SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 96


__ADS_3

'Sudah makan?'


Hapus.


'Bagaimana keadaanmu?'


Hapus lagi.


"Apa demammu sudah turun?'


Ibu jari itu menggantung di atas tombol send. Beberapa menit berlalu dalam posisi yang sama. Sebelum kemudian menghapusnya lagi untuk kesekian kali.


'Soal abangmu....'


Tidak. Edzar menggeleng dan kembali menghapus pesan yang ia ketik. Lelaki itu menghela nafas berat melihat roomchat-nya bersama seorang gadis bernama Safa. Sudah berapa lama mereka tak bertukar pesan? Ternyata sesulit ini memulai pembicaraan.


Edzar duduk di bibir ranjang memegangi ponselnya. Lelaki itu tampak merenung sebentar. Lalu tiba-tiba bangkit dan berjalan ke arah balkon. Kamar Safa tepat bersebelahan dengannya. Dan lampunya masih menyala. Kalau Edzar benar, itu berarti Safa belum tidur. Kecuali kalau gadis itu biasa terlelap dalam keadaan terang.


Tiba-tiba sebuah ide hinggap di kepala. Bergegas Edzar masuk kembali ke kamar dan membuka laci di samping ranjang. Sebuah benda berkilauan menyapa mata. Sudut bibir Edzar terangkat seiring jemarinya meraih gelang yang memiliki gantungan inisial S itu.


Edzar jadi teringat malam di mana Safa meloncati balkon hanya untuk bertemu dengannya. Kelakuannya benar-benar membuat orang tak habis pikir. Malam itu Edzar bahkan hampir jantungan melihat kenekatannya.


"Mau kemana, Den?" tanya Bik Yah saat melihat Edzar menuruni tangga.


"Keluar sebentar, Bik," sahut Edzar sambil lalu. Lelaki itu membuka pintu dan keluar begitu saja.


Bik Yah menggaruk pipinya sedikit bingung. Berpikir kemana sekiranya Edzar pergi. "Ah, mungkin beli rokok kali," gumamnya sebelum lanjut berjalan ke ruang tengah.


Enaknya punya majikan baik itu kita bisa bebas nonton TV di rumahnya. Saatnya sinetron.... Bik Yah cekikikan sambil memindah-mindah channel. Tanpa tahu majikannya di luar sana tengah mondar-mandir di depan rumah orang. Berkali-kali Edzar mengangkat tangan hendak memencet bel, namun ia urung dan menurunkan lagi tangannya. Berjalan bolak-balik sambil sesekali mendongak ke arah sebuah kamar di lantai dua.


Edzar sadar kelakuannya saat ini mirip anak kecil. Dan ia benci hal itu. Tidak pernah sekalipun Edzar bersikap konyol selama hidupnya. Masa pubernya bahkan tak separah ini.


Benar. Kaki Edzar berhenti. Kenapa ia harus bersikap seperti orang bodoh? Oh, ayolah, kamu lulusan terbaik Fakultas Hukum. Orang-orang mengidolakanmu sejak dulu. Bersikaplah lebih gentleman.


"Ehm, aku hanya sedikit kebingungan," gumam Edzar menyangkal isi hatinya.


Akhirnya dengan keberanian setinggi gunung Edzar memencet bel rumah Safa. Tak lama terdengar langkah kaki seseorang, dan muncullah penampakan Bik Inem, Asisten Rumah Tangga keluarga Halim. Edzar sedikit merunduk mengulas senyum tipis.


"Malam, Bik. Safa ada?"


"Non Safa ada. Tapi lagi sakit. Mau apa, ya, Mas?" ujar Bik Inem ragu-ragu. Pasalnya, tak biasanya Edzar bertamu menanyakan Safa. Kalau Safa yang ke rumah Edzar sih bukan hal aneh.


"Ini, ada sesuatu yang mau saya kembalikan."


Wanita itu nampak terdiam sebentar. Seperti tengah berpikir, apa Edzar layak untuk ia suruh masuk.


"Ya sudah masuk aja, Mas."


Pada akhirnya Bik Inem tak memiliki wewenang apapun untuk menolak, meski sebelum ini ia sempat merasakan ketidak harmonisan hubungan Safa dan Edzar. Kenapa dia bisa berpikir begitu? Jangan remehkan naluri seorang wanita meski itu sudah tua. Bik Inem tahu pasti ada sesuatu yang terjadi. Hubungan mereka tak sama lagi. Buktinya, Safa tak pernah lagi menyuruhnya memasak bekal.


Meski begitu, Bik Inem menganggapnya sebagai urusan anak muda. Jadi biarlah mereka penjajakan dengan caranya masing-masing.


Edzar telah duduk di sofa ruang tamu, Bik Inem berlalu ke dapur membuatkan minum, sekaligus memberitahu tuan rumah mengenai kedatangannya. Edzar berharap Safa yang akan menemuinya langsung, namun ia juga tidak bisa egois terlebih saat Tuan Halim sendiri mengatakan putrinya tengah terbaring kesakitan di atas ranjangnya.


"Safa masih sakit?" tanya Edzar berbasa-basi lebih pada memastikan.


Tuan Halim mengangguk dan menjawab seadanya. Tampaknya beliau masih dilanda kegamangan atas apa yang menimpa putranya. "Iya, apalagi anak itu sulit sekali makan jika sedang begini. Sekalinya mau makan dia malah minta mie instant," ucap Tuan Halim sembari mengusap keningnya dengan ekspresi lelah. "Sudah gitu minta ditambahin rawit," lanjutnya lagi.


Edzar terkekeh kecil, merasa geli membayangkan ekspresi ayah dan anak itu ketika berbantah soal makanan.


"Oh iya, Nak Edzar ada keperluan apa datang kemari?"


"Ehm, maaf sebelumnya saya mengganggu waktu anda, maaf juga jika saya datang di waktu yang kurang tepat. Tapi, saya hanya ingin cepat-cepat mengembalikan ini karena takut lupa. Terlebih ini barang berharga." Edzar mengulurkan gelang di tangannya pada Tuan Halim.


Tuan Halim menerima itu dengan kening berkerut. "Ini... milik Safa? Kenapa bisa ada di kamu?"


"Itu.... Sebenarnya, malam itu Safa pulang bersama saya. Kami tidak sengaja bertemu. Saya pikir, daripada membiarkan Mbak Miranti bolak-balik antar pergi, akan lebih baik jika Safa pulang bersama saya saat itu."


"Dan saya menemukan gelang itu di mobil."


Edzar tidak mungkin mengatakan bahwa sebenarnya gelang itu ditemukan di kamarnya, kan? Sebenarnya Edzar benci berbohong, tapi apa boleh buat? Edzar belum ingin menghancurkan citranya di depan pria paruh baya ini.


"Kamu yakin ini bukan milik perempuan lain?"


Entah alasan apa Tuan Halim bertanya seperti itu. Edzar menatapnya diam sejenak.

__ADS_1


"Yakin. Karena kebetulan, hanya Safa perempuan berinisial S yang pernah menaiki mobil saya."


Sesaat keadaan terasa hening. Derak jarum jam terdengar lirih di telinga mereka. Tiba-tiba Tuan Halim terkekeh, "Ternyata kamu memang sekaku yang dirumorkan."


"Padahal sebentar lagi kita akan berbesanan, berhentilah menatapku seperti orang asing." Tuan Halim mengambil cangkir teh di depannya, menyesapnya sembari menyembunyikan senyum yang entah berarti apa.


Apa sebenarnya pria itu tahu niat terselubung Edzar?


Edzar kemari karena ingin mengetahui kabar Safa. Memang dia dengar sudah membaik, tapi entah kenapa hatinya belum puas jika belum melihatnya secara langsung. Namun nampaknya itu adalah hal mustahil untuk Edzar saat ini. Dia bukan siapa-siapa, setidaknya belum. Tidak akan ada yang mewajarkan jika dirinya tiba-tiba meminta izin naik ke lantai dua apalagi memasuki kamar anak gadis di rumah ini.


"Saya sudah tahu. Saya mendengarnya saat itu."


Edzar mendongak mengembalikan fokusnya pada Tuan Halim yang kembali membuka suara.


"Soal kamu yang sebelumnya ikut andil menangani kasus ini. Maksud saya, kasus korupsi."


Keduanya saling berpandangan dengan tatapan tenang. Edzar masih berusaha meraba arah pembicaraan mereka. Apa Tuan Halim hendak meluapkan kemarahan padanya?


Dibanding itu....


"Saya tidak akan menyalahkanmu atas terlibatnya anak saya dalam hal ini. Jika dia tertangkap itu semua karena kesalahannya. Kamu hanya menjalankan tugas."


"Namun, apa kamu pernah menemui sedikit saja kejanggalan, seperti misalnya kesalah pahaman dalam menjadikan seseorang sebagai tersangka. Saya bukan ingin membela Dava, hanya saja...." Tuan Halim menggantung ucapannya.


Edzar terpaku. Sekarang dia tahu, meski malam itu Tuan Halim nampak kalap dan bengis memukuli putranya, namun sebenarnya ialah yang paling merasa cemas di sini. Tuan Halim adalah kepala keluarga, jelas kejadian yang menimpa Dava merupakan sebuah pukulan keras yang membebani pikirannya.


Edzar mengangguk pelan, "Saya paham."


"Dan untuk masalah itu, sebenarnya ini bukan lagi ranah saya. Setelah perkara itu dilimpahkan ke Tipikor, sepenuhnya saya sudah lepas tangan dan tidak berhak ikut campur mengenai apapun lagi. Saya harap anda mengerti." Bibirnya mengulas senyum menyesal. Sedikit tak tega karena harus membuat Tuan Halim kecewa.


"Tapi, jika anda berkenan, saya memiliki kenalan yang mungkin saja bisa membantu anda mendampingi Dava. Setidaknya anda bisa meminta beliau untuk mengetahui kebenarannya. Beliau orang yang jujur."


Tuan Halim tersenyum menatap Edzar, dia tak berkata apapun, namun matanya menyiratkan bahwa mungkin saja ia setuju.


Tak lama kemudian seseorang muncul di depan pintu. Edzar menoleh karena posisinya membelakangi. Pun Tuan Halim yang langsung bersuara begitu melihat siapa yang datang.


"Baskoro? Kamu kemari?"


Wajah hangat paruh baya itu balas tersenyum. Meski usianya tidak lagi muda, namun fisiknya masih bugar dan mempesona. Edzar akui itu. Dan entah kenapa tiba-tiba perasaannya berubah was-was. Siapa dia?


Gadis kecilku?


Berbeda dengan Edzar yang termenung, Tuan Halim justru mengerut tak suka. "Apa kamu tidak bisa memberinya makanan yang lebih sehat? Aku susah payah melarangnya makan mie instant tapi kamu malah membelikannya bakmi. Ini sama saja seperti berteduh dari hujan lalu tercebur ke sungai."


"Analogi apa itu?" kekeh Baskoro. "Ayolah, Bang... Jangan terlalu mengekang. Dia sudah sulit untuk makan. Setidaknya biarkan sesuatu memasuki perutnya, daripada tidak sama sekali? Ya, kan?"


Tuan Halim menghela nafas, "Kalian sama saja. Sama-sama keras kepala dan pandai berargumen."


Tentu saja Baskoro langsung mengedipkan mata, "Sudah kubilang dia itu anakku," ucapnya menyeringai. "Lagipula apa salahnya makan bakmi? Ini beda, bumbunya bukan instant seperti Indomie. Abang tak perlu khawatir."


"Apa bedanya? Mereka sama-sama mie."


Sekarang giliran Baskoro yang menghela nafas, "Susah ngomong sama orang kolot kayak Bang Surya, nih. Ini hanya bakmi. Tidak ada teori yang melarang makan bakmi saat demam."


"Sudahlah, terserah kamu."


"Ngomong-ngomong, kenalin ini tetangga sebelah. Namanya Edzar. Dia juga keluarga calon besannya Ibu." Ibu yang dimaksud adalah Oma Halim.


Baskoro menoleh pada Edzar yang sejak tadi diam. Mereka saling bertatapan sebentar, sebelum saling mengulurkan tangan untuk bersalaman.


"Baskoro."


"Edzar."


Entah apa yang membuat Edzar menguarkan aura dingin, hanya saja ada perasaan tertentu yang sulit untuk dijelaskan. Dan ini bukan sekedar rasa cemburu yang kekanakan. Edzar menatap Baskoro dengan lekat, berusaha mengulik apapun dari pria berumur sekitar empat puluhan itu. Namun hasilnya nihil. Dia tak menemukan apapun selain lengkungan ramah dari bibir dan matanya.


"Jadi, aku boleh ke atas?" tanya Baskoro pada Tuan Halim.


"Kamu pikir aku mampu melarang? Kalau sudah menyangkut Om Pororo, Safa bahkan menganggapku sebagai ayah tiri."


"Bwahahaha....."


"Itu tau. Jadi, sadari posisimu, Tuan Surya Halim."


Puk puk.

__ADS_1


Baskoro menepuk pundak Tuan Halim dua kali, kemudian berlalu dari ruang tamu dengan senyum dan siulan di bibirnya.


"Kapan kamu akan punya anak sendiri? Lama-lama aku takut kamu akan merebut hak asuh Safa dariku," gerutu Tuan Halim yang masih bisa didengar Baskoro.


"Entahlah, aku takut mereka tak akan seimut Safa saat lahir," sahut Baskoro dari kejauhan.


Edzar yang melihat itu jadi bertanya-tanya, sedekat apa hubungan mereka sampai lelaki itu diizinkan berkunjung ke kamar Safa?


Lalu ada lagi yang mengganggu pendengaran Edzar. Om Pororo? Hal menggelikan apa lagi ini? Yang membuat Edzar merasa miris adalah, Safa bahkan memiliki panggilan spesial pada lelaki bernama Baskoro itu.


"Dia sahabat saya, lebih tepatnya adik tingkat. Dulu kami sekolah di satu yayasan yang sama."


"Dan dia sudah seperti ayah kedua bagi Safa."


"Ck, mereka bahkan bisa jauh lebih kompak dalam hal mengganggu saya. Haha."


Tanpa diduga Edzar bertanya, "Apa beliau sudah menikah?"


Sontak Tuan Halim terdiam, entah apa yang sedang dipikirkannya. Ekspresinya seolah tersadar dari sesuatu. "Terakhir kali saya tahu dia belum menikah. Kami sempat lost contact selama kurang lebih tujuh tahun. Dan sekarang saya belum bertanya lagi, jadi kurang tahu."


"Ada apa kamu bertanya seperti itu?"


"Tidak ada," geleng Edzar dengan seulas senyum. "Kalau begitu saya permisi. Maaf sudah mengganggu waktunya."


.


.


Ayah kedua? Benarkah hanya sebatas itu? Edzar sangsi, terlebih saat melihat bayangan keduanya dari lantai atas kamar Safa. Sangat dekat, terlalu dekat sampai rasanya Edzar ingin melompat ke sana dan berteriak untuk mereka memberi jarak.


Tapi tak ada gunanya menuruti emosi, Edzar hanya akan mempermalukan dirinya sendiri dan dianggap gila karena membuat keributan di rumah orang. Itu bukan gayanya.


Saat ini Edzar hanya bisa mundur dan bersabar. Nanti saat waktunya tiba, Edzar pastikan siapapun tak akan bisa mendekat pada gadis itu. Termasuk Siluman Pororo yang saat ini tengah berusaha mencari perhatian gadisnya.


Bukankah Pororo itu penguin?


Sepertinya Edzar harus mencetuskan ide baru pada pembuatnya untuk mengubah tokoh kartunnya itu menjadi buaya. Itu lebih cocok. Buaya tua berperut buncit dengan warna biru dan pita merah muda. Pasti lucu.


"Safana Halim, tunggulah sebentar lagi dan kamu akan melihat bagaimana seorang Edzar tergila-gila padamu," gumamnya sambil melihat ke atas.


.


.


Safa mengusap telinganya sambil mengedarkan mata ke sekeliling kamar. Baskoro mengernyit melihat itu, lalu dia bertanya. "Ada apa?"


"Oh? Enggak, tiba-tiba kuping Safa berkedut. Kayaknya ada yang lagi ngomongin, deh."


Baskoro mendengus geli, "Mana ada yang seperti itu. Ayo, lanjutin makannya."


Safa mengangguk menyuapkan kembali bakmi ke mulutnya. Ini makanan enak pertama yang ia makan setelah tumbang beberapa hari. Sebelumnya ia selalu dicekoki bubur dan sayuran. Salad dan buah-buahan. Daging, ikan, dan lain-lain. Safa bosan. Sebenarnya masih banyak jajanan street food yang Safa inginkan sekarang. Tapi Safa juga tidak mau terlalu keterlaluan membantah perintah orang tua. Mereka ingin Safa makan sehat. Jadi hanya ini yang bisa Safa nikmati.


Di sisi lain, Tuan dan Nyonya Halim nampak tengah berbincang di ruang tengah. Tuan Halim memeluk Sang Istri yang bergelayut dengan kepala bersandar di dada. Sesekali tangannya terangkat mengusap rambut dan bahunya. Siaran televisi di depan seakan jadi pelengkap saja untuk memecah sunyi. Nyatanya pikiran mereka masih sama-sama berkecamuk. Dari mulai masalah Dava lalu Safa putri bungsu mereka.


Tiba-tiba Nyonya Halim bersuara, "Mas."


"Hmm..."


"Menurut Mas, Baskoro itu aneh gak sih?"


"Aneh gimana?"


"Ya aneh aja. Setelah tujuh tahun menghilang, lalu tiba-tiba sekarang muncul tanpa peringatan."


"Apa iya hanya karena masalah Dava? Atau sebenarnya ada hal lain?"


Hening. Tuan Halim nampak terdiam dengan mata menatap ke depan. Tatapannya terlihat menerawang. Walau begitu tangannya tak henti mengusap bahu Sang Istri.


"Syuut, berhenti berpikir macam-macam. Lebih baik pikirkan Kuasa Hukum mana yang akan kita pakai untuk Dava."


"Tadi Nak Edzar sempat menawarkan temannya. Gimana menurut Bunda?"


"Terserah Ayah saja. Edzar itu jaksa, sudah pasti banyak kenalan pengacaranya. Kalau bisa minta yang paling jujur dan handal."


Tuan Halim mengangguk, "Oke."

__ADS_1


Mereka pun kembali larut dalam pikiran masing-masing. Tanpa tahu seseorang mengamatinya di atas tangga sana. Orang itu menghela nafas sebelum berbalik dan tak jadi turun ke bawah.


__ADS_2