
“Ayah.”
Sebuah panggilan membuat Seno menghentikan apa yang ia lakukan bersama dengan ketiga anaknya. Meski suara panggilan itu tidak keras, tetapi dengan pendengarannya yang tajam, Seno bisa menangkap panggilan itu.
Hal itu membuat Seno yang sebelumnya terbang berputar-putar di udara, mengalihkan padangannya ke arah sumber suara. Di dekat pintu masuk dimensi, Seno bisa melihat Dina dan Miranda yang tengah menggendong anak kecil Dina menggendong anak laki-laki, sementara Miranda menggendong seorang anak perempuan.
Seno bingung anak siapa yang mereka gendong dan diajak masuk ke dalam dimensi. Ia akan mendapatkan jawabannya setelah dirinya mendekati mereka. Seno pun membawa ketiga anaknya menuju Dina dan Miranda.
Mereka saling pandang beberapa saat sebelum kemudian Seno menyapa keduanya. “Aku pulang. Maaf telah membuat kalian menunggu terlalu lama,” ucap Seno dengan mata yang memerah.
Seno bisa melihat bahwa kedua istrinya sedikit berubah sekarang. Tubuh mereka semakin berisi jika dibandingkan mereka yang ada di ingatannya. Bagi Seno hanya delapan jam berlalu. Namun, keduanya sudah berubah seperti ini.
Mendengar ucapan Seno, Dina dan Miranda langsung berhambur memeluk Seno. Untung saja Seno memiliki tubuh yang kuat. Jadi, tubuhnya tidak goyah sedikit pun ketika Dina dan Miranda menjatuhkan tubuh mereka ke arahnya. Jika ia tidak kuat, sudah jelas mereka semua akan terjatuh di tanah. Termasuk anak-anak mereka.
“Hampir empat tahun … hampir empat tahun kamu pergi ….” ucap Dina yang sekarang mulai terisak di pelukan Seno.
Hati Seno terasa tersayat-sayat mendengar suara Dina yang sesenggukan. Ia semakin merasa bersalah sekarang. “Maafkan aku. Setelah ini aku tidak akan pergi lama lagi. Semua sudah berakhir,” ucap Seno lirih.
Tugasnya hanya membereskan dimensi-dimensi yang ada di Asia Tenggara. Sementara yang lain, sudah ada orang lain yang mengurusi. Jadi setelah ini waktu Seno hanya akan ia habiskan bersama dengan keluarganya.
“Ini pasti sangat berat untuk kalian berdua. Maafkan aku yang sudah membuat kalian kesusahan selama hampir empat tahun ini,” ucap Seno dengan mata berkaca-kaca.
“Jangan pernah lagi pergi lama. Jika Ayah melakukannya lagi, maka ketika Ayah pulang nanti, Ayah akan kehilangan kedua istri Ayah yang cantik ini. Selama tiga tahun lebih ini, ada beberapa orang yang mencoba mendekati kami. Berharap kami bercerai denganmu dan menikahi mereka,” ucap Miranda.
“Mana mungkin aku membiarkan itu terjadi. Sekarang aku sudah kembali, jadi aku tidak akan memberikan mereka kesempatan untuk mendekati kalian. Aku jamin itu.”
__ADS_1
Untung ini hanya tiga tahun lebih. Seno tidak akan bisa membayangkan jika ia pergi selama lima tahun, sepuluh tahun, atau bahkan lebih dari itu. Jika itu terjadi, Seno akan benar-benar kehilangan kedua istrinya.
“Tenang saja. Kami masih cinta Ayah. Jadi, mereka tidak akan kami beri kesempatan lebih.”
“Bunda, bisakah kalian berhenti mengobrol? Aku terjepit di antara kalian. Edwin dan Aliska juga pasti tidak nyaman sekarang,” protes Elina.
Suara protes Elina itu menyadarkan kiga orang Dewasa yang sedang berpelukan itu. Mereka langsung memisahkan diri. Seno pun menurunkan ketiga anak yang ada di gendongannya. Barulah sekarang Seno bisa melihat dengan jelas wajah dua anak yang bersama dengan Dina dan Miranda. Sedari tadi, fokus Seno hanya pada Dina dan Miranda.
“Siapa anak ini?” tanya Seno. Wajah anak perempuan yang ada di gendongan Miranda memiliki kemiripan dengan ibu mertuanya, ibu Miranda. Lalu, anak laki-laki yang ada di gendongan Dina, sangat mirip dengan ayah mertuanya, ayah Dina.
Sebelum pergi, kedua istrinya tengah hamil besar. Sekarang, setelah ia kembali, kenapa ada tambahan dua orang anak? Tidak mungkin bukan mereka bisa hamil tanpa Seno. Jadi, siapa kedua anak ini? Kenapa mereka memiliki kemiripan dengan kedua istrinya? Apa ini anak keluarga mereka?
“Mereka adalah anak kita, Ayah. Edwin dan Aliska,” jawab Dina yang sekarang menghapus bekas air matanya.
“Anak kita? Tapi, bagaimana mungkin. Aku ….”
“Inseminasi buatan?” tanya Seno heran.
Seno tidak menyangka kedua istrinya akan melakukan hal ini. Memangnya kenapa? Bukankah mereka sudah memiliki anak? Dina dan Miranda tidak perlu melakukan hal ini, bukan? Apalagi anak mereka masih kecil.
“Kami terpaksa melakukan hal ini. Mereka yang mendekati kami tidak mau menyerah dan pergi begitu saja. Jadi, kami harus melakukan hal ini. Ayah nggak marahkan?” tanya Dina sembari menatap lekat ke arah Seno. Ia ingin melihat perubahan ekspresi yang terjadi pada Seno. Apakah suaminya akan marah dengan yang ia lakukan?
Namun, bukannya kemarahan yang terlihat di wajah Seno. Yang terlihat justru ekspresi kesedihan. Seno bahkan meneteskan air matanya sekarang. Ini benar-benar di luar dugaan Dina.
“Aku sudah sangat mengecewakan kalian. Kalian berdua sampai melakukan hal ini untuk melindungi diri. Aku bukan suami yang baik.”
__ADS_1
“Ini bukan salahmu, Ayah. Ini pilihan kami sendiri, Ayah. Jadi, jangan menyalahkan dirimu atas pilihan kami. Sekarang kita hentikan saja semua kesedihan ini. Lebih baik kita isi pertemuan kita setelah sekian lama dengan senyuman. Ayo kita ke rumah. Aku akan memasakkan makanan untuk Ayah. Sudah lama aku tidak memasak untuk Ayah,” ucap Miranda.
Seharian Seno menghabiskan waktunya bersama dengan keluarganya. Ia mengajari Elina, Elvina, dan Adelard cara untuk terbang. Selama ini, sayuran ajaib yang dikonsumsi oleh anak-anaknya hanyalah sayuran yang bisa membuat tubuh mereka semakin sehat saja.
Untuk sayuran yang bisa memberikan mereka kemampuan lebih, Dina dan Miranda tidak memberikan sayuran semacam itu. Ini karena mereka tidak bisa selalu mengawasi ketiganya dalam menggunakan kekuatan itu.
Lalu sekarang, ketika Seno kembali, ia memberikan sayuran semacam itu kepada kedua anaknya. Ia akan mengajari mereka apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dengan kekuatan yang mereka miliki. Ia yakin dengan bimbingan yang tepat, mereka tidak akan pernah salah jalan.
“Akhirnya anak-anak tidur juga,” ucap Seno.
Saat ini Seno, Dina, dan Miranda berada di atas ranjang. Mereka akhirnya memiliki waktu untuk mengobrol sendiri tanpa perlu didengar oleh anak-anak mereka.
“Mereka sangat aktif sekali hari ini. Dengan adanya Ayah, mereka seperti tidak tahu apa itu lelah.”
“Aku rasa beberapa hari ke depan mereka akan seperti itu terus, Mbak. Mereka masih ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan ayah mereka. Sekarang, kita sebagai bunda mereka sudah tersisihkan.”
“Sepertinya, Bunda merasa iri dengan anak-anak ya? Sekarang, aku juga akan bermain dengan kalian sampai merasa lelah. Dengan begini, kalian tidak akan protes karena aku tidak memperhatikan kalian bukan?”
“Jadi, apa kalian mau bermain denganku?” tanya Seno yang sekarang menunjukkan sebuah seringai.
“Siapa takut. Selama tiga tahun ini, aku selalu berolahraga rutin. Staminaku sekarang sudah meningkat pesat. Jadi, aku bisa bermain lebih lama dengan Ayah,” ucap Miranda.
“Aku juga begitu. Kami berdua memiliki teknik baru yang bisa memeras Ayah hingga habis. Bersiaplah, Ayah,” imbuh Dina.
Setelahnya, kamar yang awalnya diisi oleh suara obrolan suami istri, sekarang sudah tergantikan dengan suara erangan dan terikan kenikmatian yang saling bersahutan. Seno memilih menjadi pihak yang pasif dan membiarkan kedua istrinya melakukan apa pun pada tubuhnya.
__ADS_1
Seno hanya tidur terlentang, sementara itu Dina dan Miranda meliuk-liukkan tubuh mereka di atas tubuh Seno. Pernyataan keduanya yang mengatakan bahwa mereka akan menguras habis Seno, ternyata ucapan mereka ada benarnya.
Seno tidak pernah merasa sepuas ini ketika bermain dengan kedua istrinya. Mungkin ini karena tubuh mereka terlihat lebih berisi di bagian yang tepat. Jadi, itu menambah kenikmatan yang Seno rasakan.