Petani Hebat Dengan Sistem

Petani Hebat Dengan Sistem
PH 95 Penolakan Keluarga Dina (1)


__ADS_3

Sama seperti kemarin ketika datangke rumah Miranda, kali ini Seno datang ke rumah Dina dengan membawa berbagai hasil kebun miliknya. Ia juga membawa berbagai makanan kesukaan keluarga Dina. Namun, ketika sampai di rumah Dina, Seno tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


Di teras rumah Dina, sekarang perempuan itu tengah berbicara dengan seorang laki-laki. Bukannya Seno cemburu atau langsung berpikiran buruk melihat hal itu. Hanya saja, ia pernah sekali menemui laki-laki itu. Dia adalah salah satu orang yang menyukai Dina.


Jika Seno tidak salah ingat, namanya adalah Irfan, salah satu teman kuliah Dina. Seno ingat waktu itu Irfan sangat memaksa Dina untuk memilih jalan dengannya daripada dengan Seno. Waktu itu pendapatan yang Seno miliki tidak seberapa dibanding sekarang.


Ketika turun dari mobil, Seno bisa melihat Dina tengah menahan kekesalannya dengan tetap menjawab obrolan dari Irfan. Sepertinya perempuan itu mencoba menjadi pemilik rumah yang baik. Tetapi, ketika melihat Seno datang, mata perempuan itu berbinar.


Tanpa mempedulikan Irfan yang ada di sampingnya, Dina bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Seno. Ia melakukan seolah tengah menghindar untuk berbicara dengan Irfan.


“Akhirnya Kamu datang juga Sen.” Ucap Dina. Ketika berada di dekat Seno Dina langsung memeluk laki-laki itu singkat, lalu setelahnya ia memposisikan diri berada di samping Seno dan memeluk lengan laki-laki itu.


“Apakah aku terlambat?” Bisik Seno sembari melihat ke arah Irfan.


Dina menggeleng pelan. “Nggak kok. Dia datang karena undangan orang tuaku. Mereka masih nggak setuju dengan hubungan kita ini.” Jawab Dina.


“Tenang saja. Aku nggak akan tinggal diam. Aku juga akan berjuang mendapatkan restu mereka.” Jawab Seno dengan sungguh-sungguh.


Irfan yang melihat semua itu, terlihat sangat marah. Sedari tadi dirinya mengobrol dengan Dina, tetapi jawaban yang ia dapatkan sangat singkat. Seolah-olah Dina enggan untuk berbicara dengannya. Sekarang, giliran si petani itu datang, Dina berubah total. Irfan tidak terima itu.


Laki-laki itu langsung mendatangi dua pasangan kekasih yang masih sibuk mengobrol dengan berbisik-bisik itu. Mereka seolah melupakan keberadaannya di sini.


“Kenapa Kamu datang ke sini?” Tanya Irfan ketus.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Seno langsung memandang ke arah Irfan. “Memangnya aku nggak boleh gitu datang ke sini? Sebagai pacar Dina, aku berhak datang ke rumah dia bukan? Kamu yang temannya aja boleh ke sini masak aku nggak?” Ucap Seno sarkas.


“Keluarga Dina tidak merestui hubunganmu dengan Dina. Jadi percuma saja Kamu ke sini. Kedatanganmu tidak akan menerima sambutan dengan baik.”


“Disambut dengan baik atau tidak, itu urusanku dengan keluarga Dina. Itu semua tidak ada hubungannya denganmu bukan?”


“Tentu saja ada. Keluarga Dina lebih memilih aku untuk menjadi pasangan putri mereka. Ayahnya saja langsung memintaku datang kemari karena tahu Kamu akan datang. Bukankah itu sudah sangat jelas?”


“Lagi pula, sekarang aku sudah memiliki bisnis sendiri. Sebuah kafe yang pendapatannya cukup bagus. Jadi, sekarang aku memiliki pendapatan dari hasil kerja kerasku sendiri, bukan lagi hanya mengandalkan keluargaku. Aku yakin, aku yang sekarang bisa diterima oleh Dina. Benar bukan Din?” Tanya Irfan penuh harap.


“Maaf Irfan, tetapi orang yang aku pilih untuk menjadi teman hidupku membangun rumah tangga adalah Seno, bukan Kamu. Jadi meski kamu sekarang sudah mandiri dan tidak hanya mengandalkan keluargamu, aku tetap akan memilih Seno. Aku sama sekali nggak ada rasa denganmu.”


Irfan yang mendengar perkataan itu sangat marah. Tetapi laki-laki itu masih bersikap sedikit rasional. Ini adalah rumah Dina. Meski ia ingin meluapkan kekesalannya, ia tidak bisa melakukannya kepada Dina. Bisa-bisa citranya di depan keluarga Dina akan memburuk.


“Pasti Kau sudah menguna-guna Dina bukan? Kenapa bisa dia menjadi tergila-gila denganmu seperti itu. Apalagi aku dengar Kau akan menikahi dua orang sekaligus. Itu sangat tidak logis. Kau pasti sudah menjampi-jampi Dina.” Ucap Irfan sembari menunjuk ke arah Seno.


Keributan kecil mereka ini rupanya di dengar oleh keluarga Dina yang masih ada di dalam rumah. Seno bisa mendengar beberapa langkah kaki yang mulai mendekat ke arah mereka.


“Om, Tante.” Sapa Seno ketika melihat kedatangan Ibra dan Firda, orang tua Dina.


Keduanya hanya mengangguk pelan kepada Seno. Mereka lalu memandang ke arah Dina.


“Ada apa ini Dina? Kenapa teriak-teriak begitu?” Tanya Ibra.

__ADS_1


“Nggak, apa-apa Ayah. Hanya saja ada orang yang ngeselin tadi.”


“Kenapa tamunya nggak di ajak ngobrol di dalem aja? Ayo sekarang kita masuk.” Ajak Firda.


Dengan dibantu oleh Dina, Seno membawa bingkisan yang ia bawa untuk keluarga Dina. Ada pandangan mencemooh dari Irfan ketika melihat apa bingkisan yang Seno bawa.


Meski begitu, Irfan tidak langsung mengatakan hal tersebut. Masih ada orang tua Dina di sini. Jadi dirinya perlu menjaga citranya di depan mereka.


“Jadi apa yang menjadi tujuanmu kemari Seno?” Tanya Ibra kepada Seno.


“Om, Aku ingin meminta ijin kepada Om untuk menjalani hubungan yang lebih serius dengan putri Om. Aku ingin memperistri putri Om.” Jawab Seno dengan penuh percaya diri.


Setelah pembicaraannya dengan keluarga Miranda kemarin, Seno sekarang lebih mudah dalam mengungkapkan apa yang menjadi keinginannya kepada keluarga Dina. Meski begitu kegugupan masih Seno rasakan dalam dirinya. Tetapi tidak sebanyak kemarin.


“Aku dengar Kamu sudah melamar anak dari Lukas kemarin. Sekarang Kamu masih memiliki keberanian untuk melamar putriku?” Tanya Ibra dengan nada serius.


“Aku tahu Om pasti berat untuk melepaskan putri Om untuk menikah denganku. Karena nantinya dia akan aku madu. Tetapi ijinkan aku membahagiakan anak Om dengan cara menikahinya.” Pinta Seno dengan tulus.


Mendengar ucapan Seno, Ibra memandangnya dengan tatapan yang serius. Sepertinya Ayah dari Dina ini akan memberikan keputusannya terhadap apa yang Seno minta.


“Heh.” Ibra mendengus pelan. “Aku tidak masalah Dina menikah dengan siapa pun. Asalkan putriku itu menyukai laki-laki itu dan mau menikah dengannya. Bahkan jika laki-laki itu tidak memiliki apa pun, aku masih tidak masalah.”


“Tetapi, aku sama sekali tidak akan mengijinkan putriku untuk menikahi seseorang jika dia akan berakhir dengan dimadu. Aku tidak mau putriku menderita di pernikahan yang seperti itu.” Jelas Ibra.

__ADS_1


Seno menarik nafas panjang. Ia tahu ini tidak mudah. Seno sendiri tahu apa kekhawatiran yang sedang dialami oleh Ibra. Ia sendiri juga akan bersikap sama dengan Ibra jika tiba-tiba ada yang datang melamar adiknya, tetapi mereka ingin memadu adiknya.


Tidak ada jaminan bahwa adik-adiknya akan bahagia di pernikahan itu. Ini pasti yang menjadi kekhawatiran dari Ibra.


__ADS_2