SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 46


__ADS_3

Safa menunjuk bibir Edzar dengan mulutnya yang mengerucut, matanya berkedip menatap Edzar memelas. Ekspresinya mirip anjing meminta makan. Edzar yang terpaku tidak menyadari Safa yang kembali mendekat.


Semakin dekat.


Semakin dekat.


Semakin dekat hingga Safa hampir sukses mendaratkan bibirnya. Jarak mereka hanya tinggal sesenti. Bahkan Safa bisa melihat pori-pori Edzar di wajahnya. Sedetik lagi Safa menjangkau mulut Edzar.


Berhasil.


Kalau saja Doni tidak mengacau dengan tiba-tiba ngerem mendadak.


Ckiitt ...


“Aw!” Safa mengaduh saat kepalanya membentur sandaran jok depan. Dia meringis sambil mengelus pelan empunya yang sakit.


Di sisi lain Edzar tersadar dari keterpakuan. Matanya berkedip seolah baru saja bangun dari lamunan. Di antara semua itu, Doni lah yang paling tidak tahu diri. Dengan wajah tanpa dosa dia berkata sambil melirik spion.


“Maaf, tadi ada kucing lewat.”


Padahal dalam hati Doni berusaha keras menahan tawa. Sekarang Doni tahu kenapa Safa terasa familiar. Dia gadis yang sama dengan gadis yang ditolong Edzar saat di mall, sekaligus gadis pertama yang Edzar gendong di mata Doni.


\=\=\=

__ADS_1


Pagi harinya Safa dihadapkan dengan cecaran Dava soal dirinya yang tiba-tiba hilang semalam. Abangnya itu tidak berhenti mengomel sejak Safa membuka mata. Safa sampai pusing mendengar cerocosan Dava yang bertanya ini itu, termasuk Safa pulang dengan siapa.


Ayah dan Bunda yang melihat pun sampai terheran. Mereka tidak tahu permasalahan sesungguhnya karena saat Safa memasuki rumah keduanya sudah beristirahat di kamar. Pikirnya mereka tidak akan khawatir dengan Safa karena bersama abangnya.


“Udah, deh Bang. Safa pulang duluan juga karena abang. Abang sibuk sendiri dengan kolega-kolega abang. Safa bosan. Terus ketemu Om Edzar sama temennya di luar. Ya sudah, Safa ikut saja sama mereka.”


Safa tidak menceritakan kejadian detailnya, apalagi masalah ciuman. Bisa habis dia kalau sampai mereka tahu.


“Bisa ‘kan kamu telpon? Atau minimal chat, SMS, terserah. Yang penting kasih tahu biar abang juga gak khawatir!”


Safa mencebik. Sekarang saja bilangnya khawatir, semalam mana ada Dava peduli.


“Ya terus? Emang salah Safa kalau merasa bosan di sana?”


Dava hendak bersuara lagi.


“Sudah, sudah. Sebenarnya ini ada apa, sih? Kalian bertengkar terus dari tadi. Kuping ayah sakit dengarnya,” ujar Tuan Halim menyela, membuat Safa maupun Dava serentak bungkam.


Tuan Halim menyuruh mereka makan dengan tenang. Apapun permasalahannya selesaikan nanti setelah sarapan. Atau kalau tidak sempat bisa dibahas sepulang Dava kerja.


\=\=\=


“Jadi dia menjemput kekasihnya di hotel itu?”

__ADS_1


“Benar, Pak. Orang saya bilang begitu.”


“Siapa gadis itu?”


Pria yang ditanya itu menyodorkan tablet pada atasannya. Hingga terlihatlah laman sebuah Instagram yang menampilkan profil seseorang.


“Safana Halim. Dia seorang selebgram dengan hampir satu juta pengikut.”


“Aku tidak bertanya soal pengikutnya,” ujar suara itu dingin.


Pria muda di sampingnya tergagap. “Maaf, Pak. Dia putri seorang pengusaha yang cukup berpengaruh.”


Kepala itu mengangguk, tangannya terangkat mengusap dagu dengan pelan.


“Kamu yakin gadis itu kekasihnya?”


“Yakin, Pak. Edzar menciumnya saat mereka bertemu.”


“Baiklah. Terus awasi dia. Jangan sampai ada yang terlewat. Kita akan hancurkan dia saat ada peluang yang pas. Dia pikir sedang berhadapan dengan siapa. Lihatlah apa dia masih bisa bersikap sombong jika saat itu sudah tiba, hahaha....”


Tawa dingin itu terdengar mengerikan. Matanya berkilat penuh ambisi dan dendam. Tangannya meremas satu sama lain dengan mulut bergumam pelan.


“Kamu tidak akan bisa menjebloskanku ke penjara, Edzar. Tidak seorang pun berani menangkapku.”

__ADS_1


__ADS_2