Petani Hebat Dengan Sistem

Petani Hebat Dengan Sistem
PH 175 Diskusi yang Gagal


__ADS_3

Setelah semua beres, Seno keluar dari dimensi itu. Dari luar Seno memilih koordinat yang cukup jauh dari rumahnya. Pilihan Seno adalah hutan yang ada di kota sebelah, letak asli dari dimensi oara Gylinox.


Bersamaan dengan itu, Johan sudah datang untuk menjemput Seno. Kali ini Johan tidak menaiki Jeep miliknya. Mobil yang dipakai Johan untuk menjemput mereka adalah mobil Alphard.


Dibelakang mobil yang dipakai Johan untuk menjemputnya, ada Tiarsus dan Azkareia yang ikut sebagai pengawal Seno dan Miranda. Seno tidak akan bisa merasa sepenuhnya aman jika tidak mengajak mereka.


Perjalanan mereka tidak terlalu lama. Hanya sekitar setengah jam. Selama perjalanan baik Seno, Miranda, maupun Johan tidak ada yang berbicara. Mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing.


"Kita sudah sampai. Aku minta kalian nanti kooperatif dalam diskusi kali ini. Setidaknya jangan katakan sesuatu yang terlalu menyinggung pihak militer. Aku tidak mau berada dalam situasi sulit harus memihak salah satu di antara kalian." Pinta Johan.


"Tenang Pakde kami tahu apa yang bisa kami ucapkan dan apa yang tidak." Jawab Miranda.


Pertemuan mereka dilakukan di salah satu kamar hotel. Di dalam sana, sudah ada dua orang laki-laki yang menunggu mereka. Meja empat kursi juga susah tersedia di sana. Bahkan, minumannya pun juga susah ada.


Dua orang di depan Seno ini memperkenalkan diri sebagai Jenderal Eko dan Jenderal Mansyur, keduanya mewakili pihak militer dalam musyawarah kali ini.


Sebelum memulai pembicaraan mereka, Tiarsus tiba-tiba saja membungkuk dan berbisik di telinga Seno. Apa yang Tiarsus bisikkan membuat Seno mengerutkan keningnya.


"Bos sepertinya kita sedang di awasi. Aku merasakan ada yang mengawasi kita dari beberapa titik. Aku rasa ada kamera pengawas di sana." jelas Tiarsus.


Seno menganggukkan kepalanya pelan, tanda bahwa ia sudah menerima maksud dari Tiarsus. Ia lalu memandang ke arah dua jenderal di depannya.


Pihak militer memang mengirim dua orang untuk berdiskusi dengannya. Tetapi, mereka juga mempersiapkan kamera pengawas untuk merekam semua yang mereka bicarakan.


Seno yakin di tempat lain, pihak militer menonton rekaman pembicaraan mereka dan ikut mendiskusikan keinginan mereka dengan Seno. Tidak terlalu mengherankan sebenarnya, sudah pasti dua orang ini tidak bisa memberikan keputusan yang mewakili pihak militer.

__ADS_1


"Rupanya sekarang aku tidak hanya berhadapan dengan Jenderal Eko dan Jenderal Mansyur. Aku yakin di seberang sana, beberapa jenderal juga melihat pembicaraan kita ini bukan?" tanya Seno sembari menyeringai ke arah dua jenderal di depannya.


Apa yang Seno ucapkan itu membuat Eko dan Mansyur kaget. Keduanya tidak menyangka bahwa Seno tahu pembicaraan mereka tengah direkam.


Apa pengawal Seno yang memberitahu? Mereka tadi melihat bagaimana Tiarsus melihat ke sekeliling sebelum kemudian berbisik di telinga Seno.


Jika memang pengawal Seno itu mengetahui keberadaan kamera pengawas, hanya dengan menatap sekilas, maka itu adalah kemampuan yang sangat hebat.


Para tentara sudah berusaha sejeli mungkin menyembunyikan keberadaan kamera pengawas tersebut. Bahkan, mereka mengundang tentara, yang memiliki penglihatan terbaik setelah mengkonsumsi banyak wortel milik Seno, untuk mengecek dan melihat hasilnya.


Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya mereka menemukan posisi yang oas untuk meletakkan kamera pengawas. Tetapi semua itu tetap gagal. Keberadaan kamera pengawas itu diketahui dengan mudah oleh pengawal Seno.


"Sepertinya, kalian tidak terlalu tulus dalam melakukan pembicaraan kali ini. Sekarang, biarkan kami undur diri. Jika kalian memang ingin membicarakan kerja sama dengan tulus, maka datang saja ke rumahku tanpa membawa kamera seperti sekarang. Permisi."


Seno langsung mengajak Miranda pergi dari sana. Untung saja ia tadi meminta Tiarsus dan Azkareia mengikuti mereka dengan mobil lain. Sekarang mereka bisa pulang sendiri tanpa perlu diantar.


"Tunggu, kita bisa membicarakan semuanya baik-baik. Jangan marah dulu seperti itu." Eko mencoba mencegah kepergian Seno. Tidak mungkin mereka membiarkan Seno pergi begitu saja padahal belum ada pembicaraan yang terjadi.


"Jika Anda sekalian memang ingin membicarakan semuanya dengan baik-baik bukan begini caranya. Aku tidak mau jika kalian membawa perangkat kamera seperti ini. Jika semua jenderal yang ada di militer ingin berdiskusi langsung denganku, kalian datang saja. Jangan pakai cara pengecut seperti ini."


Seno tidak lagi mempedulikan ucapan kedua jenderal yang memintanya tinggal. Ia tetap bersikukuh untuk pergi dari sini. Beberapa tentara terlihat ingin menghadang rombongan Seno, tetapi, Eko sudah terlabih dahulu mencegah mereka.


"Sial." umpat Eko dengan keras sembari membanting earphone yang ia pakai.


"Aku tidak menyangka dia dengan mudah mengetahui keberadaan kamera pengawas yang kita sembunyikan. Padahal kita sudah mempersiapkannya dengan susah payah."

__ADS_1


"Sudah aku bilang, memasang kamera pengawas adalah hal yang salah. Lihat, kita malah memperburuk keadaan. Dia tidak mau berdiskusi dengan kita." sahut Mansyur.


"Dia hanya tidak mau jika kita memasang kamera pengawas seperti sekarang. Bukankah dia tadi bilang bahwa jika kita masih mau berdiskusi, kita harus datang ke rumahnya." ucap Eko.


"Aku sedikit ragu. Kita tidak tahu kekuatan dia sebenarnya bagaimana. Pengawalnya saja bisa menemukan kamera pengawas kita dengan mudah. Rahasia apa lagi yang dia sembunyikan."


"Apakah mungkin ada produk pertanian lain yang ia miliki yang bisa membuat orang bisa melihat tembus pandang? Jika nanti pembicaraan kita memanas, aku takut kita tidak bisa kembali dari rumahnya."


"Sampai sekarang saja Roy dan yang lainnya belum kembali. Jadi kita perlu memikirkan ini dengan matang." jelas Mansyur.


Ketika kedua jenderal itu tengah mengobrol, tiba-tiba saja seorang tentara menghampiri mereka. Tentara itu langsung memberi hormat kepada Eko dan Mansyur sebelum melaporkan informasi yang baru saja ia terima.


"Lapor Jenderal, keberadaan Tim Garuda sudah di temukan. Saat ini mereka berada di dekat kamp yang menjaga portal yang hilang itu. Tetapi, Jenderal Roy tidak ada bersama dengan mereka."


Eko dan Mansyur cukup senang mendengar laporan pertama dari tentara tersebut. Akhirnya Tim Garuda sudah ditemukan. Namun, wajah keduanya berubah menjadi serius ketika mendengar laporan terakhir dari tentara tersebut.


"Jenderal Roy tidak ada bersama dengan Tim Garuda?" tanya Eko ingin memastikan.


"Dari laporan yang aku terima, tentara di kamp hanya menemukan keberadaan Tim Garuda bersama dengan kendaraan milik mereka. Jenderal Roy tidak ada bersama dengan mereka." jawab tentara tersebut.


"Daripada bingung di sini, lebih baik kita ke sana dan melihatnya sendiri. Kita bisa menanyai mereka mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin kita juga akan mengetahui rahasia lain dari Seno melalui mulut mereka." jelas Mansyur.


"Kamu benar Mansyur. Kamp itu tidak terlalu jauh dari sini. Jadi sebaiknya kita bergegas ke sana. Untuk masalah Seno, kita bisa membicarakannya lagi, setelah kita mendapatkan informasi dari Tim Garuda."


"Kami juga akan ke sana." ucap beberapa jenderal yang masih tersambung dengan earphone yang Mansyur pakai.

__ADS_1


Para jenderal juga mendengar laporan itu. Para jenderal itu juga penasaran mengenai apa yang dialami Tin Garuda. Kenapa mereka bisa menghilang tanpa jejak dan sulit ditemukan.


__ADS_2