
“Aku sudah merasa ketakutan ketika polisi datang. Aku kira kedatangan kita sudah dicurigai oleh kepolisian lokal. Ternyata, itu hanya kesalah pahaman,” ucap Dina.
Saat ini Seno bersama yang lainnya tengah menikmati makan malam di kedai pinggir jalan yang ada di Kota Beijing. Kedua istrinya tiba-tiba ingin makanan hot pot yang dijual oleh pedagang kaki lima yang ada di sini. Seno sebagai suami yang baik, juga seorang ayah yang tanggap, tentu saja menuruti permintaan kedua istrinya itu.
“Tenang saja. Asalkan kita tidak membuat keributan, pihak berwajib di sini tidak akan mengarahkan perhatian mereka kepada kita. Lagi pula setelah ini kita langsung pulang bukan? Lalu besok kita sudah berada di Tokyo. Tidak perlu mengkhawatirkan hal lain,” ucap Seno.
“Untuk masalah tadi, aku sendiri juga tidak menyangka bahwa di antara peserta lelang, ada seseorang yang tubuhnya diracun. Jika tahu begini, sedari awal aku tidak akan memberikan teh untuk mereka coba.”
“Ya. Itu memang sedikit kesialan bagi kita. Namun, aku tidak menyangka kita mendapatkan sepuluh miliar rupiah lebih hanya dari lelang teh itu. Awalnya aku menebak kita hanya akan mendapatkan tiga hingga lima miliar rupiah saja,” jelas Miranda.
“Kalau begitu, untuk ke depannya kita batasi saja penjualannya. Jika sekarang kita menjual lima puluh kilogram di China, maka di kesempatan selanjutnya, kita hanya akan menjual sebanyak dua puluh lima kilogram saja. Dengan langkanya barang, maka akan semakin tinggi harganya.”
“Sekarang kita bisa mendapatkan sepuluh miliar rupiah dari lima puluh kilogram teh. Namun, dengan dua puluh lima kilogram teh, kita bisa saja mendapatkan delapan miliar rupiah, atau bahkan lebih.”
“Ya, Ayah benar. Aku juga memiliki pemikiran yang sama. Aku rasa, kita bisa menjual lagi teh hijau ini di China satu bulan lagi. Pada lelang selanjutnya, kita bisa membatasi setiap orang hanya bisa membeli dua ratus gram teh saja. Dengan begitu, mereka yang berencana mendapatkan untung dari produk kita, akan berpikir dua kali,” jelas Miranda.
“Lalu, untuk lelang besok di Tokyo, sepertinya kita akan melakukan tiga kloter lelang. Beberapa peserta lelang hari ini meminta kita membuka kloter baru. Mereka berencana terbang ke Jepang dengan penerbangan paling pagi yang bisa mereka dapatkan.”
“Aku rasa, mereka masih menginginkan beberapa barang lagi dari produk yang kita lelang. Jadi, besok Ayah perlu menyiapkan lebih banyak lagi produk yang akan di lelang.”
“Itu tidak masalah. Lebih banyak lebih baik. Ini untuk awal saja. Kita perlu segera menjual daun kelor milikku. Pada lelang kali ini, kita hanya mendapatkan seratus lima puluh juta rupiah saja. Itu sangat jauh dari target. Nanti, jika semua misi selesai, kita tetap akan membatasi jumlah kloter lelang di setiap negara. Jika ada yang meminta membeli tiket baru, jangan diberi,” jelas Seno.
Pada lelang di Kota Beijing kali ini, Seno hanya melaksanakan dua kloter lelang. Pagi dan sore hari. Rencananya lelang di Kota Tokyo besok juga akan sama, hanya dua kloter. Namun, peminat lelang yang bertambah membuat mereka harus membuka kloter lelang baru pada lelang besok.
__ADS_1
Setelah menghabiskan makanan mereka, Seno tidak langsung pulang. Ia mengajak kedua istrinya untuk menikmati suasana malam Kota Beijing. Kapan lagi mereka bisa berjalan-jalan santai di negeri orang seperti ini.
Namun, suasana Kota Beijing tidak terlalu ramai malam ini. Meski suhu di akhir musim dingin ini sudah lebih menghangat, tetapi itu masih terasa dingin bagi manusia pada umumnya. Berbeda dengan Seno dan kedua istrinya yang memakai jaket tebal hanya untuk sekedar gaya.
Ketika melewati sebuah taman, Seno tiba-tiba merasakan sebuah aura yang menarik perhatiannya. Ia lalu memandang ke arah datangnya aura tersebut. Di sana, ia melihat seorang anak laki-laki yang terlihat berusia tiga belas tahunan, berjualan sate khas China. Lapak dagangan anak laki-laki itu cukup ramai dikunjungi oleh pejalan kaki yang kebetulan lewat.
Bersama dengan anak laki-laki itu adalah seorang anak perempuan yang terlihat berusia kurang dari sepuluh tahun. Kemungkinan besar dia adalah adik dari anak laki-laki tadi. Di dalam gendongan anak perempuan itu, terdapat seekor kucing yang terlihat tertidur pulas sekarang.
Seno merasakan aura tersebut dari arah kucing tersebut. Ketika Seno memandanginya, kucing yang awalnya tertidur pulas itu langsung membuka matanya. Ia menatap Seno dengan tatapan awas.
“Ayah ada apa?” tanya Dina yang melihat Seno tiba-tiba berhenti dan tidak berniat bergerak dari tempatnya berdiri.
“Aku perlu memastikan sesuatu. Kalian berdua, lebih baik kembali ke hotel sekarang. Aku akan meminta Ruisyo menemani kalian kembali,” ucap Seno dengan nada yang cukup serius.
“Memangnya ada apa?” tanya Dina sekali lagi.
“Aku merasakan keberadaan inti dimensi di sekitar sini. Jadi, aku perlu memastikannya,” jawab Seno.
“Inti dimensi? Apakah itu akan berbahaya? Ini tempat umum loh,” ucap Dina yang merasa khawatir.
Dina masih ingat mengenai inti dimensi yang dimiliki oleh Profesor Giorgio. Inti dimensi itu memiliki kekuatan yang cukup besar. Jalan tol saja perlu dihancurkan untuk menutupi bekas pertarungan mereka.
Lalu sekarang, Seno mengatakan bahwa di sekitar sini ada inti dimensi? Bagaimana jika inti dimensi itu mengamuk dan membuat semua orang yang ada di taman ini terluka? Pasti akan banyak korban di sini.
__ADS_1
Belum lagi Seno perlu merahasiakan kekuatannya dan menghindari terekam oleh kamera pengawas. Di China, kamera pengawas tersebar di mana-mana. Meski sekarang mereka memiliki tim peretas sendiri, tetapi jika ada sesuatu yang menghebohkan, maka akan sulit bagi mereka mengotak atik kamera pengawas yang ada di sini.
“Aku tidak tahu. Tetapi, aku rasa ini tidak terlalu berbahaya. Meski begitu, aku ingin kalian kembali lebih dahulu. Bagaimana pun juga, kalian berdua sendang membawa nyawa lain sekarang. Jadi, aku tidak mau kalian mengambil resiko. Lebih baik kalian mengungsi ke tempat aman sekarang.” jelas Seno.
Seno berani mengatakan bahwa di sini tidak ada bahaya bukan tanpa alasan. Sistem tidak memberinya misi untuk mengatasi inti dimensi yang mengacau. Ini berarti, sifat inti dimensi ini sangat berbeda dengan inti dimensi yang dimiliki oleh Profesor Giorgio.
Meski inti dimensi ini tidak mengacau, Seno ingin memastikan sesuatu. Apakah pemilik inti dimensi ini adalah orang baik? Apakah mereka memanfaatkan dimensi yang mereka miliki untuk tujuan baik? Jika mereka adalah orang jahat, maka mau tidak mau Seno akan merebut paksa inti dimensi tersebut.
Seno tidak mau ada korban-korban lain yang berjatuhan akibat keserakahan seseorang dan pemanfaatan dimensi untuk kejahatan.
“Tenang saja tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi padaku. Sekarang kekuatanku lebih besar daripada sebelumnya. Kalian tidak perlu merasa cemas sedikit pun.”
“Baiklah. Kami akan pergi. Tetapi, jangan membuat terlalu banyak keributan. Ini bukan negara kita. Kita tidak memiliki kenalan yang bisa membantu kita. Meski kita bisa saja pergi dari sini kapan pun kita mau, tetapi lebih baik tidak menimbulkan masalah apa pun,” ucap Dina mengingatkan.
“Iya, Ayah. Di sini sangat banyak kamera pengawas. Dari semua sisi sudah ada kamera pengawas. Jadi, apa pun yang akan Ayah lakukan, berhati-hatilah. Jangan sampai menarik perhatian orang lain,” imbuh Miranda.
“Aku tahu. Aku tidak akan gegabah.”
Seno lalu mengambil ponsel miliknya dan memanggil anak buahnya. Seno sengaja meminta anak buahnya menjaga jarak dengan dirinya dan kedua istrinya. Ia ingin memiliki waktu sendiri dengan Dina dan Miranda tanpa harus terus dikawal. Meski begitu, anak buah Seno tetap berada tidak jauh dari mereka.
Oleh karena itu, sekarang ini Seno menelepon Tiarsus agar mereka segera kembali ke tempatnya. Seno butuh anak buahnya untuk mengatasi masalah ini tanpa pertarungan, terutama Tiarsus. Barier miliknya yang bisa membuat sesuatu di dalamnya tidak kasat mata, sangat Seno butuhkan sekarang.
“Bos,” sapa Tiarsus dan yang lainnya ketika sudah berada di dekat Seno.
__ADS_1
“Ruisyo, bawa Dina dan Miranda kembali ke hotel. Pastikan mereka baik-baik saja selama perjalanan. Lalu, yang lain, kalian ikut aku. Ada yang harus kita selesaikan setelah ini.”
“Baik, Bos.”