Petani Hebat Dengan Sistem

Petani Hebat Dengan Sistem
PH 129 Berlian Asli


__ADS_3

“Suaminya Dina.”


Suara perempuan itu membuat Seno menghentikan langkahnya. Ketika ia melihat sumber suara, Seno menemukan keberadaan perempuan muda yang usianya tidak terlalu jauh darinya. Yang menyapanya adalah teman kuliah Dina.


Dia adalah orang yang mencoba merayu Seno, agar Seno mau menjual buncis kepadanya. Jika Seno tidak salah ingat, nama perempuan itu adalah Julia. Ia tidak menyangka bahwa dirinya akan bertemu dengan perempuan itu di sini.


Seno harap, perempuan ini tidak menerornya dengan memintanya menjual buncis yang ia miliki. Jika perempuan ini merayunya lagi untuk mendapatkan buncis, maka Seno tidak tahu lagi bagaimana menolaknya. Dirinya sendirian sekarang dan tidak ada istrinya yang menemani.


“Eh Julia kan?” Tanga Seno memastikan.


“Ya. Ngapain Kamu ke sini. Kamu mau beliin istrimu perhiasan ya? Wah enak benget jadi istrimu. Baru nikah beberapa hari aja udah sering dibeliin hadiahkayak gini.” Ucap Julia.


“Nggak. Aku nggak lagi cari perhiasan. Tapi mau ngecek apakah barang yang aku punya ini berlian atau bukan.” Jawab Seno.


“Lalu Kamu sudah mengeceknya?”


Seno hanya menggeleng pelan.


“Loh kenapa kok belum?” Tanya Julia sedikit heran.


Menurutnya pelayanan di toko ini cukup baik. Mereka akan cekatan dalam melayani pembeli. Lalu di sini juga tidak ada pelanggan lain selain Seno.


“Pelayanan di sini cukup buruk. Aku tidak mau menggunakan jasa mereka.”


Mendengar ucapan Seno, pelayan toko yang sedari tadi mendengarkan percakapan antara Seno dan Julia langsung berkeringat dingin. Ia tidak menyangka bahwa orang yang ia remehkan ini kenal dengan teman bosnya.


Hal ini membuat pelayan toko tersebut takut, ia takut kehilangan pekerjaan yang memberinya gaji cukup besar ini. Hanya karena meremehkan seseorang, dirinya kehilangan pekerjaan.


“Loh, di sini pelayanannya bagus kenapa Kamu bilang buruk?” Tanya Julia tidak terima.

__ADS_1


Ini adalah toko perhiasan milik Bibinya. Tentu saja Julia tidak mau citra dari toko miliknya ini dipandang buruk. Apalagi Seno sekarang ini sudah mulai memasuki jajaran orang berada. Jika sampai salah satu istrinya mengatakan bahwa pelayanan di sini buruk, otomatis citra toko Bibinya ini akan buruk.


“Hanya mengecek keaslian sebuah berlian saja aku harus mengeluarkan uang lima ratus ribu rupiah. Itu namanya pemerasan.” Jawab Seno.


Mendengar ucapan Seno, Julia langsung memandang ke arah pelayan toko yang ada di dekat mereka. Pelayan toko tersebut menundukkan kepalanya. Sepertinya dia sadar bahwa dia telah membuat sebuah kesalahan.


“Lima ratus ribu hanya untuk sebuah pengecekan? Aku tidak pernah mendengar bahwa toko milik Tanteku ini menarik tariff sebesar itu hanya untuk pengecekan berlian. Sekarang di mana manager toko ini? Pelayan toko yang lain juga ke mana? Kenapa hanya ada Kamu di sini?”


“Itu mereka sedang makan siang sekarang Mbak.” Jawab pelayan tersebut.


Tanpa berbasa basi lagi, Julia mengeluarkan ponsel miliknya dan menghubungi seseorang. Tidak hanya satu panggilan yang Julia lakukan, tetapi beberapa kali Seno melihat Julia menelpon orang yang berbeda. Seno hanya melihat itu semua tanpa memberikan pendapat apa pun.


Tidak lama kemudian, beberapa orang terlihat berjalan dengan sedikit buru-buru menuju ke arah toko perhiasan di mana Seno berada. Ketika mereka datang, mereka langsung menyapa Julia dan mengucapkan permintaan maaf.


“Aku nggak butuh permintaan maaf kalian. Lihat kinerja kalian buruk sekali. Tanteku menggaji kalian bukan untuk bermalas-malasan. Kalian boleh makan siang dan beristirahat. Tetapi harus ada dua orang yang tinggal di toko. Kenapa kalian meninggalkan dia sendirian?”


“Apa kalian tidak tahu, teman kalian ini baru saja melakukan kesalahan fatal yang akan membuat citra toko ini hancur. Apa kalian semua mau bertanggung jawab nantinya jika toko milik Tanteku ini mengalami kerugian?”


“Maaf ya atas pelayan buruk yang Kamu terima. Apakah Kamu masih mau mengecek berlian yang Kamu punya di sini? Tenang saja tidak akan dipungut biaya sepeser pun.” Ucap Julia.


“Baiklah.”


Mau tidak mau Seno pun mengecek berlian yang ia temukan di sini. Jika saja Julia tidak ada maka ia tidak akan melakukannya di sini.


Seno pun mengeluarkan berlian dari saku celananya. Ia lalu menyodorkannya kepada Julia. Setelah menerima berlian itu, Julia meminta manager toko untuk melakukan pengecekan berlian tersebut.


Manager toko itu kemudian mengerjakan semuanya dengan sungguh-sungguh. Ia ingin menebus kesalahan yang baru saja ia lakukan. Manager toko itu berharap dengan dia melakukan ini, maka kesalahannya bisa dimaafkan.


Manager dengan nama Dion itu kemudian mengecek keaslian berlian yang Seno berikan dengan alat miliknya. Ketika mengeceknya dengan tester elektronik, berlian yang dibawa oleh Seno itu memang terdeksi sebagai berlian asli.

__ADS_1


Tetapi, Dion ingin mengecek secara menyeluruh berlian yang ia terima. Beberapa kali Dion melakukan pengecekan ulang berlian milik Seno. Hal itu membuat Seno menanyakan hasilnya.


“Jadi bagaimana? Apakah ini berlian asli atau hanya batu mineral saja?” Tanya Seno.


“Berlian ini asli. Tetapi jika ingin lebih akurat lagi, Anda bisa mengirimkannya ke GIA untuk mendapatkan sertifikat keaslian. Aku rasa berlian sebasar ini jika diolah nantinya bisa dijual hingga milyar.” Jelas Dion.


Mendengar hal itu, mata Seno berbinar. Suasana hatinya yang sebelumnya buruk karena perlakuan pelayan toko, sekarang membaik. Jika berlian ini asli, maka dirinya akan menjadi orang kaya setelah ini.


Jumlah berlian di goa yang ia temukan cukup banyak. Ukurannya pun ada yang lebih besar lagi dari berlian yang sekarang ia bawa. Memiliki uang milyaran hingga triliyunan dari tambangnya bukan hal yang mustahil untuk Seno capai.


“Wow aku nggak menyangka Kamu punya berlian sebesar ini. Apakah Kamu mau menjual berlian ini di toko kami?” Ucap Julia yang tidak mau melewatkan kesempatan bagus di depannya ini.


Seno tidak langsung menjawab ucapan Julia. Ia terdiam sebentar untuk memikirkan tawaran Julia. Tetapi pada akhirnya Seno menolaknya.


“Sepertinya aku tidak menjualnya dulu.” Jawab Seno.


“Kenapa? Apa karena pelayanan kami yangburuk?”


“Bukan karena itu. Aku ingin mendiskusikan semuanya dengan istriku.” Jawab Sneo.


Seno perlu mendengar pendapat kedua istrinya mengenai hal ini. Ada kemungkinan mereka akan membuka bisnis baru, bisnis jual beli berlian.


Seno yakin melalui koneksi yang dimiliki oleh keluarga kedua istrinya, akan cukup mudah bagi mereka menghubungi langsung lembaga penerbit sertifikat berlian.


Mereka nanti bisa mendapatkan untuk yang lebih besar dengan mengurus semuanya sendiri daripada menyerahkan berlian mentah yang belum dipotong kepada orang lain.


“Ah sayang sekali.” Gumam Julia.


Setelah berbasi sebentar dengan Julia, Seno pun pergi dari sana untuk kembali pulang. Ia ingin mendiskusikan semuanya dengan kedua istrinya.

__ADS_1


Julia yang masih ada di sana tiba-tiba teringat akan tujuannya menyapa Seno. Ia ingin mendapatkan kesempatan membeli buncis. Tetapi masalah yang ada di toko membuatnya mengurungkan hal itu.


“Sial. Padahal aku tadi memiliki kesempatan untuk mendapatkan buncis.” Umpat Julia.


__ADS_2