah Seno. Setelah itu, laki-laki berambut merah itu menganggukkan kepalanya.
“Tidak masalah bagiku jika Kau ingin membawa anak buahmu. Kalau begitu ikuti aku.”
Seno dan anak buahnya langsung mengikuti laki-laki itu menuju ke kastil yang ada di tengah kota. Seno mendengar salah satu laki-laki tua tidak langsung mengikutinya. Dia berhenti dan memandang ke arah sekitarnya.
Laki-laki tua itu kemudian memberikan pengumuman yang cukup menggemparkan bagi mereka yang ada di sana. Beberapa orang juga terdengar marah, tetapi tidak bisa melakukan apa pun.
“Kompetisi untuk memperebutkan inti dimensi dibatalkan. Semua yang tidak berkepentingan, silahkan meninggalkan Kota Baines,” teriak laki-laki tua itu.
“Apa? Dibatalkan? Aku sudah berlatih lama untuk menjadi lebih kuat. Aku berharap bisa mendapatkan peringkat yang bagus dalam kompetisi. Namun, kenapa sekarang ini dibatalkan?”
“Ini terlalu mendadak. Kami semua sudah mendaftar bukan? Kenapa dibatalkan begitu saja?”
“Aku yakin Sosirone pasti takut kalah. Ia tidak mau menyerahkan inti dimensi kepada orang lain. Kau lihat dia tadi bersikap sombong dan tidak mau memperhatikan kita bukan? Aku yakin dia tidak mau lengser dari jabatannya setelah puluhan tahun menjadi pemimpin dimensi.”
Berbagai protes Seno dengar dengan jelas. Ia sendiri tidak menyangka bahwa kompetisi yang akan dilakukan untuk memperebutkan inti dimensi, dibatalkan begitu saja. Ternyata, banyak juga yang menunggu kesempatan untuk bisa menjadi pemilik inti dimensi.
__ADS_1
Naun, itu bukan menjadi masalah Seno. Sekarang Seno perlu memikirkan pertemuannya dengan laki-laki berambut merah, yang baru Seno ketahui memiliki nama Sosirone. Seno tidak tahu apakah pertemuan nanti hanya berisi diskusi, atau berisi pertarungan.
Apa pun itu, Seno ingin semua ini berjalan dengan cepat. Ia ingin cepat pulang ke rumahnya sekarang.