
"Mas mau ke mana?" Edzar yang tengah membaca koran di ruang tengah kontan bertanya saat melihat putranya berlari kecil hendak keluar rumah.
Ibra membawa segondol robot dan mobil-mobilan yang baru Edzar belikan seminggu lalu.
"Mau ke rumah Uwa," jawab Ibra sambil lalu.
Bocah 6 tahun itu berjalan cepat meninggalkan Edzar. Edzar yang melihat pun berdecak disertai gelengan. "PR nya selesaikan dulu!" serunya gemas.
Ibra berbalik kesal. "Udah ih, Papi! Papi bawel, deh. Kalau gak percaya tengok aja meja belajar Mas," rengutnya, lalu kembali melanjutkan langkah keluar rumah.
Edzar tak bersuara lagi. Ia lanjut baca koran meski sesekali masih menggerutu. "Punya anak laki hobinya main sama perempuan. Untung dia gak ikut-ikutan suka barbie."
"Papi kenapa?" Safa muncul dari arah dapur, membawa semangkuk puding untuk suaminya.
Edzar yang melihat kedatangan Safa kontan tersenyum dan segera menarik wanita itu ke pangkuan.
"A Uda, ih, nanti Ibra lihat gimana?" cemas Safa.
"Ibra lagi main ke rumah Abang kamu," ucap Edzar sambil mulai menelusuri tengkuk Safa.
__ADS_1
Safa menggeliat kegelian. "A Uda jangan macam-macam di sini. Ini area yang bisa didatangi anak, tau."
"Ya udah ke kamar." Edzar mendongak, menatap sang istri penuh permohonan. "Hm?" gumamnya berusaha membujuk.
Safa pun meringis, antara mau tidak mau. Namun pada akhirnya ia pun mengangguk, hingga kemudian memekik saat Edzar mengangkat tubuhnya tanpa aba-aba.
Mereka beralih ke kamar dan melanjutkan aktifitas menyenangkan itu dengan penuh gelora.
***
Sementara di seberang rumah, Ibra tengah berdiri dengan wajah merengut memeluk erat mainannya. Tadinya ia berniat mengajak Claudia, sepupunya bermain bersama seperti biasa.
"Cla!" seru Ibra memanggil sepupunya yang kini asik menyisir rambut boneka dengan seorang teman perempuan entah siapa.
Audi yang mendengar panggilan Ibra sontak mendongak dan tersenyum dengan mata penuh binar. "Mas Ibra? Mas mau main, ya? Ayo sini main sama Audi sama Vina! Sini sini!"
Gadis kecil itu mengayun-ayunkan tangannya mengajak Ibra, namun Ibra masih setia diam di tempat. Matanya mendelik tak senang pada anak bernama Vina yang menurutnya sudah merebut perhatian Claudia, si bayi cantik favorit Ibra sejak kecil.
Rupanya Vina anak tetangga baru mereka yang baru pindah. Menyebalkan. Setelah ini Audi pasti lebih senang bermain sama Vina ketimbang Ibra.
__ADS_1
Tak mau Audi benci padanya, Ibra pun berjalan mendekat, bergabung dengan 2 anak perempuan itu.
Ketika bermain Ibra tak pernah lepas membeliakkan matanya pada Vina. Ia memelototi anak itu diam-diam, dan akan mengubah ekspresinya ketika Audi menoleh padanya.
Alhasil, Vina yang awalnya begitu semangat dan ceria bermain bersama Claudia, lambat-laun mulai bergetar tak nyaman. Ia takut karena Ibra terlihat sangat galak di matanya.
"Audi, Vina mau pulang dulu, ya?" cicit Vina dengan wajah melas dan pias.
Audi yang mendengar itu lantas menoleh. "Lho, kok pulang? Vina gak suka sama Audi? Gak seru ya main sama Audi?" ia bertanya sedih.
Vina menggeleng pelan. Sorotnya terlihat tertekan saat melihat Ibra yang semakin memelototinya. "Eng ... enggak, kok. Seru, aku suka main sama Audi, tapi ..."
"Tapi kenapa? Vina mau eskrim? Di rumah Audi ada banyak, kok. Minta aja sama Mama, Mama pasti kasih."
Lagi-lagi Vina menggeleng. "Aku mau pulang aja."
Ia yang sudah tidak tahan dengan tatapan Ibra buru-buru beranjak membereskan mainan miliknya dan memakai sandalnya hendak pulang. Mereka memang bermain di teras depan rumah Audi.
Vina langsung berlari begitu selesai memakai sandal. Sementara Audi merengut melihat kepergian Vina. Di sisi lain, Ibra tertawa penuh kemenangan di dalam hati.
__ADS_1
Sekarang Ibra bisa main sama Audi sepenuhnya, tanpa ada pengganggu di antara mereka.