
"Mukanya jangan gitu, Sayang. Setiap weekend Uda pasti pulang ke sini," ucap Edzar seraya membingkai wajah Safa dengan tangannya.
Sejak kemarin Safa merajuk karena tahu Edzar akan kembali ke Jakarta hari ini. Pada akhirnya pria itu tak bisa meninggalkan pekerjaan terlalu lama.
Safa merengut, "Nanti A Uda susah dihubungi lagi."
"Enggak. Kan waktu itu kamu sudah tahu, Uda sibuk nyiapin acara lamaran kita."
"Dan kerja keras Uda tidak sia-sia. Allah langsung menghalalkan kita saat itu juga."
Safa masih bungkam tak bersuara. Edzar tersenyum membawa sang istri ke pelukannya. "Uda akan sangat merindukan kamu. Jaga diri baik-baik. Jangan pernah bepergian sendiri lagi. Setidaknya ajak Bunda atau Pak Iwan."
Safa membalas pelukan Edzar, kepalanya mengangguk kecil, bersandar di dada bidang sang suami.
Edzar mengecupi puncak kepala Safa dengan sayang. Sebenarnya dia juga berat untuk pergi. Inginnya dia bawa Safa ke Jakarta juga, tapi istrinya masih harus menjalani terapi. Mau tak mau Edzar harus rela kembali berjauhan dengan Safa.
Meski jarak Jakarta Bandung masih bisa ditempuh dalam satu hari, mungkin sekitar 3 sampai 4 jam dari tempat Edzar, tapi tetap itu tidak efisien jika dilakukan di hari kerja.
"Ayo keluar. Nanti dikiranya kita ngapain lama-lama di kamar," kekeh Edzar.
"Masih sakit?" lanjutnya bertanya. Safa masih terlihat kesulitan dalam berjalan maupun duduk.
"Gimana gak sakit, dalam 2 hari A Uda gak berhenti gempur Safa siang malam."
Edzar terkekeh, "Buat amunisi, Sayang. Kan lima hari ke depan Uda gak bisa ketemu kamu."
Ia membuka pintu, "Lagipula Uda sudah lama tidak melakukannya. Wajar jika kalap," ucapnya tanpa sadar.
Tiba-tiba Safa terdiam, menghentikan langkah mendengar perkataan Edzar barusan. "Jadi, sebelum ini A Uda pernah melakukannya? Berarti Safa bukan wanita pertama?"
Suasana mendadak hening. Edzar pun mematung, tak lantas menjawab pertanyaan Safa yang cukup mengejutkannya. Sepertinya dia telah salah berbicara.
Edzar menoleh menatap istrinya. Dan dia dibuat tertegun oleh sorot ketakutan yang coba Safa sembunyikan. Mendadak hatinya berdebar cemas. Haruskah dia jujur sekarang?
Tapi, Edzar takut Safa tak bisa menerimanya. Terlebih, Rey bilang mental Safa masih rentan. Sebisa mungkin wanita itu harus dijauhkan dari sesuatu yang bisa menekan pikirannya.
Edzar mendekat, "Ai ..."
"Safa, oleh-oleh buat Edzar kamu simpan di mana?"
Entah dia harus merasa lega atau tidak saat tiba-tiba Nyonya Halim menginterupsi pembicaraan mereka. Edzar menghela nafas, berbalik menatap mertuanya yang kini berjalan mendekat.
__ADS_1
"Sudah Safa simpan di bagasi, kok, Bun." Safa menyahut.
Edzar menoleh, "Oleh-oleh apa?"
Namun Safa hanya mengangkat bahu, "Nanti A Uda lihat sendiri saja," ucapnya kemudian melenggang meninggalkan Bunda juga suaminya.
Edzar menatap lekat punggung Safa yang menjauh. Nyonya Halim yang peka terhadap situasi pun bertanya. "Kalian bertengkar?"
Edzar menggeleng seraya tersenyum. "Tidak, Bunda."
"Ada masalah?" tanya wanita itu masih tak menyerah.
Edzar terdiam, dan itu cukup memberi jawaban bagi sang mertua.
Nyonya Halim menghela nafas, menoleh ke belakang sejenak, lalu kembali pada Edzar saat dilihatnya Safa sudah sepenuhnya turun ke bawah.
"Nak Edzar." Jeda sesaat. "Kalian baru saja menikah. Kalau bisa, hindari hal-hal yang dapat memicu ketegangan. Bunda juga menyadari sifat Safa yang terlalu kekanakan di usianya, dan kerap membuat sebal. Untuk itu Bunda harap Nak Edzar bisa dengan sabar menghadapinya."
Edzar kembali mengulas senyum dan mengangguk. "Insya Allah, Bunda. Safa adalah amanah dari Tuhan, Bunda, juga Ayah untuk saya jaga."
Nyonya Halim mengangguk, lantas mengajak Edzar turun bersama.
"Biar Uda saja. Kamu duduk, ya? Katanya masih sakit," ucapnya setengah berbisik. Edzar tak tega setiap kali melihat Safa bergerak. Nampak sekali wanita itu menahan perasaan tak nyaman di bawah tubuhnya.
Ini semua gara-gara dia. Kalau saja Edzar bisa sedikit menahan naf*sunya, mungkin sakitnya akan sedikit ringan. Masalahnya, milik Safa sampai lecet karena terlalu sering Edzar masuki.
Edzar sempat ke apotek membeli salep dan pereda nyeri. Dia juga kerap mengompresnya dengan air hangat, meski harus dengan sedikit paksaan karena Safa yang malas dan enggan.
Klak.
Edzar berkedip saat membuka bagasi mobilnya yang penuh akan barang. Lantas dia menoleh pada mertuanya yang juga menjinjing sesuatu.
"Bunda, apa ini tidak terlalu banyak? Memang apa saja isinya?" Edzar coba melongok satu persatu kardus juga kantung yang bertumpuk. Ditambah lagi Nyonya Halim meletakkan kotak berisi makanan ringan yang sekilas Edzar lihat berupa keripik tempe dan bayam. Lalu dia menunduk ke bawah kakinya. Dua kantung besar yang tadi dia ambil dari Safa. Apa masih muat?
"Saya cuma lima hari di sana. Kenapa harus dibekali sebanyak ini?"
"Gak papa. Kamu kasih aja sebagian ke asisten rumah. Bunda juga titip buat Bik Inem, ya. Terus ini buat Ibu kamu. Kemarin gak sempat dibahanin karena keburu pulang."
Edzar meringis menggaruk belakang kepala. Ternyata wanita sekelas Nyonya Halim bisa rempong juga. Ia pikir sosialita kelas atas tak pernah mau repot-repot seperti ini.
Mau tak mau Edzar mengangguk, "Baik, Bunda. Ada lagi?"
__ADS_1
"Kayaknya sudah. Safa!" Nyonya Halim berteriak memanggil putrinya.
Tak berapa lama kepala Safa menyembul di pintu depan, menatap ogah pada bundanya. "Kenapa, Bunda?" sahutnya malas.
Nyonya Halim berdecak. "Kenapa, kenapa. Ini suaminya mau pergi kamu malah ndekem aja di rumah," dumelnya mengomentari.
Safa memutar bola mata, "Belum, Bunda. Orang kopernya aja masih di kamar, kok."
"Ya kamu ambilin, dong. Jangan diem aja. Malas banget jadi istri."
"Malas apaan. Safa dari kemarin udah kerja rodi, tau," balas Safa menggerutu. Bibirnya mengerucut lucu.
Edzar terkekeh, dia menoleh pada mertuanya. "Gak papa, Bunda. Biar saya saja. Kebetulan Safa sedang sedikit tak enak badan. Saya yang suruh dia istirahat."
"Gitu? Kamu demam, Safa?"
Safa mendecak malas, "Emang sakit cuman sejenis demam, ya, Bunda?"
"Ya enggak, sih. Muka kamu pucet aja."
"Suhu tubuh Safa memang agak naik, Bunda. Mungkin karena kemarin banyak jalan-jalan malam saat di Lembang." Edzar menimpali.
Jalan-jalan, katanya. Jelas-jelas Safa sakit karena kelamaan berendam di tengah hutan. Safa mendumel dalam hati.
Edzar berjalan menghampiri Safa yang berdiri di ambang pintu. Merangkul bahunya dan menuntun masuk ke dalam. "Duduk. Jangan ke mana-mana. Uda ambil koper dulu di kamar."
Memang saat Edzar mengajak Safa ke Lembang dia sekalian check out dari hotel. Jadi saat pulang dia ikut Safa ke Vila.
"Bunda lihat, Edzar cukup perhatian. Dia juga kayaknya sayang banget sama kamu."
Safa tak menanggapi perkataan sang bunda. Matanya fokus melihat Edzar yang menaiki tangga menuju kamar mereka.
Pikirannya berkecamuk. Safa tak menampik dia sedikit terganggu dengan percakapan mereka yang belum usai. Safa masih penasaran. Terlebih Edzar seolah enggan menjawab pertanyaannya.
"Bunda, kapan jadwal Safa bertemu Kak Rey?"
Nyonya Halim nampak terdiam berpikir. "Besok. Kenapa?"
Safa menggeleng, "Cuma tanya," jawabnya singkat.
Nyonya Halim mencibir, "Dasar tidak jelas."
__ADS_1