SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 174


__ADS_3

Safa menggelepar dengan nafas terengah. Edzar benar-benar gila. Dan Safa lebih gila lagi karena berhasil melayani pria itu sampai tuntas. Entah berapa ronde dan gaya yang Edzar lakukan, yang pasti semua sudut ruangan ini tak ada yang terlewat. Tubuhnya sungguh lemas juga lengket oleh keringat. Ditambah cairan Edzar yang beberapa kali mengenai perutnya.


Stamina pria itu bukan main kuatnya. Edzar seolah sengaja ingin membalas ucapannya yang menyebut pria itu tua seperti meja di sudut. Alhasil Safa dibuat tak berdaya. Bahkan kakinya masih mengangkang lebar setelah beberapa detik yang lalu Edzar menarik diri.


"Kamu bawa tisu?"


Safa hanya menggumam lemah. Dia masih berusaha menetralkan nafasnya yang tersendat efek percintaan mereka.


Terdengar grasak-grusuk Edzar membuka tasnya. Tak lama pria itu kembali menghampirinya yang tergeletak di lantai beralas tikar. Seperti biasa Edzar akan membersihkan jejak penyatuannya dengan Safa. Lalu membantu memakaikan pakaian yang entah berceceran di mana saja. Bahkan bra-nya saja ditemukan di kolong meja.


"Sepertinya tadi Uda lihat wedang bandrek di bawah. Kamu mau?"


"Jauh tau. Jalannya juga bikin males."


"Kamu tunggu saja di sini. Biar Uda yang beli."


"Enggak, ah, nanti A Uda tinggalin Safa di sini."


"Mana ada gitu. Uda jalan kaki, kok. Mobil ditinggal di sini."


"Tapi jangan lama. Ini udah sore. Safa takut."


"Iya, Sayang. Lagian gak jauh-jauh amat," ucap Edzar seraya memakai celana.


Lantas keluar setelah sebelumnya membubuhkan ciuman singkat.


Safa mengedarkan pandangan ke sekitar ruangan. Tadi dia tak begitu memperhatikan karena Edzar keburu menyerangnya. Material kayu mendominasi seluruh bagian gubuk. Beberapa lentera tertanam di dinding. Lalu ada kursi rotan lengkap dengan meja kopi yang terletak dekat jendela.


Safa menunduk merapikan kaosnya yang sedikit kusut karena perbuatan Edzar. Beruntung roknya selamat karena dia sendiri yang melepas.


Ia berjalan membuka jendela kayu satu-satunya di ruangan itu. Terdengar deritan engsel cukup keras. Seketika hembusan angin menerpa wajah yang entah sudah bagaimana bentuknya. Pasti sangat berantakan.


Kendati lingkungannya cukup menyeramkan, namun Safa tak bisa menampik udara menyejukkan yang menusuk kulit. Cocok sekali. Safa memang sedang kegerahan selepas aktivitasnya dengan Edzar.


Ia memejamkan mata, menghirup oksigen yang murni dari alam. Segar, baunya bercampur dengan rumput dan tanah. Tak heran karena daerah ini berada di atas jauh dari jalan raya, hingga terbebas dari polusi kendaraan bermotor.


Sayangnya banyak sekali ilalang. Selain bisa menggores kulit, rawan juga menjadi sarang ular.


Safa melirik jam tangan yang menunjukkan pukul setengah lima sore. Kepalanya menengadah ke atas, pada langit yang kini sudah berubah kelabu. Sepertinya akan turun hujan. Semoga Edzar cepat kembali dan tidak kehujanan di jalan.


Ia menoleh saat terdengar sebuah getaran ponsel dari belakang. Kontan kakinya mendekat, mengambil tasnya yang masih teronggok di lantai. Safa mengernyit, bukan ponselnya yang berbunyi.


Kemudian matanya jatuh pada ponsel Edzar yang tertelungkup di atas tikar. Melihat tikar ini membuat Safa teringat kembali dengan percintaan panas mereka yang menggelora. Sepertinya hasrat Edzar memang kerap naik berkali lipat jika berada di alam liar. Persis seperti malam pertama mereka yang juga dilakukan di pemandian tengah hutan.

__ADS_1


Safa segera menggeleng, mengenyahkan pikiran tak senonohnya.


Dia raih benda pipih milik suaminya itu. Melihat layarnya yang berkedip menampilkan sebuah panggilan.


Ibu?


Apa Safa harus mengangkatnya? Tapi, Safa takut melanggar privasi Edzar. Sebentar, bukankah dia istrinya? Sejak awal Edzar juga membebaskan Safa mengotak-atik ponselnya. Tidak ada yang salah 'kan jika dia mengangkat panggilan itu? Lagipula ini hanya Ibu. Bukan kolega atau rekan bisnisnya.


Safa menggeser tombol hijau, lalu menempelkan benda itu ke telinganya. Belum sempat ia bersuara, sang mertua sudah mendahuluinya berbicara.


"Edzar, apa kamu sudah mengunjungi Dika? Ibu lihat belakangan kamu jarang sekali menemuinya. Jangan mentang-mentang sudah menikah kamu jadi larut dalam kesenangan dan melupakan kewajiban."


Safa mengernyit. Dika? Kewajiban? Maksudnya—


"Ingat, dia juga anakmu. Darah dagingmu. Kamu tidak bisa menyingkirkan kenyataan itu."


Deg.


Safa tertegun. Sesuatu seolah terenggut dalam dirinya. Jantungnya tiba-tiba berdebar keras.


Anak? Anak siapa yang Ibu Dyah katakan?


Lama tak terdengar sahutan, Dyah kembali bersuara. "Kalau bisa ajak juga istrimu. Dia sudah tahu 'kan?"


"Edzar, apa Safa sudah tahu? Kamu sudah memberitahunya 'kan?"


Belum. Ingin sekali Safa mengatakan itu. Tapi lidahnya kelu, tak tahu harus bilang apa.


Tak berapa lama pintu di hadapannya terbuka. Edzar muncul dengan kaus setengah basahnya. Safa bahkan tidak sadar di luar sudah turun hujan. Tapi bukan itu kepentingannya sekarang, melainkan apa yang barusan ia dengar dari ibu mertuanya.


Edzar masih belum sadar dengan raut sang isteri yang menghunusnya tajam. Pria itu sibuk menepuk-nepuk pundak serta rambutnya yang basah karena air hujan. Hingga tiba-tiba dia dibuat terkejut oleh lemparan ponsel tepat mengenai dadanya.


Ponsel itu jatuh ke lantai. Kontan Edzar menunduk, lalu mendongak melihat Safa. "Kenapa?" Dia menyimpan kantong berisi dua cup bandrek ke atas meja samping pintu. Lantas mendekat pada Safa yang berdiri mematung di tengah ruangan.


"Kenapa?" bisik wanita itu.


"Kenapa kamu bilang?" Suaranya terdengar bergetar.


"Bisa-bisanya kamu bertanya begitu setelah membohongiku dengan sangat kejam?"


"Bohong? Uda bohong apa, Ai?" tanya Edzar bingung. Dia masih mencoba memahami situasi.


"Pikir sendiri. Kebohongan apa yang coba kamu simpan dariku."

__ADS_1


Bukan hanya nada suara Safa yang terdengar asing, Edzar juga merasakan kemarahan besar wanita itu. Sejenak ia tertegun. Memandang mata Safa yang memancarkan kekecewaan juga kebencian secara bersamaan.


Mendadak hatinya bergetar cemas. Jangan-jangan ....


"Kamu punya anak 'kan?"


Edzar terdiam. Mulutnya bungkam menatap Safa dengan kosong.


"Jadi benar, kamu punya anak? Dan aku tidak tahu?"


"JAWAB ...!!!" jerit Safa dengan air mata berhamburan. Dia berlari menghampiri Edzar. Meraup kerah bajunya dan menarik-nariknya kasar. "JAWAB! KAMU PUNYA ANAK! IYA 'KAN!"


"ATAU KAMU JUGA PUNYA ISTRI SELAIN AKU? JAWAB! AYO JAWAB!" Safa tergugu di hadapan Edzar. Sementara Edzar terpaku, membiarkan Safa memukulinya membabi-buta.


Jantungnya seolah direnggut melihat sang istri yang meraung. Edzar menelan ludah, berusaha mengulurkan tangan meraih Safa.


"Ai—"


"Jangan sentuh!" Safa menepis tangan itu. Tubuhnya meluruh ke lantai dengan tangis memilukan. Telapaknya mengusap kasar rambut serta kulitnya yang telah dicumbui Edzar. Menggaruknya hingga menimbulkan goresan memanjang yang tembus ke ulu hati lelaki itu.


Edzar tertegun dengan dada merenyut nyeri. Melihat Safa yang begitu jijik dengan bekas sentuhannya membuat Edzar berpikir bahwa Safa telah mengetahui sesuatu.


Dia jelas menyadari, hal yang selama ini berusaha disembunyikannya telah terbuka di hadapan wanita itu.


Edzar terduduk. Matanya terlihat kosong. Berulang kali dia mencoba merengkuh Safa ke pelukannya. Namun tetap berakhir sama. Jangankan disentuh, Safa bahkan tak sudi melihatnya.


"Ai ...." panggil Edzar gemetar.


Safa beringsut menjauhinya.


"Maafin Uda-" lanjutnya tercekat.


"Lihat Uda. Tolong jangan seperti ini, Sayang."


"Uda akan jelaskan."


Safa sedikit mengangkat kepalanya dari lutut. Namun matanya sama sekali tak mengarah pada Edzar. "Jahat."


Kontan Edzar mengangguk, "Uda tahu Uda salah. Uda akan jelaskan. Tolong lihat Uda, Sayang. Uda sakit lihat kamu seperti ini."


"Kamu menyuruhku melihatmu? Itu sama saja dengan kamu menyuruhku menggores tangan sendiri." Safa berseru seraya menolehkan kepala pada Edzar.


Edzar tertegun, mata mereka bertemu dalam ketegangan. Pernyataan Safa membuatnya menelan ludah. Terlebih netra itu memancarkan kekecewaan yang begitu besar.

__ADS_1


Bagimana Edzar harus menjelaskan? Sementara tiap patah suaranya menyakiti Safa semakin dalam.


__ADS_2