
Di halaman belakang villa milik kelurga Miranda sudah ada grill yang akan mereka gunakan untuk barbeque bersama. Miranda dan Dina sudah menyiapkan banyak bahan untuk acara barbeque hari ini. Di antaranya adalah beberapa sosis, daging grill, dan beberapa sayuran.
Seno yang awalnya ingin ikut membakar beberapa sosis dan daging, tetapi dipaksa duduk oleh Miranda dan Dina. Dua orang perempuan itu yang kini mengambil alih posisi memasak barbeque.
“Ini beberap sudah matang.” Ucap Dina sembari membawa beberapa hasil sosis, daging dan sayuran yang sudah ia bakar bersama dengan Miranda sebelumnya. Dibelakang Dina, Miranda juga membawa beberapa hasil barbeque.
“Makasih.” Ucap Seno.
Ketiganya lalu menikmati barbeque itu bersama sembari mengobrol membahas sesuatu yang ringan. Lalu, Dina tiba-tiba memusatkan perhatiannya pada kulit Seno.
Meski penerangan di halaman belakang Villa keluarga Miranda tidak cukup bagus, tetapi Dina bisa melihat bahwa kulit Seno berubah dari terakhir ia lihat. Kulitnya sedikit lebih cerah sekarang, padahal dulu kulitnya agak menggelap karena terkena paparan sinar matahari.
“Sen Kamu sekarang perawatan ya? Pake lotion apa Kamu sekarang kok kayaknya ampuh banget. Perasaan sebelum ini kulitmu agak gelap deh. Kasih tahu aku dong Kamu pake lotion apa?” Tanya Dina.
Menurut pandangan Dina, tidak masalah jika seorang laki-laki melakukan perawatan kulit. Menurutnya laki-laki seperti itu bukanlah laki-laki kemayu seperti yang disebut oleh beberapa orang.
Bagi Dina, laki-laki juga berhak melakukan perawatan. Jika dulu perempuan tidak bisa sekolah dan sekarang sudah diperbolehkan, itu berarti laki-laki juga memiliki hak yang sama dengan perempuan. Tidak hanya perempuan saja yang berhak merawat diri. Laki-laki juga.
Selalu harum, rambut rapi, dan terlihat makin tampan dengan perawatan yang mereka lakukan. Bukankah lebih menyenangkan melihat laki-laki dengan badan terawat seperti itu daripada yang bermuka kucel dan terlihat kusam?
“Eh iya, Mas Seno terlihat makin cerah sekarang. Wajah Mas Seno terlihat lebih glowing sekarang. Aku juga mau tahu dong skin care apa yang Mas Seno pakai sekarang?” Tanya Miranda yang lebih antusias daripada Dina.
Perempuan mana juga yang tidak mau terlihat lebih cantik dan kulitnya lebih cerah seperti yang terjadi dengan Seno. Jelas Miranda sangat mau merasakan hal yang sama seperti yang Seno alami. Jadi ia menanyakan hal ini kepada Seno.
Mendengar pertanyaan dua perempuan yang mengangguminya itu, Seno lalu melihat ke arah kulit tangannya. Seperti kata keduanya, kulitnya terlihat sangat berbeda dari sebelumnya. Ia tahu apa yang menyebabkan hal ini. Buncis miliknya.
Sejak ia memanen buncis itu, dirinya memang tidak berhenti mengkonsumsi sayuran itu. Seno sengaja tidak membagikan sayuran ini dengan adik-adiknya. Jika kedua adiknya sudah merasakan manfaat dari buncis itu, maka mereka pasti akan meminta lebih kepada Seno.
Sementara itu, Seno tidak bisa memberikan sayuran itu dalam jumlah besar kepada kedua adiknya. Jadi, daripada Seno membuat adik-adiknya menunggu dan mengharap, lebih baik dirinya tidak memberikan buncis itu kepada mereka.
Efek buncis itu luar biasa menurut Seno. Jadi, dirinya bisa meraup keuntungan besar dari berjualan sayuran ini. Seno bahkan sudah bisa membayangkan banyak kaum perempuan yang berlomba mendapatkan sayur ini. Jika itu terjadi, nominal saldo yang ada dalam rekening Seno akan menggelembung semakin besar.
“Aku nggak pakai skin care apa pun. Cuma sabun muka aja udah. Nggak ada lotion-lotion tambahan.” Jawab Seno.
__ADS_1
“Ah bohong. Perubahan Mas Seno sangat berubah pesat. Jadi nggak mungkin Mas Seno nggak pake skin care apa pun.” Balas Miranda.
“Ya udah kalo Kamu nggak percaya. Aku emang nggak pake skin care apa pun.”
“Lalu kenapa kulitmu bisa berubah seperti itu?” Tanya Dina.
“R A H A S I A. Rahasia.” Jawab Seno penuh misteri.
“Ish kok gitu sih.”
“Tenang saja kalian nanti akan aku kasih tahu alasan aku memiliki kulit seperti ini. Tetapi tidak sekarang.” Jawab penuh dengan kemisteriusan.
Setelahnya, dua orang di depan Seno membujuk dan merayunya untuk memberitahu mereka mengenai apa yang membuat laki-laki itu memiliki kulit yang glowing seperti itu. Meski begitu, Seno tetap tidak menjawabnya.
Pada akhirnya keduanya menyerah dan pasrah. Mereka memilih menunggu Seno memberitahu mereka mengenai hal ini. Mendengar pernyataan Seno, keduanya tahu bahwa Seno akan memberitahu mereka mengenai hal ini jika waktunya sudah tiba.
….
Jam delapan pagi Seno diantar pulang oleh Miranda dan Dina. Setelah menurunkan Seno keduanya langsung pulang tanpa ada niatan untuk mampir. Sudah cukup bagi mereka menghabiskan waktu bersama dengan Seno semalam.
Kelima kelinci itu ingat pesan laki-laki itu bahwa mereka hanya bisa mengobrol dengan Seno hanya ketika mereka berada di kebun Seno yang ada di lain dimensi. Selain itu, mereka hanya boleh bersikap seperti kelinci biasa.
Jadi ketika melihat kelima kelinci itu mendekat, dan memperlihatkan ekspresi mereka yang sedikit cemas, Seno tahu ada sesuatu yang tidak beres. Ia lalu melangkah menuju ke kebunnya dan diukuti oleh kelima kelinci di belakangnya.
“Ada apa kalian seperti terlihat cemas begitu?” Tanya Seno ketika dirinya sampai di kebunnya yangada di dimensi lain.
“Bos-bos ada seseorang yang masuk ke rumahmu. Satu, dua, ada tiga orang yang masuk ke rumahmu.” Lapor Kelinci Tiga.
“Masuk ke rumahku? Pencuri kah itu? Lalu apa yang mereka ambil dari rumahku?” Tanya Seno.
Seno tidak langsung kembali ke rumahnya dan mengecek semuanya. Laki-laki itu masih ingin mendengar laporan lengkap dari para kelinci yang menjadi pengawas rumahnya. Pasti mereka lebih tahu mengenai apa yang terjadi sekarang.
“Sepertinya tidak ada yang diambil di rumah Bos.” Jawab Kelinci Tiga.
__ADS_1
“Tetapi mereka mengambil sesuatu digubuk yang ada di kebun Bos.” Sahut Kelinci Lima.
Mendengar hal itu Seno langsung menujuke gubuk miliknya. Ketika Seno membukanya, ia melihat gubuk itu sangat berantakan. Banyak barang yang berserakan di sana sini. Beberapa cangkul pun berserakan, keranjang-keranjang sayur yang biasa ia pakai untuk menyimpan sayuran sementara, juga berantakan.
Seno lalu mengecek gubuk miliknya itu mencoba mencari tahu apa yang sudah hilang dari sana. Tidak lama kemudian, Seno tahu apa yang sudah hilang dari sana.
“Mereka mengambil bibit milikku? Siapa ini yang melakukannya?” Gumam Seno.
Kotak bibit yang mereka ambil berisi bibit sayuran biasa, bukan sayuran khusus miliknya. Selama ini Seno hanya membeli bibit seperlunya saja. Ia tidak memiliki niatan untuk membuat stok.
Seno bisa membeli bibit itu kapan pun dan dimana pun dia mau. Asalkan poin tanam miliknya cukup, itu bisa dilakukan. Jadi, ia tidak perlu menyetok bibit sayuran itu.
Hal ini membuat Seno curiga bahwa ada orang yang merasakan manfaat sayurannya. Lalu, mereka memiliki niatan untuk mencuri bibitnya dan menanam sendiri sayuran tersebut. Hanya saja Seno tidak tahu siapa itu.
Laki-laki itu menjual sayurannya ke banyak pihak. Meskipun tidak semua orang mengetahui di mana rumah Seno, tetapi itu tidak cukup sulit untuk mencarinya.
“Bos, mereka melempar-lempar barang digubuk setelah Kami mengusir mereka pergi.” Ucap Kelinci Tiga yang sudah menyusul Seno.
“Eh, begitukah?”
Lalu, Seno kembali ke rumahnya. Ia ingin tahu apakah rumahnya sama berantakannya dengan gubuk miliknya.
Kelincinya mengatakan bahwa para pencuri itu mulai membuat gubuknya berantakan karena mendengar suara mereka. Ini bararti, sebelum ini para pencuri mengambil barangnya dengan penuh kehati-hatian.
Benar saja seperti dugaanya, rumahnya masih bersih dan tidak berantakan. Barang-barang miliknya juga terlihat tetap berada di tempat semua. Tidak ada yang berubah sama sekali.
Ini seperti yang melakukan pencurian adalah seseoranng yang sudah profesional. Hal itu membuat Seno bisa menebak siapa pelakunya.
“Ini pasti pihak militer yang melakukan hal itu. Aku tidak menyangka mereka akanmelakukan hal ini. Menggeledah rumahku untuk mencari bibit wortel itu.” Gumam Seno.
Seno tahu menjual sayuran khusus seperti itu ke pihak militer cukup beresiko untuknya. Mereka pasti akan menyelidiki Seno dan mengungkap asal usul sayuran miliknya. Tetapi, Seno berani mengambil resiko ini.
Hal ini karena Seno tahu militer negaranya tidak seperti militer negara lain. Mereka masih bersikap rasional dibanding militer negara otoriter. Jadi Seno yakin pihak militer masih memiliki batasandalam melakukan tugasnya.
__ADS_1
Jika tidak, bukan rumahnya yang akan digeledah, tetapi Seno akan diculik dan diintrogasi agar mengatakan semua itu. Penggeledahan rumahnya sudah cukup wajar di mata Seno. Ia sudah menebak ini akan terjadi.
Hal itulah yang membuat Seno berani bekerjasama dengan militer negaranya.