
Banyak perabot yang dibeli oleh Seno di Informa. Awalnya dia hanya akan membeli kasur, meja belajar dan almari. Pada akhirnya, ia membali perabot lengkap untuk rumah itu. Mulais dari isi ruang tamu hingga isi kamar mandi.
Memang adiknya sedikit protes karena Seno berbelanja terlalu banyak. Tetapi atas bujuk rayunya, akhirnya keduanya tidak lagi menyuarakan portes mereka.
Pada akhirnya Seno menghabiskan uang sembilan puluh juta untuk mengisi rumah yang adik-adiknya sewa. Sebenarnya ada beberapa hal yang ingin Seno tambahkan. Tetapi Anita menolaknya.
“Mas cukup. Ini namanya pemborosan. Masak harga perabotnya lebih mahal daripada harga sewa rumahnya. Kalo emang itu rumah sendiri sih nggak masalah. Itu kan masih nyewa. Entar kalo pindahan juga repot angkat barang sebanyak itu.” Ucap Anita.
“Belum lagi jika nanti aku dan Renata sudah tidak sekolah di kota ini, mau dikemanakan barang-barang sebanyak itu?” Imbuh Anita.
Seno terdiam sesaat mempertimbangkan ucapan adiknya itu. Ucapan Anita memang ada benarnya. Akan dikemanakan barang-barang itu nantinya. Tidak mungkin semua perabot itu di bawa pulang ke rumah mereka yang sekarang.
Perabot di sana sudah lengkap. Tidak ada ruangan lagi untuk menampungnya. Tetapi, hal malah membuat Seno mencetuskan sebuah ide baru untuk adik-adinya.
“Kalau begitu, kita beli saja rumah yang sekarang kalian sewa itu. Dengan begitu, perabot yang ada di sana tidak perlu dipindah nantinya. Lalu, kalian juga nggak perlu pindah kontrakan juga. Lagi pula, Renata nantinya akan kuliah di kampus yang sama denganmu bukan?” Jelas Seno.
“Eh, membelinya?” Tanya Renata yang cukup kaget dengan ucapan Seno.
“Rumah yang kalian sewa juga tidak terlalu jauh dari kampus. Jadi tidak masalah jika kita membelinya. Nanti coba tanyakan hal itu kepada pemilik rumah, berapa harga dari rumah itu jika kita akan membelinya.”
Saat ini ditabungannya ada uang sekitar lima ratus juta. Itu setelah ia mengirimkan sebagian untuk pembangunan gudang. Setelah ini, Seno juga akan mendapatkan uang dari lelang. Itu sekitar seratus juta. Masih ada pihak militer juga yang nanti akan memberinya uang dari pesanan mereka.
Jadi, semisal uang yang sekarang ia miliki masih kurang untuk membeli rumah yang sekarang di sewa adik-adiknya, Seno yakin bulan depan rumah itu sudah berubah kepemilikannya.
“Anggap saja ini sebuah investasi jangka panjang. Nantinya, jika kalian sudah lulus dan tidak ada keinginan tinggal di Kota Y, kita bisa menjual lagi rumah tersebut.” Imbuh Seno.
__ADS_1
“Baiklah akan aku tanyakan hal itu kepada pemilik rumah.” Jawab Anita.
Setelah mengurusi pembayaran Seno mengajak kedua adiknya menuju ke dealer motor. Seno membebaskan adiknya memilih motor yang mereka suka. Sementara adik-adiknya memilih, Seno menunggu sembari duduk di ruang tunggu yang dekat dengan bengkel.
Ketika duduk di sana, tiba-tiba ada seseorang yang mendekatinya. Seno pun mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa itu. Laki-laki itu cukup kaget melihat keberadaan orang yang kini berdiri di depannya ini.
“Hai Seno.”
“Raisa? Ngapain Kamu di sini?” Tanya Seno.
Teryata yang menemuinya adalah Raisa, mantan pacarnya. Seno cukup heran kenapa perempuan itu mendatanginya. Apalagi sebuah senyum menghiasi bibirnya ketika melihat ke arah Seno. Hal itu membuat Seno mengerutkan keningnya.
Pemikiran buruk langsung saja terlintas di benaknya. Tidak mungkin perempuan itu mendatanginya dan tersnyum seperti itu setelah apa yang di katakannya tempo hari di pesta ulang tahun Paul. Pasti ada maksud tersembunyi di balik semua ini.
“Oh.” Jawab Seno datar.
Apa yang dilakukan dan dikatakan Raisa setelah mereka putus membuat Seno tidak bisa bersikap sehangat dulu kepada perempuan itu. Ini saja sudah cukup sopan karena Seno tidak langsung pergi dan meninggalkan perempuan itu ketika diajak bicara.
“Seno, bisakah kita balikan? Aku yakin sekarang Kamu belum punya pacar lagi bukan? Jadi, kita bisa balikan. Pacaran kayak dulu lagi.”
Ini seperti dugaannya. Raisa tidak memiliki maksud baik ketika mendekatinya di sini. Lihat saja dia langsung menunjukkan keinginan aslinya.
“Heh.” Seno mendengus dengan keras. “Balikan? Aku nggak salah dengar?”
“Nggak Kamu nggak salah dengar. Kita balikan yuk. Aku yakin Kamu masih menyukaiku.” Ucap Raisa dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
Perempuan itu yakin Seno masih mencintainya. Selama pacaran dengannya, Seno sering menuruti keingnannya. Jadi, Raisa yakin Seno akan mau pacaran lagi dengannya setelah ia mangajaknya.
Sekarang Seno memiliki uang sebanyak itu. Jelas jika dirinya bersama Seno, nantinya kehidupannya akan jauh lebih baik. Ia akan memanfaatkan Seno dan meminta dibelikan barang-barang mahal kepada laki-laki itu.
“Heh.” Sekali lagi Seno mendengus mendengar ucapan penuh percaya diri dari Raisa.
“Atas dasar apa aku mau balikan denganmu setelah semua yang sudah Kamu katakan padaku? Tidak sudi aku berpacaran lagi denganmu. Kamu hanyalah perempuan yang mengingkan kehidupan nyaman tanpa mau memikirkan hidup susah bersama.”
“Aku yang petani rendahan ini, tidak pantas bersanding dengan Kamu,” ucap Seno sembari menjalankan kedua tanganya dari arah kepala hingga kaki raisa, “yang memiliki kehidupan glamour. Bukankah Kamu sekarang menjadi pacar Kevin? Kamu lebih pantas dengan orang seperti dia.”
“Aku sudah putus dari Kevin.” Jawab Raisa cepat.
“Aku tidak cinta dengan dia. Kamukan masih cinta aku. Aku juga udah nggak masalah dengan Kamu yang seorang petani. Sekarang kita balikan ya?”
“Siapa bilang aku masih mencintaimu? Tidak sama sekali. Aku sudah tidak mencitaimu. Rasa cintaku padamu sudah hilang begitu saja ketika Kamu meninggalkanku.” Ucap Seno sembari menggelengkan kepalanya.
“Aku memang pernah menuruti kemauanmu, tetapi tidak semuanya. Itu aku lakukan hanya karena aku ingin sedikit memanjakan pacarku. Aku tahu Kamu memang tidak mencintai Kevin, tetapi kamu mencintai hartanya. Sekarang pun juga sama. Kamu ingin kembali kepadaku juga karena harta, bukan karena cinta.”
“Kamu jangan lagi berharap kita memiliki hubungan yang sama seperti dulu. Bahkan hubungan pertemanan sekali pun tidak bisa aku lakukan. Jadi, aku mohon kedapannya jika kita bertemu di luar, anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.” Jelas Seno.
Tanpa menunggu respon dari Raisa, Seno pun beranjak dari tempat duduk dan pergi dari sana. Seno sudah tidak lagi mempedulikan Raisa. Perempuan itu hanya masa lalu baginya.
Masih ada Dina dan Miranda yang menungunya memtuskan dengan siapa dirinya akan melanjutkan hubungan. Dua perempuan itu memiliki kepribadian dan sifat yang jauh lebih baik daripada Raisa. Jadi, tanpa Raisa pun hidupnya masih baik-baik saja.
Sekarang Seno akan menemui adiknya. Sepertinya mereka sudah selesai menentukan motor mana yang ingin mereka beli. Ia ingin segera menyelesaikan pembayaran itu dan pergi dari dealer motor ini. Dirinya tidak mau berada di tempat yang sama dengan Raisa.
__ADS_1