
Kali ini Seno sedang berjalan-jalan dengan Dina dan Miranda di salah satu mall di kota mereka. Meski mereka belum resmi pacaran, tidak ada salahnya bukan mereka menghabiskan bersama?
Sejak ketiganya memasuki area mall, mereka menjadi pusat perhatian orang. Ini karena kulit mereka yang bagus dan bercahaya. Itu menambah kecantikan dan ketampanan ketiga orang tersebut.
Beberapa bisik-bisik terdengar dari orang di sekitar mereka. Orang-orang itu mengatakan betapa serasinya Seno dengan kedua perempuan di sampingnya.
Para perempuan iri dengan Dina dan Miranda yang terlihat dekat dengan Seno yang tampan. Sedangkan para laki-laki lebih iri lagi dengan Seno. Hanya karena wajah tampannya, Seno berhasil mendapatkan dua perempuan sekaligus. Ini tidak adil menurut mereka.
Seno, Dina dan Miranda tidak mempedulikan hal itu. Sekarang ini mereka tengah sibuk memilihkan Seno pakaian. Celana yang dulu memiliki panjang semata kaki, sekarang berada di atas mata kaki.
Tidak hanya itu, kaos dan kemejanya yang dulu panjangnya mencapai pahanya, sekrang tertarik tinggi hingga mencapai pinggang. Jika Seno mengangkat kedua tangannya, maka pusarnya akan kelihatan. Oleh karena itu, ia butuh belanja baju baru.
“Aku rasa yang ini bagus untuk Mas Seno. Bahannya bagus, ukurannya pun cukup untuk Mas Seno.” Ucap Miranda sembari menempelkan sebuah celana ke tubuh Seno.
“Ya itu bagus Sen. Ambil aja beberapa potong celana dengan merek ini.” Imbuh Dina.
Seno lalu mengecek harga dari celana tersebut. Enam ratus lima puluh ribu rupiah. Jika ini dulu sebelum ia mendapatkan sistem maka Seno akan sangat enggan membeli sebuah celana dengan harga semahal itu.
Uang sebanyak itu bisa ia pakai untuk membeli lima hingga enam celana sekaligus. Jadi, kenapa dia harus menghabiskannya hanya untuk sebuah celana?
Tetapi sekarang, setelah dirinya memiliki uang yang cukup banyak, harga segitu tidak lagi terlalu mahal di mata Seno. Tiga porsi buncisnya bisa ia tukarkan untuk mendapatkan dua celana ini, bahkan masih ada kembaliannya.
“Baiklah aku akan ambil beberapa potong celana dengan merek ini.” Jawab Seno.
Laki-laki itu lalu memandang lekat ke arah dua wanita di sampingnya.
__ADS_1
“Sekarang, kalian juga beli beberapa baju baru. Aku yang bayarin. Aku yakin sebentar lagi pakaian kalian saat ini akan kekecilan untuk kalian.” Jawab Seno.
Memang setelah mengetahui Seno yang tinggi badannya pelan-pelan bertambah, Dina dan Miranda juga menginginkan hal yang sama. Mereka juga ingin memiliki badan yang tinggi, terutama Dina yang hanya memiliki tinggi badan seratus lima puluh sentimeter.
Perempuan itu ingin sekali memiliki tubuh yang tinggi. Ia lelah jika berbicara dengan orang yang tinggi harus mendongakkan kepalanya.
“Tentu kita nggak akan sungkan-sungkan sama Mas Seno. Kan Mas Seno sekarang udah banyak duit. Yuk Mbak Dina kita pilih-pilih baju.” Ucap Miranda sembari menarik tangan Dina.
Tidak setiap saat mereka meminta Seno membelikan mereka pakaian. Jadi tidak masalah jika mereka membiarkan Seno membayar sekarang. Lagi pula, mereka hanya akan membeli beberapa potong pakaian saja, tidak banyak.
Setelah berbelanja pakaian, mereka berencana menuju ke Starbuck untuk mengobrol santai sembari menikmati kopi. Namun, di tengah jalan, seseorang menghadang mereka.
Seno mengerutkan keningnya melihat kedatangan orang itu. Ternyata orang itu belum menyerah juga rupanya.
“Ada apa lagi Raisa? Bukankah sudah kubilang Kamu tidak perlu menemuiku lagi.” Ucap Seno dengan nada ketus.
“Tentu saja aku ingin kita balikan. Aku masih menyukaimu.”
Apa yang Raisa ucapkan itu membuat kedua perempuan di samping Seno melihat ke arah Seno dan Raisa secara bergantian. Mereka seolah menuntut pejelasan kepada Seno mengenai hubungannya dengan perempuan yang baru datang itu.
“Dia mantan pacarku yang pernah aku ceritakan kepada kalian.” Jawab Seno.
“Oh, mantan pacar Mas Seno yang itu ya.”
Sekarang barulah Raisa menyadari bahwa Seno tidak sendirian. Ada dua orang wanita cantik yang berada di samping Seno. Mereka berdiri terlalu rapat dengan Seno. Bahkan lengan atas mereka saling bersentuhan sekarang.
__ADS_1
Raisa lalu memandang kedua perempuan itu dari ujung kepala hingga ujung kaki secara bergantian. Pakaian, tas, dan sepatu yang mereka pakai adalah barang bermerek. Harganya pun jutaan hingga puluhan juta.
“Oh, jadi sekarang Kamu udah lupain aku hanya karena udah ada cewek-cewek kaya yang udah biayain semua kebutuhan Kamu. Aku nggak nyangka ya Kamu kayak gitu. Hanya karena aku miskin kamu tinggalin aku gitu aja demi yang kaya.” Ucap Raisa dengan menampakkan ekspresi sedihnya.
Suara Raisa ketika berucap demikian cukup keras. Hal itu membuat beberapa orang yang ada di sekitar mereka menghentikan langkah mereka untuk melihat drama kecil ini. Kondisi mall yang ramai membuat banyak orang yang berkerumun di sekitar mereka berempat.
“Dasar cowok matre, ninggalin ceweknya hanya karena harta. Aku kira hanya cewek aja yang matre, ternyata cowok juga. Ini bahkan lebih parah, sama dua cewek sekaligus.” Ucap salah seorang pengunjung mall.
“Kamu benar. Wajahnya sih ganteng tetapi kelakuan aja yang nggak ganteng.” Imbuh yang lainnya.
Bisik-bisikan semacam itu dapat Dina dan Miranda dengar dari orang-orang di sekitar mereka. Keduanya tidak terima dengan ucapan orang-orang itu. Mereka lebih tahu kisah yang sebenarnya. Seno bukanlah laki-laki matre seperti yang mereka tuduhkan.
“Kalian kalo nggak tahu ceritanya jangan asal jeplak aja dong. Kalo denger dari satu sisi emang kayaknya cewek ini adalah korban, padahal dia sendiri yang matre. Maling teriak maling.” Ucap Miranda sambil memandang tajam ke arah Raisa.
“Benar itu. Dulunya Mbak ini sama temen saya ini memang pacaran. Cuma ketika temen saya ini mengalami musibah, di mana kedua orang tuanya meninggal, Mbak ini malah mutusin temen saya ini. Nggak lama kemudian, Mbak ini malah pacaran sama salah satu temen kuliahnya yang anak orang kaya.” Imbuh Dina.
“Lalu sekarang ketika teman saya ini sudah sukses, pendapatannya lebih besar dari pacarnya, Mbak ini malah minta balikan. Jadi, siapa yang matre sekarang?”
Ucapan Dina itu membuat beberapa orang yang ada di sana berpikir ulang dalam menilai apa yang terjadi sebenarnya. Mereka tidak tahu mana yang benar mana yang bohong. Yang jelas mereka tidak bisa mempercayai satu pihak saja tanpa mempertimbangkan yang lainnya.
Melihat beberapa orang yang ada di sana satu persatu meninggalkan mereka, membuat Raisa merasa geram. Hal ini karena ia berharap mendapatkan simpati publik dan membuat Seno tepojok lalu mau menjadi pacarnya lagi.
Orang seperti Seno tidak bisa ia lepaskan begitu saja. Selama beberapa waktu terakhir, Raisa sudah mengikuti jalannya lelang yang Seno lakukan. Dalam sehari ia bisa mendapatkan uang ratusan juta. Itu adalah angka yang sangat besar.
Gunung emas seperti itu tidak bisa Raisa lepaskan begitu saja. Apalagi sebelumnya mereka sudah pernah menjalin kasih. Perempuan itu tahu betapa royalnya Seno kepada pacar dan keluarganya. Jadi, jika dirinya menjadi pacar Seno, barang-barang mewah akan mudah ia dapatkan.
__ADS_1