
"Lalu, bagaimana dengan kacang hijau kita? Apakah penjualannya baik?" Tanya Seno.
"Cukup baik. Terakhir kali aku mengecek, jumlah penjualan kacang hijau lebih banyak daripada kacang merah. Aku yakin dengan rencana promosi yang Ayah lakukan, penjualan kacang hijau itu akan naik." Jelas Miranda.
"Aku memiliki usulan lain untuk promosi kacang hijau ini. Kita akan memberi promo beli satu gratis satu. Tetapi yang kita kirimkan ke mereka hanyalah satu paket kacang merah."
"Lalu yang lainnya ke mana?" Tanya Dina.
"Kita akan menyumbangkannya ke yayasan penderita kanker yang ada di negara ini. Tidak semua orang penderkta kanker mempunyai uang banyak untuk membeli kacang hijau itu. Jadi kita memakai promosi ini untuk membantu mereka."
"Sebenarnya bisa saja kita menyubang langsung tanpa melakukan promo. Tetapi bukankah lebih baik jika kita melakukan semuanya bersama-sama?" Tanya Seno.
Seno teringat akan anak-anak penderita kanker yang tadi sore ia temui. Mereka berasal dari keluarga yang kurang mampu. Sudah jelas dengan keadaan keluarga anak-anak itu, mereka tidak akan mampu membeli banyak kacang hijau untuk pengobatan anak mereka.
Manfaat kacang hijau ini adalah untuk pencegahan kanker. Memang itu bisa menyembuhkan kanker, tetapi Seno yakin jumlah kacang hijau yang perlu dikonsumsi oleh penderita kanker cukup banyak.
Dengan adanya promo ini, ia berharap bisa menolong lebih banyak anak-anak penderita kanker. Lebih bagus lagi jika semua orang turut membantu Seno mewujudkan hal itu.
"Itu ide yang bagus Ayah, Bunda setuju dengan usalan Ayah ini." Jawab Dina.
Seno juga tidak lupa mengatakan pada kedua istrinya mengenai niatnya membelikan hadiah kepada anak-anak yang ia temui sore tadi. Sementara Seno bercerita, keduanya terlihat meminum seduhan kemangi yang Seno bawa.
"Aku tidak masalah dengan permintaan Ayah yang satu ini. Apa yang anak-anak ini inginkan adalah hal yang benar-benar mereka butuhkan sekarang. Tidak masalah jika kita perlu mengeluarkan uang cukup banyak untuk memberi kebahagiaan kepada mereka." Jawab Miranda setelah Seno selesai bercerita.
"Memangnya uang kita sekarang berapa?" Tanya Dina.
Dina memang tidak terlalu ikut campur dam mengurus keuangan. Ia tidak tahu jumlah pasti uang hasil penjualan produk. Selama ini, Seno sudah mengirimkan uang ke rekeningnya. Uang itu lebih dari cukup untuk memenuhi biaya hidupnya, bahkan jika Dina foya-foya sekali pun.
Bagaimana tidak, setiap minggunya, Seno mengirimkan uang dua ratus juta ke rekening Dina. Dua ratus juta per minggu, bukan lagi per bulan. Itu berarti, Seno memberi Dina uang bulanan delapan ratus juta lebih.
"Delapan belas milyar lebih."
__ADS_1
"Delapan belas milyar? Bukankah uang kita hanya sepuluh milyar lebih? Terakhir aku mengecek, uang kita segitu bukan?" Tanya Seno heran.
"Memangnya kapan terakhir kali Ayah ngecek rekening kita?" Tanya Miranda.
Seno hanya menggaruk belalang kepalanya yang tidak gatal. "Tiga minggu lalu."
"Setiap hari, setidaknya uang yang masuk ke rekening kita berjumlah empat ratus hingga lima ratus juta. Dengan pemasukan harian sebanyak itu, sudah jelas uang kita semakin banyak ayah."
"Jadi intinya keuangan kita baik-baik saja bukan? Tidak ada masalah jika kita membelikan mereka hadiah?" Tanya Dina.
Menolong orang memang tindakan terpuji. Tetapi kita masih perlu melihat keadaan kita sendiri. Jangan sampai mencoba menolong orang lain, tetapi mengorbankan diri kita dan keluarga.
"Tentu. Aku akan menganggarkan uang tiga milyar untuk hal ini. Jika kurang aku akan menambahkannya nanti."
Tiga orang itu kemudian mengobrol membicarakan apa yang akan mereka lakukan setelah ini. Mereka juga membicarakan renovasi rumah mereka yang akan selesai. Juga pilihan mereka mengenai portal dimensi mana yang akan mereka taruh di rumah itu.
Mereka ingin memanfaatkan portal itu untuk tempat persembunyian jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Untung saja rumah baru mereka itu memiliki ruang bawah tanah. Jadi, mereka bisa menempatkan portal itu di sana.
"Ayah, apa minuman yang Ayah berikan kepadaku ini? Baunya enak dan setelah meminumnya, aku merasa jauh lebih tenang dan rileks." Tanya Dina.
Dina tiba-tiba menangis setelah mendengar ucapan Seno. Hal itu membuat Seno yang semula senang terlihat khawatir.
"Kenapa Kamu menangis? Apakah ada yang salah? Apakah ada yang sakit?" Tanya Seno khawatir.
Dina menggeleng pelan. "Tidak aku hanya terharu saja. Ayah sangat peduli dan mengusahakan apa pun itu, agar aku merasa lebih nyaman. Terima kasih."
"Jangan bekata seperti itu. Itu sudah menjadi tugasku sebagai suami. Aku akan melakukan apa pun demi kebahagiaan dan kenyamanan kalian."
*****
Seno sekarang tengah berpakaian rapi. Ia memakai setelan jas untuk pertemuan yang akan ia lakukan dengan para Jenderal. Ia ingin tampil profesional dalam pertemuan kali ini. Di sampingnya, Miranda juga memakai setelan jas. Ia nampak seperti asisten Seno sekarang.
__ADS_1
Keduanya menunggu jemputan Johan. Meski mereka bisa datang ke tempat pertemuan sendiri, tetapi mereka tidak melakukannya. Johan susah mengatakan akan menjemput mereka.
"Ayah nampak seperti seorang CEO sekarang. Aku yakin mereka yang mendambakan seorang CEO tampan akan senang melihat Ayah."
"Jika Ayah adalah CEO tampan, itu berarti aku adalah si sekretaris genit yang merebut CEO itu dari istrinya. Mbak Dina adalah istri CEO yang tengah tersakiti."
Apa yang Miranda katakan ini membuat ketiganya tertawa. Jika dipikir-pikir, pa yang Miranda ucapkan ada benarnya. Apalagi sekarang Dina hanya memakai kaos lengan pendek dan sebuah celana training.
Tetapi tawa Seno harus berhenti ketika ia mendengar pemberitahuan yang sudah ia tunggu-tunggu. Sistem telah kembali.
[Ding]
[Pembaharuan informasi telah selesai dilakukan]
[Sistem telah kembali on line dan akan kembali membantu Host untuk menjadi petani terhebat di dunia ini]
[Host apakah Kamu merindukanku?]
"Kamu sudah kembali rupanya. Tentu saja aku merindukanmu sistem. Sangat merindukanmu." Jawab Seno.
[Kamu tidak merindukanku sama sekali Host]
[Aku tahu bahwa saat ini Kamu menungguku karena ingin mendapatkan jawaban mengenai sesuatu yang bisa membuat seseorang tidak mengucapkan rahasia]
[Benar bukan?]
"Ya, itu yang aku pikirkan. Sebentar lagi aku akan melakukan pertemuan dengan para Jenderal. Aku khawatir belum mendapatkan barang itu ketika menemui mereka. Jadi, apakah Kamu berhasil mendapatkan apa yang aku inginkan Sistem?" Tanya Seno penuh harap.
Jawaban dari Sistem adalah penentu nasibnya setelah ini. Jika sistem berhasil menemukan barang itu, maka ia akan lebih mudah mengontrol pihak militer. Meski tidak semuanya tetapi sebagian besar dari mereka bisa Seno kontrol.
Dengan begitu, hubungan antara dirinya dan pihak militer akan jauh lebih baik. Itu karena Seno memiliki "orang dalam" yang akan menjadu informannya.
__ADS_1
Memang ada Johan, Paman dari Miranda, yang juga anggota militer. Tetapi pangkat Johan tidak terlalu tinggi. Di atas Kolonel masih ada Brigadir Jenderal, Mayor JenderalJenderal, Letnan Jenderal, dan terakhir Jenderal.
Sudah pasti suara Johan tidak akan digubris oleh pihak militer karena pangkatnya. Lalu, Johan juga tidak akan mengetahui informasi-informasi penting yang dimiliki oleh pihak militer. Informasi mengenai keberadaan portal misalnya. Jelas Johan tidak mengetahuinya.