Petani Hebat Dengan Sistem

Petani Hebat Dengan Sistem
PH 120 Ekspedisi Penaklukkan (2)


__ADS_3

Yang pertama kali Seno lihat setelah menyeberang portal adalah pepohonan yang cukup besar dan tinggi. Melihat hutan yang seperti itu, tiba-tiba membuat Seno memiki pemikiran membangun sebuah rumah pohon di atas sana.


Udara di dimensi ini juga cukup segara. Sama dengan udara di kebun miliknya. Pasti akan menyenangkan berkemah di sini. Suasananya cukup asri. Kedua istrinya pasti senang jika ia ajak ke sini. Hal itu membuat Seno memiliki rencana tersebut di benaknya. Tentu saja setelah dirinya selesai menaklukkan dimensi ini.


“Sekarang kita langsung ke sarang mahkluk itu. Aku ingin segara menyelesaikan misi ini.” Pinta Seno kepada Thorbiorn.


“Tentu Bos. Tetapi, bisakah Kamu menyerahkan senjata Kami? Dengan begitu, jika ada makhluk itu di sekitar sini, maka aku bisa menyerang mereka dengan mudah.” Pinta Thorbiorn.


“Tentu saja.”


Thorbiorn langsung menurunkan Seno dari punggungnya. Ketika menginjakkan kakinya di tanah, seketika itu juga Seno merasakan beban yang cukup berat di tubuhnya. Ketika berada di punggung Thorbiorn, dirinya tidak merasakan apa pun. Tetapi ini sangat berbeda.


Sekarang Seno merasa seolah ada berkuintal-kuintal beban yang ditaruh di punggungnya. Hal itu membuat Seno terjatuh hingga berakhir dengan posisi merangkak.


“Bos.” Teriak Thorbiorn dan Tiarsus secara bersamaan.


Thorbiorn dan Tiarsus langsung menuju ke arah Seno untuk membantunya berdiri. Keduanya lupa untuk memperingatkan Seno mengenai perbedaan gravitasi antara Bumi dan dimensi ini. Jadi, Seno tidak siap menghadapi perbedaan gravitasi yang cukup besar tersebut.


“Apa Kamu tidak apa-apa Bos?” Tanya Thorbiorn sembari menahan tubuh Seno agar tetap bisa berdiri.


“Aku baik-baik saja. Ini sebenarnya ada apa? Kenapa aku tiba-tiba merasa sangat berat berada di sini dan sulit untuk menggerakkan tubuhku?” Tanya Seno.


“Di sini memiliki gravitasi lebih besar dari Planet Bumi. Jadi Bos yang selama ini terbiasa dengan gravitasi Planet Bumi akan kesulitan menyesuaikan diri di dimensi ini.” Jelas Thorbiorn.


“Jadi seperti itu.” Jawab Seno.


Jika seperti ini, maka Seno tidak akan dapat membantu banyak dalam menjalankan misi ini. Dirinya saja kesulitan dalam bergerak. Bagaimana dirinya membantu. Yang ada kehadirannya semakin menambah beban.

__ADS_1


Sayangnya sistem mengharuskannya ikut dalam misi ini. Mau tidak mau Seno harus ikut dalam misi ini meski hanya menjadi beban.


“Jika seperti ini, lebih baik aku menggendongmu dalam menjalankan misi ini Bos. Thorbiorn akan melakukan serangan jarak dekat sedangkan aku jarak jauh. Jadi, aku akan lebih mudah dalam melindungimu.” Tawar Thorbiorn.


“Baiklah.” Jawab Seno.


Setelah membagikan senjata milik kedua buruh taninya, Seno kemudian digendong oleh Tiarsus. Mereka langsung bergerak menuju ke sarang makhluk penghuni dimensi ini.


Selama perjalanan menuju ke sarang, mereka bertemu dengan beberapa makhluk penghuni dimensi ini. Melihat dengan dekat mereka membuat Seno tahu betapa ngerinya mahkluk tersebut. Gigi mereka panjang dan memiliki banyak bulu. Mata mereka juga cukup menakutkan menurut Seno.


Makluk berbulu putih tersebut sekarang bergerak dengan cepat menuju ke arah mereka. Seno bisa menebak bahwa mahkluk tersebut berniat menyerang mereka. Tetapi Thorbiorn sudah langsung menyerangnya.


Dengan gerakan cepat, Thorbiorn menyabetkan pedangnya ke arah makhluk tersebut. Sabetan itu cukup cepat. Seno sendiri meski memiliki pengelihatan yang bagus tetapi matanya tidak bisa mengikuti arah pedang Thorbiorn.


Beberapa detik kemudian, Seno melihat kepala dari mahkluk tersebut terpisahkan dari tubuhnya dan menggelinding beberapa belas meter.


Tetapi pemandangan seperti itu tidak berlangsung lama. Kedua buruh taninya bergerak kembali menuju ke sarang mahkluk tersebut. Selama perjalanan mereka kembali menemui beberapa makhluk penghuni dimensi ini.


Lagi-lagi Thorbiorn langsung menghabisi mahkluk tersebut dengan sekali tebasan. Lama-lama Seno mulai terbiasa melihat darah dengan apa yang Thorbiorn lakukan. Semakin dekat dengan sarang semakin banyak pula makhluk yang mendatangi mereka.


Saat ini, tidak hanya mahkluk berbulu putih yang mendekati mereka, tetapi ada pula mahkluk serupa dengan bulu yang berbeda. Seno baru tahu bahwa makhluk berbulu putih adalah yang paling lemah. Itu terlihat dari respon mereka ketika Thorbiron menyerang.


Mereka cukup lambat dalam menghadapi serangan Thorbiorn. Tiarsus tidak mau ketinggalan. Dia beberapa kali berhentik sejenak untuk menembakkan beberapa anak panah. Hasilnya, Tiarsus anak panah yang Tiarsus tembakkan mengenai kepala dari makhluk tersebut.


Sekarang Seno dan rombongannya sampai di sebuah lembah. Ia bisa melihat ratusan mahkluk yang sama dengan yang dibunuh oleh kedua buruh taninya. Dari sini Sneo tahu bahwa ini adalah sarang dari mahkluk penghuni dimensi ini.


Ketika mereka sampai jumlah makhluk yang mengepung mereka semakin banyak. Saat ini Thorbiorn bergerak dengan gesit bertarung dengan makhluk tersebut. Mereka berusaha melawan Thorbiorn.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, seekor makhluk berbulu emas mendekat ke arah mereka. Tubuhnya lebih besar dan tinggi dibandingkan dengan makhluk lainnya. Melihat beberapa mahkluk lain memberikan jalan untuknya, membuat Seno bisa menebak bahwa ini adalah pimpinan kawanan ini.


Dia memandang tajam ke arah mereka bertiga yang merupakan orang asing di dimensi ini. Setelah kedatangan makhluk berbulu emas ini, semua berhenti melakukan serangan. Hal itu juga dilakukan oleh Thorbiorn yang berhenti melakukan serangan.


Thorbiorn memilih mundur dan mendekat ke arah Seno dan Tiarsus. Thorbiorn bukannya takut dengan makhluk berbulu emas ini. Hanya saja, ia tidak mau ketika dirinya sibuk bertarung dengan pemimpin kawanan, yang lainnya menyerang Seno dan Tiarsus.


Meski Thorbiorn yakin Tiarsus bisa melindungi Bos mereka, tetapi jika jumlah musuh terlalu banyak, itu akan membuat Tiarsus kewalahan. Tiarsus sendiri merupakan penyerang jarak jauh, bukan jarak dekat seperti dirinya.


….


Setelah sepuluh menit hanya saling memandang tanpa melakukan apa pun, makhluk berbulu emas tersebut tiba-tiba membuat suara geraman. Dari pendengaran Seno, geramanan tersebut berirama selayaknya orang yang tengah berbicara.


Benar saja, Tiarsus yang berada di samping Seno langsung mengartikan geraman yang dilakukan oleh makhluk berbulu emas tersebut.


“Bos, dia tengah menanyakan kedatangan kita kemari dan kenapa kita menyerang mereka.” Ucap Tiarsus.


“Kamu bisa mengerti bahasa mereka?” Tanya Seno kaget.


“Ya. Sedikit banyak aku memahaminya. Jadi apa yang harus aku katakan kepada mereka Bos?” Tanya Tiarsus.


Meski dirinya sudah tahu tujuan dari ekspedisi ini, tetapi Tiarsus ingin Seno yang mengungkapkan apa keinginannya.


Seno kemudian memandang mahkluk di depannya. Ia juga memandang ke arah lembah di mana kawanan yang lain terlihat bersembunyi. Terlihat jelas bahwa mereka ketakutan dengan kedatangan Seno dan kedua buruh taninya.


Hal itu membuat Seno merasa dirinya adalah orang jahat yang telah menjajah mereka. Dirinya datang ke sini langsung membunuh tanpa melakukan negosiasi apa pun.


Tetapi, setelah dipikir-pikir, apa yang ia lakukan ini tidak sepenuhnya salah. Seno bisa menebak, makhluk ini yang sudah pasti pernah menyebrang ke dunia manusia, pasti melakukan hal yang sama. Menyerang tanpa melakukan negosiasi apa keinginan mereka.

__ADS_1


Hal itu sedikit banyak meringankan rasa bersalah dalam diri Seno. Ia lalu memandang lekat ke arah pimpinan dari kawanan makluk ini.


__ADS_2