
Berbagai kalangan hadir memenuhi ballroom. Bagaimana tidak, tamu undangan terdiri dari dua kubu. Pelaminan diletak secara terpisah, karena pasti akan bentrok jika disatukan. Tirta dan Miranti tetap ambil outdoor sesuai rencana awal. Sementara Edzar dan Safa mengambil tempat indoor-nya.
Kebetulan dua space itu memiliki akses keluar masuk yang menyatu. Jadi tamu Tirta maupun Edzar tetap masuk dari satu pintu yang sama, melalui jalur indoor, lalu keluar lewat outdoor.
Meski dilaksanakan bersamaan, penataan acara sudah disusun sedemikian rupa. Tentu hal itu memakan biaya yang lebih besar. Tapi menurut Edzar semuanya sebanding dengan service yang memuaskan.
Sebelum ini, Tirta dan Miranti melakukan prosesi akad di masjid. Jadi di hotel ini murni hanya resepsi.
Keluarga mereka silih berganti melakukan foto. Tempat yang berdekatan dengan akses yang serupa memudahkan semuanya berjalan ke sana kemari. Terutama sang ibu yang harus bolak-balik menyambangi dua putranya.
Kendati begitu acara tetap lancar dan teratur. Hingga pada saat pelemparan bunga dilaksanakan bersamaan. Ada tempat khusus yang disiapkan pihak WO agar kedua pasangan dan keluarga bersatu dalam lingkup yang sama.
Pun pada kesempatan itu para tamu dibiarkan bebas berbaur satu sama lain. Berbeda dengan saat resepsi yang memang benar-benar agak dibatasi supaya tetap terjaga ekslusifitasnya.
Bucket bunga yang dilempar semuanya dilengkapi doorprize. Masing-masing hadiahnya berisi Apple iPhone 13 Pro dengan kapasitas penyimpanan 1TB, serta 1 unit Yamaha NMax 155 Connected ABS.
Semuanya bersorak gembira. Terutama 2 pemenang yang berjingkrak-jingkrak langsung membuat konten, membagikan kebahagiaan mereka karena telah mendapat hadiah.
Safa menatap semua keramaian itu dengan senyum. Ia tak menyangka kesempatan ini akan hadir. Sebelumnya, Edzar tampak seperti mimpi baginya. Namun siapa sangka, takdir Tuhan memang tidak ada yang tahu.
Kendati banyak ujian dan cobaan untuk bisa sampai di tahap ini, berbagai masalah datang silih berganti bahkan setelah mereka resmi menjadi suami istri. Juga kerenggangan yang sempat terjadi. Tapi, dari semua yang pernah dialaminya, Safa mempelajari banyak hal, terutama kesabaran.
Bersama Edzar, Safa menemukan berbagai warna dalam dunia. Ia juga faham bahwa hidup bukan hanya soal bahagia. Namun tanpa bahagia dunia akan terasa hambar. Kebahagiaan bisa diperoleh dengan cara sederhana. Hal sekecil berpegangan tangan pun bisa menjadi sumber bahagia jika dilakukan dengan orang tercinta.
__ADS_1
Persis seperti yang dilakukannya saat ini. Safa membiarkan tangan besar Edzar menyelimuti jemarinya. Perasaan hangat itu menjalar hingga ke hati. Safa menatap Edzar, pun Edzar memandangnya penuh cinta. Senyum lebar mematri wajah keduanya. Safa masih tak menyangka hidupnya bukan lagi milik orang tua, dia sudah sepenuhnya menjadi milik Edzar, suaminya.
Setelah sebagian tamu meninggalkan tempat dan selesai berfoto, kini giliran dua keluarga besar yang mengambil momen bahagia itu dalam satu pelaminan.
Meski pelaminannya besar dan memanjang lebar, jumlah jiwa dari keluarga Halim dan Raksa Manggala tidaklah sedikit. Entah berapa kali mereka bergantian mengambil gambar.
Safa dan Miranti berdiri bersisian, di samping mereka ada Tirta juga Edzar yang memeluk masing-masing pasangan. Pakaian mereka pun sudah diganti dengan yang lebih serasi. Memang dikhususkan untuk momen seperti ini. Setidaknya, cerita bahwa mereka melakukan resepsi bersama akan tersimpan dalam album yang kelak akan dibuka oleh generasi selanjutnya.
Gelak tawa menggema, suasana meriah diiringi alunan musik pop yang dinyanyikan langsung oleh penyanyi ternama menambah suasana romantis dan kekeluargaan yang erat.
Para cucu Halim yang dikenal paling berisik dan rempong tak lepas membuat lelucon. Erina yang digadang-gadang sudah dilamar malah keduluan Safa. Jadilah anak itu gadis satu-satunya keluarga Halim. Terlepas dari semua keponakan dan adik-adiknya yang masih remaja dan kecil-kecil, Erina memang generasi terakhir yang belum menikah.
Tapi, sepertinya tahun depan dia akan menyusul.
Kalau Dava dan sepupu pria, sih, memang belum terlalu santer dan terburu-buru menikah. Sementara Safa dan para sepupu wanitanya entah kenapa kerap berlomba-lomba mendapatkan pasangan. Lucu juga, sih. Baru sadar ternyata mereka kerap bersaing dalam berbagai hal kecuali prestasi. Haha.
Sementara Safa, dia pulang ke rumah Edzar. Rasanya tak bisa dijelaskan saat kita harus pulang ke rumah suami yang berdampingan dengan rumah sendiri. Safa cekikikan melihat balkon keduanya. Dia ingat mereka pernah nekat memanjatinya hanya karena ingin bertemu.
"Mikirin apa, hm? Kenapa tertawa begitu?" Edzar memeluk Safa dari belakang. Mereka baru saja selesai mandi dan berganti pakaian. Menunggu adzan magrib tiba dengan berdiri di depan jendela yang dilapisi kaca film. Dari sini kita sudah tahu bahwa Edzar adalah orang yang sangat menjaga privasi.
"Enggak. Safa cuman ingat masa-masa kita jaman pendekatan. Haha ... Lucu juga kalau diingat."
"Memang. Kamu sering buat Uda pusing karena ceroboh," sahut Edzar sembari membenamkan kepala di ceruk leher Safa.
__ADS_1
Safa terkekeh. "Ngomong-ngomong, kok Bu Sinta gak datang? Padahal sudah Safa undang," tanyanya heran.
"Mana Uda tahu. Mungkin ada kesibukan lain. Sudahlah, yang penting acaranya berjalan lancar."
"Apa A Uda masih membencinya?"
Edzar menggeleng. "Untuk apa menyimpan rasa benci. Toh, itu hanya masa lalu. Lagi pula Uda sudah punya kamu. Kamu mengobati semua rasa kehilangan Uda di masa lalu."
"Juga .... dia." Edzar mengelus perut Safa penuh perasaan.
Safa tersenyum, menyandarkan kepala di dada bidang Edzar. Sejenak pikirannya berputar pada siang tadi. Mengenai pembicaraannya dengan Edzar. Keningnya berkerut saat rasa penasaran itu kembali datang.
Edzar berkata dia memiliki cinta pertama. Siapa?
Apa Safa terlalu berlebihan kalau ingin tahu? Tidak bolehkah ia cemburu meski itu hanya masa lalu? Tapi, wanita manapun akan merasa sama meski mereka tidak terang-terangan menunjukkannya.
Safa dilema. Dia terlanjur nyaman dan tidak mau menghancurkan kebersamaan yang sangat sayang untuk dilewatkan.
Pada akhirnya, Safa kembali tidak diberi kesempatan untuk bertanya karena adzan magrib berkumandang. Selepas ibadah dan makan malam pun, Safa masih belum bisa menanyakannya karena kantuk yang menyerang membuatnya tidur lebih awal.
Tanpa Safa ketahui, sebenarnya Edzar tahu apa yang sejak tadi mengganggu pikiran sang istri. Edzar menggeleng geli, merasa lucu karena beberapa kali menangkap keraguan Safa yang hendak bicara.
Tangan Edzar terangkat mengusap kening wanita itu. Mengecupnya sedikit lama. Lalu menyentuhkan hidung mereka sembari menatap wajah cantiknya yang terlelap damai.
__ADS_1
Edzar berbisik pelan, "Kamu akan terkejut jika mengetahuinya."
"Tidur yang nyenyak. Besok kamu akan tahu siapa gadis yang Uda maksud itu."