
Seno mengemudikan sebuah mobil yang ia sewa menuju ke rumah Miranda. Ia hanya memiliki mobil box dan bukan mobil pribadi. Tidak mungkin bukan Seno mendatangi rumah Miranda dengan niat meminta restu menaiki mobil box miliknya?
Di bagasi mobil, Seno sudah membawa banyak hadiah untuk keluarga Miranda. Kebanyakan hadiah itu adalah hasil kebunnya sendiri. Selain hasil kebun, Seno juga membeli beberapa bolu yang kata Miranda adalah kue kesukaan keluarganya.
Seno harap, sedikit “sogokan” ini bisa mempermudah pembicaraan mereka nantinya. Ia harap keluarga Miranda bisa memberikannya restu untuk bisa memulai hubungan yang lebih serius dengan Miranda.
Ketika Seno sampai di rumah Miranda, satpam membukakan gerbang dengan ramah. Ia masih menyapa Seno seperti biasa, senyuman hangat pun masih ada di wajah satpam tersebut. Tetapi itu sangat berbeda dengan sambutan yang Seno terima dari keluarga Miranda.
Di teras rumah Miranda, sudah ada Johan yang menunjukkan wajah garangnya. Kumis tebal dan wajah seriusnya menambah aura garang pada diri Johan. Laki-laki itu kini tengah melipat kedua tangannya di dada dan memandang tajam kepada Seno. Meski seram, Seno tetap memberanikan diri menyapa Johan.
“Selamat sore Pakde Johan.” Sapa Seno sembari mengelurukan tangannya.
Tetapi uluran tangan dari Seno ini tidak diterima oleh Johan. Laki-laki itu hanya menganggukkan kepalanya pelan kepada Seno. Ia seolah enggan memegang tangan Seno.
Melihat respon dingin dari Johan, Seno tidak merasa marah sama sekali. Ia bisa memahaminya. Bagaimanapun juga, permintaannya nanti kepada keluarga Miranda akan sangat sulit mereka terima. Sudah bagus dirinya tidak langsung diusir oleh Johan dari sini.
Seno dan Johan saling berpandangan. Sekarang Paman dari Miranda ini seolah enggan mengajak Seno masuk ke dalam rumah. Itu berlangsung selama dua menit. Hingga pada akhirnya semua itu dipecahkan oleh kedatangan Rifdah, istri dari Johan.
“Eh kenapa kalian masih di sini aja? Papa ini gimana sih ada tamu kok nggak diajak masuk malah pandang-pandangan di luar kayak gini.” Ucap Rifdah.
“Budhe.” Sapa Seno sambil mengulurkan tangannya.
Rifdah berbeda dengan suaminya. Ia menjabat tangan Seno dan membiarkan laki-laki itu mencium tangannya. Ia juga mempersilahkan Seno untuk masuk ke dalam rumah. Sebelum masuk ke rumah keluarga Miranda, Seno kembali menuju bagasi mobilnya untuk mengeluarkan bingkisan yang ia bawa.
Beberapa kotak berisi sayuran khusus miliknya ia keluarkan dari dalam sana. Melihat hal itu, Rifdah memanggil asisten rumah tangga rumahnya untuk membantu Seno membawa semua barang-barang itu masuk ke dalam rumah.
Di ruang tamu rumah Miranda, sudah ada kakek neneknya yang menunggu. Wajah mereka berubah banyak sejak terakhir kali mereka bertemu. Keduanya terlihat lebih muda beberapa tahun. Ini pasti karena keduanya mengkonsumsi buncis pemberian Seno.
Di ruang tamu itu Seno diajak mengobrol mengenai kesehariannya. Sekedar berbasa basi. Lima menit kemudian Mario, Kakek Miranda, langsung mengajak Seno membicarakan hal yang lebih serius lagi dari sebelumnya.
“Jadi, apa masud kedatanganmu kemari Seno? Jelas Kamu tidak datang kemari hanya untuk silaturahmi bukan?” Tanya Mario.
__ADS_1
Ini adalah saat yang benar-benar menegangkan bagi Seno. Laki-laki itu manarik nafas panjang untuk menenangkan diri. Setelahnya, ia mulai berbicara serius.
“Maksud kedatanganku kemari ingin meminta ijin kepada kalian sebagai keluarga Miranda agar mengijinkan aku dan Miranda menjalani hubungan yang lebih serius.” Jawab Seno.
“Aku dengar Kamu juga dekat dengan anak dari Ibra. Jadi Kamu sekarang lebih memilih keponakanku daripada anak dari Ibra begitu?” Tanya Johan yang sedari tadi diam.
Seno menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Johan tersebut. “Tidak Pakde, aku tidak memilih salah satu di antara keduanya. Ini adalah yang kami bertiga sepakati. Aku tahu bagi kalian sangat sulit melepaskan Miranda untuk bersamaku dengan aku yang akan meduakan dia.”
“Tetapi, berikan aku kesempatan untuk membuktikan kepada kalian bahwa pilihan kami ini tidak salah. Berikan restu terhadap hubungan kami ini.” Pinta Seno dengan penuh ketulusan.
Anggota keluarga Miranda yang lain tidak ada yang memberi respon. Ekspresi di wajah mereka pun tetap sama seperti sebelumnya. Yang telihat menunjukkan ekspresi hanyalah Johan. Laki-laki itu semakin menatap tajam Seno setelah mendengar apa yang Seno katakan.
“Merestui hubungan kalian dan membiarkan Mira Kamu madu? Aku tidak akan memberikan restu itu. Masih banyak laki-laki yang jauh lebih hebat darimu di luar sana. Mereka bisa menjadikan Mira sebagai satu-satunya ratu dalam rumah tangga mereka.”
“Jika membangun rumah tangga hanya atas dasar cinta, maka rumah tangga itu tidak akan bertahan lama.” Ucap Johan dengan suara dingin.
“Aku akui, di luar sana masih banyak laki-laki hebat dengan segudang prestasi. Banyak yang lebih hebat dariku yang bukan apa-apa ini. Tetapi Pakde, yang Mira pilih adalah aku bukan mereka. Lalu, belum tentu juga laki-laki yang lebih hebat dariku itu bisa membuat Mira nyaman.”
“Maka dari itu, untuk kedua kalinya, aku meminta ijin kepada kalian semua, keluarga besar dari Miranda, untuk memberiku restu. Aku ingin membahagiakan Mira lebih lama lagi. Aku ingin membahagiakan dia sebagai suaminya.”
Johan ingin kembali memberikan penolakan kepada Seno, tetapi Mario memberinya pandangan memperingatkan. Setelah melihat Johan diam dan tidak memiliki niatan berbicara kembali, Mario kemudian mengarahkan pandangannya kepada Seno.
“Apa semua yang Kamu katakan tadi benar? Bahwa kamu bersungguh-sungguh ingin membahagiakan Mira?” Tanya Mario dengan nada serius kepada Seno.
Mendengar penuturan Mario, Seno semakin menegakkan tubuhnya. Ia memandang lekat ke arah Mario. Ia menjawab tidak kalah seriusnya dengan Mario.
“Tentu saja Kakek, aku sangat serius dengan apa yang aku katakan tadi. Aku benar-benar ingin membahagiakan Mira.” Jawab Seno.
Mario lalu mengangguk pelan. Ia lalu memandang ke arah Rifdah menantunya. “Panggilkan Mira, aku ingin mendengar pendapat langsung dari anak itu.”
Memang sedari tadi Seno tidak menemukan keberadaan Miranda di sini. Kemungkinan besar keluarga Miranda tidak mengijinkannya untuk menemui Seno sekarang. Mereka ingin berbicara serius dengan Seno tanpa adanya Miranda.
__ADS_1
“Baiklah Ayah.” Jawab Rifdah.
Lima menit kemudian, Rifdah kembali dengan Miranda yang mengikuti di belakangnya. Perempuan itu terlihat sangat cantik sekarang. Rambutnya yang biasanya ia gerai, sekarang diikat rapi membentuk sangul. Di tangannya juga sudah ada jam tangan pemberian Seno.
Ketika Miranda duduk, ia memusatkan perhatiannya kepada Seno. Ketika melihat Seno yangbaik-baik saja tanpa kekurangan apa pun, Miranda merasa lega. Ini berarti keluarganya tidak melakukan apa pun yang memojokkan Seno.
“Jadi Mira, Seno sudah mengatakan kepada kami apa maksud dan tujuannya datang kemari. Kamu pasti sudah tahu apa itu. Jadi, bagaimana jawabanmu? Apakah Kamu setuju dengan lamaran Seno?” Tanya Mario.
Suara Mario tersebut menyadarkan Miranda dari lamunannya. Ia lalu memandang ke arah Kakeknya.
“Tentu saja Kakek. Aku menerimanya, aku sudah tahu apa konsekuensinya jika aku mengambil keputusan ini. Entah aku akan berakhir bahagia atau berakhir dengan kesedihan aku sudah siap menerima resiko itu.” Jawab Miranda dengan penuh percaya diri.
“Apa Kamu yakin mau diduakan seperti itu?” Tanya Mario sekali lagi.
“Ya. Aku tidak masalah dengan hal itu.”
Setelah mendapatkan jawaban Miranda, Mario kemudian mengarahkan pandangannya kepada Seno. Laki-laki itu kini memberikan sebuah senyum lebar kepada Seno.
“Kamu dengar itu bukan, Miranda sudah setuju. Aku pun ikut merestui hubungan kalian.” Ucap Mario.
“Ayah, kenapa Ayah menyetujui hal itu. Ini Mira diduakan loh. Kenapa Ayah merestuinya?” Portes Johan.
“Johan, tidak semua pernikahan berbagi cinta berakhir dengan pertengkaran. Masih ada pernikahan poligami yang harmonis. Buktinya mertuamu juga begitu bukan? Mereka bisa hidup harmonis. Jadi aku mengijinkan Miranda menikah dengan Seno.”
“Yang paling penting ini adalah keputusan Miranda sendiri, dan dia mau mempertanggung jawabkan apa yang ia pilih.”
“Aku tidak yakin adikku merestui hubungan ini.”
“Lukas sudah aku telefon pagi ini dan mengatakan semuanya. Dia sudah merestui hubungan ini setelah tahu siapa yang akan menjadi pasangan Miranda. Jadi, protesmu itu tidak akan merubah apa pun.”
Mendengar hal itu Seno langsung senang. Ini berarti ia sudah melewati satu rintangan. Restu keluarga Miranda, bahkan restu kedua orang tuanya pun sudah Seno dapatkan.
__ADS_1
Meski begitu, Seno belum bisa merayakan hal ini. Masih ada rintangan selanjutnya yang perlu Seno lewati, keluarga Dina. Seno tidak yakin besok dirinya akan memiliki akhir bahagia seperti sekarang. Pasti mendapatkan restu dari keluarga Dina lebih berat lagi.