
“Hah.” Seno menghembuskan nafas panjang setelah dirinya selesai menggali tanah cukup dalam.
Laki-laki itu sudah menggali cukup lama. Lima jam lamanya. Tentunya ia selingi dengan istirahat. Setelah menggali selama lima jam, Seno berhasil membuat lubang dengan diameter satu meter sedalam dua meter.
Ini karena Seno sendiri tidak pernah menggali tanah seperti ini. Jadi, dirinya tidak bisa menggali secepat mereka yang baisa mengali. Tetapi, menurut Seno ini adalah pekerjaan yang bagus. Dirinya hanya tinggal menggali sedikit lebih dalam lagi untuk menemukan sumber air.
Laki-laki itu baru akan melanjutkannya besok. Sekarang dirinya perlu memanen dulu hasil kebunnya. Belum lagi ia masih perlu memerah Betty. Jadi, Seno akan meninggalkan pekerjaannya ini.
Lagipula, Sistem memberikannya waktu tiga hari. Jadi Seno bisa sedikit bersantai dalam menyelesaikan tugasnnya.
“Panel Sistem”
[Host : Seno Eko Mulyadi (23)]
[Kekuatan : 7,1 (Manusia Dewasa : 10)]
[Stamina : 5 +4 (Manusia Dewasa : 10)]
[Luas lahan : 800 m2 (+700 m2)]
[Level kebun : 3 (5000/5000)]
[Poin tanam yang dibutuhkan untuk naik level : 25.000.000]
[Poin tanam : 6.282.100]
[Penyimpanan Sistem : 15 slot (13/15)]
[Slot hewan ternak : 5]
[Pembelian slot selanjutnya : 10.000 poin ternak]
[Jumlah ternak : 4 ekor sapi]
[Poin ternak : 36.980]
[Misi : - Buat sumur untuk sumber air. Batas waktu 2 hari]
[Toko sistem : - Bukan Pupuk Biasa : 100 poin tanam
__ADS_1
Wortel dengan penuh Vitamin A : 50 poin tanam
Kentang mengenyangkan : 100 poin tanam
Brokoli penuh vitamin dan mineral : 200 poin tanam
Rumput super grade D : 100 poin ternak]
“Poin ternak milikku sudah cukup lumayan. Itu cukup untuk membeli slot baru untuk hewan ternak.” Gumam Seno.
Meski poin itu cukup untuk membelinya, tetapi Seno tidak langsung menggunakannya. Ia masih memiliki satu slot lagi untuk hewan ternak. Lagi pula, toko sistem belum menjual hewan ternak. Jadi, lebih baik Seno menimbun dulu poin ternak tersebut.
Jika nanti hewan ternak sudah tersedia di sana, maka Seno akan memperluas peternakannya untuk hewan ternak baru. Untuk sekarang ini sudah cukup bagi Seno.
Esok paginya, ketika Seno selesai memerah susunya, ia dikejutkan dengan datangnya tamu yang cukup tidak terduga menurutnya.
Effendi, ajudan Johan sudah menunggunya di teras rumahnya. Mungkin dia akan membuat pemesanan wortel-wortel lagi. Dirinya memiliki stok wortel yang cukup banyak sekarang. Jadi, ia bisa menjual cepat wortel-wortel itu kepada mereka.
Namun ia tahu bahwa itu adalah resiko yang perlu ia ambil karena sudah menjual wortel-wortel itu kepada pihak militer. Asalkan mereka tidak melewati batas, Seno tidak msalah tetap bekerjasama dengan pihak militer.
“Selamat pagi, Pak Seno.” Sapa Effendi kepada Seno.
“Selamat pagi, Pak Effendi. Anda datang mau memesan wortel lagi?” Tanya Seno.
Effendi menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak hanya wortel. Aku ke sini juga ingin memesan kentang darimu. Aku memesan lima ribu kentang itu darimu. Apa kamu bisa menyiapkan kentang-kentang itu?”
“Lima ribu kentang ya?” Seno tidak langsung mengiyakan permintaan Effendi itu.
Dirinya memang memiliki kentang sebanyak itu. Tetapi, ia ingin mengingat-ingat dulu apakah dirinya memiliki pesanan kentang dalam jumlah besar atau tidak.
“Sepertinya aku bisa memberikan pihak militer kentang sebanyak itu. Dua ribu wortel dan lima ribu kentang. Semua akan siap besok sore. Untuk kentangnya, aku akan memberi pihak militer tiga puluh ribu setiap buahnya.”
Dengan pesanan dua buah sayuran tersebut, Seno akan mendapatkan dua ratus sembilan puluh juta dari pihak militer. Itu akan menambah uangnya untuk membangun gudang miliknya.
“Baiklah. Besok sore aku akan datang mengambilnya.”
__ADS_1
Setelah kepergian Effendi, Seno berkeinginan kembali menuju ke kebun miliknya. Ia perlu meneruskan menggali sumur untuk sumber air kebunnya. Seno rasa jika dirinya sedikit mengebut menggali lubang itu, dirinya akan menemukan sumber air hari ini.
Namun, ketika Seno bergerak menuju ke arah kebunnya, tiba-tiba saja dirinya merasa badannya seolah akan terjungkal jatuh. Seno sama sekali tidak merasa pusing dan membuatnya merasa akan jatuh pingsan. Jadi dirinya sedikit merasa aneh mengalami hal ini.
Lalu, Seno mengedarkan pandangannya ke arah sekitarnya. Beberapa pohon bergerak dengan keras. Tidak hanya itu, dari tempatnya berdiri, Seno bisa melihat genting milik tetangganya berjatuhan.
Saat itu juga dirinya tahu bahwa yang terjadi saat ini bukan tubuhnya yang memiliki masalah, tetapi alamlah yang memiliki masalah.
“Rupanya ada gempa bumi.” Gumam Seno.
Laki-laki itu tetap berdiri ditempatnya berada. Ia tidak pindah sama sekali. Bisa dibilang saat ini dirinya sedang berada di tempat terbuka, cukup jauh dari bangunan dan pohon tinggi. Jadi di saat seperti ini, tempatnya sekarang adalah tempat paling aman.
Gempa yang terjadi itu berlangsung selama kurang lebih dua menit. Meski intensitasnya tidak terlalu besar, tetap saja itu merusak beberapa bangunan di sekitar daerah tempat tinggal Seno. Tadi saja Seno melihat genting tetangganya berjatuhan.
Hal itu membuat Seno tidak lagi memiliki semangat untuk kembali ke kebunnya dan melanjutkan menggali. Ia perlu mengecek keadaan kedua adiknya saat ini.
Seno tidak tahu dampak dari gempa yang baru saja terjadi di Kota Y. Kota Y bersebelahan dengan kota tempat Seno tinggal sekarang, mereka jelas juga merasakan gempa itu. Jadi Seno perlu memastikan keadaan mereka.
“Bagaimana keadaan kalian? Apa tempat kalian juga terasa gempa atau tidak?” Tanya Seno langsung tanpa menyapa adiknya terlebih dahulu.
“Di sini juga terasa gempa Mas.” Jawab Anita.
“Aku saat ini sedang di kampus dan aku baik-baik saja sekarang. Tetapi aku belum mengecek keadaan Renata. Jadi, setelah ini aku akan pergi ke sekolah Renata untuk mengecek keadaannya. Aku rasa karena gempa ini sekolah Renata akan selesai lebih awal.” Imbuh Anita.
“Syukurlah jika Kamu baik saja. Aku lega mendengarnya. Baiklah coba hubungi Renata sebelum Kamu ke sekolahnya. Kabari aku segera jika terjadi apa-apa.”
Tidak lama setelah Seno menutup panggilan teleponnya, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Itu adalah pesan dari Anita yang mengatakan bahwa keadaan Renata baik-baik saja.
Lalu sekarang Anita akan menjemput adik mereka karena sesuai dengan tebakan perempuan itu, sekolah Renata selesai lebih awal dari biasanya.
Karena sekarang dua adiknya baik-baik saja, Seno berencana mengecek keadaan rumahnya saat ini. Gempa tadi pasti membuat beberapa perabotan di rumahnya berantakan. Ia perlu membereskan itu dulu.
“Kenapa akhir-akhir ini sering terjadi gempa sih.” Gumam Seno sembari membereskan letak kursi di ruang makan yang terjatuh.
Meski itu tidak di daerah tempat tinggalnya, Seno tahu bahwa di beberapa daerah di negara ini terjadi gempa. Menurut Seno cukup wajar terjadi gempa. Itu karena Indonesia merupakan tempat pertemuan beberapa lempeng benua.
Tetapi, menurut Seno gempa yang akhir-akhir ini terjadi terlalu sering dan merata di seluruh negeri. Tidak mungkin semua lempengan bergerak dalam waktu berdekatan seperti ini.
Kerusakan perabotan di dalam rumahnya tidak seburuk yang Seno kira. Tidak perabotan pecah belah yang rusak. Itu karena Seno menyimpannya di laci bawah. Jadi kerusahannya bisa diminimalisir. Hanya beberapa perabot saja yang berjatuhan tidak pada tempatnya.
__ADS_1