
Sebelum pulang, Seno mampir ke sebuah pusat perbelanjaan yang ada di Kota H. Ia tidak lupa untuk membelikan beberapa tablet untuk membantu kelinci-kelinci miliknya belajar.
Kebetulan Sonia membayar lunas kentang yang Anton pesan. Jadi sekarang Seno bisa berbelanja dengan tenang. Saat ini di tabungannya sudah ada uang tiga ratus juta lebih. Kurang dari sebulan Seno sudah memiliki uang sebanyak itu.
Hal ini berbeda sekali dengan nominal saldo yang dimiliki oleh Seno pada bulan lalu yang jarang sekali melebihi lima ratus ribu. Kalau pun pernah, itu pun Seno pakai untuk membayar sewa kosannya. Nominal itu tidak pernah bertahan lama.
Sekarang, nominal puluhan sampai dengan ratusan juta rupiah sudah bertahan lama di rekeningnya. Bahkan jumlah itu semakin bertambah setiap ia menjual sayurannya.
“Mendapatkan sistem memang sudah mengubah takdirku dengan begitu jauh.” Gumam Seno ketika memasuki pusat perbelanjaan tersebut.
Seno langsung menuju ke gerai ponsel yang ada di pusat perbelanjaan tersebut. Sebelumnya Seno sudah melakukan sedikit riset untuk menentukan merek tablet apa yang akan ia berikan untuk kelinci-kelincinya itu.
Pilihan Seno adalah sebuah merek ponsel yang belambang buah tergigit. Meski tablet dari merek itu cukup mahal harganya, tetapi Seno mau mmebelikan produk itu untuk kelinci-kelincinya. Ia tinggal memberikan ancaman saja kepada mereka agar tidak merusak tablet itu.
Sejauh ini, ancaman yang Seno berikan cukup manjur untuk mengontrol para kelinci-kelinci itu. Jadi tidak masalah jika dia tetap melakukan hal ini. Toh dirinya juga tidak pernah berniat menjalankan ancamannya itu jika mereka membuat kesalahan.
Ketika Seno memasuki gerai ponsel tersebut, seorang pelayan toko mendatanginya dengan sebuah senyuman ramah. Ia lalu menanyakan kepentingan Seno di sini.
“Selamat datang Kak. Ada yang bisa di bantu?” Tanya pelayan tersebut kepada Seno.
“Ya, aku ingin mencari Ipad Mbak. Bisa tunjukkan padaku apa saja tipe yang tersedia?” Pinta Seno kepada pelayan tersebut.
Seno bukanlah pengguna setia Apple, jadi dirinya tidak terlalu mengetahui jenis-jenis Ipad terbaru dari merek tersebut. Selama ini, ponsel yang ia gunakan adalah sebuah ponsel Android dengan merek Vivo. Ponsel menenngah yang harganya hanya berkisar dua hingga tiga juta rupiah.
“Baiklah Kak mari ikut saya.” Jawab pelayan toko tersebut.
Seno kemudian mengikuti pelayan toko terebut ke bagian yang memajang beberapa Ipad. Pelayan itu mulai memberi penjelasan kepada Seno mengenai jenis-jenis Ipad yang mereka jual serta keunggulan dari masing-masing tipe.
Di tengah Seno mendengarkan penjelasan itu, seseorang memanggil namanya. Hal itu membuat laki-laki itu menolehkan kepalanya ke arah sumber suara.
__ADS_1
Di sana Seno melihat seorang perempuan yang rambutnya diwarna cokelat. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai bebas.
Di sebelah perempuan itu terdapat seorang laki-laki dengan pakaian trendi. Dari ujung rambut hingga ujung kaki, semua yang dipakai oleh laki-laki itu adalah barang bermerek.
Seno mengenal kedua orang tersebut. Bahkan ia sangat mengenali perempuan yang sekarang ini melangkah ke arahnya itu. Dia adalah Raisa, mantan pacarnya yang sebelum ini memutuskannya karena Seno memilih cuti kuliah dan menjadi petani.
Sedangkan laki-laki yang bersama dengannya itu adalah Kevin, laki-laki tampan yang cukup populer di kalangan perempuan di kampusnya. Seno dan Kevin merupakan teman seangkatan di fakultas yang sama. Tetapi, usia Kevin satu tahun lebih tua daripada Seno.
“Ada apa Kamu kemari Seno?” Tanya Raisa tanpa basa basi.
“Tentu saja beli ponsel. Memangnya Kamu kira aku ke sini mau apa?”
Seno melihat Raisa kini memandangnya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Lalu setelahnya, ia memandang ke arah Kevin yang ada di sebelahnya. Apa yang Raisa lakukan itu seolah tengah membandingkan antara Seno dan Kevin.
Seno sadar diri. Jelas ia kalah dari Kevin jika dibandingkan seperti itu. Dari segi wajah, ia tidak kalah dengan Kevin. Malah bisa dibilang Seno lebih unggul karena badannya lebih tinggi beberapa senti dari Kevin.
Tetapi secara keseluruhan Seno kalah dari laki-laki itu. Pakaian yang Seno pakai hanyalah pakaian yang biasa dibeli dipedagang kaki lima, sedangkan pakaian Kevin adalah pakaian bermerek.
Seno sendiri tidak tahu apa hubungan Raisa dengan Kevin sehingga mereka terlihat bersama. Seno tidak mau berspekulasi apa pun atas hubungan keduanya.
“Apakah Kamu punya uang untuk membelinya? Kamu kan hanya seorang petani.” Ucap Raisa.
Seno mengerutkan keningnya setelah mendengar perkataan Raisa barusan. Ia tidak menyangka Raisa akan merendahkannya dengan berkata seperti itu.
Sebelumnya ia merasa Raisa memutuskannya karena perempuan itu berpikir rasional. Seno dengan keadaan saat itu jelas tidak bisa memberikan harapan bagus untuk Raisa kedepannya.
Tanggungan dua orang adik, pendapatan pas-pasan, tidak banyak perempuan yang mau dengan laki-laki seperti itu. Jadi Seno memaklumi keputusan Raisa yang meminta putus darinya. Itu hal yang cukup wajar menurut Seno. Sayangnya, pemikiran Seno itu langsung berubah setelah mendengar ucapan Raisa tadi.
Sekarang, tanpa spekulasi pun Seno sudah tahu hubunganRaisa dengan Kevin adalah pasangan kekasih. Lihat saja Raisa langsung memegang lengan Kevin dengan mudahnya.
__ADS_1
Bisa jadi juga, alasan yang diberikan Raisa untuk meminta putus dengannya bukanlah alasan sebenarnya. Yang sebenarnya terjadi adalah, Raisa ingin memiliki kekasih yang berasal dari kalangan orang berada.
Untung saja dirinya sudah putus dari perempuan ini. Jika tidak, sampai sekarang pun ia tidak akan pernah tahu sifat asli perempuan ini.
“Kamu kira seorang petani tidak memiliki uang sepeser pun untuk membeli ponsel baru? Aku tidak menyangka Kamu akan merendahkan profesi seorang petani seperti itu. Apakah Kamu nggak tahu kalau kamu bisa makan tiap hari juga karena jasa petani. Jadi jangan pernah merendahkan orang lain.”
Percakapan di antara mereka memang tidak terlalu keras, tetapi keadaan di toko ponsel saat itu cukup ramai, jadi banyak yang mendengar percakapan mereka itu.
Langsung saja beberapa orang yang ada di sana terlihat memandang Raisa dengan tatapan tidak suka. Perkataan Raisa dinilai kasar oleh sebagian orang yang ada di sana.
Menurut mereka, apa pun pekerjaan seseorang, asalakan itu bukan pekerjaan yang melanggar hukum dan merugikan orang lain, tidak pantas untuk dipandang sebelah mata seperti itu.
Di antara beberapa pengunjung toko itu, terdapat seorang ibu-ibu yang memakai dress bermotif bunga. Ditangan ibu-ibu itu, terdapat sebuah tas dari merek ternama di Eropa. Ibu-ibu itu memandang raisa dengan tidak suka.
“Mbak ini cantik, tetapi perkataan Mbak sama sekali nggak ada cantik-cantiknya. Mas ini hanya melihat-lihat ponsel di sini. Perkara dia punya uang buat beli atau nggak, itu bukan urusan Mbak bukan? Toh Mas ini juga nggak sedang nyuri. Tapi kenapa Mbak ini berkata kasar seperti itu.” Ucap ibu-ibu itu.
Beberapa orang yang ada di sana pun terdengar turut memberikan dukungan mereka kepada opini yang baru saja dilontarkan oleh ibu-ibu itu.
Diserang dari berbagai sisi membuat Raisa merasa sangat malu sekarang. Wajahnya berubah merah seperti kepiting rebus. Melihat hal itu, Kevin buru-buru menarik Raisa pergi dari sana. Laki-laki itu pun sama malunya dengan Raisa.
Kevin tidak mau berlama-lama di sana. Ia tidak mau wajahnya terpampang di sosial media karena kejadian hal ini. Tadi Kevin melihat beberapa orang mengeluarkan ponsel mereka untuk merekam kejadian ini. Jadi sebelum semua terlambat Kevin memilih pergi dari sana.
Setelah kedua orang itu pergi, Seno masih bisa mendengar gerutuan beberapa orang di sana. Mereka mengumpati Raisa dan Kevin sebagai pasangan yang tidak tahu malu. Bukannya meminta maaf atas kesalahan yang mereka lakukan, keduanya malah kabur seperti itu.
“Terima kasih ya Bu.” Ucap Seno kepada perempuan yang tadi membantunya dalam menghadapi Raisa.
Sebenarnya, tanpa bantuan dari ibu ini pun Seno masih bisa mengatasi Raisa dan Kevin. Tetapi, karena ibu-ibu ini sudah membantunya, sudah sepatutnya Seno berterima kasih kepadanya.
“Tidak masalah anak muda. Aku sangat tidak menyukai orang seperti perempuan tadi. Selalu menganggap orang lain berada di bawah mereka. Padahal, roda takdir itu selalu berputar, mereka yang sekarang di atas, bisa sewaktu-waktu jatuh ke titik terendah mereka.” Ucap ibu itu.
__ADS_1
Seno cukup menyetujui ucapan ibu ini. Kita memang perlu memperlakukan orang lain dengan perlakuan yang ingin kita dapatkan. Entah kedudukan orang itu lebih rendah dari kita atau lebih tinggi dari kita. Perlakukan semuanya dengan penuh sopan santun.
Ada kemungkinan orang yang lebih rendah posisinya dengan kita sekarang, mereka akan naik jauh lebih tinggi dari kita. Jika sebelumnya kita memperlakukan orang itu dengan baik, maka ada kemungkinan orang itu akan membantu kita naik ke tingkat yang lebih tinggi pula.