
Malam semakin larut, tetapi tempat hiburan malam itu terlihat semakin ramai. Beberapa orang terlihat masuk ke dalamnya. Dentuman musik yang dibawakan oleh DJ menambah ramai suasana tempat itu.
Di lantai dansa, beberapa orang terlihat menggoyangkan badan mereka mengikuti irama. Meminum alkohol dan bergoyang mengikuti musik yang ada membuat mereka melupakan masalah sejenak.
Di sudut tempat hiburan malam itu, terdapat beberapa orang yang sedang menikmati minuman. Mereka itu terlihat mengobrol satu sama lain. Beberapa laki-laki yang ada di kelompok itu terlihat mengedarkan pandangan mereka ke sekeliling ruangan.
Mereka melakukan ini untuk mencari keberadaan perempuan yang menarik di sini. Jika ada yang menarik, maka para laki-laki itu akan bersama-sama membicarakan mengenai hal ini. Mereka bahkan sampai membuat taruhan siapa yang bisa mendapatkan nomor perempuan tersebut.
“Ah ini sangat membosankan. Tidak ada perempuan yang menarik di sini. Mereka selalu datang bersama dengan pasangan. Padahal, aku datang kemari untuk mencari teman bermalam,” ucap Catur salah satu laki-laki di kelompok itu.
“Heh.” Seseorang mendengus dengan keras setelah mendengar ucapan Catur.
“Memangnya Kamu pikir aku ini bukan perempuan?” tanya Mila.
“Ish … Kamu itu temanku. Jelas saja aku nggak mau ngelirik Kamu. Masak aku ngajak Kamu nginep bareng? Aku nggak mau ngerusak pertemanan kita tahu.”
“Bener itu Mil. Kita ke club bareng kan emang mau menyegarkan diri. Sekalian juga ngejaga Kamu biar nggak ketemu sama cowok-cowok berengsek. Biar kami aja cowo berengsek yang Kamu kenal. Kamu nggak perlu lagi nambah kenalan yang kayak gitu,” imbul Jamal.
“Ish … aku kan juga pengen nyari kenalan.”
“No, no, no, no, no. Kamu nggak bisa ngelakuin itu Mila. Nenek pasti akan mencincangku. Aku sudah janji padanya untuk menjagamu hari ini. Jadi, Kamu nggak akan bisa lepas dari sampingku,” Ucap Hari.
“Ish mneyebalkan.”
“Sudahlah, Mila. Turuti saja kemauan sepupumu itu. Kamu nggak akan bisa berkutik. Jadi, lain kali kalo clubing, Kamu itu harus datang sendiri kayak aku. Dengan gitu, Kamu bisa bebas ngelakuin apa pun. Nggak akan ada yang larang,” jelas Ayu.
__ADS_1
“Sudahlah jangan ribut. Kita nikmatin saja malam ini. Kalo nggak ada cewek cakep juga nggak masalah. Yang penting kita seneng-senang di sini. Ayo-ayo semua minum,” ucap Catur yang kemudian menuangkan minuman ke gelas teman-temannya.
Mereka semua lalu mengangkat gelas masing-masing dan membenturkannya ke gelas yang lainnya. Kelima orang tersebut kembali mengobrol satu sama lain. Mereka juga masih menggoyangkan kepala mengikuti irama musik yang ada. Hingga pada akhirnya, keributan kecil yang ada di tempat hiburan malam itu membuat mereka menghentikan obrolan.
Cukup wajar jika terjadi perkelahian di tempat seperti ini. Apalagi ketika orang-orang terpengaruh minuman keras. Jelas mereka tidak bisa mengontrol emosi mereka. Tidak jarang hanya karena tersenggol seseorang bisa melakukan baku hantam dengan temannya.
Namun, keributan kali ini bukan disebabkan oleh orang-orang yang bertengkar. Ini terjadi karena ada seseorang yang datang. Pandangan mereka tertuju kepada seorang perempuan yang baru datang. Entah kenapa, semua orang seakan terhipnotis untuk memandangnya. Bahkan, DJ yang tengah memainkan musik pun, ikut menghentikan musiknya.
Perempuan itu terlihat tersenyum lebar melihat perhatian yang tertuju padanya. Ia terlihat bangga dengan semua itu. Perempuan itu kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Hingga pada akhirnya, pandangannya terhenti pada Catur dan kawan-kawannya.
“Sial,” umpat Jamal. “Ada cewek cakep datang ke kita. Duh gimana ini?”
“Ck ….” Catur mendecakkan lidahnya. “Mana mungkin dia datang kemari. Banyak meja lain di dekat kita. Mungkin kebetulan aja bukan? Di antara kita, nggak ada yang secakep itu. Sadar diri woy. Lalu, ini itu di club, cahayanya remang-remang. Mana tahu kita itu cewe beneran cakep apa nggak.”
“Tapi aku heran kenapa semua orang tiba-tiba memandanginya. Apakah dia memang secakep itu?” tanya Catur heran.
“Tur, Catur. Lihat tuh dia semakin deket,” ucap Jamal.
Perempuan itu memang terlihat mendekat ke meja mereka. Catur yang awalnya mengira perempuan itu akan pergi ke meja lain, harus menarik ucapannya. Ini karena perempuan itu kini memilih duduk di sampingnya tanpa basa basi sedikit pun.
Setelah melihat wajahnya dari dekat, mata Catur langsung terbuka lebar. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Perempuan ini, ia mengenalnya, sangat mengenalnya. Ia tidak menyangka bisa bertemu di sini.
“Nenek kenapa ada di sini?” tanya Catur heran.
“Nenek?” tanya Jamal, Hari, Mila, dan Ayu secara bersamaan.
__ADS_1
Mereka heran Catur memanggil perempuan ini nenek. Ia tampak muda sekali. Bagaimana mungkin perempuan yang nampak berusia dua puluh tahunan dipanggil nenek oleh Catur. Lalu, kedua kakek Catur sudah meninggal cukup lama. Jadi, tidak mungkin jika perempuan ini adalah istri muda kakeknya.
“Memangnya kenapa? Nggak boleh? Kamu bisa pergi ke club cari cewek, terus aku nggak boleh gitu ke club juga cari kakek baru untuk kamu?” tanya Lasmi.
Setelah mendengar bahwa cucu pertamanya pergi ke tempat hiburan malam, Lasmi langsung memiliki inisiatif untuk menyusul. Dengan wajahnya yang nampak jauh lebih muda, jelas Lasmi tidak akan merasa canggung berada di antara anak-anak muda.
Lalu, Lasmi juga ingin membuktikan keampuhan lisptik yang baru saja ia beli dengan harga lima ratus ribu itu. Ia dengar lipstik itu bisa membuat banyak orang tertarik padanya. Lasmi sudah membuktikan semua itu hari ini.
Seketika ia masuk ke dalam tempat hiburan malam ini, banyak pasang mata yang menatap ke arahnya. Padahal, ia tidak memakai pakaian yang terbuka. Efeknya terlalu luar biasa menurut Lasmi. Mungkin karena ia memakai lipstik itu terlalu tebal.
“Nenek gila ya? Untuk apa nyari cowok di sini? Ingat umur, Nek. Nenek udah tujuh puluh tahun masak mau sama anak yang umur dua puluh tahunan sih.”
“Loh suka-suka nenek dong. Mau nenek sama orang tua atau muda. Kalo bisa dapet yang muda dan perkasa kenapa pula cari yang tua. Lagian, kakekmu itu sudah lama meninggal. Nggak ada salahnya bukan kalo nenek mencari pacar sekarang?”
Jmal, Hari, Mila, dan Ayu masih memandangi Catur dan Lasmi secara bergantian. Mereka masih tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
“Tur, ini beneran nenek Kamu? Nenek Lasmi?” tanya Ayu ingin memastikan.
“Tentu saja aku neneknya Catur, Lasmi. Mau siapa lagi? Nenek Catur kan tinggal aku.”
“Tetapi, kenapa wajahnya muda sekali?” tanya Mila yang sekarang menatap Lasmi dengan pandangan iri. Bagaimana tidak, perempuan tua seperti Lasmi bisa memiliki wajah muda seperti itu. Jika mereka bersanding, jelas orang akan mengira bahwa mereka adalah teman seumuran.
Lasmi langsung memegang pipinya yang bersemu merah karena mendapatkan pujian. Senyum lebar pun merekah di bibir Lasmi. Ia selalu senang jika ada orang lain yang memuji dirinya. Terutama, jika orang itu memuji wajahnya yang nampak awet muda. Jelas saja Lasmi senang.
“Terima kasih. Aku bisa begini juga karena sudah mengkonsumsi sesuatu yang menjadi rahasia turun temurun dari kelompok arisanku. Ini sangat berharga sekali. Apa kalian mau tahu itu?” tanya Lasmi yang mencoba memancing rasa penasaran Ayu dan Mila.
__ADS_1
Apa yang Lasmi lakukan nampaknya berhasil. Sekarang ini, Ayu dan Mila mencondongkan tubuh mereka supaya lebih dekat dengan Lasmi. Mereka ingin tahu rahasia apa yang bisa membuat Lasmi jadi secantik ini.
Tetapi, sebelum Lasmi membuka mulutnya dan menjelaskan apa rahasianya, Catur sudah merusaknya dengan memberitahukan semua itu.