
Seno mengawasi sebentar kerja buruh tani yang sekarang mengemas sayurannya. Meskipun mereka sedikit lambat dalam mengemasnya, tetapi itu tidak menjadi masalah untuk Seno. Ini adalah pertama kalinya mereka melakukan pekerjaan seperti ini. Jadi cukup wajar jika mereka sedikit lambat dalam mengemas.
“Pak Romi, tolong awasi semuanya ya. Aku perlu ke luar kota untuk mengirimkan sayuran lainnya.” Jelas Seno kepada Romi.
Romi adalah salah satu petani yang sudah bekerja bersama dengan mendiang orang tuanya. Seno mempercayakan Romi sebagai pengawas pekerja di rumahnya.
Seno sekarang perlu mengirimkan kentang kepada Anton. Tidak hanya itu saja, Seno juga perlu membeli beberapa tablet untuk kelinci-kelinci miliknya.
Jadwalnya cukup padat sekarang. Jadi, Seno tidak bisa mengawasi para pekerja ini sekarang. Meamang adik-adiknya akan pulang dari Kota Y hari ini. Tetapi mereka baru akan sampai sore nanti. Jadi, untuk sekarang perlu ada yang mengawasi pekerja lainnya.
“Tentu saja Mas. Aku akan mengawasi mereka dengan baik.” Jawab Romi.
Gaji yang diberikan oleh Seno cukup banyak untuk buruh tani ini. Tentu mereka berkerja dengan giat. Biasanya, seorang buruh tani mendapatkan upah delapan puluh hingga seratus ribu per harinya. Tetapi, Seno memberikan mereka gaji seratus dua puluh lima hingga seratus lima puluh ribu.
Lalu, pekerjaan yang Seno berikan tidak terlalu berat. Mereka hanya perlu duduk dan mengemas sayuran saja.
….
Alamat yang diberikan oleh Anton adalah sebuah rumah yang cukup besar. Kemungkinan rumah ini adalah rumah yang akan Anton pakai untuk memproduksi keripik kentang itu. Tidak lama setelah Seno menghentikan mobil box yang ia sewa, seorang perempuan terlihat keluar dari dalam rumah itu.
Sepertinya ia beberapa tahun lebih tua daripada Seno. Rambutnya berwarna pirang, meski wajahnya sangat lokal sekali, terlihat jika itu adalah hasil pewarnaan. Rambut tersebut ia kucir satu dengan sebuah jepit rambut berwarna merah muda menjepit poninya agar tidak berantakan.
Meski begitu, beberapa anak rambut masih saja terlihat bergelantungan tidak terjepit oleh jepitan rambut. Sebuah kacamata yang juga berwarna merah muda terlihat menutup mata indahnya.
Seno langsung mengambil kesimpulan bahwa perempuan itu adalah penggila warna merah muda setelah melihat kaos, celana pendek, serta sandal jepit yang ia pakai.
Dari segi tubuhnya, Seno langsung memberi nilai sembilan pada perempuan ini. Lekukan badannya sempurna. Tidak ada lemak berlebihan yang terlihat pada tubuh perempuan itu.
Wanita itu memasang wajah yang cukup serius ketika berjalan mendekat ke arah Seno. Ia memandang Seno dari ujung kepala hingga ujung kaki. Seakan ia melakukan hal yang sama seperti yang Seno lakukan sebelumnya, sebuah penilaian.
“Apakah Kamu yang bernama Seno itu?” Tanya perempuan itu dengan suara datarnya.
Perempuan ini terkesan dingin menurut Seno. Jika saja ia mau tersenyum sedikit dan berbicara dengan nada ramah, pasti Seno akan menaikkan nilainya menjadi sembilan koma lima. Sayangnya, karena sikap dinginnya itu, nilai perempuan itu di mata Seno turun menjadi delapan koma tujuh.
Meski begitu, perempuan ini cukup cantik. Menurut Seno, perempuan seperti dia cocok sekali menjadi seorang pemain utama perempuan dalam sebuah novel. Peran yang cocok adalah seorang CEO perempuan yang digandrungi oleh banyak laki-laki di sekitarnya.
Mungkin karena terlalu banyak membaca novel berbagai genre membuat Seno memiliki pemilikiran seperti ini. Seno buru-buru menghapus imajinasinya itu dan kembali fokus pada pembicaraannya dengan perempuan ini.
__ADS_1
“Ya itu aku. Mbak ini siapanya Anton ya?” tanya Seno memastikan.
Perempuan itu mengulurkan tangannya kepada Seno. Mau tidak mau Seno menyambut uluran tangan tersebut.
“Perkenalkan namaku Sonia. Kakak dari Anton.” Ucap perempuan itu memperkenalkan diri.
Setelah mendengar ucapan Sonia, Seno baru melihat adanya sedikit kemiripan antara perempuan itu dan Anton. Jadi, Seno mempercayai ucapannya.
“Jadi Kamu sekarang sudah membawa kentang-kentang itu?”
“Ada di belakang.”
Setelah berucap demikian, Seno berjalan ke arah bagian belakang mobil box. Di dalam situ, terdapat beberapa kardus yang memiliki label “Petani Hebat” dengan beberapa gambar sayuran. Itu adalah merek yang Seno buat untuk produknya ini.
“Lima ribu kentang. Aku memberi bonus lima puluh kentang untuk Mbak Sonia.” Jawab Seno sembari mengambil sebuah kardus yang ada di sana dan membukanya.
Di dalam sana, terdapat beberapa kentang yang terlihat bersih tanpa ada bekas tanah sama sekali. Ukuran dan bentuk dari setiap kentangnya pun seragam. Tidak ada perbedaan sama sekali.
Sonia lalu mengambil beberapa kentang dan mencoba membandingkan satu sama lain. Melihat hal itu, Seno dengan cekatan membuka kardus kedua dan membiarkan Sonia membuat sebuah perbandingan terhadap kentang-kentang yang ada di sana.
“Baiklah kalau begitu bantu aku menurunkan semua ini dan bawa masuk ke dalam.” Jawab Sonia datar.
Ini cukup mudah bagi Seno. Meski melelahkan tetapi ini tidak akan membuat nafasnya memendek setelah mengangkat semua ini. Latihan rutin yang dilakukannya di pagi hari sudah membantu memperkuat tubuhnya ini.
Ada lima puluh kardus berisi kentang yang Seno bawa. Setiap kardusnya memiliki berat lima belas kilogram. Meski tubuh Seno semakin kuat sekarang, tetap saja dirinya tidak bisa membawa banyak kentang-kentang tersebut.
Untung saja dirinya membawa alat bantu untuk memindahkan kardus-kardus ini. Seno hanya perlu menumpuk kardus berisis kentang itu menjadi lima tumpukan di atas troli dan membawanya ke tempat yang ditunjukkan oleh Sonia.
Seperti dugaan Seno, rumah ini akan menjadi rumah produksi dari kentang-kentang tadi. Itu karena ketika Seno masuk ke dalam, ia melihat adanya beberapa alat untuk membuat keripik. Seperti pemotong kentang, penggorengan, serta mesin peniris minyak.
“Taruh saja semua kentang itu di sini.”
“Oke Mbak.”
Seno lalu menaruh kelima kardus tersebut ke tempat yang ditunjuk Sonia. Ia lalu kembali mengambil kentang-kentang yang lainnya.
Setelah memindahkan kentang-kentang tersebut, barulah Seno kembali mencari keberadaan Sonia. Perempuan itu tadi pergi setelah menunjukkan lokasi penyimpanan kentang tadi. Jadi, Seno perlu mencarinya sekarang.
__ADS_1
“Apakah semuanya sudah selesai?” Sebuah suara yang datang dari arah belakangnya, cukup mengagetkan Seno.
“Ah, Mbak Sonia mengagetkan saja. Aku baru saja akan mencari keberadaan Mbak Sonia.” Ucap Seno sembari mengelus dadanya pelan.
“Semua sudah aku taruh di sini Mbak. Nggak ada yang kurang.” Lapor Seno.
“Kalau begitu, berikan nomor rekeningmu padaku. Aku akan membayar kentang-kentang ini padamu.”
Seno langsung menyebutkan nomor rekeningnya itu kepada Sonia. Ia sudah cukup hafal dengan nomor rekeningnya itu.
Tidak lama setelah itu, Seno mendapatkan sebuah pemberitahuan di ponsel miliknya. Seno yakin itu adalah pemberitahuan dari M-banking miliknya.
[Nasabah yang terhormat! Dana sebesar Rp 125.500.000,- telah masuk ke rekening Anda]
“Eh kenapa sudah dibayar lunas semuanya? Kenapa juga ini ada tambahan lima ratus ribu di belakangnya?” Tanya Seno sembari memandang ke arah Sonia.
“Meski Kamu sudah mengatakan bahwa kami bisa membayar setengahnya dulu, tetapi itu bukan kebiasaanku untuk berhutang kepada orang lain. Apalagi hutang sebanyak itu.” Jelas Sonia.
“Lalu, uang lima ratus ribu itu adalah uang transport yang aku berikan karena Kamu sudah mengirimkan kentang-kentang itu ke tempat kami.” Imbuh Sonia.
Ini sama saja dengan Seno tidak perlu membayar Sewa kendaraan berserta bensinya. Sonia sudah membayarkan hal itu dengan uang lima ratus ribu ini.
“Terima kasih kalau begitu Mbak Sonia. Jika Mbak Sonia ingin pesan kentang lagi, jangan sungkan-sungkan untuk menghubungiku.”
“Tentu saja. Jika bisnis kecilku ini berjalan sesuai dengan rencana, maka aku akan memesan lebih banyak lagi kentang seperti itu padamu.” Jelas Sonia.
“Aku tidak akan membuat janji bahwa aku bisa memenuhi semua pesanan Mbak Sonia nantinya. Tetapi, aku akan berusaha sebaik mungkin agar bisa memenuhi pesanan Mbak Sonia.” Jawab Seno.
Semakin lama, sayuran yang dikebunnya semakin beragam. Kedepannya jelas ia tidak bisa menanam kentang dalam julah banyak. Lahan kebunnya pasti akan dipakai untuk menanam sayuran yang lainnya. Jadi Seno tidak menjanjikan apa pun kepada Sonia.
“Mbak Sonia tahu sendiri bukan bahwa kentang itu memiliki mafaat yang cukup hebat. Cukup sulit untuk menanam varietas kentang jenis ini. Jadi, jumlah yang ditanam pun tidak bisa banyak seperti sayuran pada umumnya. Ada kemungkinan juga harga dari kentang ini akan naik suatu hari nanti.” Jelas Seno.
Jika bisnis keripik kentang ini berjalan lancar dan produk mereka banyak diminati masyarakat, sudah jelas Seno perlu menaikkan harga dari kentangnya. Dirinya sudah cukup baik memberikan harga dua puluh lima ribu per buah kepada Anton.
Jika nanti Seno menaikkan harga dan Anton menolak, pasti nanti akan ada orang lain yang berminat membeli kentangnya. Kesuksesan Anton akan menjadi objek percontohan bagi yang lainnya.
Sonia seolah tahu apa maksud dari perkataan Seno tadi. Ia lalu mengangguk pelan kepada Seno. “Tentu saja. Jika keripik kentang ini bisa laris di pasaran, maka tidak masalah jika harganya naik. Asalkan kenaikannya itu wajar semua bisa didiskusikan.” Jelas Sonia.
__ADS_1
“Senang bekerja sama dengan Mbak Sonia dan juga Anton.” Ucap Seno sembari mengulurkan tangannya kepada Sonia.