
[Ding]
[Selamat Host telah menyelesaikan misi mencari benih mint super sejuk pada dimensi RS71XU5]
[Selamat Host mendapatkan +1 benih misterius]
Pemberitahuan itu Seno dapatkan setelah dirinya menerima sebuah benih dari Thorbiorn. Lebihs tepatnya, Thorbiorn memberikan satu pohon mint kepada Seno. Hal ini membuat Seno ingin mencoba sesuatu.
Sebelum ini, cabai rawit yang ia dapatkan dari dimensi para Molyap membuatnya bisa menyemburkan api. Di dimensi Molyap, terdapat gunung berapi yang membuat suhu di sekitarnya panas.
Hal ini membuat Seno berpikir bahwa daun mint ini bisa memberikan efek yang tidak jauh berbeda dengan cabe rawit itu. Kemungkinan besar Seno akan memiliki napas es jika ia mengkonsumsi daun mint ini.
Untuk membuktikan teorinya itu, langsung saja Seno memakan salah satu daun mint yang ada. Ketika memakannya, rasa dingin langsung menyebar di tubuhnya. Seno seolah tidak bisa menggerakkan tubuhnya karena rasa dingin itu, ia seperti beku.
Tetapi, Seno langsung berkonsentrasi dan memusatkan rasa dingin itu di ujung jarinya. Seno ingin tahu apakah ia bisa mengubah rasa dingin ini sebagai serangan. Ternyata, teorinya tidak salah. Ia bisa menggunakan rasa dingin itu sebagai serangan.
“Tanpa menanamnya pun aku bisa mengetahui manfaat dari daun mint ini. Daun mint ini bisa membuatku memiliki variasi serangan baru. Tetapi, serangan ini tidak seperti serangan para serigala tadi. Hanya sebatas es kecil yang kekuatannya tidak terlalu besar,” gumam Seno setelah mencoba serangannya.
“Sekarang, aku perlu mencoba untuk menyimpan kekuatan ini. Mungkin aku juga bisa menyimpannya seperti energi panas yang dihasilkan oleh cabai rawit itu.”
Sekali lagi, Seno memakan daun mint tersebut. Kali ini Seno buru-buru mengarahkan rasa dingin itu ke rambutnya. Perlahan namun pasti, sebagian rambut Seno berubah warna menjadi putih. Sekarang, rambut Seno memiliki tiga warna, hitam, merah, dan putih.
…
“Bos apa yang akan kita lakukan kepada mereka?” tanya Azkareia.
Sekarang mereka sudah berada di puncak gunung, lebih tepatnya di salah satu gua yang berada di dekat puncak gunung es.
Di depan Seno sekarang, sudah ada puluhan anak serigala. Mereka terlihat tidur nyaman. Dari ukurannya, Seno bisa menebak bahwa serigala ini lahir belum lama ini.
Pemandangan di depannya ini membuat Seno merasa heran dengan perlakuan serigala hitam pemimpin kawanan. Mereka masih memiliki serigala yang masih bayi seperti ini.
Bukankah lebih logis jika mereka menyerah kepada Seno demi bisa merawat anak-anak mereka? Kenapa mereka malah memilih bertarung dengan mempertaruhkan nyawa seperti itu?
“Biarkan saja mereka. Azka, besok datanglah ke toko hewan peliharaan untuk membeli susu formula dan juga belilah beberapa daging untuk mereka.”
__ADS_1
“Tentu Bos.”
“Lalu Tiarsus, informasikan kepada lag untuk mengurus dimensi ini. Aku ingin mereka mulai menebangi pohon yang ada di sini dan membangun gubuk penyimpanan.”
“Tentu Bos.”
“Sekarang sudah saatnya aku kembali.”
…
“Bagaimana dengan misinya? Apa semua baik-baik saja?” tanya Miranda setelah Seno memasuki rumah.
Sekarang ini yang menunggunya pulang dari misi tidak hanya kedua istrinya, tetapi Anita dan Renata yang kebetulan pulang, juga menunggu Seno menyelesaikan misi.
Kedua adik Seno sekarang sudah tahu mengenai dimensi miliknya. Tetapi hanya sebatas itu. Seno sama sekali tidak memberitahu mereka mengenai Sistem yang ia miliki.
“Semua baik-baik saja. Tetapi dimensi itu tidak bisa kalian kunjungi. Suhu di sana sangatlah ekstrim. Kalian tidak akan kuat dengan perubahan suhunya.”
“Ayah nggak apa-apa ‘kan?” tanya Miranda.
Biasanya Dina yang paling khawatir mengenai keselamatan Seno. Sekarang, istrinya itu malah tidak terlihat di sini.
“Mbak Dina lagi ngelanjutin risetnya Mas,” jawab Anita. “Mbak Dina tadi bilang bahwa dia mendapatkan inspirasi bagus untuk menyelesaikan penelitiannya. Katanya, sebelum inspirasinya menguap, ia harus segera merealisasikan inspirasinya itu.”
“Udah aku minta fokus dulu belajar untuk ujian, eh dia malah memilih melanjutkan penelitiannya.”
Miranda mengibaskan sebelah tangannya. “Aku susah memahami semua materi semester ini. Aku yakin bisa mendapatkan nilai bagus. Kacang merahmu itu sangat membantuku dalam belajar Ayah. Begitu pula dengan yang lain.”
“Jadi, Mbak Dina milih make waktunya buat ngelanjutin penelitiannya daripada belajar untuk ujian. Apalagi inspirasinya sedang banyak. Ia sekarang meneliti selada dan nanas itu, seperti saran Ayah.”
“Oh begitu. Lalu, jika kalian tidak sedang belajar, sekarang apa yang kalian lakukan?”
Ketika Seno datang, ia melihat Miranda dan kedua adiknya terlihat sibuk melakukan sesuatu. Di depan mereka sudah ada tiga laptop yang mereka pakai untuk mencari informasi. Awalnya Seno mengira mereka sedang memakai laptop itu untuk belajar, tetapi ternyata tidak.
“Kami tengah menyusun rencana untuk melakukan lelang luring pertama. Rencananya akan dilakukan di salah satu hotel yang ada di Ibukota. Kami sudah menemukan lokasinya, tinggal melakukan pemasaran saja agar orang-orang tahu bahwa kita mengadakan lelang luring,” jelas Miranda
__ADS_1
“Sebelum kita melakukan lelang di luar negeri, ada baiknya melakukan lelang di dalam negeri dulu. Aku tidak mau pelanggan kita menyerang di sosial media karena kita tidak membuat lelang di dalam negeri.”
“Itu ide yang bagus. Apakah Kamu sudah mendapat gambaran berapa harga tiket yang akan kalian jual?”
Seno sendiri cukup kaget ketika mendengar Miranda mengatakan bahwa dia mendapatkan misi untuk membuat lelang di luar negeri. Mereka sudah berdiskusi bahwa lelang lelang itu akan mereka lakukan di Amerika.
Sebenarnya Seno sudah mengusulkan bahwa lelang itu dilaksanakan di Singapura saja. Itu karena Singapura tidak terlalu jauh. Pelanggan mereka sekarang ada yang bisa datang dalam lelang itu.
Tetapi, Mirana menolak. Miranda bilang mereka seharusnya melakukan itu langsung di negara besar. Toh kasiat produk mereka memang benar berhasil. Jadi, tidak ada ada salahnya langsung melakukan lelang di Amerika dan bukan melakukan semuanya secara bertahab.
“Ya, tiga ratus ribu untuk satu orang. Lalu kita nanti akan membuat pembatasan bahwa setiap orang hanya bisa membeli sepuluh barang saja. Mereka tidak bisa membeli lebih dari itu.”
“Aku sudah menyebarkan promosinya di sosial media kita. Sekarang ini, kami sedang mengecek jumlah pemesan tiket lelangnya,” jelas Miranda.
“Eh … Mbak Mira, tiketnya udah habis.” Suara Renata memotong pembicaraan Miranda. Semua yang ada di sana langsung melihat ke arah Renata.
“Apa udah abis? Padahal aku menjual seribu tiket. Ini belum juga sejam sejak kita membuka slot penjualan tiketnya. Tetapi sudah habis?”
“Kalian menjual seribu tiket? Apakah tidak merepotkan dengan hal itu? Pasti banyak sekali yang perlu kalian persiapkan.”
Seno tidak bisa membayangkan betapa merepotkannya itu. Dalam melakukan lelang, mereka harus memperhatikan penawaran yang diberikan oleh peserta lelang.
Jika seribu orang sekaligus mengikuti lelang, pasti akan sulit memperhatikan mereka. Meski pembawa acara lelang nanti memiliki penglihatan bagus sekali pun, itu akan tetap merepotkan.
“Tentu saja kami membaginya menjadi beberapa kloter. Setiap kloternya akan ada seratus peserta lelang. Jadi, kita akan melakukan sepuluh kali lelang. Lelang itu akan dilakukan lima hari berturut-turut mulai dari besok lusa.”
“Jadi, Ayah yang akan mengawasi lelang tersebut selama kami mengikuti ujian.”
“Tidak masalah. Aku akan melakukan hal itu."
....
rekomendasi cerita seru untuk kalian, Adam & Hawa, by Lavinka,
__ADS_1