
Thorbiorn memimpin kedua rekannya menuju ke lokasi yang mereka perkirakan sebagai sarang dari makhluk penghuni dimensi ini. Thorbiorn curiga bahwa sarang dari burung-burung penghuni dimensi ini berada di satu-satunya gunung berapi yang ada di sini.
Dari serangan mereka sebelumnya, sudah jelas burung-burung tersebut memiliki kemampuan sihir, dan elemen utama yang mereka kuasai adalah elemen api. Dari situlah Thorbiorn menyimpulkan hal ini.
Ketiga orang itu bergerak dengan sedikit menunduk di antara pepohonan yang ada di hutan ini. Pepohonan yang ada di hutan ini tidaklah cukup rindang. Jadi, burung-burung penghuni dimensi ini akan cukup mudah menemukan keberadaan mereka.
Untuk sekarang ini mereka hanya melakukan pengintaian, bukan langsung bertarung untuk menaklukkan mereka. Jadi, sebisa mungkin mereka menghindari terjadinya pertarungan.
Semakin dekat mereka dengan gunung berapi itu, Tiarsus merasakan semakin banyak aura makhluk hidup.
“Sepertinya kita sudah semakin dekat dengan sarang musuh. Semuanya bersiap dan jangan sampai kalian lengah.” Bisik Tiarsus.
Ketiganya pun memelankan langkah mereka. Lima menit kemudian, mereka tiba di ujung hutan yang ada di kaki gunung. Di depan mereka sudah tidak ada lagi pepohonan yang bisa menyembunyikan keberadan mereka.
Area di depan mereka merupakan area yang cukup lapang dengan satu dua pohon, yang memiliki jarak berjauhan. Jika mereka nekad keluar dari hutan dan mendekat lagi ke puncak gunung, maka burung-burung penghuni dimensi ini akan mengetahui keberadaan mereka.
“Bagaimana sekarang? Apakah kita akan tetap naik hingga puncak? Atau kita akan akan mengintai saja dari sini?” Tanya Thorbiorn kepada kedua rekannya.
“Aku rasa tidak masalah bagi kita untuk naik hingga puncak. Dengan kekuatan kita, burung-burung itu tidak akan bisa melukai kita. Hanya saja cukup merepotkan jika menghadapi kawanan mereka sekaligus.” Jawab Tiarsus.
“Lalu bagaimana denganmu Azkareia? Apakah Kamu setuju dengan rencana ini?”
“Aku tidak masalah juga dengan rencana ini. Toh kita bisa mundur jika nantinya cukup mendesak. Mereka tidak memiliki kemempuan untuk membuatku tinggal di dimensi ini. Aku saja tidak merasakan aura makhluk yang memiliki kekuatan lebih dariku.” Jawab Azkareia.
“Baguslah kalau begitu kita akan langsung ke atas menuju puncak.”
Ketiganya lalu bergerak cepat menujuke arah puncak. Karena keadaan memaksa, mereka tidak bisa lagi bergerak pelan dan bersembunyi seperti sebelumnya.
Selama perjalaan menuju puncak pun Azkareia tetap merekamnya dengan kamera. Ia tidak peduli apakah kamera tersebut dapat menangkap gambar dengan jelas atau tidak. Yang terpenting dirinya sudah menjalankan tugas dari bosnya.
__ADS_1
Tiga menit kemudian, beberapa burung penghuni dimensi ini mengetahui keberadaan ketiganya yang akan menyusup ke sarang mereka. Burung-burung tersebut kemudian membuat suara yang cukup keras, memperingatkan kawananya akan adanya penyusup.
Thorbiorn dan Tiarsus langsung menyiapkan senjata mereka. Keduanya siap kapan pun juga menyerang para musuh. Sementara Azkareia, ia mengeluarkan ketujuh ekornya untuk dijadikan senjata, kedua tangannya masih tetap memegang kamera.
Burung-burung yang mengetahui keberadaan Thorbiorn dan kedua rekannya akan menyerang, mereka sudah menukik ke bawah, tetapi suara pekikan yang keras menghentikan apa yang tengah mereka lakukan.
Mendengar pekikkan keras itu, Thorbiorn, Tiarsus, dan Azkareia langsung mendongakkan kepalanya. Ketiganya melihat adanya burung yang keluar dari puncak gunung, kemungkinan kawah dari gunung berapi ini adalah sarang dari burung-burung ini.
Burung yang datang ini ukurannya lebih besar dari burung-burung yang lain. Jika burung lain memiliki bentang sayap empat hingga lima meter, maka burung ini memiliki bentang sayap sepuluh meter. Bulunya pun lebih berkilau daripada bulu burung yang lainnya.
Tidak hanya itu, bulu yang melingkar dileher burung itu memiliki warna emas yang berkilauan. Saat itu juga Thorbiorn dan Tiarsus tahu bahwa burung ini adalah pemimpin dari kawanan burung yang tinggal di dimensi ini.
Burung tersebut memang tidak menunjukkans sikap agresif, tetapi burung itu tidak melepaskan pandangan matanya dengan Thorbiorn dan kedua rekannya. Hal itu tidak membuat Thorbiorn dan kedua rekannya bersantai begitu saja. Ia sama sekali tidak menurunkan kewaspadaannya.
Burung tersebut kemudian mendarat di depan Thorbiorn dan kedua rekannya. Kepala burung tersebut terangkat cukup tinggi. Ia seolah memandang rendah Thorbiorn dan kedua rekannya. Tetapi, jika diperhatikan lebih lanjut, kaki dari burung tersebut sedikit bergetar.
“Apa urusan kalian mendatangi tempat Ratu ini.”
“Kalian juga sudah membunuh beberapa rakyat dari Ratu ini. Jika kalian tidak bisa memberikan penjelasan, jangan harap kalian bisa pergi dari sini dengan utuh.” Ancamnya.
“Membuat Kami tidak bisa pergi dari sini dengan utuh? Heh. Dengan kekuatanmu yang seperti itu, aku tidak yakin Kamu bisa melakukannya.” Cibir Azkareia yang kini terlihat menatap burung tersebut dengan pandangan menilai.
“K-kamu….” Ucap pemimpin kawanan burung dengan sedikit terbata-bata, ia tidak bisa membantah ucapan Azkareia tersebut.
“Apa? Memang benar bukan? Kamu tidak bisa memiliki kekuatan yang cukup untuk mengalahkan Kami. Kamu sendiri mengetahui hal itu bukan? Buktinya Kamu tidak bisa menyanggah ucapanku tadi.” Jawab Azkareia.
“Apa mau kalian sebenarnya? Sejak munculnya portal itu, aku tidak pernah menyuruh rakyatku untuk menyerang mahkluk berkaki dua yang tidak berbulu itu. Jadi kenapa kalian menyerang wilayahku?” Tanya burung tersebut.
Tiarsus mengangkat sebelah tangannya, meminta Azkareia untuk tidak bersuara. Sekarang mereka perlu membicarakan hal yang serius, bukan lagi saling mengejek seperti yang Azkareia lakukan sebelumnya.
__ADS_1
“Kami hanya ingin mengambil beberapa buah dari wilayahmu. Bos kami menginginkan buah tersebut.” Jawab Tiarsus.
“Kalian sudah mendapatkannya bukan?”
Pemimpin kawanan burung tersebut bisa mencium aroma tanaman khas yang tumbuh kaki gunung tempatnya bersarang. Ia heran dengan orang-orang ini. Jika mereka sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan, kenapa mereka tidak segera pergi?
“Kenapa kalian tidak segera pergi setelah mendapatkan buah itu? Kenapa kalian malah ingin mendatangi sarang dari Ratu ini.”
Sekali lagi, pemimpin kawanan burung ini mencoba bersikap berani. Namun suaranya yang bergetar tidak bisa menutupi ketakutan yang dia rasakan.
“Karena Bos Kami memiliki rencana untuk menaklukkan wilayahmu ini. Sebelumnya Kami ingin mengintai wilayahmu dan memperkirakan kekuatan yang kalian punya. Tetapi sepertinya itu tidak perlu lagi.”
“Kalian begitu lemah. Lebih baik sekarang kami mengalahkan kalian dan mempersembahkan wilayah kalian ini kepada Bos kami.” Jelas Azkareia
.
Pemikiran seperti itu tiba-tiba muncul di benak Azkareia. Mau sekarang atau nanti semua sama saja bukan? Malah lebih bagus jika mereka menaklukkan dimensi lebih awal. Bos mereka bisa memiliki wilayah yang lebih banyak lagi.
Tidak hanya itu, Azkareia berpikir bahwa dengan mempersembahkan wilayah ini kepada Seno, Bosnya itu bisa memaafkan kesalahan yang sebelumnya ia lakukan. Selalu dipandang sinis oleh Bosnya bukanlah hal yang menyenangkan.
Mendengar perkataan Azkareia, mata Thorbiorn dan Tiarsus berbinar. Ternyata rubah jantan ini tidak hanya pandai membuat masalah dan mengejek seseorang. Ia masih bisa memikirkan sebuah rencana yang cukup brilian.
“Aku pikir juga begitu. Daripada kita bertarung nantinya dan kalian akan kalah dari Kami, lebih baik kalian menyerah sekarang, dan tuduklah pada Bos kami.” Jelas Tiarsus.
“Aku juga bisa menjamin, menjadi bawahan Bosku itu bukan pilihan yang buruk. Dia bisa mmeberikan sesuatu yang luar biasa yang tidak pernah kalian miliki.” Imbuh Thorbiorn.
Ketika berucap demikian, Thorbiorn memutarkan pedang besarnya. Dari ujung pedang tersebut muncul kilauan berwarna biru. Itu adalah sihir yang dimiliki oleh Thorbiorn.
Ia yang selama ini sering menyerang dengan kekuatan fisiknya bukan berarti tidak bisa menggunakan sihir sama sekali. Hanya saja Thorbiorn lebih suka menggunkan kekuatan fisiknya daripada kekuatan sihirnya.
__ADS_1
Tiarsus juga tidak mau ketinggalan. Ia memain-mainkan anak panahnya. Di ujung anak panah itu, terdapat cahaya kehijauan yang semakin lama semakin terang.
Pamer kekuatan yang dilakukan oleh Azkareia malah lebih ekstrim lagi. Seluruh tubuhnya kecuali tangannya yang memegang kamera, diliputi oleh cahaya berwarna kebiruan. Lalu di ujung ketujuh ekornya, terdapat cahaya berwarna kemerahan.