Petani Hebat Dengan Sistem

Petani Hebat Dengan Sistem
PH 249 Sendira


__ADS_3

Seno menunggu pembawa acara memberikannya aba-aba untuk meletuskan balon. Saat ini, Seno menungu dengan penuh antisipasi untuk mengetahui jenis kelamin anaknya. Sampai sekarang, ia sama sekali belum diberi tahu mengenai jenis kelamin kedua anaknya.


“Wah sepertinya ayahnya nggak sabaran ini. Ya udah langsung saja ya, Ayah Seno dan Bunda Dina bersama-sama meletuskan balonnya. Semuanya ayo kita hitung bersama, satu, dua, tiga ….”


Bersamaan dengan itu, Seno dan Dina sama-sama meletuskan balon yang ada di depan mereka. Potongan kertas kecil berwarna merah muda berterbangan bersamaan dengan meletusnya balon berwarna hitam.


Seno membuka mulutnya melihat hal itu. Tidak ada warna lain selain warna merah muda. Ini berarti dirinya memiliki anak kembar perempuan dari Dina. Seno sulit berkata-kata. Ia langsung memeluk Dina dan mencium kedua pipinya.


Ingin rasanya Seno mengecup bibir istrinya. Namun, ada beberapa anak kecil yang hadir dalam pesta ini. Tidak mungkin bukan Seno memberikan tontonan seperti itu. Apalagi orang tua Dina juga masih ada di sini.


“Makasih, sayang,” ucap Seno lembut.


“Makasih sudah memberikan dua bidadari cantik untukku,” imbuh Seno.


“Ayah nggak perlu berterima kasih seperti itu. Ini juga anak kita bukan? Sekarang, Ayah perlu melanjutkan meletuskan balon bersama dengan Miranda,” ucap Dina.


Seno mengangguk pelan. Sekali lagi Seno mencium pipi Dina, sebelum kemudian pergi menuju ke arah Miranda. Di tangan Miranda sekarang sudah ada balon yang berwarna abu-abu. Mungkin balon ini dibedakan agar tidak tertukar satu sama lain.


Seno langsung merangkul pinggang Miranda dan mencium pipinya. Ia memandang penuh cinta ke arah Miranda.


“Apakah Ayah sudah siap?”


“Tentu. Aku udah nggak sabar mengetahui jenis kelamin anak kita.”


“Apakah Ayah bisa menebak jenis kelamin anak kita?” tanya Miranda.


“Entahlah. Mungkin dia nanti juga perempuan atau mungkin laki-laki. Aku tidak peduli. Yang terpenting, dia lahir dengan selamat, dan kamu juga bisa melahirkan dengan selamat.”


Sekali lagi, Seno mendengar pembawa acara membuat hitungan mundur. Mendengar hal itu, Seno dan Miranda bersiap untuk meletuskan balon berwarna abu-abu di depan mereka. Ketika balon tersebut meletus, potongan kecil kertas berwarna biru terbang ke mana-mana.


“Selamat, Ayah. Ayah akan punya jagoan dalam beberapa bulan lagi,” ucap Miranda.


Seno kembali menciumi pipi Miranda secara bergantian. Seno sekarang merasa sangat senang. Ia memiliki dua istri yang sangat ia cintai. Lalu, tidak lama lagi dia juga akan memiliki tiga anak sekaligus.

__ADS_1


“Jagoan, tidak masalah. Dengan begini, nanti dia akan menjaga saudara perempuannya yang lain. Aku tidak akan terlalu khawatir dengan mereka nanti,” ucap Seno.


Pesta tersebut kemudian dilanjutkan dengan beberapa acara hiburan. Seno dengan ditemani Dina dan Miranda, menghampiri satu persatu tamu mereka untuk sekadar menyapa.


Setelah acara selesai, Seno mengumpulkan istrinya untuk mengobrol bersama. Seno ingin mengajak kedua istrinya untuk mendiskusikan nama anak mereka. Apalagi sekarang Seno sudah tahu jenis kelamin mereka.


“Jadi, apakah kalian memiliki usulan nama untuk anak-anak kita?” tanya Seno.


“Aku sudah menemukan nama depan mereka. Ayah bisa menentukan nama tengah mereka,” jawab Dina.


“Memangnya, apa nama yang sudah Bunda siapkan?”


“Elina dan Elvina. Elina memiliki arti wanita cerdas sedangkan Elvina memiliki arti ramah dan bijaksana. Aku berharap mereka menjadi sosok wanita yang cerdas, ramah, dan bijaksana ketika dewasa nanti,” jelas Dina.


“Itu adalah nama yang sangat bagus. Lalu, Bunda Mira sudah punya nama juga?” tanya Seno.


“Aku sudah menemukan nama untuk dia. Adelard, yang memiliki arti gagah berani. Aku ingin dia menjadi sosok laki-laki gagah berani yang nantinya melindungi saudara-saudaranya yang lain,” jelas Miranda.


“Ini juga nama yang bagus. Aku sudah memikirkan nama tengah mereka. Semua anak-anak kita kelak, jika itu perempuan, mereka akan memiliki nama tengah Maheswari, yang memilki arti bidadari. Mereka adalah bidadari keluarga kita. Jadi nama ini sangat cocok untuk diterapkan sebagai nama tengah semua anak perempuan kita.”


“Untuk nama keluarga, aku rasa kita bisa membuatnya sendiri. Sendira, itu adalah potongan dari nama kita bertiga. Semua anak-anak kita akan memiliki nama Sendira sebagai nama belakang mereka. Jadi, jika kelak kita memiliki anak lagi, kita hanya perlu menentukan nama depan mereka saja,” jelas Seno.


Sendira, Seno, Dina, dan Miranda. Nama itu secara tidak langsung menjadi pilihan Seno untuk tidak menambah istri lagi di kemudian hari. Entah dirinya akan berubah seperti apa pun kelak, yang tidak akan berubah adalah siapa yang menjadi istrinya.


Dina dan Miranda pun menangkap maksud dari Seno itu. Hal ini membuat pemikiran mereka yang sebelumnya ingin mencarikan istri baru untuk Seno, harus mereka hilangkan.


“Elina Maheswari Sendira, Elvina Maheswari Sendira, dan Adelard Mahesa Sendira. Itu adalah nama anak-anak kita nanti. Apakah kalian keberatan dengan nama itu?” tanya Seno.


“Tidak. Itu adalah nama yang bagus.”


“Benar itu, Ayah. Itu nama yang bagus. Ini juga akan memperingan pekerjaan kita dalam menentukan nama dari anak-anak kita kelak. Kita hanya perlu memikirkan nama depan mereka saja,” imbuh Miranda.


__ADS_1


Sepuluh hari sudah berlalu semenjak Seno memberikan nama untuk anak-anaknya. Sekarang, Seno tengah berkumpul bersama delapan puluh orang anak buahnya. Mereka memiliki berbagai warna kulit, tinggi badan.


Bahkan, beberapa anak buah Seno tidak memiliki wujud manusia. Mereka masih memiliki wujud hewan, atau bahkan wujud tanaman berjalan. Ya, tanaman. Beberapa anak buah Seno memang memiliki wujud tanaman atau manusia setengah tanaman.


Sekarang ini, Seno tengah menentukan tujuh orang dari anak buahnya yang akan tinggal. Tujuh orang itu akan menjaga keluarganya sementara dirinya pergi, sementara tujuh puluh lima lainnya akan menaklukkan dimensi terakhir.


“Sistem, jadi berapa lama waktu yang aku butuhkan untuk menaklukkan dimensi terakhir?” tanya Seno ingin memastikan kembali.


Sebelumnya, Sistem memberi tahu Seno bahwa dalam penaklukkan dimensi terakhir ini, ia akan memerlukan waktu yang lama. Itu bukan karena pertarungannya yang akan lama. Namun, ini disebabkan oleh perbedaan waktu antara Bumi dan dimensi tersebut.


Sistem mengatakan, bahwa waktu yang ada di dalam dimensi itu lebih cepat beberapa kali lipat daripada waktu di Bumi. Sehari di sana bisa jadi beberapa hari di Bumi. Seno ingin memastikan berapa lama ia akan meninggalkan keluarganya dan mempersiapkan semuanya.


[Sistem tidak bisa memastikan hal itu Host]


[Dari bank data yang Sistem miliki, perbedaan waktunya sangat beragam]


[Di beberapa planet, dimensi inti seperti ini bisa memiliki perbedaan waktu yang sangat jauh]


[Ada yang satu hari di dalam dimensi, sama dengan satu tahun di dunia luar atau bahkan lima tahun]


[Lalu, ada pula yang satu hari di dalam dimensi, sama dengan satu minggu di dunia luar]


[Satu minggu adalah perbedaan waktu tersingkat dan sepuluh tahun adalah perbedaan waktu terpanjang]


[Sistem tidak bisa memberikan kesimpulan apa pun mengenai dimensi inti yang akan Host taklukkan]


Ini adalah alasan Seno meninggalkan tujuh orang anak buahnya. Ia tidak tahu kapan dirinya akan kembali. Bisa jadi beberapa minggu atau beberapa bulan. Yang terburuk adalah Seno perlu meninggalkan keluarganya beberapa tahun lagi.


“Seperti itu rupanya. Lalu, apakah aku bisa mendelegasikan tugas pertanianku kepada kedua istriku? Seperti menaikkan level kebun dan misi lainnya? Kamu tahu bukan aku masih harus mengurusi pertanianku? Misi utamaku adalah menjadi petani terhebat di dunia ini. Jadi, aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja bukan?”


[Karena jangka waktu Host kembali tidak bisa ditentukan dan itu bisa beberapa tahun, maka Sistem akan mengijinkan hal ini]


Seno bernafas lega mendengar hal itu. Sekarang ia hanya tinggal pergi menaklukkan dimensi terakhirnya. Lalu, yang lainnya akan diurus oleh kedua istrinya. Meski berat sekali meninggalkan kedua istrinya, Sneo tidak memiliki pilihan lain. Mengajak mereka pun sangat tidak mungkin.

__ADS_1


Jika Seno tidak segera mengatasi semua dimensi yang ada di Asia Tengara, Seno takut akan ada makhluk penghuni dimensi yang mengacau, atau bisa saja ada orang jahat yang menemukan dimensi lain, dan menyalah gunakan dimensi tersebut, seperti yang terjadi pada Profesor Giorgio.


“Baiklah kalau begitu, Sistem. Lusa, aku akan berangkat menaklukkan dimensi terakhir itu,” ucap Seno.


__ADS_2