Petani Hebat Dengan Sistem

Petani Hebat Dengan Sistem
PH 194 Kemarahan Seno


__ADS_3

Hari ini Seno berencana melihat keadaan dua ikan yang kemarin ia dapatkan. Seno ingin tahu apakah sudah ada sisik yang rontok dari kedua ikan itu. Seno ingin segera mengubah sisik ikan itu menjadi lipstik.


Dina dan Miranda pasti akan senang dengan lipstik ini. Apalagi ini adalah lipstik yang dibuah di sektor pengolahan hasil. Sudah jelas akan ada manfaat tersembunyi dari lipstik tersebut. Seno akan tahu manfaat itu setelah berhasil membuatnya.


Sayangnya, rencananya itu gagal terlaksana karena ketika ia keluar dari rumah, Jasmine dan beberapa anak buahnya sudah menungguh. Entah siapa yang memulai, tetapi secara tidak langsung Jasmine sekarang dianggap sebagai ratu dari hewan-hewan lain. Jika ada apa pun yang ingin dilaporkan kepada Seno, pasti Jasmine yang akan melapor.


“Ada apa, Jasmine?” tanya Seno.


“Bos, semalam ada penyusup,” lapor Jasmine.


“Penyusup? Siapa lagi yang berani menyusup ke tempatku?”


“Aku tidak tahu Bos. Aku belum menanyakan apa pun kepada mereka. Aku menunggu persetujuanmu terlebih dahulu. Lalu, orang-orang itu tidak hanya menyusup di sini saja, Bos. Tetapi, mereka juga mengirim orang untuk menyusup ke rumah adik-adik Bos.”


“Apa?” tanya Seno setengah berteriak.


“Kurang ajar sekali. Siapa yang memiliki niatan mencelakai adikku?”


“Bos tenang saja. Semua baik-baik saja. Hewan-hewan yang berpatroli di sana sudah meringkus mereka semua.”


Tetap saja itu tidak bisa membuat Seno senang. Keringat dingin bahkan mengalir di punggungnya. Jika saja Seno tidak mengirim anak buahnya dan juga pasukan hewan untuk mejaga Anita dan Renata, sudah pasti sekarang ini mereka akan mengalami sesuatu.


Mereka adalah keluarga terdekat Seno. Sebagai kakak, Seno memiliki tanggung jawab untuk menjaga mereka. Memberi mereka brokoli tidak cukup untuk menjamin keselamatan Anita dan Renata.


“Sekarang, bawa aku ke mereka. Aku akan mengintrogasi mereka secara langsung.”


“Baik, Bos. Aku sudah menempatkan mereka di gua tempat si jenderal itu ditahan. Sekarang aku akan membawamu ke sana.”



Seno duduk di sebuah kursi. Punggungnya ia sadarkan, sebelah kakinya ia taruh di paha. Lalu, satu tangannya ia pakai menyandarkan pipinya. Dengan posisi seperti ini, Seno memandangi kelima belas orang di depannya.

__ADS_1


Dari lima belas orang itu, hanya ada empat orang lokal, sisanya adalah orang luar. Semua itu Seno ketahui dari warna rambut dan kulit mereka.


Ada rasa syukur dalam hati Seno. Setidaknya ia melakukan semua penjualannya secara pelan-pelan. Mulai memperkuat diri dan memasarkan semuanya. Coba jika Seno terlalu gegabah dalam melaksanakan promosinya, pasti sudah banyak pihak asing yang mencoba mencari tahu rahasianya, sejak dirinya masih lemah dan tidak bisa melindungi diri.


“Who’s your boss?” tanya Seno setelah cukup lama hanya memandang orang-orang ini.


Tetapi, tidak ada yang menjawab. Mereka yang tubuhnya masih tebalut es, diam dan hanya menatap Seno. Seno tidak terlalu terburu-buru untuk mendapatkan jawaban. Jika dengan cara baik-baik seperti ini tidak mendapatkan jawaban, maka akan ada cara yang lebih menyakitkan.


“Jasmine, minta yang lain melelehkan es itu. Lalu, mulai penyiksaan mereka,” perintah Seno.


“Tentu Bos,” jawab Jasmine dengan mata berbinar.


Beberapa hewan yang ada di gua itu lalu mengeluarkan api masing-masing. Dengan api itu, perlahan es yang menyelimuti tubuh mereka meleleh.


Setelah es itu meleleh, Jasmine lalu memerintahkan yang lain untuk mematahkan tulang mereka. Teriakan keras pun menggema di gua tersebut. Sebelumnya di gua ini hanya ada suara teriakan Roy. Sekarang, ada lima belas orang yang saling bersahutan berteriak kesakitan di dalam gua.


“Who’s your boss?” tanya Seno sekali lagi.


Masih seperti sebelumnya, tidak ada jawaban yang Seno dapatkan. Hal itu membuat tatapan Seno semakin tajam. Aura di sekitarnya berubah menjadi lebih suram. Seno sendiri tidak menyadari bahwa saat ini auranya telah berubah.


Ketika bola api itu mengenai target, tubuhnya langsung diselimuti api. Teriakan yang semakin memilukan terdengar di sana. Kurang dari lima menit orang yang terbakar tersebut menghilang. Di tempatnya tadi, hanya ada bekas hitam pembakaran. Bahkan debu atau potongan pakaian pun tidak tersisa.


“Answer my question. Siapa Bos kalian? Ini adalah pertanyaan terakhir dariku. Jika sampai dalam waktu lima menit kalian tidak menjawab, maka jangan harap kalian bisa pergi dari tempat ini,” ucap Seno dengan nada yang sangat dingin.


Ia seolah menjadi orang yang berbeda sekarang. Bahkan Seno terlihat tidak bersalah dan baik-baik saja setelah membunuh seseorang. Jika ini dalam keadaan normal, maka Seno akan merasa sangat bersalah setelah membunuh seseorang untuk pertama kalinya.


Namun sekarang tidak begitu. Keluarganya adalah titik terlemahnya. Jika ada yang menyentuh mereka, bahkan jika itu hanya niatan saja, maka Seno tidak akan membiarkan itu terjadi.


Keempat belas orang itu menatap Seno dengan tatapan takut. Meski mereka kesakitan sekarang, tidak ada satu pun di antara mereka yang bersuara. Entah mengapa melihat teman mereka dibakar hidup-hidup seperti itu membuat suara mereka seolah ikut habis terbakar.


Maka dari itu, ketika Seno memberi kesempatan terakhir untuk mereka mengatakan siapa bos mereka, tidak ada yang bersuara. Meski mereka mau, tetapi suara mereka sudah hilang.

__ADS_1


“Sepertinya kalian memang tidak memiliki niatan untuk membuka suara. Bagus, bagus, bagus sekali. Kalau begitu, kalian akan tetap di sini selamanya. Meski kalian nanti mengatakan siapa bos kalian sekali pun, jangan harap kalian bisa pergi,” ucap Seno setelah waktu yang ia tentukan usai.


“Jasmine, siksa mereka hingga aku mendengar satu nama dari mereka.”


“Eh …. Baik Bos aku akan melaksanakannya. Tetapi Bos, aku tidak paham bahasa yang mereka katakan.”


Dulu ketika Seno meminta mereka, para kelinci, untuk belajar, Seno tidak menambahkan bahasa asing dalam daftar yang mereka pelajari. Oleh karena itu, Jasmine tidak memulai penyiksaannya dari kemarin malam.


Itu akan percuma saja bukan? Menyiksa sampai orang itu hampir mati, tetapi tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Oleh karena itu, Jasmine memilih menunggu hingga pagi untuk memberitahukan hal ini kepada Seno.


“Jangan membuatku mengulang perintah. Laksanakan apa yang aku minta. Jika Kamu memang tidak mengerti apa yang mereka katakan, belajarlah.”


“Ehm …, baiklah Bos akan aku laksanakan dengan baik perintahmu ini,” jawab Jasmine dengan sedikit terbata-bata.


Nada dingin dan tatapan tajam yang Seno berikan kepadanya membuat Jasmine merasa takut. Selama ini Seno tidak pernah menunjukkan sisi kemarahannya yang seperti ini. Meski Jasmine atau yang lain membuat kesalahan, Seno hanya kan menegur. Perkataan Seno dalam menegur pun terdengar lembut bagi mereka yang mendengar.


Namun, sekarang ini Seno seolah menjadi sosok yang sangat menyeramkan. Tidak ada lagi nada suara lembut. Tidak ada lagi senyuman ketika berbicara. Yang ada hanyalah tatapan dingin penuh amarah.


“Baguslah jika Kamu mengerti. Laksanakan tugasmu dengan baik. Siksa mereka sesukamu hingga mereka mengatakan siapa yang mengirim mereka. Lalu, meski mereka sudah mengatakan siapa bos mereka sekali pun, jangan hentikan siksaan mereka. Tetap siksa mereka seperti yang kalian lakukan terhadap Roy.”


“Jika mereka sampai mati pun tidak telalu masalah untukku. Kau bisa bermain-main sepuasnya, dengan mereka setelah apa yang aku minta sudah tersedia Apa Kamu paham?.”


“Paham Bos. Aku janji akan melaksanakannya dengan baik. Aku akan segera menyatakan hasilnya padamu.”


Di sudut gua, Roy dengan tubuh lemasnya langsung merinding. Keringat dingin mengalir di punggung dan dahinya. Ia yang masih memiliki kewarasan masih bersyukur hanya disiksa dan diberikan waktu beristirahat.


Roy tidak menyangka petani yang awalnya ia kira sebagai orang baik hati dan penyabar bisa semarah ini. Untung saja dulu dirinya tidak langsung menyentuh keluarga Seno. Jika dia melakukan hal itu, maka yang menjadi debu bukan hanya laki-laki tadi, dirinya juga akan menjadi abu dengan satu petikan jari dari Seno.


...


rekomendasi, My Husband Is My Secret Lover, by Lady Meilina

__ADS_1




__ADS_2