Petani Hebat Dengan Sistem

Petani Hebat Dengan Sistem
PH 43 Penyusup


__ADS_3

Seorang penjual pentol terlihat berhenti tidak jauh dari rumah Seno. Dari tempatnya berdiri sekarang ia bisa mengamati keadaan rumah Seno dengan cukup jelas. Bahkan pergerakan kecil yang ada di sana pun bisa dilihat oleh penjual pentol tersebut.


Penjual pentol itu melihat Seno yang sekarang memasuki sebuah mobil Alphard bersama dengan dua orang perempuan. Tidak lama kemudian, mobil itu pergi meninggalkan rumah Seno.


Penjual itu lalu menekan headset yang terpasang ditelinganya. Ia lalu berkata lirih seolah ada yang mendengarnya sekarang.


“Elang Satu kepada Macan, Elang Satu kepada Macan. Merpati Hitam sudah meninggalkan sarang. Ganti.” Ucap penjual pentol tersebut.


“Macan kepada Elang Satu, tetap awasi sarang dan tunggu hingga merpati yang lain pergi dari sarang.” Suara balasan terdengar dari headset yang dipakai oleh penjual pentol tersebut.


Penjual pentol tersebut rupanya adalah seorang mata-mata yang mengunpulkan informasi untuk kesatuannya. Ia adalah salah satu tentara bawahan Johan. Tugas mereka saat ini adalah mengungkap rahasia yang di miliki oleh Seno mengenai wortel ajaib itu.


Mata-mata ini merasakan bagaimana kehebatan wortel-wortel itu. Dari jarak beberapa puluh meter saja ia bisa melihat dan mengawasi rumah Seno dengan baik. Bahkan jika dirinya berada dalam jarak seratus meter pun ia masih bisa melakukannya.


Jika ini sebelum ia memakan wortel itu, ia perlu jarak lebih dekat lagi daripada sekarang. Pada jarak jauh pun, ia membutuhkan teleskop untuk mengawasi target yang perlu ia mata-matai.


Jika saja ada sayuran yang bisa membuat pendengarannya lebih tajam daripada sebelumnya, maka tugasnya dalam memata-matai orang lain akan menjadi lebih mudah.


Dengan begitu, ia tidak perlu membawa berbagai alat-alat cangih dalam menjalankan tugasnya. Cukup membawa tubuhnya dan ia bisa melakukan penyamaran menjadi profesi apapun.


“Macan kepada para Elang, tunggu hingga Sunny pergi dan kita akan mengunjungi sarang. Semua bersiap dulu kepada pos masing-masing dan tunggu perintah selanjutnya.” Perintah orang yang menggunakan kode nama Macan itu.


Ketika langit sudah menggelap, di luar rumah Seno terdapat tiga orang yang berpakaian serba hitam. Dari postur tubuhnya, terlihat bahwa ketiga orang tersebut adalah laki-laki.


Tidak lama kemudian ketiganya mendapatkan pemberitahuan bahwa semua kamera pengawas yang ada di dalam rumah sudah dimatikan. Sekarang mereka bisa bebas masuk ke rumah Seno.


Ketiga orang itu bersikap profesional dalam melakukan tugasnya. Dengan cepat mereka berhasil membuka pintu belakang rumah Seno tanpa merusaknya. Mereka seakan membuka pintu itu dengan kunci dan bukan dua buah kawat.


Ketiga orang itu kemudian berpencar dan memasuki ruangan yang berbeda. Dengan gerakan hati-hati mereka membuka semua laci dan almari yang ada di rumah Seno.


Dari penyelidikan yang mereka lakukan sejauh ini, mereka belum menemukan pensuplai wortel-wortel itu kepada Seno. Jadi, mereka curiga Seno lah yang menanam sendiri wortel-wortel itu. Jadi, mereka melakukan hal ini.


Tugas mereka kali ini adalah mencari bibit sayuran yang dimiliki Seno. Mereka ingin tahu jenis dari wortel yang Seno tanam. Selain itu, mereka juga ingin menanam kembali wortel-wortel tersebut. Mungkin saja mereka berhasil menanam wortel yang sama dan membudidayakannya sendiri.


Jika mereka berhasil maka akan semakin banyak lagi tentara yang bisa mereka perkuat. Tidak hanya itu, mereka tidak perlu keluar uang terlalu banyak untuk melakukan hal itu. Bukankah itu adalah hal yang bagus?


Dalam melakukan pengeledahan rumah Seno, ketiga orang itu melakukannya dengan cukup rapi. Tidak nampak sedikit pun jejak bahwa ada orang lain yang memasuki rumah Seno dan mengobrak abrik isi rumahnya.


Sayangnya yang tidak mereka ketahui, sejak kedatangan mereka hingga mereka memasuki rumah Seno, ada beberapa pasang mata yang mengawasi semua gerak gerik mereka.

__ADS_1


Sebelum masukke rumah Seno mereka memang sudah mengecek area sekitar rumah Seno. Mereka baru masuk ke rumah Seno ketika yakin tidak ada manusia di sekitar mereka. Sayangnya mereka melewatkan kelinci-kelinci milik Seno. Mereka mengangap bahwa itu bukanlah ancaman untuk mereka.


Setelah dua puluh menit menggeledah, ketiga orang itu tidak menemukan apa yang mereka cari. Mereka lalu kembali berkumpul di dapur milik Seno.


“Elang Satu bagaimana dengamu? Apakah Kamu menemukannya?” Tanya seserang.


“Aku tidak menemukannya. Aku sudah mencari di semua tempat tetapi tidak juga aku temukan. Bahkan aku juga mencoba mencari ruang rahasia yang mungkin ada di sini. Tetap saja aku tidak menemukannya.” Jawab Elang Satu.


“Aku juga tidak menemukannya Elang Tiga.” Jawab seseorang dengan kode nama Elang Dua.


“Kalau begitu, kita cari dulu di kebunnya. Di sana ada bangunan kecil tempat menyimpan peralatan berkebun. Mungkin kita bisa menemukannya di sana.” Jelas Elang Satu.


Mendengar ucapan Elang Satu, dua orang yang lainnya menyetujuinya. Mereka bertiga langsung bergerak menuju ke kebun milik Seno. Seperti sebelumnya, mereka dengan mudahnya membuka gembok pagar kebun milik Seno. Itu bukan halangan besar.


Setelah masuk, mereka langsung bergerak menuju gubuk yang ada di kebun Seno dan menggeledahnya. Ketika mereka tengah menggeledah, terdengar sebuah suara yang membuat mereka mengehentikan sejenak apa yang mereka lakukan.


“Siapa di sana.” Suara anak kecil perempuan terdengar di telinga mereka bertiga.


“Elang Dua, apakah Kamu juga mendengar suara tadi?” tanya Elang Tiga.


“Aku mendengarnya.” “Aku juga.” Jawab Elang Satu dan Elang Dua secara bersamaan.


Ketiganya pun keluar dari dalam gubung tersebut. Mereka mengedarkan pandangan mereka ke sekeliling kebun. Tetapi mereka tidak menemukan sumber suara tersebut.


Mereka lalu mencoba mengelilingi gubuk tersebut, siapa tahu ada yang bersembunyi di belakang gubuk. Tetapi mereka juga tidak menemukannya di sana. Ini cukup aneh menurut mereka.


Kebun milik Seno ini tidak memiliki tempat bersembunyi. Semua tanaman yang ada cukup rendah dan tidak bisa dipakai untuk bersembunyi. Jadi satu-satunya tempat yang cocok untuk bersembunyi bagi seseorang hanyalah area sekitar gubuk. Jika di sana tidak ada, lalu berasal dari aman suara tadi?


“Pergi kalian dari sini.” Sebuah suara kembali mereka dengar.


Suara itu membuat ketiganya menempelkan punggung masing-masing. Dengan begini, mereka tidak akan memiliki titik buta. Ketiganya bisa mengawasi semua tempat dengan mudah.


“Siapa itu? Keluarlah.” Ucap Elang Satu.


Suara tadi cukup dekat, tetapi mereka tidak melihat siapa pun di sekitar mereka. Ini sangat aneh dan cukup menyeramkan bagi mereka. Tiba-tiba saja bulu kuduk Elang Dua berdiri. Dengan suara lirih, Elang Dua melayangkan sebuah pertanyaan kepada Elang Satu.


“Elang Satu, apakah Kamu mendengar rumor masyarakat sekitar mengenai gubuk ini?” Tanya Elang Dua.


“Rumor apa?”

__ADS_1


“Bahwa kebun milik Merpati Hitam ada penunggunya. Ada setannya di sini.” Bisik Elang Dua lirih.


“Mana ada yang seperti itu. Ini adalah jaman modern. Jadi bagaimana mungkin ada yang seperti itu. Itu pasti khayalanmu saja. Sudah berapa kali juga aku bilang jangan menonton film horor sebelum menjalankan tugas.” Gumam Elang Satu.


“Sudah jangan berdebat. Apa pun itu yang membuat suara, aku rasa tidak akan bisa mencelakai kita. Jadi, daripada berdebat di sini, lebih baik kita kembali menggeledah gubuk itu.” Potong Elang Tiga.


“Kalian tidak mau bukan kita gagal menjalankan misi ini. Jika itu terjadi, Tim Elang Macan akan dipandang rendah dan menjadi bahan tertawaan oleh tim yang lainnya. Misi sekecil ini, mengambil sesuatu dari rumah warga sipil saja kita gagal melakukannya.” Imbunya.


Ucapan Elang Tiga itu membuat mereka sadar betapa pentingnya misi kali ini. Misi ini cukup mudah dilakukan. Jadi jika mereka gagal, seperti kata Elang Tiga, mereka akan menjadi bahan tertawaan oleh tim lain.


“Baiklah.” Jawab Elang Satu dan Elang Dua secara bersamaan.


Ketiganya kemudian melangkah kembali menuju ke gubuk. Sebelum mereka masuk kembali terdengar suara-suara dari luar. Kali ini bukan hanya satu, tetapi ada lima suara yang berbeda dari luar gubuk.


“Siapa kalian.” “Pergi dari sini.” “Apa yang kalian lakukan.”


Begitulah ucapan yang dibuat oleh suara-suara di luar gubuk. Suara itu terdengar berulang-ulang. Bukan seperti sebelumnya yang hanya terdengar suara lalu hening.


Hal itu membuat Elang Dua semakin merinding. Ia takut terjadi sesuatu.


“Hiraukan suara-suara itu. Segera selesaikan tugas kita.” Ucap Elang Tiga.


Kali ini mereka tidak lagi menggeledah dengan penuh kehati-hatian. Mereka sekarang bertindak kasar dalam menggeledah. Beberapa barang mereka buang begitu saja. Hal itu membuat keadaan gudang itu menjadi berantakan.


“Aku menemukannya.” Ucap Elang Satu.


Di tangan Elang Satu kini terdapat sebuah kotak kayu. Di dalamnya ia melihat beberapa benih dengan berbagai label sayuran. Elang Satu tidak tahu apakah benih yang mereka cari ada di dalam kotak ini atau tidak. Yang jelas, ini adalah satu-satunya kotak penyimpanan benih yang mereka temukan.


Jadi ketika Elang Satu menemukannya, ketiga orang itu langsung pergi dari sana. Yang paling depan berlari keluar adalah Elang Dua. Ia masih takut dengan suara-suara itu. Elang Dua yakin tempat ini benar-benar berhantu.


Jika nanti mereka memiliki misi mendatangi rumah ini, maka Elang Dua tidak akan ikut dalam misi itu. Lebih baik ia menjalankan misi yang berhadapan dengan manusia secara langsung daripada seperti ini.


Setelah kepergian ketiga orang itu, lima ekor kelinci berkumpul di depan gubuk. Mereka memandang ke dalam gubuk yang terlihat berantakan.


“Tiga, bagaimana ini, semuanya terlihat berantakan. Bos pasti akan marah dengan kita karena tidak bisa menjaga rumah dengan baik.” Ucap Kelinci Dua.


“Iya pasti Bos akan menyate kita jika dia mengetahui hal itu. Orang-orang itu juga sudah mengambil sesuatu dari gubuk milik Bos. Bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan sekarang?” Imbuh Kelinci Lima.


“Kalian tenang saja. Bos tidak akan memarahi kita jika kita menjelaskan semuanya dengan baik. Kita kecil dan orang-orang itu besar. Jelas kita tidak bisa melakukan apa pun. Aku yakin Bos akan memaafkan kita mengenai hal ini.” Jawab Kelinci Tiga.

__ADS_1


Ucapan Kelinci Tiga sedikit menenangkan kelinci-kelinci lainnya. Mereka berharap apa yang dikatakan oleh Kelinci Tiga memang benar, Seno akan memaafkan mereka dan tidak menyate mereka. Meski mereka tidak paham apa itu sate, tetapi mereka yakin itu adalah sesuatu yang buruk.


__ADS_2