SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 10


__ADS_3

“Kak Riz ... udah belum, sih? Pegel, nih ...”


Rizkia berdecak, “Sabar, dong, ah. Duduk doang aja, kok, ngeluh.”


Safa merengut. Sudah hampir satu jam dia duduk dengan kepala tegak, dan Rizkia belum juga selesai. Kakak sepupunya itu mendadak jadi MUA malam ini. Lebih tepatnya hanya untuk Safa karena sepupunya yang lain dandan sendiri.


Sebenarnya Safa juga sudah dandan tadi. Tapi tiba-tiba dapat kecaman dari mereka. Katanya make up Safa terlalu polos, gak cocok buat acara resmi. Padahal Safa sengaja mau yang simpel-simpel saja.


Acaranya sendiri akan dimulai setelah isya. Keluarga besarnya sudah berkumpul sejak siang di rumah Oma. Ada juga yang menyusul karena tak bisa meninggalkan pekerjaan. Persis seperti ayah dan abangnya.


Oh iya, Dava dan Tuan Halim sudah sampai sejak magrib tadi. Mungkin mereka sedang berkumpul dengan keluarga lainnya.


“Nah, selesai.”


Rizkia menjauhkan tangan saat sentuhan terakhirnya selesai. Perempuan itu berdecak mengagumi hasil karyanya sendiri.


“Wah ... lihat, deh, Saf. Kamu cantik banget. Kayaknya kakak punya bakat buat jadi MUA beneran, nih.”


Safa melihat bayangannya di cermin. Memang cantik, tapi berat banget di wajah. Alasan mengapa Safa gak terlalu suka make up tebal. Dia paling mentok pakai foundation atau chussion dan perintilan lainnya seperti lipstik dan maskara. Itu pun hanya Safa pakai saat acara tertentu.


Yaelah, Saf... kamu ‘kan jarang keluar rumah.


“Emang dasarnya Safa udah cantik. Kak Riz gak usah percaya diri.”


Rizkia mencibir, “Dasar gak tau terima kasih. Udah sukur kakak dandanin. Kalau enggak, nanti kamu paling kucel di keluarga kita. Maaf maaf saja, kita gak mau dan gak nerima gembel di sini,” ujarnya mengibas rambut.


Perdebatan mereka harus berhenti karena acara akan segera dimulai. Safa dan para sepupunya duduk di kursi yang sudah disediakan, bergabung dengan keluarganya yang lain.


Ruang depan rumah Oma-nya sudah disulap sedemikian rupa. Ada juga panggung kecil dengan background mawar putih yang terlihat bertumpuk saking rapatnya. Desainnya sederhana, namun terlihat mewah dan elegan.


Decornya serba putih. Sedangkan dress code berwarna light blue cenderung abu.


Safa membenahi bagian bawah dress kebayanya saat akan duduk. Safa dan para sepupunya duduk di barisan belakang, sementara di depan khusus para orang tua termasuk Oma.


“Safa kapan nyusul, nih ... Erina sebentar lagi tunangan, lho.”

__ADS_1


Sekonyong-konyong sebuah suara menyapa telinga. Safa cemberut menatap Liliana yang tersenyum menggodanya. Erina adalah saudara sepupu yang seumuran. Memang di antara cucu perempuan Oma, hanya Safa dan Erina yang belum taken.


Sebenarnya banyak, sih, tapi mereka masih remaja dan sekolah. Hingga seringkali yang jadi sasaran adalah Safa dan Erina. Padahal Safa belum tua hingga pantas mendapat pertanyaan itu.


Sekarang Erina mau tunangan. Itu berarti tinggal Safa seorang yang belum dapat jodoh.


Huh, jaman sekarang umur 30 belum nikah masih lumrah, kok. Batin Safa menyemangati.


Rizkia terkekeh melihat wajah masam Safa. Reaksi gadis itu seringkali mengundang kejahilan keluarga besarnya. Menurut mereka Safa itu lucu, sebuah keseruan bisa membuat gadis itu merajuk.


Seperti sekarang.


“Safa masih bocah, Li. Pacar aja belum punya.”


“Kamu masih jomlo aja, Safa?” tanya yang lain ikut mengompori.


Safa mendelik, “Siapa bilang Safa jomlo? Safa udah punya calon, kok,” ujarnya ketus.


“Masih coming soon, Girls ...” cetus Dava sambil lalu. Lelaki itu tak sengaja lewat. Hendak bergabung ke barisan para lelaki.


Serempak, para sepupunya yang tadi melihat Dava kembali menatap Safa menuntut. “Serius?” tanya Liliana sebagai senior di antara mereka.


“Kamu lagi naksir seseorang, ya?” timpal Rizkia mewakili semuanya.


Safa merasa terpojok. Bibirnya semakin mengerucut dan hal itu cukup memberi jawaban pada mereka.


“Siapa?” Kali ini Renata yang bertanya.


Erina menatap Safa kasihan. Selain saudara, mereka juga teman dekat yang baik. Sedikit lebih keduanya sering curhat mengenai banyak hal. Tentu saja kegalauan Safa akan menular padanya.


“Ayo dong cerita ...” ucapan Ririn diikuti yang lainnya. Hingga mereka sedikit menimbulkan kegaduhan. Itulah resiko jika para wanita Halim berkumpul. Hebohnya melebihi tim sorak.


Keramaian itu membuat para orang tua mendelik. Sedangkan Oma Halim hanya terkekeh, tak ayal kelakuan cucu-cucunya mengundang rasa hangat di hati. Wanita tua itu bersyukur karena memiliki keluarga yang rukun.


“Heh, kalian. Bisa diam tidak? Calon pria sebentar lagi datang. Duduk yang anggun!” tegur salah satu Tante Safa.

__ADS_1


Sontak para cucu Halim itu menutup mulut dengan senyum terkulum. Sementara Safa memeletkan lidahnya merasa menang.


Terimakasih, Tante.


"Jadi, kamu beneran lagi naksir cowok, ya? Siapa?"


Safa menoleh saat Erina berbisik di telinganya. Gadis itu tampak sangat penasaran. Pasalnya, Safa memang kerap menyukai pria-pria tampan. Tapi, dari semuanya tak ada satu pun yang Safa jadikan kekasih.


Safa meringis melempar cengiran. Ia menggaruk tengkuk yang tiba-tiba terasa geli. Padahal dress brokat itu kualitas terbaik. Sudah terjamin kualitas dan kenyamanannya.


"Gak tau, sih. Hehe ..."


Erina mendecak kecil. Merasa tak puas dengan jawaban Safa. "Jangan dimainin terus. Sekali-kali kamu harus serius. Kalau begitu mulu, kapan kamu nyusul kita-kita."


Safa memutar matanya malas. "Santai aja kali. Masih muda juga. Ngapain mesti buru-buru. Memangnya nikah ajang perlombaan?"


"Ya gak gitu juga. Jujur aja, gak enak 'kan diolok-olok terus?"


Iya sih. Batin Safa.


Tapi 'kan jodoh ada di tangan Tuhan. Kita sebagai manusia tidak tahu menahu mengenai siapa dan kapan akan dipertemukan. Semuanya sudah tertulis di buku takdir. Lalu, Safa harus bertanya pada siapa?


Hanya karena perkara single, dia jadi bahan pembicaraan orang. Lucu, ya. Bukankah ini sudah jaman maju? Kenapa pikiran manusia-manusia ini masih terbelakang?


Diam-diam bahu Safa meluruh. Selain pertanyaan mengapa tidak kuliah, pertanyaan mengapa masih jomlo pun tak kalah menyebalkan.


Terlebih Safa anak rumahan. Imejnya sebagai anak malas sudah pasti melekat melengkapi titelnya.


"Cobalah mulai sekarang seriusin. Siapa tahu 'kan di antara mereka ada jodoh kamu?"


"Seriusin gimana? Orangnya aja jutek. Lagian, bukannya kebalik ya? Harusnya cewek yang diseriusin cowok. Bukan cowok seriusin cewek," timpal Safa heran.


Erina mengibas. "Kata Tante Miranti udah gak musim. Sekarang musimnya wanita gerak duluan," ucapnya polos.


Safa memutar mata. Apa yang dia harapkan dari Erina? Safa lupa para sepupunya itu songpret semua.

__ADS_1


__ADS_2