
Kepergian Seno membuat Dina dan Miranda harus bahu membahu untuk mengurus bisnis yang Seno tinggalkan. Meski pun mereka hamil, tetapi keduanya tidak mengeluh sedikit pun. Untung saja Seno masih meninggalkan beberapa anak buahnya yang bisa membantu Dina dan Miranda. Dengan begini mereka tidak terlalu terbebani.
Setiap minggunya, Dina dan Miranda selalu melakukan lelang di tiga negara yang berbeda. Dalam dua bulan pertama, semua lelang berjalan dengan lancar. Keduanya sudah mulai memahami pasar dan memetakan produk apa saja yang paling laris di setiap negara.
Pada bulan kedua setelah Seno pergi, rasa rindu mulai menyerang Dina dan Miranda. Hubungan jarak jauh yang mereka lakukan ini, tidak seperti hubungan yang lain. Pasangan lain mungkin masih memiliki kesempatan untuk berkomunikasi. Namun, Dina dan Miranda tidak bisa melakukan hal ini.
Pada bulan kedua setelah Seno pergi ini juga, Dina melahirkan kedua anak kembarnya. Meski usia kandungannya belum genap sembilan bulan, tetapi kedua anaknya lahir dengan sehat dan tanpa kekurangan. Berat badan keduanya pun tidak kurang sedikit pun.
Elina memiliki berat dua ribu sembilan ratus gram, sedangkan Elvina memiliki berat dua ribu tujuh ratus gram. Untuk ukuran bayi kembar, berat keduanya cukuplah besar. Mereka malah terlihat seperti bayi yang lahir dari kelahiran tunggal.
Kelahiran kedua bayi Dina membuat, Dina dan Miranda menyerahkan sepenuhnya pelaksanaan lelang kepada Laluna, Lalana, dan Ruisyo. Ketiganya sudah Dina dan Miranda percaya bisa melaksanakan lelang dengan baik.
Tepat sebulan setelah Dina melahirkan, Miranda menyusul. Bayi Miranda juga terlahir dalam keadaan sehat dengan berat tiga ribu lima ratus gram. Cukup besar untuk ukuran bayi yang baru lahir. Mungkin karena gizi yang Miranda konsumsi selama hamil mencukupi sehingga Adelard memiliki tubuh seberat ini.
Melahirkan anak-anak mereka tanpa kehadiran Seno membuat Dina dan Miranda bersedih. Meski di luar sana banyak pula para istri yang melahirkan anak mereka tanpa ditemani suami mereka, tetap saja ini terasa berat bagi Dina dan Miranda. Mereka tidak bisa mengabarkan mengenai kelahiran anak mereka kepada Seno.
“Mbak Dina, kenapa Ayah belum juga kembali? Anak-anak sudah bisa berjalan sekarang. Namun, Ayah belum juga kembali,” ucap Miranda di suatu sore setelah memandikan anak-anak mereka.
“Aku juga tidak bisa menjawabnya Mir. Kita hanya bisa menunggu. Luna pernah bilang padaku, selama mereka dan pertanian ini terlihat baik-baik saja, itu berarti Ayah juga baik-baik saja. Itu sedikit membuatku lega. Meski begitu, aku juga ingin Ayah segera pulang sekarang.”
“Apakah Ayah nggak takut ketika dia pulang, kita sudah bersama dengan orang lain?” tanya Miranda.
Kepergian Seno yang tidak ada kabarnya memang menjadi pertanyaan besar bagi keluarga besar Dina dan Miranda. Mereka selalu menanyakan keberadaan Seno. Namun, baik Dina atau pun Miranda beralasan bahwa Seno sedang pergi ke luar negeri untuk menyelesaikan beberapa bisnis mereka.
__ADS_1
Awalnya keluarganya tidak merecoki Dina dan Miranda, tetapi setelah lebih dari setahun Seno tidak terdengar kabarnya, keluarga mereka mendesak untuk Dina dan Miranda menceraikan Seno dan menikah lagi dengan laki-laki lain. Terutama keluarga Dina.
Orang tua Dina masih belum seratus persen setuju dengan pernikahan Dina yang harus berbagi suami dengan perempuan lain. Dengan menghilangnya Seno, mereka memiliki alasan untuk membuat Dina meninggalkan Seno dan menikah dengan laki-laki pilihan mereka.
Yang mereka jadikan alasan adalah Elina dan Elvina yang perlu sosok ayah di kehidupan mereka. Oleh karena itu, desakan mereka kepada Dina semakin sering. Apalagi setelah Elina dan Elvina merayakan ulang tahun pertama mereka dua bulan yang lalu.
“Memangnya Kamu memiliki niatan untuk bercerai dan mencari laki-laki lain?” tanya Dina.
“Tentu saja tidak. Aku tidak akan bercerai dengan Ayah. Bagiku menikah sekali sudah cukup. Kalau pun aku harus berpisah dengan Ayah, aku tidak akan menikah lagi. Jika aku kangen dengan Ayah, aku tinggal memandang wajah Ade. Mbak Dina sudah lihat sendiri bukan, kalo Ade sangat mirip dengan ayahnya?”
“Ya, Kamu benar, Mir. Ade sangat mirip dengan ayahnya. Sedangkan Lina dan Vina, mereka lebih mirip denganku.”
“Mbak Dina sendiri bagaimana? Mas Irfan sekarang lebih sering datang dan nyariin Mbak Dina bukan? Sepertinya, rasa suka Mas Irfan kepada Mbak Dina belum juga hilang. Dia masih berharap bisa bersama dengan Mbak Dina.”
“Lalu sekarang bagaimana? Apa yang harus kita lakukan agar keluarga kita tidak lagi mendesak kita untuk menceraikan Ayah dan menikah lagi?” tanya Miranda.
Keduanya pun terdiam memikirkan hal ini. Terutama Dina. Di antara Dina dan Miranda, keluarga Dina-lah yang lebih sering mendesak Dina untuk berpisah dengan Seno. Sekarang, mereka perlu menemukan cara agar tidak ada lagi alasan bagi mereka untuk bercerai dengan Seno.
“Aku memiliki ide, Mir. Namun, ideku ini terdengar sedikit gila. Apakah Kamu mau bergabung denganku?” tanya Dina.
“Memangnya apa ide Mbak Dina?”
“Kita hamil lagi aja. Dengan begitu, mereka tidak akan bisa membuat kita menceraikan Ayah.”
__ADS_1
“Hamil lagi? Apa Mbak sudah gila? Mbak mau selingkuh supaya bisa hamil lagi?”
“Siapa bilang aku akan selingkuh? Aku akan hamil lagi dengan anak Ayah. Dengarkan dulu penjelasanku, sebelum Ayah berangkat menaklukkan dimensi, aku sudah membekukan beberapa ****** miliknya. Jadi, kita bisa memakai ****** tersebut untuk inseminasi buatan.”
“Dengan demikian, kita bisa memiliki anak Ayah. Keluargaku tidak akan ada lagi yang memintaku untuk bercerai. Mereka jelas tidak mau cucu mereka tidak memiliki status. Jadi, bagaimana?” tanya Dina.
“Seperti itu rupanya. Baiklah aku ikut. Aku menginginkan anak perempuan. Mungkin di kehamilan kedua aku bisa memiliki anak perempuan. Namun, kita baru bisa melaksanakannya tiga hingga enam bulan lagi. Sekarang, aku sedang dalam masa-masa sibuk.”
“Beberapa lahan pertanian di luar negeri sudah berhasil aku beli. Sebagian menjadi milik kita pribadi. Sebagian hanya bisa kita sewa. Beberapa laman web untuk lelang online di beberapa negara, juga akan segera beroperasi. Jadi, aku tidak bisa memecah fokusku dengan kehamilan untuk saat ini,” jelas Miranda.
Selama setahun belakangan, Miranda memang aktif untuk membeli lahan pertanian di luar negeri. Ia juga membuka atau mengambil alih beberapa perusahaan pengolahan makanan yang ada di luar negeri.
Uang yang dihasilkan dari lelang yang setiap minggu berlangsung itu, sudah mencukupi bagi Miranda mengembangkan bisnis mereka. Sekarang ini pasar sayur Asia Tenggara sudah tujuh puluh lima persen Miranda kuasai.
Sistem hanya meminta ia menguasai lebih dari lima puluh persen pasar untuk bisa dikatakan mengusai pasar sayur daerah tertentu. Untuk pasar Asia, Miranda sudah menguasai empat puluh persen pasarnya. Dalam sebulan ke depan, Miranda yakin ia bisa menguasai pasar Asia.
Di pasar Amerika Serikat dan Amerika latin, Miranda sudah menguasai lebih dari dua puluh persen pasar. Lalu, Australia tiga puluh lima persen, Afrika dua puluh lima persen, dan terakhir Eropa yang masih sepuluh persen.
Miranda sendiri tidak yakin kapan Seno akan kembali. Yang jelas, hasil kerja kerasnya ini jelas bisa ia jadikan hadiah penyambutan kepulangan Seno. Seno pasti akan sangat senang menerima hadiah ini.
“Baiklah. Kita stabilkan dulu bisnis ini. Setelah itu, kita akan melaksanakan rencana membuat anak. Jika memang diperlukan, kita akan mengurung diri di dalam dimensi dan tidak keluar untuk menghindari keluarga kita.”
“Ya, itu lebih baik. Hidup di dalam dimensi tidak terlalu buruk. Meski di sini tidak ada internet, semua kebutuhan kita ada di sini. Jika kita memang membutuhkan internet, kita tinggal keluar portal yang sudah tersambung dengan rumah yang kita beli di luar negeri. Semua bisa kita lakukan."
__ADS_1