Petani Hebat Dengan Sistem

Petani Hebat Dengan Sistem
PH 159 Anak Buah Baru


__ADS_3

“Aku tidak menyangka anak itu berani berucap seperti tadi kepada kita. Meminta bukti kepada kita? Jika saja ini adalah malam hari, sudah pasti aku akan menghabisi anak itu. Berani sekali dia berkata demikian.” ucap Ardi dengan kesal.


Inilah alasan Seno maupun kedua Jendral tidak bertindak apa pun selain adu mulut. Saat ini hari masih terang. Beberapa tetangga Seno sudah melihat kedatangan mereka. Jika sampai pihak militer melakukan sesuatu sekarang, maka semua orang akan tahu bahwa mereka yang telah melakukannya.


Beda cerita jika sesuatu terjadi pada keluarga Seno di malam hari. Pihak militer bisa menyangkal itu dan menyalahkan kejadian itu kepada orang lain.


“Tetapi ini cukup aneh juga Ardi. Kita tidak bisa menemukan bukti apa pun mengenai keberadaan Roy dan yang lainnya. Bukti yang kita miliki hanyalah sinyal alat komunikasi mereka terakhir terdeteksi di dekat sini.”


“Kita tidak menemukan keberadaan truk militer di sekitar sini. Memindahkan truk itu tanpa meninggalkan jejak adalah hal yang cukup sulit. Jejak ban mobil mereka terakhir terlihat di dekat hutan, satu kilometer dari rumah Seno.”


“Setelahnya tidak ada jejak ke mana mereka pergi. Tidak mungkin bukan seseorang mengangkat tiga buah truk sebesar itu agar tidak meninggalkan jejak.” ujar Gio.


Mendengar ucapan Gio tersebut, Ardi terdiam. Apa yang Gio ucapkan ada benarnya. Mereka tidak bisa menemukan bukti keberadaan Roy dan Tim Garuda. Sangat tidak mungkin Seno bisa menghabisi mereka tanpa meninggalkan bukti.


Tadi, ketika berada di rumah Seno, mereka juga tidak menemukan bekas perkelahian. Bekas tembakan atau yang lain juga tidak mereka temukan.


Di daerah perkampungan dekat hutan dan gunung seperti ini, tidak banyak yang memasang kamera pengawas. Dari tiga ratusan rumah yang ada di desa ini, hanya rumah Seno dan rumah tiga orang lainnya yang memiliki kamera pengawas.


Setelah mengecek rekaman dari kamera pengawas pun, mereka tidak menemukan jejak keberadaan Roy dan Tim Garuda. Mereka seolah menghilang ditelan bumi.


“Kamu benar Gio, mereka menghilang cukup misterius. Jika begini, kita akan sulit menekan kembali Seno. Aku yakin dia sudah tahu bahwa kemarin Roy dan Tim Garuda datang kemari. Dia nampak seperti tidak terkejut ketika kita menuduhnya melakukan sesuatu kepada mereka.”


“Lalu, sebelum mengetahui alasan menghilangnya Roy dan Tim Garuda, kita tidak bisa melakukan apa pun kepada Seno. Bisa saja menghilangnya mereka ada benar-benar memiliki hubungan dengan Seno.”


“Jika kita tidak tahu dengan benar bagaimana mereka menghilang, itu sama saja dengan kita mengantarkan nyawa. Aku masih ingin hidup. Semua harus dipersiapkan dengan baik.” jelas Ardi.


Apa yang terjadi sekarang sudah membuat Ardi meningkatkan kewaspadaannya. Ia jadi mengingat peringatan yang sebelumnya Eko ucapkan. Petani ini memang bukan petani biasa. Mereka tidak bisa menyepelehkannya.


Lihat saja sekarang ini Roy dan Tim Garuda menghilang tanpa jejak. Bukankah itu karena sebelum ini mereka menganggap remeh Seno, sehingga mereka kalah tanpa tahu bagaimana mereka kalah?


“Lebih baik kita menanyakan hal ini kepada Eko. Bukankah Johan adalah anak buah Eko. Mungkin kita bisa menyuruhnya menyelidiki hal ini. Aku tidak mau lagi bergerak tanpa mengenal dengan baik musuh kita.”

__ADS_1


“Sudah cukup Roy dan Tim Garuda menghilang. Aku tidak mau anggota yang lain mengalami hal yang sama. Kita tidak bisa lagi meremehkan Seno ini.” Jelas Ardi.


“Baiklah aku akan mengikuti saranmu ini. Sekarang kita perlu menemui Eko untuk membahas hal ini.” jawab Gio.


….


“Akhirnya para tentara itu pergi juga. Hampir saja kita juga ikutan pergi dan kembali esok hari.” ucap Rifki setelah melihat mobil iring-iringan tentara meninggalkan rumah Seno.


“Tetapi itu juga membuatku penasaran. Apa yang mereka bicarakan dengan Seno ini? Pasti itu pembicaraan yang cukup penting. Mereka mengobrol cukup lama.” imbuh Rifki.


“Itu bukan urusan kita Rif. Urusan kita adalah membujuk si Seno ini untuk menjual kembali produknya di aplikasi kita. Sekarang ayo kita menemui dia, sebelum dia pergi mungkin.” Jawab Lutfi.


Rifki lalu mengemudikan mobil yang mereka naiki menuju ke rumah Seno. Ketika sampai di pekarangan rumah Seno, keduanya disambut dengan pemandangan beberapa hewan yang bergerak bebas di sana.


Ada kelinci yang melompat-lompat kesana kemari, ada beberapa burung gereja yang terlihat sedang mandi di sebuah kolam kecil, ada beberapa ekor kucing yang juga berjemur di bawah terik matahari sore. Mereka merasa seperti berada di sebuah tempat wisata edukasi yang biasa dikunjungi anak TK.


Rifki dan Lutfi memandang sekilas hewan-hewan tersebut. Mereka masih ingat bahwa ada tugas yang menanti mereka.


Pintu rumah yang akan mereka kunjungi sudah terbuka ketika mereka berada di teras. Seorang laki-laki yang cukup muda menyambut kedatangan mereka.


“Kami dari aplikasi The Auction. Apakah benar ini rumah Mas Seno Eko Mulyadi?” Tanya Lutfi.


“Oh kalian dari The Auction ya. Iya ini memang rumah Seno, itu saya sendiri. Pasti Mas ingin membicarakan sesuatu mengenai penjualan produkku bukan. Bentar ya Mas.”


Setelah berucap demikian, laki-laki itu menolehkan pandangannya ke dalam rumahnya dan berteriak memanggil seseorang.


“Bunda Mira, ini ada tamu. Sini keluar dulu bantu aku mengurus ini.”


Tidak lama kemudian, seorang perempuan yang memakai dress motif bunga selutut, keluar dari dalam rumah. Perempuan itu sangat cantik menurut Rifki dan Lutfi. Keduanya yakin perempuan ini bisa menjadi artis terkenal jika memasuki dunia hiburan.


“Ada apa Ayah?” Tanya Miranda kepada Seno.

__ADS_1


“Mereka dari The Auction. Sepertinya mau membicarakan mengenai kita yang sudah tidak lagi menjual produk kita di sana. Aku rasa, Kamu perlu hadir untuk membicarakan hal ini bersama.” Jelas Seno.


Sekarang ini Miranda sudah bertanggung jawab mengenai pemasaran produk milik mereka. Meski Seno bisa saja mengurus semuanya sendirian, tetapi ia tetap ingin melibatkan Miranda dalam diskusi kali ini.


“Oh begitu. Silahkan masuk kalau begitu.” ucap Miranda mempersilahkan mereka untuk masuk ke ruang tamu.


“Jadi kedatangan kami kemari ingin mengundang kalian untuk kembali menjual produk kalian di aplikasi Kami.” jelas Lufti.


“Memangnya apa keuntungannya bagi kami jika kami kembali berjualan di tempat kalian?” tanya Miranda.


“Ehm itu, kami tidak bisa memberikan janji apa pun sekarang. Yang jelas, produk milik kalian akan sering berada di halaman depan dari aplikasi. Kalian juga akan kami bantu mempromosikan produk kalian.” jelas Rifki.


“Hanya itu? Bukankah sebelumnya kalian sudah melakukan itu semua? Sekarang kalian menawarkan kembali sesuatu yang selama ini sudah kalian berikan kepada kami, apa kalian tidak memiliki hal yang baru untuk ditawarka?”


Rifki dan Lutfi hanya bisa diam. Keduanya tidak bisa memberikan jawaban mengenai hal ini. Rangga atasan mereka, tidak memberikan mereka perintah lain. Mereka hanya perlu membujuk Seno untuk kembali berjualan di The Auction. Tidak ada keuntungan lain yang Rangga tawarkan.


“Kalian tidak memiliki penawaran lain tetapi meminta kami kembali. Itu cukup konyol. Sekarang ini kami sudah memiliki laman web sendiri. Di sana penjualan yang kami dapatkan tidak lagi perlu dipotong biaya administrasi.”


“Apa yang kami keluarkan untuk membiayai pengolaan laman web jauh lebih murah daripada apa yang kami bayarkan kepada kalian. Lalu, kami juga lebih bebas di sini. Tentu saja kami tidak akan kembali berjualan di tempat kalian.” jelas Miranda.


“Hah.” Rifki menghembuskan nafas panjang setelah mendengar perkataan Miranda. Ini seperti yang mereka duga sebelumnya, pemikiran Miranda pun sama seperti mereka.


“Kami sudah tahu bahwa kalian tidak akan menyetujui hal ini. Hanya saja kami tetap harus menemui kalian untuk formalitas semata. Bos kami memaksa kami melakukan ini.” keluh Rifki.


“Cukup bodoh memang meminta kalian kembali berjualan di The Auction tanpa memberikan penawaran lain.” Imbh Lutfi.


“Ehm, tapi apakah kalian masih memiliki lowongan untuk mengolah website kalian? Aku dan temanku ini berencana mengundurkan diri dari pekerjaan kami sekarang. Jelas dengan pengalaman kami selama ini, kami bisa membantu mengembangkan usaha kalian bukan?” tanya Lutfi tanpa basa basi.


Ia tidak peduli dianggap tidak tahu malu sekarang. Yang jelas ia butuh pekerjaan baru dengan lingkungan kerja yang kondusif. Ia sudah lelah bekerja di The Auction.


Seno dan Miranda cukup kaget mendengar perkataan Lutfi tersebut. Keduanya tidak menyangka bahwa Lutfi justru akan meminta pekerjaan kepada mereka setelah gagal merayu mereka kembali menjual produk di The Auction.

__ADS_1


“Aku rasa itu tidak masalah. Kebetulan istriku akan membuka sebuah perusahaan baru. Memang ini tidak dalam urusan lelang melelang produk yang kami miliki. Tetapi, istriku membutuhkan banyak pekerja setelah ini. Pengalaman kalian akan sangat membantu.” Jelas Seno.


Seno masih ingat bahwa Miranda berkeinginan membuat perusahaan yang menjual sayur mayur secara online. Kedatangan dua orang yang menawarkan diri bekerja dengan mereka bisa membantu Miranda menyiapkan semuanya sampai perusahaan mereka bisa berjalan dengan lancar.


__ADS_2