
Seno sudah menunggu lebih dari lima belas menit dengan anak buahnya yang lain. Tetapi, tim pengintai yang ia kirim belum juga kembali. Jika dimensi ini tidak memiliki perbedaan waktu yang besar. Maka Seno masih bisa tenang meski pun anak buahnya pergi lama.
Sayangnya, setiap detik di dimensi ini begitu berharga. Seno belum pernah benar-benar menghargai setiap detik waktunya seperti sekarang. Sedari tadi ia hanya mondar mandir sembari menunggu sabar.
“Bos, tenanglah. Aku yakin tim pengintai yang kita kirim akan kembali sebentar lagi,” ucap Azkareia yang mendekati Seno.
“Tetapi mereka lama sekali,” ucap Seno penuh kecemasan.
“Iya, Bos. Ini sudah lima belas menit. Aku yakin mereka sedang dalam perjalanan kembali,” ucap Tiarsus mencoba menenangkan Seno. Ia tahu Seno ingin segera menyelesaikan urusan di sini dan kembali ke keluarganya.
Tidak lama setelah Tiarsus berucap demikian, terdengar suara langkah kaki yang bergerak menuju ke arah mereka. Hal ini membuat Seno dan anak buahnya yang lain langsung masuk ke dalam mode bertarung.
Mereka tidak tahu siapa yang datang sekarang. Bisa jadi itu adalah tim pengintai yang kembali, tetapi bisa saja itu adalah makhluk penghuni dimensi ini. Siapa pun itu yang datang, mereka harus benar-benar bersiap untuk kemungkinan terburuk.
“Bos aku menemukan sesuatu,” ucap orang yang baru saja datang. Ternyata yang datang adalah salah seorang dari tim pengintai kembali ke rombongan Seno.
“Apa yang sudah Kamu temukan?” tanya Seno penuh antisipasi.
“Sebuah perkampungan. Aku menemukan sebuah perkampungan beberapa kilometer dari tempat kita berada. Yang lain masih mengawasi perkampungan tersebut sementara aku melapor padamu, Bos,” lapor anggota tim pengintai.
“Perkampungan?” tanya Seno heran. Selama ini, anak buahnya selalu menyebut tempat tinggal makhluk penghuni dimensi dengan sebutan sarang. Tetapi kenapa mereka menyebutnya sebagai sarang. Jadi, kenapa anak buahnya sekarang menyebutnya sebagai perkampungan.
“Apakah Kamu yakin itu adalah perkampungan? Kenapa pula Kamu menyebutnya sebagai perkampungan dan bukan sarang?” tanya Seno ingin memastikan.
“Ini adalah perkampungan, Bos. Aku melihat cukup banyak rumah-rumah dari kayu dan batu yang berjajar rapi. Ini terlihat seperti perkampungan. Kemungkinan besar, makhluk penghuni dimensi ini peradabannya sudah lebih maju daripada makhluk penghuni dimensi lainnya.”
“Lalu, makhluk penghuni dimensi ini memiliki wujud sama persis seperti manusia Planet Bumi, Bos. Hanya saja mereka memiliki empat tangan dan sebuah tanduk kecil di kepala. Selain itu, semua mirip manusia,” jelas anggota tim pengintai.
“Seperti itu rupanya. Kalau begitu, bawa kami ke sana,” pinta Seno.
“Baik, Bos.”
Seno dan yang lain langsung berlari berlari mengikuti anggota tim pengintai. Mereka bergerak cukup cepat. Meski begitu, kewaspadaan mereka tidak juga menurun. Semua mengedarkan pandangan untuk melihat apakah di sekitar mereka ada bahaya atau tidak.
__ADS_1
Dalam waktu tujuh menit, Seno dan yang lain kembali bergabung dengan tim pengintai. Mereka sekarang berada di atas pohon dan menatap ke arah bawah. Seno dan yang lain pun ikut naik ke atas pohon dan memandang ke bawah.
Seno sedikit tertegun melihat pemandangan dari atas pohon. Ternyata, ucapananggota tim pengintai yang tadi melapor sama sekali tidak salah. Di bawah sana Seno bisa melihat adanya perkampungan. Perkampungan tersebut terdiri atas dua puluhan rumah. Setengah bangunannya terbuat dari batu sementara setengahnya lagi terbuat dari kayu.
Jelas, makhluk penghuni dimensi ini memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi. Bisa jadi, peradaban yang diselamatkan oleh Ratu Leleisa di dimensi ini merupakan peradaban yang cukup maju. Hal ini membuat Seno memiliki harapan tinggi.
Jika makhluk penghuni dimensi ini memiliki kecerdasan yang cukup tinggi, maka ia bisa mendiskusikan semuanya dengan pemilik inti dimensi. Seno tinggal bernegosiasi dan menawarkan beberapa keuntungan untuk mereka. Jika bisa menang tanpa bertarung, kenapa tidak?
“Bagaimana kekuatan dari orang-orang ini?” tanya Seno.
Ia melihat beberapa orang dengan tangan empat tengah beraktivitas di perkampungan. Dari pengamatannya, kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan anak-anak. Mereka memang sama persis seperti manusia di Bumi.
“Bos, kami belum mengetahuinya. Kami masih menunggu perintah darimu. Mereka belum menyerang kami. Jadi, tidak ada satu pun di antara kami yang menyerang duluan,” lapor salah satu anak buahnya.
“Kalau begitu kita turun. Kita datangi perkampungan itu. Aku berharap mereka bisa diajak berdiskusi. Kalian semua, tetap tingkatkan kewaspadaan kalian. Jangan ada yang lengah.”
“Baik, Bos," ucap anak buah Seno secara bersamaan.
Seno kira, makhluk penghuni dimensi ini akan langsung menyerang setelah melihat kedatangan rombongannya. Namun, tidak ada serangan yang dilayangkan kepada Seno dan yang lain. Tatapan waspada atau pun tatapan tidak suka, juga tidak terlihat dari wajah mereka.
Hal ini membuat Seno merasa heran. Selama ini dirinya sellau mendapatkan serangan. Sekarang sambutan yang ia terima justru tenang sekali seperti ini. Seno justru menangkap ekspresi penasaran dari wajah makhluk penghuni dimensi ini.
Seno dan makhluk penghuni dimensi ini hanya saling bertatapan beberapa saat. Kemudian, dari kerumunan makhluk penghuni dimensi ini, muncul seorang laki-laki tua. Tangannya berjumlah enam, tidak seperti yang lain yang hanya empat.
Laki-laki itu memliki warna kulit sawo matang, layaknya kulit orang Asia Tenggara. Rambutnya keriting dan di kepang sedemikian rupa. Beberapa tato juga memenuhi wajah laki-laki itu, sangat berbeda dengan yang lain yang memiliki wajah bersih.
Kedatangan laki-laki ini membuat Seno semakin waspada. Pasalnya, dari cara yang lain memperlakukan, laki-laki ini sepertinya memiliki kedudukan yang cukup tinggi di kelompok ini. Jadi, Seno tidak bisa semudah itu meremehkan laki-laki ini.
"Aku tidak menyangka tempat kita kedatangan orang asing sepertimu," ucap laki-laki tua bertangan delapan itu.
"Apakah Kau pemilik dimensi ini?" tanya Seno tanpa basa-basi. Ia tidak memiliki waktu banyak hanya untuk sekadar berbasa-basi dengan laki-laki ini. Jika bisa dibicarakan langsung pada intinya, untuk apa mengobrol berputar-putar.
Laki-laki tua bertangan delapan itu tidak langsung menjawab pertanyaan Seno. Ia justru memandang Seno dari atas hingga ke bawah. Semenjak kedatangannya, laki-laki tua bertangan delapan itu memperhatikan Seno, bukan yang lain. Ia seolah tahu bahwa Seno adalah pemimpin dari kelompok ini.
__ADS_1
"Oh ... rupanya Kau adalah orang yang ingin menjadi penguasa dimensi ini. Kebetulan sekali, sekarang ini di Kota Baines sedang didakan kompetisi untuk memperebutkan posisi terkuat. Siapa pun yang menjadi pemenangnya, bisa menantang Sosirone untuk mengambil alih dimensi ini, dari dia."
"Aku tidak menyangka bahwa orang asing seperti kalian tertarik untuk memperebutkan posisi pemilik dimensi. Padahal, menjadi pemilik dimensi tida sepenuhnya menyenangkan."
"Eh ... kompetisi untuk memperebutkan inti dimensi?"
"Ya, itu adalah tradisi di dimensi ini, dimensi yang menjadi pecahan Planet Baines. Semua orang memiliki kesempatan untuk mendapatkannya. Jika kalian mau, datang saja ke Kota Baines. Aku bisa meminta seseorang mengantar kalian ke sana. Kompetisi itu akan diadakan besok. Jadi, kalian harus segera ke sana sebelum langit menggelap agar bis mendaftarkan diri," jelas laki-laki tua bertangan delapan itu.
Seno tidak menyangka bahwa ada kompetisi untuk memperebutkan inti dimensi. Lalu, semua orang di sini bisa menjadi calon pemilik dimensi. Tidak seperti dimensi lain yang pemiliknya adalah anak mantan pemimpin kelompok.
Meski sudah mengetahui kabar ini, Seno tidak langsung menyetujui tawaran laki-laki tua bertangan delapan ini. Bagaimanapun juga, ia baru bertemu dengannya. Ini adalah tempat asing. Jadi, Seno harus bersikap waspada akan semuanya.
[Host ikuti saja saran dari laki-laki tua ini]
[Sistem tidak mendeteksi niatan jahat dari laki-laki ini]
"Apa Kamu yakin, Sistem?" tanya Seno kepada Sistem. Masih ada keraguan dalam diri Seno.
[Ya, Sistem sangat yakin, Host]
[Sistem rasa, jika Host sampai telat datang ke acara, maka Host akan menghadapi lebih banyak orang dalam memperebutkan inti dimensi]
[Peradaban di sini lebih maju dibandingkan dimensi yang Host kunjungi]
[Jadi, ada kemungkinan pemilihan pemilik dimensi ini dilakukan secara rutin]
[Lebih baik Host selesaikan semuanya sekarang, daripada menunggu lagi lebih lama]
[Lagipula, Host sudah sampai di sini bukan?]
Ucapan Sistem ada benarnya. Ia tidak mengetahui sepenuhnya kekuatan dari dimensi ini. Ia bisa datang dan mengikuti kompetisi itu. Jika nanti dirinya menang utu tidak akan menjadi masalah. Jika dirinya kalah, setidaknya Seno bisa memperkirakan kekuatan dimensi ini dan melihat apakah dia bisa menang.
Ada pepatah mengatakan bahwa kita tidak bisa memukul orang yang tersenyum. Orang-orang ini tidak memperlihatkan ketidak sukaan mereka. Mereka bahkan menyambut Seno dengan senyuman. Jadi, dia tidak bisa memukul mereka begitu saja bukan?
__ADS_1