
Seno menatap ke arah kertas yang ada di depannya. Itu berisikan daftar nama pemesan paket lipstik dan buncis miliknya. Dari rombongan ibu-ibu arisan yang jumlah tidak lebih dari lima puluh itu, Seno mendapatkan lebih dari tiga ribu pesanan.
Seno yang awalnya skeptis bisa menjual lipstik ini dengan cepat, melupakan fakta bahwa lipstik bisa diproduksi dengan berbagai warna. Lalu perempuan tidak cukup hanya memiliki lipstik dengan satu warna. Setidaknya mereka memiliki tiga warna lipstik yang berbeda. Jadi, tidak heran jika pembeliannya tuntas setelah ibu-ibu ini datang.
“Aku tidak menyangka semua terjual dengan cepat,” gumam Seno yang sekarang ini menatap mobil rombongan ibu-ibu pergi meninggalkan kampungnya.
Ibu-ibu itu tidak hanya membeli lipstik dan buncis miliknya. Beberapa juga membeli sayuran yang lain. Terutama nanas dan selada. Banyak dari mereka yang membeli kedua sayuran itu.
“Lalu, sebenarnya target mereka itu lipstik atau buncis sih? Ketika tahu kita masih memiliki stok beberapa buncis, mereka langsung bergegas membeli lipstik lagi agar bisa membeli sepuluh buncis.”
“Ayah nggak tahu aja, mereka itu pengen tetep awet muda. Jadi, jika ada kesempatan membeli buncis dalam jumlah banyak, maka mereka akan membelinya,” ucap Miranda.
“Kelompok arisan ibu-ibu tadi kebanyakan sudah menjadi nenek. Bahkan beberapa sudah ada yang memiliki buyut. Sudah jelas mereka memiliki uang berlebih. Anak bahkan cucu mereka banyak yang memberikan uang bulanan. Jadi, membeli buncis sebanyak apa pun tidak menjadi masalah.”
“Tetapi, bukankah mereka sudah sangat muda sekarang. Mereka semua terlihat seperti perempuan berumur dua puluh tahunan. Aku rasa, wajah mereka tidak bisa lagi lebih muda dari itu. Jika demikian, kenapa mereka membeli buncis dalam jumlah banyak?”
Itu tidak akan membuat wajah mereka bertambah muda lagi. Menurut Seno, itu percuma saja. Meski itu akan memberikan keuntungan bagi Seno, tetapi ada yang Seno takutkan jika mereka mengkonsumsi sayuran miliknya dalam jumlah banyak.
Seno masih ingat hasil penelitian Dina yang mengatakan bahwa manusia akan memiliki umur yang lebih panjang bahkan bisa hidup abadi jika mengkonsumsi sayuran miliknya dalam jumlah banyak. Bagaimana jika mereka jadi manusia abadi nanti?
Tiba-tiba saja Miranda mendekat dan setengah berbisik kepada Seno. Apa yang akan ia bicarakan setelah ini seolah menjadi sebuah rahasia dan tidak boleh ada seorang pun yang mendengarnya.
“Aku mendengar gosip, beberapa ibu-ibu arisan tadi, yang sudah lama menjanda, kabarnya akan mencari suami baru. Beberapa ada yang memilih memacari anak muda. Beberapa ada yang memilih memacari mereka yang umurnya tidak jauh berbeda.”
__ADS_1
“Nenek-nenek itu mencari pacar anak muda? Gila. Ini benar-benar gila. Bagaimana nasib para pemuda itu nantinya ketika mengetahui yang mereka pacari bukan perempuan dua puluh tahunan tetapi lebih dari enam puluh tahun.”
“Jika mereka jujur dari awal, mungkin tidak masalah. Tetapi, bagaimana jadinya jika nanti si pemuda tidak diberitahu. Seandainya mereka sampai menikah, laki-laki berusia dua puluh tahunan langsung menjadi ayah untuk seseorang yang lebih tua darinya. Bahkan, mungkin saja mereka menjadi kakek untuk orang yang seumuran dengan mereka.”
Seno sendiri tidak bisa membayangkan itu terjadi. Untung saja dirinya sudah menikah. Untung juga ia yang memiliki buncis. Jadi, ia bisa tahu bahwa kita tidak bisa menilai umur seseorang dari wajahnya, tetapi dari kartu penduduk mereka.
Seandainya Seno ditipu menikahi seseorang yang ternyata umurnya dua hingga tiga kali lipat dari umurnya, pasti Seno akan sangat terpukul. Seno langsung merinding memikirkan hal itu.
“Itu urusan mereka nanti. Tetapi memang sih itu terdengar gila. Orang yang umurnya berbeda puluhan tahun bisa menikah. Ke depannya, itu tidak hanya satu dua orang saja yang menikahi dengan orang yang memiliki perbedaan umur besar. Aku rasa itu akan menjadi hal yang lumrah karena buncis milik kita.”
“Lalu, Ayah tadi bertanya dikemanakan buncis-buncis yang dibeli oleh mereka bukan? Buncis-buncis itu akan diberikan kepada pacar mereka yang umurnya tidak jauh berbeda, agar sama-sama memiliki wajah awet muda. Lalu, Ayah tadi melihat sendiri bukan, bahwa ada ibu-ibu yang membali nanas dan selada dalam jumlah banyak?”
“Ya aku ingat. Dia merayumu agar bisa membeli nanas dan selada dalam jumlah banyak bukan?” tanya Seno.
“Memangnya kenapa dengan mereka?” tanya Seno penasaran.
“Mereka mencoba memiliki anak dengan pacar mereka yang sama-sama sudah tua.”
“Apa? Mereka mau memiliki anak lagi di usia tua?” teriak Seno keheranan.
“Bukankah seorang perempuan memiliki masa menopause? Mereka sudah tidak bisa lagi hamil setelah masa menopause bukan? Kalau tidak salah, menopause itu pada usia empat puluh lima hingga lima puluh lima. Jadi, mereka tadi jelas tidak bisa hamil lagi bukan?”
Seingat Seno, ketiga orang tadi memiliki umur lebih dari enam puluh tahun. Sudah jelas mereka tidak bisa lagi hamil. Jadi cukup aneh mendengar mereka berencana memiliki anak.
__ADS_1
“Tentu saja mereka tahu hal ini. Tetapi, mereka sepertinya sudah fanatik dengan sayuran milik kita. Mereka menganggap nanas dan selada itu akan memberikan keajaiban. Mereka ingin mencoba mungkin saja mereka masih bisa memiliki anak setelah ini,” jelas Miranda.
Meski Seno sendiri tidak tahu apakah itu bisa terjadi, tetapi kemungkinan itu ada. Ia hanya perlu seseorang untuk mencobanya saja. Jika sampai seorang perempuan yang sudah melewati masa menopause bisa hamil, maka ini adalah berita yang cukup mengejudkan. Jurnal penelitian milik Dina juga akan semakin diperkuat kebenarannya.
“Tetap saja rasanya akan sangat aneh mengetahui seseorang yang sudah nenek-nenek tiba-tiba hamil. Aku tidak bisa membayangkan cucu ibu-ibu tadi. Mereka akan mendapatkan paman atau bibi yang usianya lebih muda dari mereka.”
“Aku yakin, ini akan membingungkan silsilah keluarga mereka kelak. Semua akan terlihat aneh dalam memanggil tetua keluarga mereka,” jelas Seno.
Memang dari silsilah keluarga besar, seseorang akan mendapatkan kedudukan sebagai kakek atau nenek meski pun usia mereka cukup muda. Tetapi, jika nenek-nenek tadi berhasil memiliki anak, nantinya silsilah keluarga inti mereka akan menjadi membingungkan.
“Yang penting keluargaku atau keluarga Mbak Dina nggak ada yang kayak gitu.”
“Sekarang Kamu rekap aja semua pesanan tadi. Aku akan menyiapakan semua pesanan mereka. Lalu, besok biar Azka dan Tiar yang mengantarkan pesanan itu,” jelas Seno.
“Tentu, Ayah,” jawab Miranda.
“Eh ini apa? Daun kelor?” tanya Miranda ingin memastikan.
“Oh itu. Tadi ada Bu Lasmi bertanya kepadaku, apakah aku punya sesuatu yang bisa membantu menantunya memiliki asi. Salah satu menantu Bu Lasmi ternyata tidak bisa memproduksi asi. Jadi, aku memberikan daun kelor ini.”
“Itu adalah produk baru yang membantu seseorang menghasilkan asi. Aku rasa, Bu Lasmi bisa membantu kita untuk mengecek efek dari daun kelor itu. Jika efeknya bagus, maka promosi kita nanti ketika bisa menanam lebih banyak kelor akan semakin mudah.”
“Jadi seperti itu rupanya.”
__ADS_1