
“Kalau begitu aku mau tanya padamu, apakah mereka herbivora atau karnivora?” Tanya Seno.
“Maksudmu apa Bos? Aku tidak paham.” Jawab Thorbiorn dengan raut wajah bingung.
Seno melupakan hal ini. Thorbiorn bukanlah penduduk asli Planet Bumi. Jadi dia pasti tidak memahami istilah herbivora dan karnivora.
“Ah maaf, aku lupa Kamu tidak akan memahami istilah ini. Baiklah akan aku ganti istilahnya, apakah makhluktersebut memakan tanaman dan buah-buahan, atau mereka memakan daging? Atau mungkin mereka malah pemakan segala, tanaman dan daging juga mereka konsumsi?” Ucap Seno memperjelas pertanyaannya.
“Aku rasa mereka pemakan segala Bos. Aku melihat banyak tulang berserekan tidak jauh dari sarang mereka. Tetapi aku juga melihat beberapa dari mereka mencari buah-buahan untuk dimakan.” Jelas Thorbiorn.
“Memangnya kenapa Bos? Kenapa Kamu menanyakan hal itu padaku?” Tanya Thorbiorn penasaran.
“Aku ingin menaklukkan dimensi tersebut dan menjadikan dimensi itu kebun baruku. Langkah pertama yang perlu aku lakukan adalah menaklukkan mahkhluk di dimensi itu sebelum aku mengambil alih tempat tinggal mereka.”
“Dari pengamatanmu, bisakah Kamu dan Tiar mengatasi mahkluk-makhluktersebut?” Tanya Seno penuh harap.
Seno sangat berharap Thorbiorn dan Tiarsus mengatasai makhluk-makhluk tersesebut. Jika tidak, ia tidak tahu harus melakukan apa lagi. Itu berarti, dirinya harus bersiap kehilangan sistem miliknya.
“Makhluk-makhluk di sana tidak terlalu kuat. Menurtuku, aku dan Tiarsus bisa mengatasi mereka. Tetapi, aku memerlukan senjata untuk bisa mengalahkan mereka Bos. Jika hanya tangan kosong, aku tidak akan bisa melakukan hal itu.” Jawab Thorbiorn.
“Senjata rupanya ya.” Gumam Seno pelan. “Memangnya apa senjata yang kalian pakai? Aku akan mencoba mencari sejata tersebut untuk kalian.”
“Aku memakai pedang besar Bos. Sedangkan Tiarsus, dia memakai busur.” Jawab Thorbiorn.
Seno sekarang bingung mencari senjata untuk mereka. Tidak banyak produsen senjata yang membuat senjata mematikan seperti pedang besar dan busur. Jika busur memang mudah di dapatkan. Tetapi, untuk menjadi senjata mematikan, busur tersebut perlu memiliki kekuatan yang lebih besar.
Di pasaran, kebanyakan hanya ada busur dengan kekuatan yang tidak cukup besar. Itu sangat kurang untuk Tiarsus. Seno perlu mencari penjual senjata yang bisa memberikannya senjata mematikan sesuai dengan kebutuhannya.
__ADS_1
Lalu Seno teringat satu hal. Di negara ini ada satu produsen senjata yang cukup terkenal di dunia. Perusahaan ini tidak hanya memproduksi senjata api tetapi juga dengan senjata dingin. Seno ingat salah satu pelanggannya memiliki hubungan dengan perusahaan tersebut.
Kebetulan Seno menyimpan kartu nama pelanggannya itu. Ia akan mencoba menghubungi laki-laki itu dan meminta bantuannya agar Seno bisa membeli beberapa senjata dari sana.
Tetapi sebelum dirinya keluar dari dimensi ini dan melakukan hal itu, Seno masih perlu menyelesaikan urusannya yang ada di sini. Melepaskan lebah-lebah yang ia miliki agar mereka segera bisa berbaur di kebun miliknya.
“Baiklah aku akan mencarikan senjata untuk kalian terlebih dahulu. Selama menunggu, aku ingin Kamu dan Tiar melatih kerjasama kalian. Jika waktunya tiba, Kamu dan Tiar akan bekerjasama menaklukkan makhluk penghuni dimensi itu.” Jelas Seno.
Setelah itu Seno mendatangi Tiarsus yang sekarang ini sibuk membuat rumah mini untuknya tinggal. Untuk tempat tinggal para kelinci dan buruh taninya, Seno memang sudah menyiapkan rumah mini untuk mereka tinggal.
Itu berupa rumah jadi yang hanya tinggal memasang saja. Seno membeli ini dari luar negeri. Di sana ada enam rumah mini yang memiliki luas rata-rata sepuluh meter persegi. Tetapi, Tiarsus menolak rumah gubuk yang akan Seno belikan.
Itu karena Tiarsus ingin rumah tempatnya tinggal berasal dari alam, seperti halnya kayu dan lainnya. Ia menolak rumah bongkar pasang yang Seno tawarkan karena rumah itu terbuat dari PVC. Oleh karena itu, Tiarsus sekarang tengah membangun sendiri rumahnya.
Beberapa kelinci Seno juga terlihat membantu Tiarsus membangun rumahnya. Sebenarnya, itu tidak pantas disebut membantu. Mereka lebih pantas disebut dengan perusuh. Bagaimana tidak, kelinci-kelinci itu terlihat menggunakan kayu-kayu bahan rumah Tiarsus untuk bermain-main.
Beberapa menggunakan kayu tersebut sebagai pengganti pedang untuk bertarung satu sama lain. Beberapa juga memakai kayu yang ada sebagai jungkat-jungkit.
“Bos datang, Bos datang.” Entah siapa yang memulai tetapi setelah ada satu kelinci yang berteriak seperti itu, yang lain mengikuti.
Mereka lalu berhamburan mendekati Seno. Para kelinci itu sekarang berubah menjadi bentuk manusia mereka. Sekarang ini Seno di kelilingi oleh banyak anak kecil yang memiliki rambut berwarna putih. Beberapa memiliki warna putih dengan aksen hitam, beberapa juga memiliki rambut cokelat.
Jasmine yang di tunjuk sebagai pemimpin semua kelinci karena dialah yang terlebih dahulu berubah menjadi manusia, kini mendongakkan kepalanya untuk melihat ke arah Seno.
“Bos, bisakah Kamu memberikan Kami banyak kayu juga seperti yang Kamu berikan kepada Tiarsus?” Tanya Jasmine kepada Seno.
“Memangnya akan kalian pakai untuk apa kayu-kayu tersebut? Kaliankan sudah ada rumah?”
__ADS_1
“Karena kami ingin membangun rumah kelinci yang akan kami taruh di kebun luar. Pasti enak jika kami juga membangun rumah kami sendiri. Kami ingin membuat rumah kelinci yang keren seperti tayangan di Youtube yang tempo hari kami liat.” Ucap Jasmine dengan mata yang berbinar.
Mendengar hal itu Seno tertawa pelan. Rupanya para kelincinya ini sudah tercemari dengan videos Youtube. Setelah Seno membelikan mereka HT sekarang mereka ganti ingin membangun rumah. Tetapi itu tidak menjadi masalah besar untuk Seno.
Selama ini mereka sudah bekerja keras dalam membantu Seno. Lalu, selain HT, para kelincinya ini tidak meminta hal lain kepada Seno. Jadi, Seno akan mengabulkan permintaan mereka yang satu ini.
“Tentu saja. Aku akan membelikan kayu cukup banyak untuk kalian. Sekarang berikan ruang untuk Tiar, aku ingin berbicara dengannya.”
“Baik Bos.”
Setelah para kelinci itu menyingkir, barulah Tiarsus mendekat ke arah Seno. “Ada perlu apa Bos mencariku?” Tanya Tiarsus.
“Ikut aku dulu.” Pinta Seno.
Seno kemudian mengajak Tiarsus ke tempat di mana kotak lebah yang sistem siapkan berada. Seno tidak tahu berapa ukuran kotak lebah pada umumnya. Yang jelas kotak lebah yang Sistem siapkan ini berukuran cukup besar.
Kotak itu memiliki volume dua meter kubik. Jelas itu bisa menampung banyak sekali lebah dan juga madu.
Meski dirinya memiliki tiga kawanan lebah, tetapi lebah-lebah tersebut hanya menempati satu setengah slot saja. Itu berarti, satu slot bisa ditempati oleh dua kawanan lebah.
Hal ini membuat Seno tahu bahwa setiap hewan memakan ruang slot yang berbeda-beda. Ini berarti, satu slot kosong lainnya bisa Seno pakai untuk memelihara sapi lagi.
“Tiar, ini akan menjadi tanggung jawabmu setelah ini. Aku dengar Kamu memiliki kemampuan untuk berternak lebah. Jadi, aku ingin Kamu mengurusi lebah-lebah ini. Apa kamu mampu?” Tanya Seno.
“Tentu Bos. Tetapi di mana lebah yang Bos maksud itu?” Tanya Tiarsus.
Laki-laki itu bingung dengan Bosnya ini. Dia menyuruhnya mengurusi lebah miliknya tetapi tidak ada satu pun lebah yang ada di sini. Kosong. Hanya ada beberapa kotak yang Tiarsus yakini sebagai tempat untuk lebah membuat sarang.
__ADS_1
“Itu karena aku belum mengeluarkannya. Aku minta Kamu nanti melindungiku jika para lebah itu berniat menyerangku. Kamu harus menjanjikan itu padaku.” Pinta Seno.
“Tentu Bos.”