
“Apa kalian berdua baik-baik saja?” tanya Seno setelah mendekat ke dua kakak beradik itu.
Ketika mendekat, Seno bisa melihat wajah keduanya memucat. Mereka seolah tengah ketakutan sekarang. Kucing yang ada di gendongan anak perempuan itu pun juga terlihat gemetaran. Seno tahu, ketakutan mereka sangat berbeda.
“Ini gawat, ini sangat gawat. Kakak, kenapa Kau malah mengganggu kelompok Singa Putih? Mereka adalah preman yang cukup kuat di Kota Beijing. Seharusnya semua bisa baik-baik saja. Kami hanya perlu memberikan beberapa yuan ke preman-preman tersebut, lalu mereka tidak akan mengganggu Kami.”
“Sekarang semuanya menjadi kacau. Setelah ini tidak hanya kalian yang akan menjadi target mereka, tetapi kami juga. Kalian sudah jelas bisa dengan mudah kabur dari kelompok Singa Putih. Lalu bagaimana dengan kami? Kami tidak akan bisa ke mana-mana.”
Mendengar ucapan Jasmine yang mengartikan ucapan anak laki-laki di depannya, membuat Seno merasa bersalah. Memang benar ucapan orang untuk tidak mencampuri urusan orang lain jika kita tidak memahami duduk permasalahan mereka. Bukannya menolong, kita bisa saja lebih memperparah masalah mereka.
“Aku tidak bermasud seperti itu. Aku hanya ingin menolong kalian saja. Aku tidak bisa membiarkan anak kecil seperti kalian ditindas seperti tadi. Aku akan bertanggung jawab dengan apa yang aku lakukan. Masalah ini, aku akan mengatasinya. Aku jamin kalian akan baik-baik saja.”
“Sungguh?” ucap anak laki-laki itu seolah tidak yakin dengan pernyataan Seno.
“Lalu, bagaimana caranya Kakak mengatasi semua ini dan menjamin bahwa kami berdua baik-baik saja? Apa Kakak benar-benar bisa menjamin keselamatan kami?”
“Tentu saja, itu mudah. Mereka tadi bilang akan kemari bukan? Maka aku akan menunggu di sini dan menghajar semua preman yang datang. Kalian tenang saja. Berapa banyak pun orang yang datang, tidak akan ada satu pun yang bisa mengalahkan aku.”
“Memang Kakak bisa melakukan hal itu. Tetapi itu hanya untuk sekarang saja. Bagaimana dengan besok? Lusa? Bagaimana dengan ke depannya? Apakah Kakak bisa menjamin keselamatan Kami? Kakak kan orang asing. Aku yakin Kakak akan kembali ke tempat Kakak suatu hari nanti. Jika itu terjadi, bagaimana caranya Kakak menjamin keselamatan Kami?”
Seno langsung terdiam setelah Jasmine selesai mengartikan ucapan anak laki-laki ini. Ucapannya ada benarnya. Seno memang bisa mengatasi preman-preman itu dengan mudahnya. Ia juga bisa menjamin keselamatan dua anak ini.
Namun Seno tidak bisa melakukannya terus menerus bukan? Besok saja ia sudah harus pergi ke Tokyo untuk mengadakan lelang. Sudah jelas Seno tidak bisa menjamin keselamatan mereka.
Memang Seno bisa mengirim pasukan hewan miliknya. Beberapa bisa ia berikan kepada dua anak ini untuk melindungi mereka.Namun Seno tidak bisa mengatakan mengenai keberadaan pasukan hewan yang bisa melindungi mereka setiap saat bukan?
“Ehm … apakah kalian memiliki keluarga lain di sini?” tanya Seno yang sangat jauh dari pembahasan mereka.
“Tidak Kami adalah anak yatim piatu. Hanya aku dan adikku saja. Kami sudah tidak memiliki keluarga lain.” Meski pertanyaan Seno melenceng, tetapi anak laki-laki itu masih mau menjawabnya.
__ADS_1
“Lalu kucing ini, apakah itu milik kalian?”
Mendengar Seno menanyakan mengenai kucingnya, anak perempuan itu langsung mendekap dengan erat kucingnya. Tidak hanya itu, sang kakak juga ikut berdiri di depan sang adik untuk menutupi pandangan Seno dari kucing mereka.
“Kucing ini milik Kami. Kami menemukannya di bawah jembatan. Aku tidak akan membiarkan Kakak mengambilnya,” teriak anak laki-laki itu. Jika sebelumnya ia terlihat biasa saja dan masih berbicara sangat sopan kepada Seno, sekarang anak laki-laki itu terlihat memasang sikap defensif.
“Jika itu benar-benar milik kalian ….” Seno lalu menggantung ucapannya. Ia lalu melihat ke arah Tiarsus yang ada di sampingnya.
“Tiarsus, pasang barier di sekitar kita. Aku hanya perlu bariermu untuk mencegah pembicaraan kita terdengar oleh orang lain,” pinta Seno.
“Baik, Bos.”
Tiarsus langsung melaksanakan permintaan Seno. Ketika mereka sudah tertutup barier, kucing yang awalnya meringkuk di gendongan anak perempuan itu, kini melompat keluar. Bulu-bulun kucing itu, kini berdiri. Kucing itu juga menatap garang ke arah Seno dan yang lain. Kuku miliknya sudah dikeluarkan semua. Kucing itu bahkan sudah menunjukkan deretan gigi tajamnya.
“Bubu,” ucap kedua bersaudara itu secara bersamaan. Namun, kucing yang ternyata bernama Bubu itu tidak memedulikan ucapan keduanya. Dia masih tetap memasang pose garangnya.
“Kakak, Kau pasti orang jahat kan? Jika Kau orang baik, tidak mungkin Bubu akan bersikap demikian. Sekarang, katakan padaku apa maumu,” ucap anak laki-laki itu.
“Aku tahu kalian memiliki dimensi bukan? Lalu, kucing kalian yang bernama Bubu ini, adalah penghubung dimensi itu. Aku lebih suka menyebutnya sebagai inti dimensi. Dimensi kalian pasti memiliki ruangan tersendiri yang cukup luas.”
“Dari cerita kalian sebelumnya, pasti dimensi itu berada di bawah jembatan bukan? Ya, meski aku sendiri tidak tahu jembatan mana yang kalian maksud, tetapi dimensi itu berada di bawah jembatan. Aku penasaran, kalian pakai untuk apa jembatan itu?” tanya Seno yang menatap kedua anak ini dengan tatapan tajam.
Seno tahu, jika dirinya bersikap seperti ini, maka dirinya akan di cap sebagai orang jahat oleh kedua anak ini. Namun, Seno perlu berperan menjadi orang jahat untuk melakukan kebaikan. Ia perlu mengetahui secara pasti bahwa kedua anak ini adalah orang baik. Meski pun ia sudah yakin mereka bukan orang jahat, tidak ada salahnya untuk lebih berhati-hati bukan?
Wajah kedua anak itu langsung memucat setelah mendengar ucapan Seno. Tanpa mereka berdua katakan secara gamblang sekali pun, Seno sudah bisa menyimpulkan bahwa mereka memang pemilik dimensi ini, dan dimensi mereka berada di bawah jembatan. Kemungkinan jembatan yang ada di sekitar Kota Beijing.
“Bicara apa Kau, Kak. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang Kau maksudkan. Jangan mengada-ada. Kak. Memangnya di dunia ini ada sesuatu seperti yang Kau katakan? Aku rasa Kau terlalu banyak membaca novel online, Kak,” ucap anak laki-laki itu sembari mencoba menutupi rasa gugupnya.
Sekeras apa pun dia mencoba menutupi kegugupan itu, tetapi Seno bisa tahu bahwa mereka gugup. Tangan kedua anak ini bergetar. Keduanya juga tidak mau menatap ke arah Seno.
__ADS_1
Jika sudah begini, Seno akan mendalami karakternya sebagai seseorang yang awalnya berniat membantu kedua anak ini namun memiliki tujuan terselubung. Seno lalu menundukkan kepalanya, dan berucap setengah berbisik.
Jasmine yang melihat hal itu, ikut mendekat. Sebagai penerjemah yang baik, Jasmine harus ikut mendengarkan apa yang Seno ucapkan dan mengartikannya dengan cepat. Jika perlu, ia harus menambahkan emosi yang sesuai dengan yang Seno ucapkan.
“Sebenarnya, aku datang kemari hanya untuk merebut dimensi itu dari kalian. Aku bisa merasakan keberadaan inti dimensi dari jarak cukup jauh. Tadi aku menolong kalian hanya untuk mengusir preman-preman itu, agar mereka tidak mengangguku.” Seno menampakkan seringainya.
“Kau … Kau ….”
“Kalian berdua tidak akan bisa kabur. Ke mana pun kalian pergi, aku akan menemukan kalian. Apa kalian tahu, sekarang kalian berdua sudah kami kepung. Lalu, kami ini bukan orang biasa. Jadi menyerah saja dan bawa kami ke dimensi itu. Jika kalian macam-macam, aku dan rekanku yang lain bisa melakukan sesuatu kepada kalian,” jelas Seno.
“Baiklah aku akan membawamu ke sana. Tetapi, Kau harus berjanji bahwa Kau tidak akan menyakiti adikku. Aku akan melakukan apa pun, asalkan Kau tidak menyakitinya,” mohon anak laki-laki itu.
“Kau bisa memegang janjiku. Aku tidak akan menyakiti kalian jika Kau membawaku ke dimensi milikmu.”
Ketika Seno meminta Tiarsus dan Azkareia membantu dua saudara itu membereskan peralatan mereka, Momoy mendekati Seno. Ia mengungkapkan keinginannnya untuk tinggal di sini kepada Seno.
“Bos, Bos. Kalau begitu biarkan aku tinggal di sini. Para preman tadi kan akan kembali kemari. Jika mereka kemari tetapi tidak ada siapa pun di sini, maka mereka pasti akan sangat kecewa. Aku harus tinggal untuk menemani mereka bukan? Mereka juga pasti butuh sedikit kehangatan di musim dingin ini bukan?”
“Lalu, Bos masih meninggalkan portal di kamar mandi umum tadi bukan? Jadi, jika aku selesai dengan yang di sini, aku akan kembali pulang.”
“Tidak bisa. Kamu harus ikut denganku. Jika Kamu mengacau, aku tidak akan bisa membereskannya. Ini negara orang.”
Jika Seno tidak mengawasinya, bisa-bisa Momoy akan bertindak melewati batas. Ini adalah negara lain. Seno masih ingat peringatan Dina dan Miranda untuk tidak membuat keributan di sini. Jadi, Seno perlu menuruti ucapan mereka.
“Ayolah, Bos. Aku mohon.”
“Tidak.”
“Kalau begitu, Bos. Biarkan aku mengambil semua benda berkilau ini. Akan sangat disayangkan jika kita meninggalkannya begitu saja bukan?” sahut Rarae.
__ADS_1
“Demi Tuhan, Rarae. Kamu tidak bisa mengambil lampu jalan begitu saja. Itu namanya merusak fasilitas umum. Apalagi ini di negara lain. Aku sudah mengijinkanmu menggali banyak berlian dan mencari mineral lainnya di seluruh dimensi. Aku juga sudah berjanji memasang lampu di tempatmu, jadi berhentilah meminta mengambil lampu jalan.