Petani Hebat Dengan Sistem

Petani Hebat Dengan Sistem
PH 139 Ekspedisi Cabe Rawit (2)


__ADS_3

Thorbiorn dengan mudahnya memimpin Tiarsus dan Azkareia untuk memasuki portal yang dijaga oleh para tentara. Baginya cukup mudah melewati barikade yang dibuat oleh para manusia. Ia memakai cara sebelumnya, yaitu menggunakan kepala atau pundak mereka sebagai tumpuannya lewat.


Setelah melewati portal, Thorbiorn disambut dengan pemandangan tanah lapang yang ada di sana. Rumput yang hijau terlihat menghiasi tanah lapang tersebut. Beberapa pepohonan juga ada di sana. Tetapi tidak terlalu banyak.


Dari kejauhan, Thorbiorn juga melihat adanya gunung yang cukup tinggi. Asap tebal muncul dari puncak gunung tersebut. Dari situ Thorbiorn tahu bahwa gunung tersebut merupakan gunung berapi.


Gravitasi yang ada di dimensi ini tidak jauh berbeda dari gravitasi yang dimiliki oleh dimensi di mana Gylinox tinggal. Meski begitu, ini cukup berat bagi Seno. Thorbiorn yakin Bosnya akan kembali kesulitan bergerak ketika menjalankan misi selanjutnya.


Seperti sebelumnya, Thorbiorn mengecek keadaan sekitarnya. Ia ingin mengetahui makhluk apa yang tinggal di dimensi ini. Beberapa lama Thorbiorn mencari, tetapi ia tidak menemukan jejak apa pun yang mungkin saja ditingalkan oleh mahkluk penghuni dimensi ini.


“Apa mungkin dimensi ini tidak ditinggali makluk hidup?” Tanya Azkareia setelah Thorbior melakukan pengamatan selama lima menit penuh tanpa menemukan hasil apa pun.


“Itu tidak mungkin.” Bantah Tiarsus. “Firasatku mengatakan dimensi ini ditinggali makhluk hidup. Sedari tadi aku merasakan beberapa pasang mata mengamati gerak gerik kita.”


“Jangan turunkan kewaspadaan kalian. Dimensi ini telalu tenang saat ini. Aku takut adas sesuatu yang berbahaya di dimensi ini. Sebaiknya kita bergegas untuk mencari keberadaan benih itu. Makin cepat kita mendapatkan benih itu, makin cepat pula kita kembali.” Jelas Thorbiorn yang bertindak sebagai pemimpin dalam


ekspedisi ini.


“Kita coba lihat ke hutan kecil yang ada di kaki gunung. Aku mempunyai firasat apa yang sedang kita cari ada di sana.” Ucap Thorbiorn dengan serius.


Ketiganya lalu mulai bergerak menuju ke kaki gunung yang sudah Thorbiorn tunjuk. Mereka tidak bergerak dengan cepat, tidak pula dengan lambat. Ketiganya meningkatkan kewaspadaan mereka dengan penuh.


Tiarsus sendiri juga sudah mengeluarkan kameranya dan mulai merekam semuanya. Ia masih ingat pesan dari Bosnya untuk merekam keadaan sekitar.


Tidak lama kemudian, Tiarsus merasakan bahaya yang mendekat ke arah mereka. Langsung saja ia memperingatkan yang lainnya akan datangnya bahaya itu.


“Awas! Aku meraskan bahaya datang mendekat. Jangan sampai kewaspadaan kalian turun.”


“Kami tahu.” Jawab Azkareia dengan nada yang cukup serius.

__ADS_1


Ia tidak main-main sekarang. Meski ada kemungkinan kekuatan mereka bertiga lebih unggul dari mahkluk penghuni dimensi ini, tetapi Azkareia tidak mau menganggap remeh mereka. Apalagi jika ia mendapatkan serangan mendadak dari musuh.


Jika dirinya tidak sigap, maka musuh bisa melukainya. Meski luka itu tidak akan membunuhnya, tetapi itu akan mengurangi kecantikannya. Bagi seorang siluman rubah, kecantikan adalah segalanya. Tidak ada yang boleh merusak kecantikan mereka.


Tidak lama kemudian, bayangan hitam menutupi mereka bertiga. Ada sesuatu yang menutupi cahaya matahari yang ada di dimensi ini. Langsung saja ketiganya mendongakkan kepala mereka. Di langit, ketiganya melihat adanya kawanan burung yang cukup besar terbang menukik ke arah mereka.


Ketiganya tidak bisa melihat secara jelas mengenai warna dari bulu dari kawanan burung tersebut. Tetapi ukuran mereka cukup besar. Bentang sayap dari burung tersebut sekitar empat hingga lima meter. Badannya pun cukup besar.


Tiarsus langsung memasang barier untuk melindungi ketiganya. Ketika cukup dekat, kawanan burung tersebut membuka paruh mereka. Dari paruh tersebut keluar semburan api.


Untung saja Tiarsus sudah lebih dahulu membuat barier untuk mellndungi mereka. Dengan demikian, mereka tidak terkena semburan api tersebut.


Wajah Tiarsus menjadi lebih serius ketika melihat hal itu. Ia lalu menyerahkan kamera yang ia pegang kepada Azkareia.


“Rekam baik-baik apa yang terjadi di sini. Jangan biarkan kamera itu rusak.” Pinta Tiarsus.


Azkareia langsung melanjutkan tugas dari Tiarsus. Untung saja dirinya paham cara penggunaan kamera ini. Jadi, cukup mudah bagi Azkareia mengoperasikan kamera tersebut.


Pergerakan Tiarsus dalam memanah cukuplah cepat. Satu persatu burung-burung itu berjatuhan. Tiarsus hanya membutuhkan satu anak panah untuk membunuh musuh. Bahkan, jika beruntung Tiarsus berhasil membunuh dua hingga tiga burung dengan satu anak panah jika mereka berada pada satu garis lurus.


Sekarang barulah mereka tahu bentuk dari burung yang menyerang mereka. Burung itu memiliki bulu yang di dominasi dengan warna merah dengan sedikit aksen hitam pada beberapa bagian.


Selain itu, di area sekitar leher dari burung tersebut, terdapat bulu yang warna berbeda dari satu burung ke burung lainnya. Ada kemungkinan seperti pada Gylinox, bulu yang ada dileher tersebut merupakan penentu level dari burung-burung tersebut.


Sepuluh menit kemudian, Tiarsus berhasil menghabisi seluruh musuh yang ada. Laki-laki itu langsung mengambil nafas panjang setelah memastikan tidak ada lagi musuh di sekitar mereka.


“Sebaiknya kita bergegas mencari cabe rawit itu. Aku yakin kawanan ini tidak hanya satu-satunya kawanan burung yang ada. Ada kemungkinan ada kawanan lain. Jadi, sebelum mereka kembali menyerang sebaiknya kita segera menyelesaikan misi ini.”


“Tentu.” Jawab Thorbiorn dan Azkareia secara bersamaan.

__ADS_1


Ketiganya kembali melanjutkan perjalanan mereka. Kali ini mereka mempercepat langkah mereka. Mereka ingin segera menemukan cabe rawit yang sedang mereka cari.


Tidak lama kemudian, ketiganya sampai di hutan, yang tidak terlalu lebat, yang berada di kaki gunung. Kebanyakan tanaman yang ada di sana adalah semak-semak. Ketiganya memutuskan untuk berpencar agar lebih cepat lagi dalam menemukan cabe rawit yang diminta Seno.


Tidak lama kemudian, Azkareia berterial dan meminta yang lain berkumpul di dekatnya.


“Hey. Apakah ini tanaman yang sama sesuai dengan deskripsi?” Tanya Azkareia.


Di depannya kini ada tanaman yang tingginya mecapai satu setengah meter lebih. Daunnya cukup lebar dan berwarna hijau gelap. Terdapat sebuah buah berwarna merah memanjang yang ada di sana. Buah tersebut memiliki ukuran yang seragam, yaitu panjang delapan centimeter dan diameter nol koma tujuh senti


meter.


Thorbiorn dan Tiarsus memandangi tanaman tersebut dengan pandangan yang cukup serius. Dengan seksama mereka meperhatikan tanaman itu dari pangkal hingga ujung.


“Bentuk buahnya memang seperti yang dideskripsikan oleh Bos. Bentuknya juga sudah mirip dengan cabe rawit yang ada di dunia Bos. Tetapi bentuk tanamannya cukup berbeda dari yang lainnya.” Jawab Tiarsus.


“Apa kalian juga merasakan bahwa tanaman ini sedikit memancarkan hawa panas?” Tanya Thorbiorn.


“Itu benar. Tanaman ini memang sedikit memancarkan hawa panas. Apakah di dunia kalian sebelumnya memiliki tanaman seperti ini? Apa manfaat dari tanaman ini?”


“Aku tidak tahu Azkareia. Di duniaku tidak ada tanaman yang seperti ini. Mungkin setelah Bos menanamnya kita bisa tahu manfaat dari buah tanaman ini.” Jawab Tiarsus.


“Meski terlihat sedikit berbeda, yang jelas buah dari tanaman ini memiliki kemiripan yang cukup besar dengan cabe rawit itu. Jadi, kita akan mengambil sebanyak mungkin buah dari tanaman ini.” Usul Thorbiorn.


Ketiganya lalu menaen sebanyak mungkin cabe rawit dari pohonnya. Mereka meletakkan cabe rawit itu dalam sebuah kantong. Setidaknya setiap dari mereka membawa setengah kilogram cabe rawit. Mereka pikir ini lebih dari cukup untuk diserahkans kepada Bos mereka.


“Sekarang, apakah kita langsung kembali, atau menyelidiki makhluk penghuni dimensi ini terlebih dahulu?” Tanya Thorbiorn.


“Sepertinya kita bisa menyelidikinya terlebih dahulu. Lawan kita kali ini adalah makhluk penguasa langit. Jika kita tidak memahami mereka dan mencari titik lemah dari mereka, maka akan sulit bagi kita untuk menaklukkan dimensi ini nantinya.” Ucap Tiarsus memberi saran.

__ADS_1


“Baiklah. Kami akan mengikuti saranmu itu.” Jawab Azkareia


__ADS_2