Petani Hebat Dengan Sistem

Petani Hebat Dengan Sistem
PH 119 Ekspedisi Penaklukkan (1)


__ADS_3

Tiga hari berlalu begitu saja. Selama tiga hari ini Seno dan kedua istrinya sibuk berkunjung ke rumah sanak saudara mereka. Sekarang mereka sudah terbebas dari kewajiban itu.


Saat ini Miranda sudah kembali berkuliah setelah beberapa hari tidak masuk. Meski begitu, ia masih memikirkan rencana untuk pengembangan bisnis milik Seno. Miranda perlu mencari cara yang pas agar sayuran-sayuran yang mereka miliki bisa terjual dengan harga yang pantas dan menjangkau pasar yang lebih luas lagi.


Lalu Dina, istri Seno yang satu ini sedang sibuk di dalam kebun miliknya yang ada di dimensi lain. Sistem rupanya sudah memberikan Dina sebuah laboratorium beserta peralatan di dalamnya. Itu akan membantu Dina untuk melakukan penelitian.


Tetapi, sistem memberikan misi yang cukup berat untuk Dina. Dalam waktu sebulan, Dina perlu menghasilkan satu penelitian yang memberikan pembuktian secara ilmiah mengenai kandungan senyawa yang ada di dalam sayuran milik Seno.


Meski Dina sebentar lagi akan mendapatkan gelar sarjananya, tetapi itu tidak mudah untuknya. Ia belum memiliki pengalaman banyak untuk melakukan penelitian seperti ini. Jadi, ini akan cukup berat bagi perempuan itu.


Untuk sementara sebelum rumah mereka selesai di renovasi, Seno dan kedua istrinya akan tinggal di rumah peninggalan orang tua Seno. Dengan begitu, mereka akan jauh lebih dekat jika ingin pergi ke kebun.


Mereka belum memiliki rencana untuk bulan madu sekarang. Mereka sudah mendiskusikan bahwa mereka akan berbulan madu saat libur semester telah tiba. Dengan begitu, mereka bisa berlibur dalam waktu lama tanpa terburu-buru kembali untuk menyelesaikan urusan yang lainnya.


Saat ini Seno tengah mengadakan rapat kecil bersama Thorbiorn dan Tiarsus. Malam ini Seno berencana untuk pergi ke dimensi XY01BS9 untuk menyelesaikan misinya yang tertunda itu. Seno sudah sangat siap sekarang. Ia juga membeli senjata yang manusiawi kepada Dimas untuk dirinya sendiri.


Senjata yang ia pilih adalah sebuah ledang dengan berat dua kilogram. Ini tidak terlalu berat dan juga tidak terlalu ringan untuk Seno.


Meski kemampuan bertarungnya sangat payah jika dibandingkan dengan Thorbiorn, setidaknya Seno memiliki senjata untuk melindungi diri dan tidak hanya mengandalkan kedua buruh taninya.


Hari berlalu bergitu cepat. Seno menunggu hingga kedua istrinya terlelap. Ia sudah memberikan obat tidur untuk keduanya. Dengan begitu, Seno tidak perlu lagi memberikan penjelasan kepada mereka mengenai tujuannya pergi di malam hari.


Jika mereka tahu, pasti Seno akan dilarang pergi. Malah, ada kemungkinan keduanya memaksa untuk ikut. Itu akan sangat merepotkan. Keduanya belum memiliki kekebalan seperti Seno. Jadi akan sangat berbahaya jika mereka ikut.


“Apakah semua sudah siap?” Tanya Seno.


“Semua sudah siap Bos. Kita bisa berangkat kapan saja.” Jawab Tiarsus.


“Bagus. Sekarang juga kita berangkat.”


….

__ADS_1


Saat ini Seno sudah memakai sebuah jubah berwarna hitam yang menutupi seluruh tubuhnya. Ia juga memakai topeng untuk lebih aman dalam menutupi identitasnya.


Seno tidak mau nantinya jubah miliknya tersibak dan menampakkan wajahnya kepada yang lain. Jika itu terjadi, maka akan mudah bagi pihak militer menemukannua. Apalagi dirinya sudah bekerjasama dengan mereka.


Thorbiorn dan Tiarsus pun memakai topeng sekarang. Untuk Tiarsus sendiri, ia memilih menundukkan badannya ketika begerak. Hal ini karena tubuh tinggi Tiarsus cukup mudah menarik perhatian.


Kali ini Seno akan digendong oleh Thorbiorn agar lebih cepat sampai ke tempat portal berasa. Untuk senjata mereka sendiri, Seno sudah menyimpannya di dalam kotak penyimpanan. Dengan begitu, mereka tidak memiliki beban tambahan berupa senjata.


Thorbiorn berlari dengan lincah. Meski ia mengendong Seno, tetapi ia masih bisa bergerak dengan mudahnya. Tiarsus juga mengikuti beberapa meter di belakang Thorbiorn.


Seno cukup kaget dengan kecepatan Thorbiorn. Ia tidak menyangka bahwa Thorbiorn bisa berlari secepat ini. Dalam waktu singkat Thorbiorn sudah membawa mereka mendekat ke arah perkemahan para tentara.


Seno bisa melihat sendiri ada sekitar dua hingga tiga ribu tentara yang bersiaga di dekat portal. Tidak hanya itu, Seno juga melihat sekitar tiga ratus tentara mengarahkan senjata mereka ke arah portal. Sepertinya mereka melakukan posisi siaga untuk bersiap jika ada makhluk yang menyebrang dari dimensi lain.


Saat ini Thorbiorn tengah bersiap mencari rute menuju ke portal tanpa menabrak seseorang. Namun, ketika ia tengah memikirkan hal itu, suara sirine yang cukup nyaring terdengar di seluruh perkemahan tentara tersebut.


Hal itu membuat Seno mengerutkan keningnya. Ia bingung apa yang memicu munculnya suara sirine tersebut. Pada akhirnya, Seno tahu bahwa merekalah yang memicu munculnya suara tersebut. Hal ini Seno ketahui dari banyaknya tentara yang berlari ke arah mereka dengan membawa senjata.


Sepertinya ada sensor atau apa pun itu yang ditaruh oleh para tentara di sekitar sini. Keberadaan mereka memicu sensor tersebut dan membuat sirine yang ada berbunyi nyaring.


Sekali lompat, Thorbiorn bisa menempuk jarak sepuluh meter. Tiarsus tidak mau ketinggalan. Ia melompat dan mengikuti Tiarsus dari belakang.


Karena sekarang banyak kerumunan tentara di depan mereka, Thorbiorn jelas tidak bisa menerjang mereka begitu saja. Ia masih ingat pesan Seno untuk tidak melukai satu pun tentara yang ada. Oleh karena itu, Thorbiorn melakukan satu lompatan besar lagi.


Dengan kekuatannya, Thorbiorn mencoba memanipulasi berat tubuhnya. Ia lalu menjadikan pundak dan kepala tentara yang ada di sana, sebagai pijakan selama berlari menuju ke arah portal. Tiarsus juga mengikuti jejak Thorbiorn.


Alhasil, banyak erangan kesakitan dari beberapa tentara yang ada. Mereka yang bersiap menembak pun mengurungkannya. Para tentara itu tidak mau salah sasaran dan berujung menembak rekan mereka. Itu malah akan memperburuk keadaan.


Dengan cepat, Thorbiorn membawa Seno menuju ke arah portal. Setelah berada di atas portal, sebuah cahaya putih menyelimuti ketiganya. Tidak lama kemudian mereka menghilang dari sana.


….

__ADS_1


“Sial. Kita gagal mendapatkan mereka.” Aprilio mengumpat dengan keras.


Beberapa saat lalu dirinya mendapatkan laporan bahwa mereka menangkap kehadiran sosok berjubah hitam yang sebelumnya datang kemari. Mereka mendeteksinya dari kamera pengawas yang dilengkapi dengan sensor panas yang sudah mereka sebar.


Sayangnya, rencana yang sudah mereka susun untuk mengepung sosok berjubah hitam tersebut gagal dilaksanakan. Mereka tidak menyangka bahwa sosok berjubah hitam itu memilih menjadikan para tentara sebagai pijakan agar terhindar dari kepungan.


Tidak hanya itu, Aprilio tadi juga mendapatkan laporan bahwa tidak hanya satu sosok berjubah hitam yang datang. Tetapi tiga orang, dengan salah satu di antara mereka digendong.


“Perintahkan kepada semua tentara yang ada untuk bersiap di sekitar portal. Pasang juga beberapa ranjau di sana. Aku yakin setelah ini sosok berjubah hitam tersebut akan kembali dari portal dengan membawa mahkluk asing


itu keluar."


“Aku yakin jumlah mereka akan lebih banyak lagi daripada sebelumnya. Jadi kita perlu menyiapkan semuanya.” Ucap Aprilio memberikan perintah kepada bawahannya.


“Siap laksanakan.”


Sebelumnya mereka hampir kewalahan dalam menghadapi mahkluk asing tersebut. Jumlah mereka cukup banyak dan bergerumbul. Mereka cukup sulit untuk membidik makhluk yang berada di barisan belakang.


Untung saja mereka muncul dari satu titik, dengan begitu para tentara bisa memusatkan perhatian mereka. Jika ada beberapa titik seperti ini, maka akan sulit bagi mereka mengatasi kehadiran mahkluk-mahkluk tersebut.


Jika saja mereka tidak di tengah hutan di derah pegunungan, maka mereka bisa menghadirkan tank untuk membantu mengatasi makhluk tersebut. Namun, kehadiran tank di daerah sini justru akan menarik rasa penasaran masyarakat.


Sekarang saja mereka cukup membuat masayrakat curiga dan ingin tahu aktifitas apa yang dilakukan oleh para tentara di hutan ini.


Jika mereka membawa tank kemari, otomatis mereka perlu menebang beberapa pohon untuk biaa dilewati tank dengan mudah. Itu malah mempermudah warga sipil untuk sampai di perkemahan mereka sekarang.


Meski keamanan di sini cukup ketat, tetap saja ada kemungkinan satu dua orang yang berhasil menyusup. Jika hanya menyusup itu cukup mudah diatasi. Tetapi yang mereka khawatirkan adalah mereka membuat unggahan di internet.


Hal itu bisa membuat keresahan publik. Meski nanti mereka bisa menghilangkan unggahan tersebut, tetapi ada kemungkinan unggahan tersebut telah diunduh dan disebar luaskan secar offline daan pembicaraan dari mulut ke mulut.


“Sepertinya aku harus menghubungi para jendral sekarang dan meminta bantuan

__ADS_1


kepada mereka. Aku tidak sepenuhnya yakin mereka yang berjaga di sini bisa mengatasi


serangan yang akan terjadi setelah ini.” Gumam Aprilio dalam hati.


__ADS_2